
"Ini kamarku..." Elize menyipitkan matanya, melihat ke arah langit langit kamar yang tidak asing baginya, dia duduk di atas ranjang dan merasa sedikit sakit di bagian tubuh belakang dan beberapa sendi kakinya.
"Bagaimana aku bisa sampai disini begitu cepat, harusnya aku masih berada di desa Sol" ucapnya kebingungan kemudian turun dari atas ranjang dan pergi ke arah jendela besar yang mengarah ke taman istana.
Hari sudah pagi dan mungkin akan segera beranjak menjadi siang karena posisi sang mentari telah hampir sampai di tengah, Elize melirik ke bawah ke arah kumpulan orang orang yang tengah berkumpul sambil berbincang bincang, orang orang yang cukup asing baginya tapi ada satu orang yang begitu dia kenal yaitu adiknya sendiri Luna yang ikut berkumpul bersama orang orang asing tadi.
Karena merasa cukup penasaran dengan orang - orang yang bersama dengan Luna, Elize memutuskan untuk segera berganti pakaian menjadi pakaian istananya setelah dia tertidur dalam tutupan armor dada yang tidak di lepas.
Setelah berganti sesaat, Elize yang mengenakan sebuah gaun berwarna krem dan penuh untaian di bagian bawahnya keluar dari kamarnya dan berjalan di koridor istana yang cukup luas dan panjang, Sesekali dia disapa oleh pelayan yang lewat dan tentu saja para pelayan itu menawarkan bantuan kepada Elize tapi Dia menolak semua tawaran tadi.
"Eh...!" Elize menghindar ketika di belokan Koridor hampir menabrak seseorang.
"Kau..." Ucapnya sedikit berteriak ketika melihat Zen yang dengan tatapan terkejut juga melihat Elize dalam balutan gaun istana.
"Cihh, jangan berteriak seperti melihat penjahat..." Balas Zen yang merasa sedikit Risih setelah melihat Reaksi Elize.
"Maaf..."
"Tidak apa..." Ucap Zen berjalan melewati Elize.
"Tunggu dulu... Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu... Ikut dengan ku sekarang..." Ajak Elize menahan lengan Zen yang baru saja mau pergi ke perpustakaan Istana.
"Apa itu penting?"
"Mungkin begitu..." Jawab Elize sedikit ragu pada jawaban yang dia berikan.
"Baiklah, tapi lepaskan dulu tanganku, cengkraman mu sangat kuat" Keluhnya menarik kembali lengan yang di tahan oleh Elize.
"Maaf..."
"Berhentilah berkata maaf... Lalu kemana kau akan membawa ku?"
"Ruang kerja ayahku..." Jawab Elize dengan pasti.
"Kalau begitu..." Zen berjalan ke dekat Elize kemudian berdiri tepat di sampingnya dan memegang pundak Elize.
"Apa yang kau lakukan?" Elize yang sedikit merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Zen secara tiba - tiba bertanya.
"Diamlah dan ikut saja..." Jawab Zen sedikit merasa canggung karena menurut nya apa yang dia lakukan memang sangat tiba - tiba, Dari bawah kaki Zen bayangannya membesar kemudian menelan dia dan Elize masuk.
Tentu saja hal itu membuat Elize panik bukan main karena dia merasa sedang di serang oleh Zen, tapi Zen sama sekali tidak memperdulikan ucapan Elize dan berusaha fokus terhadap sihirnya.
Sementara itu di ruang kerja Arthur sebuah bayangan muncul tepat di depan meja kerjanya dan perlahan semakin membesar, dari bayangan itu Zen muncul bersama dengan Elize di sampingnya.
"Cara datang yang cukup hebat..." Ucap Kagum Arthur ketika menyaksikan kedatangan Zen bersama dengan Elize.
"Itu karena Putri ini sangat ngebet Meminta ku untuk bertemu dengan mu.." jawab Zen melepas pegangannya dari pundak Elize dan berjalan menjauh.
"Jangan bilang kalau kau yang membawa ku kembali tadi malam menggunakan sihir tadi..." Elize yang diam terpaku semenjak muncul akhirnya mulai berbicara.
"Seperti itulah" Jawab Zen yang meraih sebuah buku dari lemari yang ada di pinggir ruangan dan mulai membacanya.
"Elize... Apa kau sudah baik - baik saja..." Tanya Arthur dengan khawatir melihat putrinya diam tidak bergeming sedikitpun.
