The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 33 Suasana Kota Sore Dalam Pelukan Hangat Darinya!


__ADS_3

"Tunggu Zen..." Suara panggilan yang begitu akrab di telinga Zen membuatnya berbalik badan ketika baru saja pergi ke ibukota melalui pintu depan istana bersama dengan Nania.


"Yah?, Tumben sekali kalian berdua menemui ku?" Jawabnya dengan sedikit acuh dan mata yang terlihat cukup lesu pada Shin dan Rika yang muncul bersamaan.


"Kemana kalian akan pergi?" Tanya Shin yang melirik kebelakang di mana Nania dengan seragam Maidnya berdiri sambil menunggu pembicaraan mereka selesai.


"Entahlah, kata Nania angin sore di ibukota sangat nyaman, jadi kupikir untuk berjalan jalan sebentar bersama dengannya..." Zen menunjuk Nania yang berdiri tepat di belakangnya dengan jari jempol.


"Sepertinya hanya kau orang yang berani terang terangan berjalan bersama wanita lain di saat putri Elize tidak ada..." Shin memasang wajah khawatir sambil memandang Zen yang sebenarnya tidak tau apa maksud perkataan nya.


"Elize?, Memangnya ada sesuatu yang dia perlukan dariku"


"Kanade aku tidak tau kau ini orang yang tidak peka atau memang murni bodoh..." Rika yang berdiri tepat di samping Shin akhirnya berbicara tapi kalimat yang keluar pertama kali adalah kalimat yang cukup menusuk dan membuat Nania merasa risih.


"Tuan dan Nona pejuang maaf jika perkataan saya terdengar lancang tapi sepertinya nona dan Tuan pejuang salah paham... saya dan tuan Zen tidak ada hubungan apapun untuk saat ini, saya hanya ingin tuan Zen sedikit bersantai karena belakangan ini dia terlalu sibuk dengan misi dari kerajaan dan mungkin terlalu memaksakan diri... Saya hanya tidak ingin tuan Zen sakit ataupun stress karena merasa tertekan... Hanya itu..." Nania maju sedikit kedepan kemudian membungkuk hormat sebelum dia berbicara.


"Ah begitu yah, terima kasih karena sudah merawat Zen dengan baik ehmmm..." Shin berhenti sebelum kalimat nya selesai.


"Maaf karena saya terlambat memperkenalkan diri... Nama saya Nania Yuigaichi... Tuan dan Nona bisa memanggil saya Nania..."


"Yah, terima kasih karena sudah merawat Zen dengan baik selama disini Nania... Dan juga maaf karena sudah salah paham, rupanya kau hanya mengkhawatirkan Zen, syukurlah kau dirawat dengan baik di dunia ini Zen..." Shin memberikan senyum nya sebagai bentuk ketulusan dalam ucapan terima kasih sekaligus dapat bernafas lega ketika tahu Zen di rawat dengan baik.


"Jangan menyinggung soal itu di dunia ini Shin, kau sudah janji tidak akan menyinggung soal itu lagi bukan..." Sanggah Zen ketika mendengar perkataan Shin yang mulai menyinggung masa lalunya, membuat Nania dapat menyaksikan wajah panik dan sedih Zen dalam satu waktu yang bersamaan.


"Maaf maaf, aku lupa..."


"Tidak masalah Tuan Shin, sudah menjadi tugas saya untuk melayani tuan Zen dengan sangat baik jadi anda tidak perlu berterima kasih, saya juga merasa senang dapat melayani tuan Zen..." Nania lagi lagi menundukkan kepalanya pada Shin, Zen melirik ke Nania dan melegakan sebuah napas kecil.


"Jadi ada apa? Jangan bilang kalian menemui ku hanya untuk ini..."


"Ah... Iya hampir lupa... Bisakah kau bertemu dengan Haru nanti... Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganmu..." Ucap Rika yang mengingat tujuannya dan Shin mencari Zen.


"Haru itu siapa...?" Zen yang sama sekali tidak mengenal siapa orang yang dimaksud Rika menanyai dengan wajah penasaran.


"Haru itu Miharu Katagawa... Jangan bilang kau tidak tau siapa dia..."


"Ah Miharu Katagawa yah... Aku tau dia..."


"Baguslah, temui dia nanti yah..."


"Baiklah, akan ku sempatkan untuk menemui nya nanti... Itu saja bukan?"


