
Siluet siluet yang mencurigakan berterbangan di atas ibukota yang gelap, tanda di mulainya aktivitas malam hari bagi mereka yang di sebut sebagai makhluk nokturnal, melompati satu persatu atap bangunan yang ada di ibukota secara bergantian membuat gerakan mereka sama sekali tidak dapat di lihat oleh para warga yang beraktivitas di bawah.
Dengan satu tujuan yang pasti kini mereka sudah berhasil mengepung seluruh area istana kerajaan yang di depannya sudah ada beberapa Knight yang di temani oleh Mira dab Beberapa Magician yang di dampingi langsung oleh Kira.
"Yang Mulia para pemberontak sudah terlihat... Bersama dengan Kedua Puluh pembunuh bayaran yang mengepung istana dan juga anggota lain mereka yang bergerak menuju istana melalui kota seperti nya jumlah mereka tidak kurang dari 80 orang..." Salah satu tim pelacak memberikan laporannya pada Arthur yang langsung memberikan perintah pada mereka tepat setelah Zen pergi untuk Menyerang markas.
"Perintahkan pada para magician untuk membuat penerangan di seluruh area istana... Kalau perlu minta bantuan dari pejuang Aoi Hana yang memiliki atribut sihir cahaya... pastikan agar tidak ada tempat bagi para assassin untuk bersembunyi di kegelapan... Setelah itu kumpulkan semua pejuang yang ada di ruang singgasana..." Ucap Arthur berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menuju keluar ruangan dengan segera.
"Baik yang mulia, saya mengerti..."
Beberapa saat setelah memerintahkan semua pejuang berkumpul, kini Arthur dan para pejuang bersama dengan Luna dan Elize berkumpul di dalam ruang Singgasana dan suasana tegang menyelimuti semua orang, keadaan di luar sangat lah terang ketika api dan cahaya menjadi satu dan memberikan penerangan yang cukup untuk satu area istana.
Para warga juga sudah mengevakuasi diri mereka sendiri ketika para pemberontak tiba di ibukota dan menyerang menuju istana, membuat area kota menjadi sepi dan terlihat tanpa aktivitas apapun seperti malam malam sebelumnya.
"Terima kasih karena sudah berkumpul dengan segera para pejuang sekalian, maaf karena memanggil kalian secara tiba tiba... Tapi saat ini kerajaan sedang membutuhkan bantuan kalian..." Arthur yang tidak duduk di kursi singgasananya malah berjalan turun dan berdiri di antara para pejuang yang masih bingung dengan situasi yang sedang mereka alami.
"Ayah, bisakah ayah segera memberitahukan ada apa sebenarnya... Kenapa banyak sekali penerangan di sekitar istana..." Tanya Elize yang menyaksikan raut panik ayahnya.
"Dengarkan aku sekarang dan jangan panik, Istana telah di kepung oleh para pemberontak, jumlahnya sekitar 80 orang... Dan diantara mereka terdapat beberapa asassin..." Jelas Arthur dengan singkat.
"Para pemberontak..."
"Maksudnya yang menyerang akademi kemarin..."
"Kali ini apa yang mereka inginkan..."
"Zen... Dimana Zen sekarang ayah" Elize bereaksi dengan menyusuri satu ruangan Berharap dapat menemukan sosok Zen bersama mereka.
"Elize ayah tadi minta agar tidak panik..."
"Bagaimana mungkin ayah bisa setenang itu... Saat ini Zen sedang menja-"
"Elize!!!" Arthur berteriak memotong kalimat Elize.
"Apa ayah terlihat tenang... Apa nada Bicara ayah terdengar sangat santai..." Tanyanya yang sama sekali tidak mengharapkan jawaban dari Elize.
"Ayah juga tau kalau Kanade Zen lah yang menjadi target penyerangan kali ini, dan dia juga sudah mensiasati hal ini... Karena itu sekarang dia sedang pergi melakukan sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang hanya bisa di lakukan olehnya... Dan dia juga meminta agar kalian semua bisa membantunya secara tidak langsung..." Sambungnya.
"Apa yang dia minta..." Elize menegak air liur nya kemudian berbicara dengan tutur pelan dan sedikit takut dengan teriakan ayahnya.
"Dia akan pergi menghentikan pemberontakan ini, jadi kalian semua di minta untuk melindungi kerajaan ini..."
"Itu artinya dia sedang..."
"...."
__ADS_1
Elize berbalik kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar tanpa mengatakan apapun, dan tidak ada satupun dari para pejuang yang menahan atau menghalangi nya.
"Kemana kau akan pergi Elize?" Cegah Arthur dengan tergesa Gesa setelah menyaksikan langkah kaki Elize yang sudah seperti siap berlari.
"Sudah jelas, pergi menyusul Zen..." Elize tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan menuju ke pintu keluar.
"Hentikan Elize kekuatan mu di perlukan untuk melindungi istana..."
"Di banding istana... Keberadaan pahlawan seperti Zen sangat penting, jika sesuatu terjadi padanya maka kerajaan juga yang akan terkena imbasnya... Selain itu para pejuang disini adalah orang yang kuat... Mereka pasti bisa melindungi istana..." Elize tetap berjalan tanpa menghiraukan setiap perkataan Dari Arthur yang masih mencoba mencegahnya pergi.
"Tunggu Elize..."
"Tuan Putri maafkan tindakan saya... Tapi saya tidak akan membiarkan anda pergi..." Nania muncul dari balik pintu yang dibuka Elize dan mencegahnya keluar.
"Apa yang kau katakan Nania... Kenapa kau menghalangi ku... Menyingkir lah" Ucap Elize yang tentu saja mengenal Nania sebagai Pelayan Pribadi Zen selama di istana.