"Ehmm... Yah maaf ayah, Elize sudah baik - baik saja..." Jawabnya setelah diam beberapa saat.
__ADS_1
"Syukurlah, ayah Sangat khawatir ketika kau pergi untuk menemui Uccisore... Jangan lakukan itu lagi yah..."
Zen Melirik dari pandangan bukunya dan melihat bagaimana ekspresi Arthur terhadap perkataanya, dan tentu saja hanya ada ekspresi seorang ayah yang khawatir terhadap putrinya.
"Baik Ayah, Elize minta maaf..." Ucap Elize dengan menyesal.
"Tidak apa putriku yang penting kau baik baik saja... Segera temui ibu mu yah, dia juga merasa khawatir..." Arthur menepuk pundak Elize menyuruh nya agar Berhenti menyesali perbuatan yang ia lakukan.
"Baik..."
"Lalu ada perlu apa kau kemari..." Arthur berjalan ke meja nya dan kembali duduk di kursi, menimbang nimbang apakah dia akan melanjutkan pekerjaannya atau mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh Elize.
"Sebenarnya aku ingin bertanya mengenai apa yang di katakan oleh Uccisore saat aku bertemu dengannya..." Elize membuka percakapan setelah menarik napas sedikit.
Wajah Arthur langsung terdiam, pupil matanya mengecil setelah mendengar perkataan dari Elize, "Kau sudah bertemu dengan Uccisore...", Ucapnya sedikit panik.
"Yah, aku bertemu dengannya di desa Sol..."
"Kenapa kau tidak memberi tahu ku...", Bentak Arthur pada Zen yang dengan santainya membolak balik halaman buku yang ada di tangannya.
"Apa? Kau menyalahkan ku? Kau hanya menyuruh ku untuk membawanya kembali bukan... Kau tidak pernah bilang untuk melaporkan segala kejadian yang terjadi..." Jawab Zen dengan sangat santai dan tidak peduli terhadap rasa marah Arthur padanya.
Melihat Reaksi Zen yang sama Sekali tidak menunjukkan Formalitas kepada ayahnya tentu saja membuat Elize heran tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua, tapi dia akan memutuskan untuk mencari tahu itu nanti dan mementingkan pertanyaan nya sekarang.
Tidak ada jawaban dari Arthur mengenai tanggapan Zen dan dia hanya mengalihkan pandangan ke arah Elize yang masih memasang wajah penasaran, "Apa yang dia katakan padamu..." Tanyanya.
"Kurasa ini hanya sebuah bualan nya saja untuk menjatuhkan kerajaan tapi dia bilang kalau dia tidak menyerang desa Sol tapi merebut nya kembali dari kerajaan Terarria... Apa maksudnya itu..." Ucap Elize.
"Dia mengatakan itu kepadamu!!" Arthur sedikit berterkak sambil memukul meja dengan kedua tangannya, membuat Zen dan Elize sedikit tergetar mendengar teriakan itu.
"Ada apa ayah..."
"Kenapa?"
"Seperti katamu itu hanya bualan dari Uccisore untuk menjelek-jelekkan anggota kerajaan dan para bangsawan... Jadi lupakan saja..." Jelasnya.
"Baiklah ayah..." Patih Elize.
"Hanya itu yang ingin kau tanyakan..."
"Benar ayah, hanya itu saja aku akan pergi sekarang" Ucap Elize mengangkat gaunnya memberi hormat pada Arthur.
"Tunggu Elize..." Cegah Arthur sebelum Elize berjalan meninggalkan ruangan bersama dengan Zen.
"Mulai sekarang pejuang Zen akan menjadi ksatria pendamping mu... Ayah tidak ingin kau bertindak sembarangan seperti sebelumnya jadi ayah menugaskan Pejuang Zen untuk mengawalmu kemanapun kau pergi bahkan saat kau berada di akademi..." Ucapnya dengan serius menaruh genggaman dua tangannya di depan wajah.
"Apa!!" Reaksi kaget dari Zen membuat Elize yang berdiri di dekat pintu masuk hampir melompat kaget.
"Ada apa pejuang Zen..." Ucap Arthur dengan tatapan mata yang sedikit mengancam.
"Kau bercanda bukan... Kau pasti sedang bercanda..." Ucap Zen tak percaya.
