
Siang Hari / Nipotia Kingdom
Zen bersandar di depan sebuah pohon yang begitu lebat ketika dia dan Daven kini berada di hutan liar Ibukota Kerajaan Nipotia dan sedang bersiap untuk latihan sihir.
"Baiklah Daven... Sekarang aku akan bertanya padamu... Apa kau masih ingat janjimu semalam..." Tanyanya dengan santai ketika Daven berdiri tidak jauh di depannya.
"Tentu saja... Aku berjanji tidak akan menggunakan kekuatan ini untuk sesuatu yang salah dan akan melindungi adik adikku..." Jawab percaya diri Daven dengan tekad yang membara di matanya.
"Bagus, sekarang dengarkan penjelasan dariku dengan seksama... Pertama aku akan menjelaskan tipe sihirmu... Pemakan dimensi, Pencipta kehampaan... Atau kau bisa menyebut nya Void... adalah sihir yang memiliki tipe pembentukan... Artinya sebelum mengeluarkan sihirmu kau harus membentuk Sihir terlebih dulu... Dan setelah terbentuk kau baru bisa menanamkan berbagai macam rapalan ke dalamnya..."
"Jadi kak Zen apa yang harus ku lakukan untuk membentuk sihirku..." Tanya antusias Daven.
"Pertama tutup kedua matamu dan rasakan mana yang mengalir di dalam dirimu..." Arahan dari Zen segera di praktekkan oleh Daven dimana dia menutup matanya dan mulai merasakan aliran mana yang ada di dalam tubuhnya.
"Setelah kau berhasil merasakan mana mu... Selanjutnya adalah mengontrol aliran tersebut... Kontrol aliran mana mu menuju ke telapak tangan dan bayangkan sebuah pembentukan sihir..."
"Baik" jawab Daven yang konsentrasinya sangat penuh, dia mengangkat telapak tangannya dan mulai mengalirkan mana nya kesana.
Swushhh...
Zen tersenyum senang ketika sebuah bola Hitam transparan muncul di telapak tangan Daven yang dimana ketika dia membuka matanya, rasa senang yang ada di dalam dirinya meluap luap.
"Berhasil... Aku berhasil kak Zen..."
"Kerja bagus... Kau sudah melakukan usaha yang baik..." Puji Zen yang kemudian menegakkan badannya.
"Lalu apa yang harus ku lakukan dengan ini?" Tanya Daven yang memandangi bole hitam transparan yang ada ditangannya.
"Untuk sekarang coba kau lepaskan bola Hitam itu ke arah pohon sana dan lihat apa yang terjadi..." Perintah Zen menunjuk ke pinggir.
"Baik!" Daven menggerakkan telapak tangannya kemudian dengan segera melepaskan bola Hitam transparan tadi ke arah pohon yang di tunjuk Zen.
Bola Hitam itu terbang ke arah pohon dengan sangat cepat kemudian menyentuhnya sedikit saja, dan ketika kulit tipis bola Hitam itu menyentuh permukaan pohon, Bola Hitam itu terlihat menyedot masuk pohon yang di sentuh nya dan dalam sekejap pohon yang di sentuh hilang tanpa jejak bersama dengan bola Hitam transparan tadi.
Zen terdiam, bahkan ketika dia sudah tahu kalau hal itu akan terjadi, tapi bagaimanapun yang terjadi begitu hebat sampai sampai dia terkejut, apalagi Daven yang kelihatan tidak percaya dengan sihirnya sendiri.
"Aku melakukan yang tadi... Apa itu benar benar kekuatan sihirku..." Ucapnya yang mematung.
"Yah... Itu adalah sihirmu... Dan menurut ku itu sangat gila..." Balas Zen.
"Kak Zen... Terima kasih... Berkat kakak aku berhasil mengetahui seperti apa sihirku... Dan aku tidak menyangka akan sehebat ini... Terima kasih kak Zen... Ini pasti takdir dari Tuhan kita bisa bertemu..." Daven berulang kali menundukkan kepalanya pada Zen sebagai ucapan terima kasih.
"Takdir dari Tuhan yah... Yak... Kurasa itu ada benarnya sedikit" Balas Zen dengan suara pelan.
"Jangan hanya puas dengan itu Daven... Kau masih bisa berkembang lagi... Selanjutnya adalah penanaman rapalan..."
"Penanaman rapalan... Apa maksudnya itu..." Tanya Daven heran.
"Contohnya seperti ini..." Zen bergerak mundur sedikit menjauh dari Daven.
"Sihirku adalah bayangan... Dan kau lihat bayangan yang ada di bawah kakimu kan..."
"Yah..."
