
"Sepertinya kita sudah terlambat tuan putri..." Zen mengalihkan pandangannya kedepan dimana terdapat satu orang bertopeng yang sedang berjaga di dekat sebuah pos penjagaan akademi.
"Tidak, kita belum terlambat... Bagaimanapun caranya kita harus masuk... Aku akan mengalahkan orang yang berjaga..." Balas Elize ketika keduanya tengah berada di dekat Akademi, lebih tepatnya mereka bersembunyi di balik sebuah pohon kecil.
"Maksudku, kalau kau yang mengalahkan nya bukankah akan jadi lebih merepotkan... Maksudku yang lain akan tahu kalau kita berusaha masuk..."
"Kalau dipikir lagi itu memang benar... Yang akan terjadi malah akan lebih merepotkan... Tapi hanya itu satu satunya cara agar kita bisa masuk ke akademi..." Jawab Elize lagi ketika kembali memikirkan tentang perkataan Zen.
"Tidak tuan putri... Itu bukan satu satunya cara... Masih ada cara yang lebih baik tanpa takut akan ketahuan..." Zen berbicara seperti orang bijak yang tengah menyemangati seseorang yang nampak putus asa.
"Kalau begitu lakukan..."
"Baik baik dasar tidak sabaran... [Shadow Magic : Existance Caster]" Zen merapalkan mantranya, sebuah mantra yang membuat bayangan di bawah kaki orang bertopeng tadi naik, dan menyelimuti tubuhnya sepenuhnya... Menelannya sampai tidak bersisa bahkan hanya topengnya saja.
"Kau bisa melakukan hal seperti itu... Bagaimana caranya... Dan bukankah itu terlalu kuat..." Elize yang nampak terkejut memandang ke arah Zen yang mungkin merasa senang setelah mantranya berhasil.
"Yah, meskipun kuat... Mantra tadi lebih memiliki banyak kekurangan, misalnya dia tidak efektif untuk melawan makhluk hidup..." Jelas Zen.
"Tapi barusan kau menghilangkan orang tadi..." Elize yang terlihat ragu bertanya pada Zen.
"Itu karena dia tidak menyadari kalau dia akan di serang, kekurangan mantra tadi adalah mantranya akan batal berjalan jika target mencoba memberontak... Artinya jika tadi dia sedikit saja memberontak maka mantranya akan terbatal dan kita akan menggunakan caramu... Selain itu mantra tadi hanya dapat mengurung satu objek saja dalam satu kali rapalan..."
"Meskipun kau tau banyak kelemahannya tapi kau berhasil menggunakan kelemahan tadi sebagai keuntungan... Kau membuat ku kagum Zen..." Puji Elize.
"Tidak usah memuji ku, lebih baik kita segera masuk... Atau mungkin kita akan terlambat..." Tolak Zen tidak menghiraukan Elize yang menatapnya dengan tatapan kagum dan penuh harapan.
"Ahhh benar juga... Ayo..." Teringat kembali dengan tujuan keduanya menuju akademi, lengan baju Zen kembali di tarik oleh Elize dan masuk dengan cepat melewati Gerbang.
Dan sspenjang Keduanya berlari, Zen hanya berdiam diri ketika pikirannya bermain main di dalam kepala.
__ADS_1
'Kenapa tadi aku tidak menggunakan perpindahan bayangan saja?, Harusnya itu akan lebih efektif ketimbang harus menggunakan Existance Caster...' pikir Zen ketika tubuhnya bergoyang goyang di tarik Elize.
"Jangan bergerak dari sana!!!" Suara teriakan dari arah belakang nampaknya berhasil menghentikan Zen dan juga Elize yang kini sudah berada di koridor akademi.
"Yah seperti nya memang sudah terlambat..." Ucap santai Zen ketika kembali menoleh ke arah depan dimana orang dengan topeng yang sama tengah menodong keduanya dengan sebuah mantra sihir yang siap di lepas kapan saja.
"Kau mengucapkan kalimat yang sama lagi..." Balas Elize yang kini mulai waspada terhadap orang yang ada di belakang mereka.
"Benarkah?"
"Katakan apa tujuan kalian menyusup ke akademi... Dan bagaimana cara kalian masuk!" Tanya Elize kepada orang yang terlihat seperti pemimpin mereka.
