
Krekkk...
Pintu terbuka dan menampakkan sebuah ruangan tengah yang terlihat begitu sederhana, hanya ada dua ruangan lainnya dimana disebelah kiri adalah dapur dan di sebelah kanan adalah sebuah kamar berukuran sedang.
Laki laki itu masuk sambil melepas tudung yang ia kenakan, setelah itu melemparnya ke tengah ruangan tanpa mengatakan apapun.
"Kau sudah kembali rupanya... Selamat datang..." Sambut seorang perempuan yang memiliki tatapan mata lembut, dengan wajah wanita dewasa berusia diatas 25 Tahun, dia keluar dari kamar dengan membawa sebuah buku kecil di tangannya dan menyambut kedatangan laki laki tadi.
Tidak ada jawaban dari anak laki laki itu, dia berjalan ke tengah ruangan kemudian segera duduk di sebuah kursi yang dimana terdapat satu kursi lagi diseberang nya.
"Bagaimana dengan tugasmu Zen..." Tanya perempuan itu kemudian ikut duduk di seberang laki laki tadi.
"Semuanya berjalan dengan lancar Filvy..." Jawabnya dengan tanpa emosi yang terlihat, tatapan matanya terlihat mati dengan wajah tanpa ekspresi.
"Senang mendengarnya..." Jawab Filvy kemudian mengalihkan pandangan nya untuk kembali membaca buku yang ada di tangannya.
"Filvy..." Panggil Zen dengan suara pelan.
"Ya... Apa ada sesuatu yang kau inginkan dariku... Apakah akhirnya kau tertarik untuk mencicipi tubuhku...?" Jawab Filvy dengan suara yang terdengar begitu bersemangat ketika mendengar Zen memanggil nya.
Postur tubuh yang terkesan sangat erotis di tambah dengan dirinya yang sangat menggoda sebenarnya bisa membuat siapa saja akan langsung terpancing hanya dengan satu lirikan mata darinya, tapi berbeda dengan Zen yang sekarang tidak memiliki emosi, bahkan dia tidak memandang Filvy sebagai sosok manusia.
Meskipun Filvy sendiri lah yang sudah menjaga dan merawat Zen selama beberapa hari terakhir tapi hal itu tetap saja tidak membuat Zen tergoda, meskipun pada awalnya Zen sempat bingung dan tidak mempercayai Filvy, tapi setelah mendengar bahwa Filvy tahu tentang apa sebenarnya tugas dan alasan Zen berada di dunia membuat Zen sedikit patuh padanya dan malah mengikuti Filvy.
"Tidak!" Jawab Zen langsung.
"Cih... Dasar anak laki laki yang membosankan" keluhnya sambil sedikit mendecakan lidahnya.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta... Aku sudah membunuh mereka sesuai yang kau inginkan... Jadi sekarang adalah saat dimana kau harus menepati janjimu... Katakan padaku... Apa tugas dan alasan aku berada disini..."
Takk...
Filvy menutup bukunya dengan kedua tangan yang di katupkan, setelah itu menaruh buku tadi di atas paha nya.
"Apa kau yakin ingin mendengar nya..." Tanya Flivy dengan tatapan mata yang seketika berubah.
"...."
"Baiklah akan kuberitahu padamu..." Ucapnya lagi setelah tidak mendapatkan jawaban dari Zen yang tentu saja sudah memberikan jawabannya dari awal.
"Zen kau tau bukan kalau kau kehilangan ingatanmu..."
"Yah, sepertinya begitu..."
"Dan kau juga tidak tau aku siapa bukan..."
"Tentu saja... Sebenarnya apa yang ingin kau katakan... Kenapa kau memberikan pertanyaan seperti itu..."
"Sebenarnya... Aku adalah perwujudan dari ingatan mu yang hilang... Aku adalah bentuk dari buah pemikiran mu selama ini..."
"Tunggu tunggu... Aku tidak mengerti..."