"Sekarang aku akan menanamkan rapalan ke bayangan yang ada di bawah kakimu... [Shadow Magic : Confinement Of Being]" Rapal Zen mengeluarkan Beberapa shadow hand dari bawah kaki Daven dan langsung mengunci pergerakannya.
"Itu adalah salah satu dari Rapalan yang kupunya... Kau juga bisa menanamkan rapalan dalam sihirmu sesuka hati... Entah itu kau mau membuat bola Hitam tadi mengecil, membesar, menelan barang, ataupun yang lainnya..." Jelas Zen lagi kemudian melepaskan sihirnya dari Daven.
"Hebat... Tapi bagaimana caranya menanamkan sebuah Rapalan?"
__ADS_1
"Mudah, sesaat setelah pembentukan kau hanya harus membayangkan bentuk sihirmu... Dan tuangkan dalam sebuah mantra yang nantinya akan menjadi kunci pemanggilan sihir nya..."
"Baik aku mengerti..."
"Bersiaplah karena setelah ini kita akan melakukan latihan yang lebih sulit..."
• • •
Sore Hari...
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tidka di sadari oleh Zen dan Daven yang berlatih sihir bersama sebelumnya.
Zen masih di posisi awal dimana dia bersandar di pohon dan Daven yang terbaring di tanah dengan nafas yang Terengah engah dan terkesan cukup berat, dimana dia berbaring Sembari menatap langit yang kini mulai berwarna kejingaan.
"Istirahat lah sebentar sebelum kita kembali... Karena kau sudah berusaha keras maka akan ku traktir makan malam..." Ucap Zen yang berjalan melalui Daven.
"Apa kita boleh membeli untuk adik adikku juga?"
"Tentu saja dasar bodoh... Ayo!" Ajak Zen yang mulai berjalan menuju keluar hutan.
"Baik!" Daven yang terlihat bersemangat berdiri dari tempatnya berbaring kemudian pergi menyusul Zen yang ada di depan.
"Kalau boleh tau kak Zen berasal darimana.." Tanya Daven di tengah tengah perjalanan mereka kembali.
"Aku berasal dari tempat yang biasa biasa saja... Tidak ada yang spesial... Kenapa kau ingin tau?" Jawab Zen Terus memandang ke depan.
"Tidak ada... Aku hanya penasaran darimana seorang yang sehebat kak Zen berasal..."
"Begitu... Tapi kau tau aku tidaklah hebat... Beberapa temanku mungkin lebih hebat dariku, dan mungkin bagi mereka aku hanya kutu air..."
"Meskipun begitu kak Zen tetap hebat bagiku..."
Zen melirik kesamping ke arah Daven yang matanya terlihat begitu senang.
"Mimpi ku... Membentuk Hare-"
Pletakkk!!
Jitakan mentah mendarat tepat di kepala Daven sesaat sebelum dia selesai dengan kalimat nya, dan di sampingnya Zen dengan tatapan dingin menusuk menatapnya.
"Buang saja mimpi bodohmu dan matilah..." Ucap dingin Zen yang kini siap dengan jitakan kedua.
"Hanya bercanda... Itu candaan kenapa kak Zen menganggapnya serius... Itu sakit" Daven meringis memegangi kepalanya yang terasa panas.
"Jangan bercanda di saat aku serius bertanya..."
"Baiklah..."
"Jadi... Apa mimpi mu..." Zen kembali berjalan diikuti oleh Daven di belakang menyambung pembicaraan mereka.
"Beberapa saat yang lalu aku tidak punya mimpi dan hanya akan hidup mengikuti arus... Tapi setelah bertemu dengan kak Zen aku mulai berpikir untuk kehidupan ku yang lebih baik kedepannya, entah kenapa aku merasa begitu yakin dengan kekuatan ku sekarang aku bisa melakukan apapun, aku akan memberikan adik adikku hidup yang baik dan juga melindungi orang orang... Karena aku akan menganggap itu sebagai rasa syukur ku kepada tuhan..." Ucap Daven dengan sedikit terharu.
"Kenapa kau begitu taat?..."
"Waktu kecil ibuku pernah bilang kalau Tuhan akan selalu melindungi mereka yang ingat kepadanya... Karena itu aku mengajarkan adik adikku untuk selalu berdoa kepada tuhan... dan Agar keluarga ku yang tersisa selalu dilindungi oleh tuhan maka aku tidak pernah Berhenti berdoa kepadanya..."
"Owhh... Sepertinya ibumu adalah orang yang baik..."
"Yah, beliau sungguh baik..."
__ADS_1
Pembicaraan keduanya terus mengalir bersama dengan langkah mereka yang semakin dekat dengan kota, dan setelah sampai mereka berhenti berbincang untuk sesaat dan mulai mencari cari makanan yang akan di makan, banyak pilihan yang tersedia dan Daven memilih banyak sekali makanan karena Zen akan membayar nya.