"Yah, hanya itu pergilah untuk bersantai... Nania memang benar kau terlihat cukup kelelahan, jangan sampai sifat buruk mu itu mengendalikan dirimu lagi yan Zen... Ingat itu..."


"Baik baik ibu... Kau terlalu cerewet" Zen berbalik setelah menlontarkan kata Ibu pada Shin yang kembali menceramahi nya, membuat Rika dan Nania sedikit menahan tawanya melihat gurauan keduanya.

__ADS_1


"Sialan kau, aku bukan ibumu..." Teriak Protes Shin dari kejauhan saat Zen sudah mendekati gerbang keluar istana.


"Zen dan Tuan Shin kelihatannya akrab sekali yah..." Nania membuka pembicaraan saat dia dan Zen mulai berjalan di jalanan sore kota, hari sebentar lagi akan malam tapi jalanan kota belum di hiasi oleh lampu jalanan yang biasanya di nyalakan oleh para warga.


"Begitulah, Shin itu adalah teman masa kecilku jadi aku sudah akrab dengannya dari dulu..." Jawab Zen terus menatap ke depan dan berjalan tanpa tujuan.


"Pantas saja dia mengetahu tentang masa lalu mu..."


"Yah begitulah..."


"...." Nania melirik ke Wajah Zen yang kelihatan sedikit lesu dan tanpa ekspresi yang jelas.


"Ada apa..." Ucap Zen yang menyadari kalau Nania sedang menatap wajahnya.


"Tidak apa... Aku hanya berpikir kalau Tuan Zen adalah orang yang tidak suka memberi tahukan masa lalunya pada orang lain..." balas Nania yang langsung mengalihkan pandangannya saat Zen balik menatapnya.


"Ku kira kenapa tapi rupanya hanya itu saja..." Zen menguap kecil setelah kekhawatiran nya usai.


"Kalau tidak keberatan Zen boleh menceritakan nya padaku..." Nania dengan sedikit tersipu menyembunyikan wajahnya dengan menundukkan kepala.


"Baiklah, aku tidak masalah... Meski jujur saja aku tidak terlalu suka mengumbar nya pada orang lain, tapi jika itu kau Nania seperti nya akan baik baik saja..."


"Terima kasih sudah mempercayai ku..."


"Terserah saja..."


"Ehm... Kalau begitu aku akan bertanya padamu Nania, Kehidupan seperti apa yang kau inginkan...?"


"Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang bahagia bersama dengan orang orang terdekat mereka..." Jawab Nania meskipun dia tidak tahu tujuan Zen menanyakan itu padanya.


"Haha... Tidak ku sangka kita memiliki pemikiran yang sama... Indah bukan jika kita bisa hidup bahagia seperti itu... Setidaknya dulu aku berpikir seperti itu..."


"Apa ada sesuatu yang terjadi..."


"Yah, tapi itu adalah sesuatu yang aku lambat sadari... Kau tau Nania, ayahku adalah orang hebat yang di kenal masyarakat sebagai pendiri sebuah perusahaan elektronik, dia adalah seorang Jenius yang mampu memberikan kontribusi pada perkembangan teknologi dunia ku..."


"Aku tidak terlalu mengerti... Tapi sepertinya ayahmu memang hebat..."


"Itu benar dia memang hebat, terlebih lagi ibuku, dia adalah perempuan multi talenta yang berdiri berdampingan dengan ayahku, karena itu keduanya berperan sangat besar dalam perkembangan teknologi duniaku..."


"Lalu.. apa yang terjadi..."


"Saat nama mereka dikenal semua orang sebagai pasangan yang hebat dan luar biasa, perspektif masyarakat mulai meningkat dan mereka mulai berpikir bahwa ketika keduanya mempunyai anak maka anaknya adalah orang jenius yang sangat berbakat dan mampu mewarisi kehebatan keduanya..."


"Tapi sayangnya yang lahir adalah aku, anak yang bahkan dalam akademis saja sangat biasa... Dan tidak punya banyak kelebihan..." Zen berbicara dengan sedikit terdengar murung dan sedih yang perlahan mulai bangkit dan kini keduanya sudah sampai di tengah kota tanpa mereka sadari, Nania tanpa berbicara mulai memimpin jalan saat Zen kembali bersiap menyambung ceritanya.

__ADS_1


"Di saat aku melakukan sesuatu yang salah, Orang orang di keluarga besarku mulai mencaci dan meragukan diriku apakah aku benar benar anak dari kedua pasangan hebat seperti itu...