"Apa kau mengingat pertemuan antara kau dan juga sang dewa Kehidupan sebelumnya..."
__ADS_1
"Pertemuan dengan dewa kehidupan... Sepertinya aku pernah mengalami itu di dalam mimpiku..." Balas Zen kini ekspresi wajahnya berubah menjadi orang yang terlihat tengah berpikir.
"Apa yang dia katakan padamu..."
"Sesuatu tentang melupakan segalanya... Dan hanya perlu mengingat tentang tugas dan alasan aku berada disini... Kurasa seperti itu..."
"Itu dia... Sang dewa kehidupan lah yang mereset ingatan mu... Dengan mengambil ingatan mu itulah dia membentukku... Aku adalah Filvy orang yang akan terus bersamamu sampai kau selesai dengan tugasmu..."
"Sejauh ini aku sudah mengerti dengan apa yang kau katakan... Lalu apa sebenarnya tugasku..."
"Kau ingat tentang apa yang akan kau lakukan malam ini bukan...?"
"Pergi ke istana kerajaan... Dan bertemu dengan para pejuang..."
"Tepat sekali... Tapi apa kau tau alasan kenapa aku akan mengirim mu kembali kesana..."
"Jangan membuat pernyataan yang bertele-tele seperti itu... Katakan saja..."
"Ayolah jangan terlalu buru buru seperti itu... Kanade Zen... Tujuan dewa kehidupan bertemu dengan mu dan alasan aku dikirim kan kemari adalah sebuah hukuman sekaligus pengingat untukmu..." Wajah Filvy berubah menjadi lebih serius dan juga menakutkan, tidak ada lagi tatapan mata yang begitu lembut diwajahnya.
"Hukuman sekaligus pengingat..."
"Yah hukuman karena selama ini kau terlalu bersikap naif... Dan pengingat bahwa tujuan kau dikirimkan kesini bukan untuk menjalankan kehidupan dunia lain sebagai budak ataupun seorang yang kasmaran..."
"Aku tidak mengerti..."
"Aku akan membuat apa yang kukatakan ini sebagai bagian dari ingatanmu... Kanade Zen... Kau bukanlah sang pahlawan... Kau bukanlah tokoh utama di dunia ini... Kau hanyalah seorang mob yang hanya akan muncul sebagai seorang figuran, dan sebagai figuran kau tidak perlu menyamakan kehidupan mu dengan para pejuang yang hanya perlu kau lakukan adalah bergerak dari belakang tanpa mencuri panggung pertunjukan..."
Filvy memberikan sebuah ciuman bibir yang tentu saja membuat Zen terkaget, mempertahankan ciuman itu selama beberapa saat Filvy akhirnya melepaskan bibirnya dari bibir Zen.
"Aghhhh!!!"
Buk...
Zen berguling di lantai sambil memegangi kepala nya yang terasa begitu sakit seolah olah dihantam oleh benda berat berulang kali, sementara itu Filvy hanya berdiri dengan tatapan lembut yang kembali terpasang diwajahnya.
"Kanade Zen... Kau akan terus berada di bawah pengawasan ku... Ingatan ku adalah milikmu dan ingatan mu adalah milikku... Ingatlah itu...
Selamat malam... Kanade Zen..."
Suara Filvy perlahan lahan menghilang, lebih tepatnya Zen lah yang sebenarnya mulai kehilangan kesadarannya, perlahan matanya tertutup tapi sebelum itu dia melihat Filvy tengah berjongkok di depannya sambil mengelus-elus kepalanya.
Matahari baru saja sampai di tengah tapi Zen kini sudah tertidur pulas di lantai tanpa bantalan apapun dan hanya seorang diri.
• • •
Malam Hari.
Kerajaan Terarria
Istana Kerajaan.
Malam tiba, hembusan angin malam yang sepoi-sepoi mengenai kulit dengan lembutnya, apalagi cahaya dari Bulan saat itu cukup terang di tambah lagi dengan lampu lampu ibukota yang menyala dengan terangnya dan tidak membiarkan ada sudut jalan yang gelap.