"Tidak aku serius sekarang, aku tidak akan pernah bercanda jika itu menyangkut tentang putriku..." Jawab Arthur.
"Bagaimana kau bisa memutuskan itu tanpa persetujuan dariku..." Protes Zen.
__ADS_1
"Anggap saja ini balasan dari apa yang kau lakukan semalam karena kau sudah membantu membawa Elize kemari kau bisa menganggap ini sebagai hadiah dariku... Bagaimanapun Putri ku sangat cantik jadi aku akan memberi mu kesempatan untuk bisa dekat dengannya..." Arthur memainkan matanya.
"Daripada di sebut hadiah ini adalah hukuman... Kau membatasi ruang gerak ku untuk melakukan tugasku yang sebenarnya..."
"Tugas yang sebenarnya?" Tanya Elize heran tapi sama sekali tidak di gubris oleh Zen da. Arthur.
"Dan juga Tidak mungkin Putri Elize mau menerima ku sebagai pengawalnya..." Zen melirik ke arah Elize memberinya kode untuk menolak argumen dari Arthur.
"Kau tidak keberatan kan Elize..." Tanya Arthur.
"Yah, tidak masalah, lagipula Lim yang menjadi ksatria ku sebelumnya sudah berhenti jadi kurasa aku harus mencari ksatria yang baru..."
"Apa!!!" Zen yang tidak percaya hanya mengkedut kan mata kanannya.
"Begitulah... Kau akan menerimanya bukan pejuang Zen, ini semua agar tugasmu bisa berjalan lancar..." Sorot mata Arthur kini lebih mengancam Zen, seolah memberi tahunya kalau Zen tidak menerimanya maka rahasia Zen sebagai Si Pengkhianat akan terbongkar.
"!!!!!"
• • •
"Kak Elize..." Panggil Luna yang melihat Elize dan Zen yang keluar bersama dari ruang kerja Arthur, Di samping nya ada Iori dan dibelakang mereka berdua ada Shin dan Juga Rika.
"Luna..." Elize mendengar suara adik nya kemudian melirik ke samping, menyambut kedatangan Luna dengan senyuman.
"Zen? Apa yang kau lakukan?" Tanya Shin.
"Jangan bertanya..." Jawab Zen sangat tidak bersemangat.
"Kak Elize dari mana saja..."
"Aku hanya pergi ke luar sebentar... Dan baru kembali semalam... Ngomong - ngomong siapa mereka..." Jawab Elize mengalihkan pembicaraan.
"Ahh yah... Mereka adalah beberapa pejuang yang di panggil, Dia adalah Rika Takada, dan Shin Minasaki... Dan Iori Suzuki yang menjadi ksatria ku..." Luna memperkenalkan satu persatu dari para pejuang yang ikut dengan nya.
"Salam kenal para pejuang, Aku adalah kakak Luna, Namaku Elize Du Arthur" Elize memperkenalkan dirinya kepada Para Pejuang dengan hormat.
"Kami juga Salam kenal Putri Elize.." jawab Iori diikuti oleh salam hormat darinya Shin dan juga Rika.
"Ngomong - ngomong apa yang kakak lakukan bersama Pejuang Zen?" Tanya Luna melirik ke arah Zen yang matanya sudah tidak lagi hidup.
"Ayah baru saja menugaskan Zen untuk menjadi ksatria ku... Dan dia akan bertugas mulai hari ini..."
"Ohh... Begitu rupanya, kau cukup beruntung Zen..." Ucap Shin.
"Berhenti mengatakannya seperti itu... Ini adalah hukuman..." Jawab Zen.
"Bagaimana dengan kalian? Apa kau butuh sesuatu dari ayah?"
"Sebenarnya kami ingin meminta izin untuk berjalan jalan di kota untuk mencari pakaian baru untuk di kenakan pada pesta penyambutan nanti malam..."
"Benar juga, ayah bilang kalau pesta penyambutan nya di mulai nanti malam... Aku lupa... Bolehkah aku ikut dengan kalian? Kurasa aku juga ingin mencari beberapa pakaian.."
"Tentu... Ayo pergi bersama- sama..." Ucap Luna dengan senang.
Note : Bagaimana Menurut kalian tentang alurnya, Apa terlalu lambat atau biasa aja... silahkan taruh di kolom komen yah
__ADS_1
Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru.
See u Next Chapter...