"Maaf sekali lagi tapi saya tidak akan membiarkan anda mengacaukan semua rencana yang telah Zen buat..." Nania yang sama sekali tidak menyingkir mulai menunjukkan perlawanan.
"Nania kau tau kedudukan mu bukan... Aku adalah Putri istana dan kau seorang pelayan... Kau tidak ada hak untuk menahan ku..."
"Saya tau Tuan Putri... Tapi semua ini demi kebaikan anda dan juga Zen... Saya tidak akan protes jika setelah ini saya akan di pecat ataupun di hukum... Demi keselamatan Zen saya akan melakukan apapun..."
"Kenapa kau sangat bersikeras tidak membiarkan ku pergi..."
"Maaf jika saya terdengar lancang, tapi selain karena saya menyukai Zen dan tidak ingin melihat anda dan Zen bersama, saya juga melakukan ini demi keselamatan Anda dan Zen sendiri, Dia sudah menduga semua ini karena itu sebelum dia pergi dia meminta saya untuk menahan anda... Saya sedikit kesal ketika dia mengatakan tidak ingin melihat anda terluka karena mengikuti nya karena itu saya menahan anda disini... Karena itu tuan putri, saya mohon jangan membuat Rencana Zen berantakan hanya karena keegoisan anda untuk terus bersamanya... Ini semua demi kerajaan..."
"Dan satu lagi yang Zen ingin saya sampai kan... dia bilang agar anda percaya padanya... Dan dia juga percaya pada anda... Seperti itu..."
• • •
Wilayah Tak Terjamah
Unknown Time
"Kak Zen apa benar ini tempatnya... Bukankah ini terlalu besar dan megah jika melihat lingkungan yang ada di sekitarnya..." Daven yang terpukau dengan bangunan seperti mansion dengan dua lantai itu berdiri dengan tatapan yang sangat kagum terhadap kemegahan bangunan yang pertama kali mereka berdua lihat sesaat setelah muncul dari Spatial Gate yang ada di saluran pembuangan kerajaan.
"Ya... Dibanding istana kerajaan ini lebih seperti sebuah kantung sampah yang terbuat dari emas tapi berada di tumpukan sampah biasa..." Balas Zen yang sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kemegahan.
"Istana...? Apa yang kak Zen katakan..."
"Lupakan saja untuk saat ini, akan ku jelaskan nanti... Sekarang aku akan menjelaskan mengenai apa yang akan kau dan aku lakukan disini..."
"Oke..."
"Pertama ini adalah markas musuh yang mengincar ku..."
__ADS_1
"Kak Zen diincar oleh seseorang... Bagaimana mungkin..." Daven dengan wajah tak percaya bergumam kecil mengikuti volume suara Zen.
"Yah aku melakukan beberapa kejahatan anggap saja begitu... Yang kedua misi kita sekarang adalah membasmi semua orang yang ada di dalam bangunan ini... Dan kemudian menyelamatkan seseorang... Mengerti?"
"Ya ya... Aku mengerti intinya kita hanya perlu membunuh saja bukan... Itu adalah pekerjaan mudah..."
"Kau hanya baru membunuh beberapa orang, jadi jangan terlalu percaya diri... Kita tidak tahu seperti apa kekuatan orang yang ada di dalam sana jadi tetaplah waspada Daven..."
"Baik kak Zen"
"Kalau begitu mari masuk..." Ajak Zen kemudian berjalan terlebih dulu memasuki area mansion, mendekat ke arah Pintu masuk depan dan tidak sedikitpun menurunkan kewaspadaan nya.
"Seperti dugaan ku, tidak ada siapapun disini... Kuharap mereka benar benar berhasil mengurus sisanya..." Gumam Zen.
Bagian dalam mansion begitu terang sehingga Zen merasa kalau ini adalah bagian dari rencana mereka.
Sampai ketika mereka berada di sebuah koridor panjang yang disisinya tidak ada satupun ruangan atau hiasan yang tersedia.
"Selamat datang, di markas kami... Para penyusup..." Ucap seorang pria yang muncul cukup jauh dari depan, suaranya menggema dan sampai pada telinga Zen dan Daven tentunya hal itu membuat Daven merasa waspada.
seorang pria yang mengenakan sebuah kacamata tipis dan rambut panjang di kuncir kebelakang berjalan mendekat ke arah Daven dan Zen kemudian berhenti ketika sudah berjarak beberapa meter di depan mereka.
"Namaku Edward dan aku adalah tangan kanan dari Regurd... Izinkan aku menyambut kedatangan kalian..."
"Hooo... Jadi pria berpenampilan polos seperti mu adalah tangan kanan nya yah... Tidak kusangka..."
"Karena belum pernah bertemu bolehkah aku bertanya siapa nama kalian berdua?" Edward sama sekali tidak memperdulikan ucapan Zen.
"Jangan beritahu dia Kak Zen..." Ucap Daven melarang Zen untuk menjawab permintaan dari Edward.
"Zen... Jadi kau adalah Kanade Zen yang di maksud yah..." Edward yang mendengar nya mulai mengambil kesimpulan.
"Kerja Bagus Daven..." Zen memberi kan acungan jempol dengan raut wajah masam.
"Zen dan Daven sekali lagi selamat datang di markas kami... Dan dengan begini aku akan menjadi hiburan pertama kalian..." Edward membuka kacamata nya dan menyimpan nya di balik seragam yang ia kenakan, memperlihatkan warna matanya yang berubah menjadi kemerahan seketika.
"Belum apa apa sudah melawan sesuatu yang sulit... Dewi Fortuna sialan..."
Note : Nania Be Like :
Nikung Temen Sendiri ❌
Nikung Putri Kerajaan ⭕
Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
__ADS_1
see u next chapter