Tapi di saat aku mendapat sebuah prestasi maka mereka menganggap nya sebuah hal wajar karena aku adalah anak keduanya...


Ayah dan ibuku pun sama, tidak ada sebuah pujian sedikitpun saat aku berhasil meraih sesuatu dan mereka malah membandingkan diriku dengan anggota keluarga yang lain...


Namun di saat aku salah mereka akan mulai menceramahi ku seperti orang yang benar benar gagal dalam kehidupan, mereka tidak peduli sama sekali tentang perasaanku, mereka merusak mental ku sedari kecil...


Tapi aku masih belum menyerah, aku belajar mati matian di saat semua anak seusia ku sibuk bermain, aku sibuk menolak ajakan main Dari Shin saat masih kecil hanya untuk belajar dan berlatih pedang, semua itu hanya untuk membuktikan diri bahwa aku memang bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka memujiku...


Dan pasa akhirnya tidak ada sedikit pun dari mereka yang melakukan itu dan mereka hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri...


Aku menyerah, begitulah yang aku pikirkan, aku bahkan berharap agar tidak dilahirkan dari kedua pasangan itu, dan pada saat akhir aku melarikan diri dari rumah, Untuk beberapa saat aku menginap di rumah Shin, Shin sendiri terus meminta ku untuk pulang tapi tidak ada sedikitpun aku berniat kembali ke neraka itu...


Dan untuk beberapa tahun kemudian aku lepas dari mereka, tapi mirisnya mereka sama sekali tidak mencari ku, mereka tidak mengkhawatirkan keberadaan ku sedikitpun, dan saat itulah aku sadar kalau sejak awal aku memang tidak diinginkan di keluarga itu...


Bodoh sekali bukan, sejak awal aku memang bodoh karena terlambat menyadari nya..., Bahkan saat pergi dari rumah Shin saja kehidupan ku sudah sangat berantakan karena itu Shin khawatir tentang ku, karena dia tau kalau aku adalah orang yang tidak peduli lagi terhadap kehidupan..." Zen mengakhiri ceritanya dan memandang lurus kedepan, dimana dia akhirnya sadar kalau dia dan Nania dari tadi terus menapaki anak tangga dan akhir nya tiba di puncak menara dimana memiliki pemandangan Ibukota dengan langit sore kejingaan yang begitu indah dan menenangkan.


Zen terpaku beberapa saat dan hanyut dalam pemandangan kota yang begitu indah di sore hari dimana matahari sudah mulai kembali berganti shift dengan sang bulan.


"Itu sama sekali tidak bodoh Zen... Malah aku kagum kau bisa bertahan dalam kehidupan yang seperti itu dalam waktu lama..." Ucap Nania yang ikut terhanyut sebentar dalam pemandangan kota.


"Begitu kah..."


"Yah, kau adalah orang kuat, dan entah kenapa aku ikut merasakan seperti apa perasaan mu sewaktu itu, pasti sangat sakit kan..."


"Yah, sangat sakit... Sampai sampai jika mengingat nya lagi aku ingin menangis..." Zen menoleh ke arah Nania yang menatapnya lembut tanpa ekspresi datar sama sekali.


Dan dengan segera Nania meraih kepala Zen dan membenamkan nya dalam sebuah pelukan yang ia persembahkan hanya untuk Zen seorang.


"Nania?"


"Tidak apa Zen, kau boleh menangis sekarang, aku tidak akan menertawakan mu, kau boleh menangis sepuasnya dalam pelukanku... Aku akan mendengar semua hal yang membebani mu Zen..." Ucap Nania mengelus elus kepala Zen dengan lembut dan nada suara yang begitu halus.


"Aku tidak akan menangis bodoh, aku tidak ingin menunjukkan sisi lemahku pada mu..." Jawab Zen membiarkan dirinya tetap dalam pelukan Nania.


"Sesekali menangis itu diperlukan, kau sudah menahannya selama ini... Jadi kau bisa mengeluarkan nya sekarang..."


"Tidak akan... Tapi terima kasih Nania, aku tidak pernah merasakan pelukan senyaman ini... Rasanya seperti... Entahlah lupakan saja... Tolong biarkan aku begini beberapa saat lagi..."


"Yah, silahkan tetap begini sampai kau tenang..."


Note : Tetap Support Author Supaya Novel Ini Tetap Update...


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2