__ADS_1
Nania kini tengah duduk melamun sambil menatap keluar jendela kamar Zen, memandang ke arah bulan purnama yang terlihat terang dan sedikit ditutupi oleh awan gelap.
Dia mengetuk ngetuk meja dengan jari telunjuknya dan menyangga kepalanya dengan telapak tangan nya, irama yang terdengar tak beraturan memberikan kesan yang cukup suram pada ruangan kamar Zen yang disinari cahaya remang remang yang muncul dari jendela.
Tatapan matanya terlihat kosong bersama dengan sebuah tarikan nafas yang berhembus pelan.
"Nania..." Panggil suara dari arah sampingnya, Nania berbalik dan mendapati sosok Elize yang tengah berdiri tepat disampingnya.
"Putri Elize... Maafkan saya karena meninggalkan pekerjaan dan malah melamun disini..." Nania berdiri seketika dan segera meminta maaf pada Elize, dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Elize yang masuk melalui pintu karena sedang berada dalam kecamuk pikirannya.
"Tidak apa Nania... Lagipula kau terlihat tidak baik baik saja... Daripada pergi bekerja lebih baik kau beristirahat sekarang..." Elize menepuk pundak Nania dengan pelan, dia sadar bahwa kondisi Nania sedang tidak baik baik saja belakangan ini, dari kantung mata, matanya yang terkadang terlihat sembab, bahunya yang sering gemetaran semua disadari oleh Elize.
"Terima kasih atas perhatiannya tuan Putri... Putri Elize sangat baik sekali untuk pelayan seperti saya..."
"Sama sama Nania..., Kau tau kenapa aku bersikap baik padamu?"
"Tidak tuan Putri..."
"Itu karena aku tidak menganggap mu sebagai Seorang pelayan... Tapi sebagai saingan..."
"Saingan... Maksudnya..."
"Yah, kita menyukai orang yang sama... Kita sama sama menyukai nya karena itulah kita sama sekali tidak mau mengalah..."
"Tidak tuan putri, saya merasa tidak pantas menjadi saingan anda... Anda adalah orang yang hebat... Sedangkan saya hanyalah seorang pelayan... Meskipun saya merasa sakit jika nantinya saya tidak terpilih saya tetap akan mendukung anda..."
"Tidak kau adalah orang yang pantas menjadi sainganku... Nania kau lebih hebat dari yang kau pikir, kau lebih cakap dari apa yang pernah kau bayangkan... Dan Juga kau dicintai oleh banyak orang... Sama seperti ku... Karena itulah... Aku menganggap mu sebagai saingan..."
Mata Nania terlihat berkaca kaca, tidak pernah ia sangka akan mendengar hal itu dari mulut Elize langsung.
"Tuan putri... Terima kasih... Mendengar anda mengatakan itu membuat saya merasa sangat terhormat... Karena itu mulai hari ini saya juga akan menganggap anda sebagai saingan saya... Mari kita lakukan sebisa mungkin" Ucapnya dengan nada haru padahal beberapa saat yang lalu pikirannya sangat kacau.
"Yah, siapapun yang menang kita akan menerimanya dengan lapang... Setuju" Elize memberikan sebuah uluran tangan pada Nania.
"Setuju..." Balas Nania kemudian meraih uluran tangan dari Elize.
Tap.. tap... Tapp... Tapp...
Brak...
Pintu yang dipaksa terbuka dan suara langkah kaki tersebar di seluruh ruangan dimana dari arah pintu masuk seorang anak laki laki dengan penampilan biasa tengah berdiri dengan nafas terengah-engah.
"Daven..."
"Ada apa... Kenapa berlari seperti itu..."
"Putri Elize, Kak Nania... Dia sudah ditemukan..."
"Kak Zen... Sudah ditemukan!!!"
Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru
see u next chapter
__ADS_1