"Kau tidak perlu tau tuan putri... Kau hanya perlu tidak bergerak dari sana... Dan jangan melakukan apapun..." Balas pria yang ditanyai oleh Elize.
"Begitu kalian menolak menjawab yah... Sepertinya memang harus pakai kekerasan [Lancy!]" Elize kini Bersiap dengan Relic nya.
"Tuan putri apa kau tidak sadar dengan posisi mu saat ini?, Kalau kami melepaskan sihir ini maka nyawamu bisa terancam loh... Apa kau pikir kami akan takut melukai mu?" Tantang pria tadi dengan seringai jahatnya.
"Kalau begitu matilah!!!" Teriakan menggema bersama dengan posisi siap orang orang bertopeng.
"Arcana" Zen mengangkat kartu kecil yang ada di selipan tangannya ke atas dan memperlihatkan kepada pria pria bertopeng tadi.
Dan ketika kartunya di perlihatkan, semua mantra sihir yang mereka todonhkan pada mereka berdua pecah bak kaca tipis yang di lempari oleh batu besar nan berat.
Membuat semua pria bertopeng tadi panik ketika mereka tidak bisa lagi membentuk sihir yang sama seperti sebelumnya.
"Apa ku bilang, kalianlah yang tidak sadar posisi kalian sekarang..." Ucap Elize lagi.
"Bagaimana mungkin kalian melakukan hal seperti itu..." Tanya pria tadi dengan gugup ketika Elize perlahan mendekat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu seperti apa rincian nya?, Mungkin di lain waktu kau bisa bertanya langsung kepada pria asing yang menjadi ksatria ku..." Elize melesat cepat ke depan, menyerang ke arah pria yang dari tadi berkomunikasi bersamanya.
Sementara untuk bagian belakang dia menyerahkan nya pada Zen yang kini sedang bermain main dengan Shadow hand miliknya untuk menyerang orang orang yang waspada terhadap serangan darinya.
Dan dalam waktu sebentar saja, Duo itu berhasil menghabisi para orang orang bertopeng yang mengepung mereka.
"Kerja bagus Zen... kau lagi lagi membuat ku kagum..." Puji Elize memberikan acungan jempol pada Zen yang menghilangkan Shadow hand miliknya.
"Sudah ku bilang jangan memuji ku... lebih baik kita segera cari tahu apa yang sebenarnya terjadi disini... tapi sebelum itu kita perlu menghubungi pihak akademi dan mengurus orang orang ini..." Balas Zen sedikit mengalihkan pandangannya dari Elize kepada Pria pria yang terkapar.
"Benar juga... Tapi para pengawas masih akan kembali sore nanti... jadi untuk sekarang sepertinya kita hanya bisa mengurung mereka"
"Space Creator Magic : Confidence Cabin" Sesaat setelah Zen menghilangkan Relicnya, Sebuah cahaya putih langsung mengejar dari arah luar, menghujam penglihatan Zen dan Elize dengan cahaya putih tadi dan membutakannya.
"Seperti yang kuduga, Zen Kanade kau adalah sebuah ancaman... Setelah ini bersiap siaplah karena kau akan menjadi target selanjutnya" Ucap Suara yang begitu Familiar dari arah yang tidak di ketahui karena mata keduanya tertutup oleh cahaya putih terang.
Dan Setelah beberapa saat kehilangan kendali atas penglihatannya, Mata Duo tadi kembali normal secara perlahan, dimana disaat mereka melihat area sekeliling, pria pria yang sebelumnya terkapar sudah menghilang bersama dengan suara tadi.
"Apa yang terjadi... dimana mereka..." Elize kelihatan panik ketika matanya mencari cari lokasi orang orang bertopeng yang mereka kalahkan.
"Hey tuan putri... apa keamanan akademi memang mudah di tembus seperti ini?" Zen bertanya dalam sebuah tatapan lurus dan pikiran yang bermain.
"Tidak, ini adalah kali pertamanya ada orang luar yang berhasil menerobos masuk kedalam akademi, karena Akademi ini sudah di lengkapi dengan Perlindungan dari 5 Wizard Laravel... jadi tidak sembarang orang bisa masuk..." Jawabnya.
"Begitu... sepertinya dugaan ku memang benar..."
"Dugaan apa?"
"Sepertinya ada pengkhianat di akademi ini..."
__ADS_1
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter