The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 20 Drama Terbaru Yang Disaksikan Langsung Oleh Si Pengkhianat


__ADS_3

"Jadi tuan putri... Sebagai Ksatria mu aku sedang menunggu perintah..." Zen yang waspada terhadap daerah sekeliling mulai menggoda Elize yang juga bersiaga tepat di belakangnya.


"Bisakah kau sedikit lebih serius sekarang... Kita sedang tidak bermain - main... Nyawa kita bisa saja melayang di tempat ini..." Jawab Elize menegur Zen yang nampaknya santai santai saja dengan situasi yang mereka hadapi.


"Kau tidak perlu khawatir tuan putri, karena aku akan melindungi mu apapun yang terjadi... Jadi tidak perlu takut..."


"Itu memang sudah tugasmu... Tapi terima kasih..." Ucap Elize sedikit tersipu kemudian kembali berfokus terhadap sekeliling mereka.


Keheningan memenuhi area jalanan kota dimana harusnya di pagi hari terdapat kericuhan di sekitar jalanan yang mereka lalui dan tentu saja keheningan ini merupakan keuntungan bagi Zen dan Elize dimana mereka bisa berfokus terhadap daerah sekitar.


"Dari atas..." Zen menyatukan kedua tangannya dengan cepat ke atas membuat beberapa shadow hand miliknya langsung melindungi mereka berdua terhadap proyektil yang datang dari atas dan menghujani mereka berdua.


Dan karena reaksi cepat dari Zen lah keduanya berhasil selamat dari serangan anak panah yang sudah menghilang di udara itu, seolah terbentuk dari udara itu sendiri.


"Tidak ada gunanya bersembunyi... Aku sudah tahu kalian ada Disana..." Ucap Zen mengarahkan ucapannya itu ke samping kanan di mana terdapat sebuah tumpukan kotak kayu yang berjumlah cukup banyak.


"Hooo... Kau menyadarinya ternyata, seperti yang dilaporkan kau memang bisa menjadi ancaman jika dibiarkan..." Ujar sosok yang tiba tiba muncul di depan kotak kayu tadi bersama dengan tiga orang lainnya.


"Sihir kamuflase..." Elize dengan ekspresi kaget mulai bersikap waspada terhadap orang asing yang muncul secara tiba tiba itu.


"Senang rasanya menjadi terkenal..." Jawab Zen dengan percaya diri.


"Siapa kalian ini... Apa tujuan kalian menahan kami..." Tanya Elize secara langsung tapi belum memberikan tindakan yang bersiap untuk menyerang.


"Sebenernya aku tidak berniat menahanmu adik kecilku yang manis... Tapi sepertinya kau juga ikut terseret... Dan mau bagaimana lagi... Hal ini cukup menguntungkan..." Regurd menjawab dengan jawaban yang terdengar cukup ambigu bagi Zen dan Elize.


"Adik kecil yang manis?, Tuan putri apa kau kenal dengannya?"


"Jangan bercanda... Siapa kau yang berani beraninya menganggapku sebagai adikmu..." Teriak Elize yang merasa tidak kenal sama sekali dengan pria berkacamata yang ada di depannya.


"Hooo... Jadi ayah belum menceritakan sedikitpun tentang kakak mu ini yah... Sayang sekali padahal selama ini aku terus mengawasi kalian berdua..." Ucapnya lagi.


"Omong kosong, jangan berani kau menyebut ayahku dengan mulutmu itu..." Elize kembali berteriak memberikan umpatan pada Regurd.


"Apa begini didikan yang di berikan oleh ayah kepadamu Adik ku... Kalau begitu biarkan kakakmu ini memperkenalkan diri.... Regurd Du Arthur... Putra mahkota kerajaan ini, sebelum akhirnya aku di buang oleh kerajaan..." Regurd memberikan salam hormat nya sambil memperkenalkan diri pada Elize dan Zen.


"Apa yang kau katakan..."


"Mungkinkah ini bagian dari sebuah drama... Memangnya novel ini punya genre itu?"


"Lancy!!" Elize bergerak cepat sambil memainkan Lance yang ada di tangannya dengan sangat rapi dan cepat.


Tapi baru beberapa saat melangkah menuju Regurd, gerakannya tertahan dan dia tidak bisa bergerak sama sekali karena shadow hand itu mengunci kaki dan juga tangannya di mana Zen yang berada di belakang nampak sengaja menahannya.


"Tuan putri kau tidak boleh bertindak gegabah seperti itu, karena biasanya orang yang bertindak gegabah hanya akan menyusahkan... Dan aku benci hal menyusahkan" Ucap Zen kemudian menarik mundur shadow handnya yang juga ikut menyeret Elize ke dekatnya.


"Sepertinya kesatria mu itu adalah orang yang cukup bijak dalam mengamalkan keputusan yah adikku bersyukurlah..." Regurd yang berada di depan bertepuk tangan kecil sambil memuji tindakan Zen.


"Lalu apa yang harus ku lakukan Zen... Kita tidak boleh membuang banyak waktu disini... Aku yakin akademi sedang berada dalam masalah karena itu mereka menahan kita disini... Apalagi sekarang para pengajar sedang tidak ada Disana..." Berontak Elize berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


"Dengar tuan putri, aku tau kau mengkhawatirkan akademi sekarang, tapi berpikir logis lah... Apa yang bisa kau lakukan Sekarang?, Kita tidak bisa langsung mengalahkan mereka disaat kita tidak tau kemampuan apa yang mereka punya... Tapi jika kau tetap memaksa aku akan membiarkanmu... Karena aku pikir sebagai kesatria mu aku sudah melakukan hal yang kupikir akan melindungi mu..." Melepaskan Elize dari sihir bayangannya, Zen berdiam menunggu jawaban dari Elize.


"Mereka pasti sudah merencanakan ini dengan matang karena itu kita tidak bisa melepaskan diri begitu saja..." Sambung Zen lagi menambah kesulitan Elize untuk mengambil tindakan.


"Kau benar... Maaf karena sudah membuat mu kerepotan, tidak seharusnya aku mengambil tindakan gegabah di saat seperti ini..." Ucap Elize sedikit menyesal dalam suara nya.


"Tenang saja adikku, murid murid akademi tidak akan terluka karena kami hanya mengincarnya saja... Dan setelah selesai mendapatkan nya kami akan langsung melepaskan kalian... Tentu saja mereka tidak akan terluka jika tidak melawan..." Regurd yang berada di depan berbicara kembali setelah mendengar diskusi anatara Elize dan Zen.


"Tenang saj tuan putri... Kau mungkin akan kesulitan melawannya tapi kau punya aku sekarang jadi mari kita selesaikan ini dan segera ke akademi..." Ucap Zen menepuk pundak Elize dengan pelan.


"Yah, kau benar... Mari kita selesaikan ini sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka mau..." Jawab Elize dengan percaya diri.


Elize bersiap ketika tiga orang yang ada di depannya mulai bergerak terhadap tindakan keduanya yang mungkin juga ikut bersiap Menyerang, ketiga orang tadi kini memanggil Relic mereka yang berbentuk Gada berukuran sedang, Sebuah Long Bow, dan juga sarung tangan besar yang mungkin dia gunakan untuk pertarungan tangan kosong.


"Wah, Relic mereka cukup hebat dibandingkan aku yang hanya punya Relic Kertas..." Zen berakting kagum setelah ketiga orang yang bersama Regurd memamerkan Relic mereka.


"Relic mu kertas?... Apa kau bercanda..." Tak percaya dengan apa yang di katakan Zen, Elize sedikit meragukan nya.


"Carta..." Zen memanggil Relicnya untuk membuktikan ucapannya pada Elize, dan ketika secarik kertas itu muncul, Elize menganga, benar benar tidak menyangka kalau Relic milik Zen adalah Kertas hitam polos Berukuran kecil.


"Hahaha, lihat itu kita akan melawan pemilik Relic kertas..." Tawa salah seorang dari ketiga orang yang bersama Regurd.


"Bos apa dia benar benar ancaman yang dimaksud?" Sahut salah seorang lagi.


"Awww... Tolong jangan pukul aku dengan kertas itu... Itu sakit" sementara yang lain mengejek secara langsung, orang yang memiliki Relic gada berakting untuk menghina Zen.


"Ahahagahahahag"


"Awowkwkwkwkk"


Kesal dengan ejekan yang di lontarkan padanya Zen melemparkan Carta ke atas dan jumlah Carta langsung menjadi banyak, setelah itu ia lesatkan ke arah tiga orang yang masih tertawa terbahak bahak.


"Bagaimana jika kalian sudahi tertawanya?, Karena sekarang adalah saatnya menari..." Ucap jahat Zen ketika kertas yang melayang ke arah tiga Orang tadi terbakar dan berubah menjadi sebuah jarum dalam jumlah banyak dan menancap di tubuh mereka masing masing.


"Ahahha... Geli.."


"Lihat aku menari saking sakitnya jarum kertas ini..."


"Awwww... Sakitnye"


Sementara Tiga orang tadi menganggap Remeh Jarum Zen, Regurd melompat ke atas tumpukan kotak untuk menghindari serangan jarum yang juga di tujukan ke arahnya.


"Lepaskan" Ucap Zen saat ketika orang tadi masih tertawa terus menerus.


Zretttt.... Zrettt.... Zrettt...


Listrik menyengat, menyetrum tubuh ketiga orang tadi dengan tegangan tinggi membuat mereka terlihat seperti menari nari saking tingginya tegangan listrik dari jarum yang Zen lemparkan.


Dari kejauhan Zen tersenyum puas saat tubuh ketiga orang tadi sudah hangus dengan rambut yang naik ke atas, membungkam ketiganya dengan serangan telak.

__ADS_1


"Begitu, Relic kertas mu bukanlah sembarang kertas... Tapi kau bisa meniru juga yah... Kau adalah ancaman yang begitu berbahaya..." Regurd yang berdiri di atas tumpukan kotak berbicara setelah menganalisis serangan sihir Zen.


"Majulah, dan kertas ini akan menghakimi mu..." Tantang Zen, sementara di sampingnya Elize mematung.


"Corpse Magic: The Summons of the Terrified" Lingkaran sihir ungu terbentuk di bawah mayat ketiga orang tadi, dan dalam sekejap saja tiga orang yang seharusnya sudah mati karena serangan Zen barusan kembali bergerak dan bangkit.


"Itu Sihir terlarang... Sihir pembangkitan" Ucap Elize kemudian maju ke depan Zen saat ketiga mayat tadi mulai berjalan mendekati mereka berdua.


"Itu benar adikku, dan karena inilah ayah mengusirku dari istana... Saat dia tahu kalau atribut sihir ku adalah sihir pembangkitan... Dia langsung membuang ku jauh dari istana... Demi menjaga citra kerajaan... Padahal aku tidak berniat sedikit pun untuk membuat kejahatan dengan sihir ini..." Jawab Regurd menceritakan masa lalunya.


"Chrono Magic : Precious time" Elize merapalkan Sihirnya, membuat di sekitar mata tajam Lance yang ia pegang bercahaya terang seolah ia menyelimuti Relic nya sendiri dengan sihir.


Dia berlari menghampiri mayat hidup yang kecepatan geraknya bertambah, dan mengincar mereka berdua dengan sangat Cepat.


Srettt....


Menghindari serangan langsung dari cakaran si mayat hidup, Elize menunduk kemudian menyeret paksa Lancenya ke bagian perut si Mayat hidup kemudian membelahnya menjadi dua bagian, setelah itu ia kembali melompat mundur.


"Sepertinya serangan yang kau berikan sia sia tuan putri..." Teriak santai Zen dari belakang, ketika dua bagian tubuh yang terpotong itu masih bergerak dan mulai beregenerasi membentuk tubuh yang baru dimana menambah jumlah mayat hidup.


"Sihir yang sempurna bukan adikku tersayang... Lihatlah bagaimana kakakmu ini akan merubah kerajaan busuk ini menjadi lebih baik..." Regurd berteriak puas dari atas tumpukan kotak kayu ketika menyaksikan wajah kesal Elize.


Tidak mendengarkan peringatan Zen, Elize kembali bergerak dengan cepat kemudian menebas satu persatu mayat hidup kepunyaan Regurd, dia menebas kaki, kepala, tangan dan perutnya dengan cepat dan berhasil meruntuhkan mereka dalam sekejap.


Zen bergeleng saat Elize kini sudah terkepung oleh mayat hidup yang jumlahnya bertambah Banyak itu, dari yang tadinya hanya berjumlah tiga kini berjumlah lebih dari sepuluh.


"Baik Tuan putri saatnya mundur..." Zen menggunakan sihirnya untuk memindahkan Elize dari kepungan mayat hidup ke sampingnya.


"Ini sangat sulit... Mereka tidak ada habisnya..." Keluh Elize menyaksikan mayat hidup yang kini semakin banyak.


"Yah itu karena kau tetap menebas mereka saat sudab tau kalau mereka akan bertambah banyak..." Jawab Zen.


"Tidak mungkin kita akan bisa menghentikan nya..."


"Yups seperti nya kau benar... Kita sedang terpojok sekarang..."


Saat tengah di selimuti oleh keringat dingin, Mayat mayat hidup tadi kini menghilang masuk ke dalam lingkaran sihir ungu, dimana Regurd melompat turun dari atas kotak kayu dan berjalan menjauh dari keduanya.


"Karena kami sudah mendapatkan apa yang kami inginkan maka cukup sampai disini dulu adikku tersayang... Kita pasti akan bertemu lagi dalam waktu dekat... Sampai jumpa..." Ucap Regurd sesaat sebelum ia menghilang dengan sihir kamuflasenya.


Suasana berubah, Kini Elize dan Zen sudah keluar dari Barriere... Dimana saat ini mereka berada di tengah tengah keramaian kota di pagi hari.


"Fyuhhh kita selamat..." Ucap Lega Zen.


"Zen Akademi!!!" Elize berlari sambil menarik tangan Zen menerobos ke dalam jalanan ramai kota.


Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2