
"Baik, saya sudah menjelaskan semua materinya... Apa ada yang masih belum jelas?" Haley menutup bukunya kemudian berjalan meletakkan nya kembali ke atas meja setelah itu bertanya kepada semua murid yang dari tadi mendengar penjelasannya tentang Monster sihir Atau Magische.
Tidak ada satupun dari murid yang menanggapi pertanyaan dari Haley dan hanya terus membolak-balikkan buku mereka seolah sudah paham dan bisa mencari materi sendiri untuk penjelasan yang kurang jelas.
"Kalau tidak ada pertanyaan apapun maka kelas berakhir, silahkan beristirahat... setelah ini akan ada pengujian Fisik jadi bersiap siaplah... Selamat siang" meraih bukunya Haley berjalan melangkah menuju keluar ruangan Setelah memberikan salam penutup.
Suasana kelas sesaat setelah kelas di tinggalkan masih sangat senyap dimana semua orang masih sibuk dengan urusannya masing masing, tapi itu hanya sesaat karena dalam sekejap suasana yang tadinya tenang berubah menjadi ramai dimana semua orang berkumpul di meja Yurina Oliver yang duduk tepat di belakang Zen.
Yurina di hujani dengan berbagai pertanyaan yang mungkin terdengar sedikit tidak sopan bagi Zen dimana mereka banyak bertanya mengenai hal hal yang menyangkut urusan pribadi Yurina, misalnya seperti apa Yurina akan segera menikah, siapa pasangannya dan banyak lagi, Zen hanya sedikit menoleh ke belakang untuk memastikan situasi namun yang dia dapatkan hanyalah wajah datar Yurina yang tidak menanggapi pertanyaan semua dan karena itulah Zen sedikit terkekeh ketika jawaban dari semua orang nampaknya dia cueki.
Masih belum mendapatkan jawaban apapun tentang apa yang harus dia lakukan untuk meminta maaf kepada Elize, Zen akhirnya menyerah dan hanya akan membiarkan masalah ini berlalu dengan sendirinya dan memutuskan untuk sedikit mejauh dari kerumunan orang orang di belakang nya, menuju keluar kelas.
"Mungkin berkeliling sendiri adalah pilihan yang terdengar bagus..." Gumam Zen yang berjalan pelan sembari melihat sekeliling dimana cukup banyak orang yang nongkrong di pinggir Koridor bersama dengan teman teman mereka.
"Zen Kanade..." Panggil suara dari arah belakang dimana terdengar seperti suara yang cukup familiar baginya sesaat setelah dia melalui sebuah ruangan tertutup yang berada cukup jauh dari kelasnya.
"Ya?" Ucap Zen berbalik dan mendapati pria dengan rambut sebahu dan mengenakan kacamata.
"Maaf menganggu disaat istirahat... saya ingin meminta bantuan..." Ucap Haley yang tengah memegang sebuah selebaran.
"Bantuan apa pak Haley?"
"Bisakah kau mengantar lembaran ini ke ruang dewan siswa... Letaknya ada di dekat taman, Disana ada bangunan tingkat dua itulah tempatnya" ucap Haley menyerahkan sebuah selebaran kepada Zen dan memberi tahukan letak ruangan dewan siswa yang mungkin belum di ketahui lokasinya oleh Zen.
"Baiklah..."
"Maaf merepotkan mu yah..., saya harus mengerjakan beberapa dokumen lagi untuk dibawa oleh para pengajar besok..."
"Tidak apa... Saya juga sedang tidak sibuk dan berencana untuk berkeliling sebentar..."
"Kalau begitu aku serahkan padamu yah..." Ucap Haley masuk kembali ke dalam ruangannya dan menutup rapat pintu.
Zen memandangi lembaran yang ada di tangannya dan membacanya sekilas tapi karena dia tidak begitu mengerti akhirnya ia hanya pergi menuju ke ruang dewan siswa.
Mengikuti arahan dari Haley Zen yang kini tinggal pergi ke sisi lain taman untuk sampai ke ruang dewan siswa.
__ADS_1
Setelah sampai di depan pintu yang tertutup Zen mengetuknya pelan namun tidak ada jawaban apapun, membuatnya memaksa masuk karena pintu yang tidak terkunci.
Sebuah ruangan yang cukup luas dimana terdapat berbagai macam peralatan dan beberapa meja di beberapa tempat yang tersebar begitu pula dengan rak rak buku yang tersusun rapi di seluruh ruangan.
Anehnya tidak ada seorang pun disana, kecuali untuk sesaat dia mendengar suara langkah kaki dari atas tepatnya di lantai dua, dan untuk memastikan nya Zen menuju ke arah tangga dan naik ke lantai dua dengan segera.
Setelah sampai di atas Zen melihat ke arah sosok yang terlihat menyusun sesuatu di sebuah rak pinggiran ruangan.
"Maaf menganggu... Pak Haley menyuruhku untuk menyerahkan lembaran ini kepada ketua dewan siswa... Apa dia ada?" Panggil Zen pada sosok tadi dengan sopan.
"Itu aku..." Jawabnya kemudian berbalik memperlihatkan wajahnya yang begitu familiar bagi Zen.
"Zen..."
"Putri Elize..."
Tekk...
Suasana berubah, atmosfer ruangan yang tadi nya biasa biasa saja langsung berubah menjadi canggung seketika saat mata keduanya bertemu.
"Tunggu dulu..." Cegah Elize sesaat sebelum Zen berjalan menuruni tangga.
"Yy.. ya? Apa ada sesuatu..." Tanya Zen yang berpikir keras kenapa dia merasa sangat gugup saat itu.
"Aku ingin berbicara padamu... Bagaimana jika kita minum teh sambil berbincang..." Tawar Elize mendekati Zen.
"B... Baiklah... Kurasa tawaran itu boleh juga.."
• • •
Hening... Tidak ada satupun di antara keduanya yang membuka obrolan selain suara cangkir keramik yang beradu dengan sendok teh ketika keduanya bertemu.
Zen meraih cangkirnya dan menyesap teh sambil terus berpikir apa yang harus ia katakan demi membuka obrolan.
"Tentang tadi pagi..." Elize berbicara sesaat setelah ia memantapkan hati untuk membuka obrolan.
__ADS_1
"Aku minta maaf..." Zen menundukkan kepalanya secara spontan ketika Elize belum selesai dengan kalimatnya.
"Eh?"
"Jujur saja aku tidak berniat menertawakan mu... Tapi itu adalah reaksi spontan... Jadi aku benar benar minta maaf sudah membuat mu menangis... Akan ku lakukan apapun agar kau mau memaafkan ku..."
"Tidak tidak... Aku lah yang meminta maaf karena sudah salah paham... Aku tidak tahu kalau itu hanya candaan..."
"Aku sadar kalau hal seperti itu tidak harus di jadikan candaan... Aku benar benar menyesal..."
"Ba... Baiklah hentikan tindakan mu itu..." Elize bereaksi panik ketika Zen terus menerus menundukkan kepalanya.
"Apa kau memaafkan ku...?"
"Ya ya...."
"Syukurlah... Dengan begini aku dapat tenang... Terima kasih..."
"Yah..."
"Tapi aku masih tidak percaya kalau kau akan menganggap itu sungguhan..." Zen meminum tehnya untuk kedua kali sambil terkekeh.
"Itu karena..."
"Karena?" Tanya Zen ketika Elize berhenti di tengah kalimatnya.
"Tidak... Lupakan saja..." Jawab Elize panik.
"Yah meskipun begitu entah kenapa aku merasa sedikit senang saat kau menganggapnya sungguhan..." Ucap Zen memainkan jarinya di pinggiran cangkir.
"Eh? Kau sedang tidak bercanda kan..." Tanya Elize yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zen.
"menurutmu...?" jawab Zen yang memasang sebuah senyum penuh makna untuk membuat Elize bingung dengan pernyataan nya yang tidak jelas.
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru
__ADS_1
see u next chapter