Setelah beberapa saat berbelanja makanan keduanya berjalan kembali menuju tenda Daven, Saat itu hari sudah beranjak malam dan suasana kota seperti biasanya dimana di pusat sangat ramai dan sepi untuk pinggir kota.
"Bukankah kau membeli terlalu banyak..." Wajah kering Zen terlihat ketika melihat bungkusan yang ada di tangan Daven dan itu sangat banyak.
"Habisnya aku bingung ingin memilih yang mana jadinya ku beli saja semua... Mumpung kak Zen yang membayar... Hehe" Tawa kecil Daven sambil berjalan semakin cepat, tidak sabar untuk memberikan makanan tadi pada adik adiknya.
"Setidaknya ingatlah kalau aku bukan penghasil uang..."
"Maaf maaf..."
Keduanya berjalan lurus di dalam gang untuk beberapa saat dan akhirnya sampai di ujung gang.
"Dina, Dino, Dion kakak pulang dan lihat apa yang kakak baaaa....."
Buk...
Bungkusan yang ada di tangan Daven jatuh begitu saja ke tanah ketika Daven menyaksikan apa yang ada di depan matanya.
Tenda kecilnya yang berantakan dengan beberapa noda merah di berbagai tempat, dengan panik Daven dan Zen berlari masuk untuk memastikan bahwa apa yang mereka pikirkan salah.
"Apa... Yang terjadi..." Ucap Zen menyaksikan tubuh tiga orang yang tertumpuk dengan darah yang berceceran dimana mana.
"Dina, Dino, Dion... Apa... Ini... Heyy bangunlah" Daven jatuh berlutut di dekat tubuh tiga anak kecil yang tak lagi bergerak itu.
"Daven..."
"Heyy, bangun! kakak membawa makanan untuk kalian..." Daven mengerakkan tubuh salah satu adiknya itu dan tidak memperdulikan noda merah yang menempel di telapak tangannya.
"Daven hentikan... Mereka sudah pergi..." Ucap Zen memegangi pundak Daven.
"Tidak kak Zen, mereka tertidur, aku harus membangunkan mereka untuk makan malam... Hey bangunlah atau kakak mu ini akan memakan semuanya..." Dengan suara sedih yang terdengar cukup pilu Daven terus menerus menggerakkan tubuh adiknya yang sama sekali tidak merespon panggilan darinya.
"Kenapa... Kenapa kalian tidak bangun, apa kalian sudah tidak mau lagi makan bersama kakak kalian... Bangunlah.... BANGUNLAH!!!" Daven berteriak histeris sembari memukul lantai.
"Siapa yang melakukan ini..." Tanya Zen.
"Kenapa... Kenapa... Kenapa tuhan tidak melindungi mereka... Padahal mereka anak baik yang selalu mengingat Tuhan... Kenapa ya Tuhan kau tidak melindungi mereka... Apa karena kami miskin... Jawab aku Tuhan!!!!" Air mata mengalir dari mata Daven dan jatuh membasahi tubuh ketiga adiknya yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Hentikan Daven..."
"Kak Zen... Kenapa ini terjadi... Apa yang harus ku lakukan..." Daven berbalik menatap Zen yang berdiri di belakangnya.
"Kau harus merelakan kepergian adikmu..."
"Adikku... Mereka sudah pergi, bahkan sebelum aku dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka..."
"Aku yakin waktu yang mereka habiskan bersama mu adalah waktu yang membahagiakan... Jadi untuk sekarang sebagai kakaknya kau harus memberikan mereka peristirahatan yang baik... Aku akan membantumu..." Saran Zen menepuk pundak Daven dengan lembut.
"Yah, kau benar kak Zen... Tidak ada gunanya menangisi ini terus... Aku akan membalaskan kematian mereka... Sebagai ganti dari tidak bisa melindungi mereka akan kuhabisi orang yang sudah membunuh adikku..." Kelopak mata Daven mengecil bersama dengan suara nya yang penuh dengan dendam.
"Benar... Mulai sekarang kau akan hidup dalam kegelapan... Dan mulai sekarang juga... Berhenti lah berdoa kepada Tuhan, karena dari awal tuhan itu memang tidak ada... Jadi jangan pernah lagi berdoa kepada Tuhan di dunia ini... Dan balas kan kematian adikkmu..."
"Kalau di ingat lagi, tuhan memang tidak ada... Mereka tidak pernah sekalipun mengabulkan doa doaku... Aku yang salah karena percaya padanya... Kak Zen, mulai sekarang aku akan hidup dengan tujuan membunuh mereka yang menghabisi adikku,
Serta...
Mereka yang percaya pada Tuhan..."
__ADS_1
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter