The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 51 Akhir Cerita


__ADS_3

[Note : Ini Refiler]


Pada Zaman dulu, di sebuah desa nan jauh di sana terdapat sebuah keluarga kecil yang beranggotakan ibu, ayah, dan seorang anak perempuan yang sangat periang.


Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang hanya beratapkan jerami yang di keringkan di pinggiran desa, meskipun begitu mereka hidup dalam kebahagiaan yang terasa begitu hangat dan menenangkan dengan terus mengelola ladang.


Semuanya terasa begitu membahagiakan ketika mereka berkumpul bersama, bercanda, saling tertawa riang, makan bersama, dan melakukan pekerjaan rumah.


Sang anak memiliki impian, ketika dia melihat desanya yang begitu tenang dan damai dicampur dengan keindahan yang menghiasi terlintas di pikiran nya untuk pergi melihat dunia di luar desa ketika sudah dewasa nanti, impian yang terdengar begitu polos untuk anak anak seusianya, begitulah menurut kedua orangtuanya tapi mereka senang mendengar itu dan mendukung impian sang anak.


Sampai suatu hari sang anak jatuh sakit ketika sudah menginjak usia 16 tahun, Penyakit misterius yang dia derita mengakibatkan beberapa anggota tubuhnya seperti kaki tidak bisa di gerakan seperti biasannya.


Alhasil dia hanya terus terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat dan juga mata yang mati, hancurlah harapannya untuk melihat dunia luar, dia berpikir tanpa bisa berjalan dia tidak mungkin bisa pergi berpetualang demi impian nya.


Melihat kondisi sang anak membuat kedua orangtuanya merasa terpukul, tidak ada lagi anak perempuan yang ceria dan cerah seperti dulu lagi, segala cara mereka lakukan demi bisa menyembuhkan penyakit yang di derita oleh anak mereka satu satunya itu.


Bahkan sang ayah sudah bersusah payah mencari tabib yang bisa menyembuhkan penyakit sang anak tapi tidak ada satupun yang tahu penyakit apa itu.


Keputusasaan mereka rasakan setelah tahu bahwa tidak ada satupun yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan ana mereka seperti semula.


Di tengah keputusasaan itu sang ayah memikirkan sebuah solusi yang dia nilai sangat bagus dan paling terbaik yang bisa ia lakukan saat itu.


Sang ayah Meminta kepada istrinya untuk pergi keluar desa dan pergi melihat dunia luar untuk Beberapa waktu, hal itu ia putuskan setelah mengingat kembali impian sang anak, dia berpikir untuk melihat dunia luar demi sang anak dan akan menceritakan nya nanti, Sang ibupun setuju dan mendukung keputusan suaminya untuk pergi ke luar desa.


Dan akhir nya di mulai lah perjalanan sang ayah pergi keluar desa untuk pergi melihat keindahan dunia luar yang nantinya akan ia ceritakan pada sang anak yang sekarang tengah terbaring di atas tempat tidur.


Selama perjalanan nya banyak pemandangan yang begitu menakjubkan, gunung yang menjulang tinggi, sungai dengan air jernih, danau yang begitu luas, hutan yang memiliki buah buah yang ranum dan banyak hal lainnya lagi.


Sebulan berlalu semenjak kepergian sang ayah, dan akhirnya kembalilah dia kerumahnya di desa setelah melakukan perjalanan panjang.


Dia kembali dengan segudang cerita yang akan ia beritahu kan pada sang anak, dan dengan sangat antusias dia menceritakan apa yang ia lihat ada putrinya yang memasang wajah murung.


Setiap detail tidak luput ia ceritakan tanpa ada satupun yang terlewat dan pada akhirnya wajah murung sang anak berangsur angsur berubah.


Air matanya menitik pelan ketika sang ayah semakin menceritakan tentang perjalanannya sampai akhir dan itu adalah ekspresi yang pertama kali ia keluarkan setelah sekian lama memasang wajah murung.


• • •


"Dan ceritanya berakhir begitu..." Luna mengakhiri ceritanya yang ia ceritakan pada beberapa pejuang seperti Iori, Shin, Rika, Kodaka, Elize, Miharu, Yuuna dan juga Hana, termasuk Zen yang di paksa oleh Shin untuk ikut mendengarkan cerita itu.


Mereka semua berkumpul di kamar Luna saat hari sudah malam dimana tadi siang mereka selesai melakukan simulasi pertarungan dan sekarang adalah waktunya istirahat setelah makan malam.

__ADS_1


Mereka mendengarkan cerita Luna dengan sangat antusias terkecuali Zen yang merasa mengantuk tapi dia tidak mau merusak suasana tiba tiba.


"Eh... Hanya sampai disitu saja... Bukankah itu sedikit gantung... Aku masih penasaran dengan cerita selanjutnya..." Ucap Yuuna dengan sangat tidak terima setelah Luna mengakhiri ceritanya.


"Yap, hanya sampai di situ saja..." Balas Luna pada Yuuna.


"Yuuna benar akhir cerita itu sangat gantung..." Sahut Hana yang juga merasa tidak terima.


"Sebenarnya aku juga merasa seperti itu... Tapi bukankah itu letak bagusnya Cerita tadi... Dengan begitu kita bisa memikirkan akhir cerita yang kita inginkan..." Luna melompat dari atas kasur kemudian berdiri di antara para anak laki laki yang duduk di lantai.


Iori, Shin, Kodaka dan juga Zen hanya menatap heran ketika melihat tingkah Luna yang kekanak-kanakan tapi menurut Iori disitulah letak keimutan dari Luna.


"Kalau Begitu selagi kita semua berkumpul disini bagaimana jika kita menceritakan akhir kisah tadi secara bergantian..." Elize berbicara setelah ide itu tiba tiba muncul di kepalanya tepat setelah Luna mengatakan hal tadi.


"Betul juga..."


"Itu terdengar menarik..."


"Hum hum, aku setuju dengan usul kak Elize"


"Bagaimana menurut kalian?" Kini Elize melemparkan pertanyaan itu pada anak laki laki yang hadir.


"Kurasa boleh juga..." Jawab setuju Shin kemudian melirik ke Iori.


Keduanya hanya mengangguk tanda setuju kemudian di mulai lah sesi membuat akhir cerita.


"Karena kak Elize yang menyarankan ini jadi akhir cerita pertama dimulai dari kakak..." Ucap Luna menunjuk Elize dengan begitu semangat.


"Ak, aku?... Ehmm baiklah... Biar aku berpikir sebentar... Kurasa seperti ini... Setelah mendengar cerita itu sang anak menangis haru dalam pelukan sang ayah, dia sangat berterima kasih pada ayahnya karena sudah mewujudkan impian nya setelah dia sendiri tidak bisa mewujudkan itu,


Dan akhirnya sang anak kembali ceria seperti biasa dan mulai menerima keadaan dan akhirnya dia hidup bahagia bersama orang tuanya..." Elize mengakhiri perkataan nya dengan sangat senang setelah Beberapa saat yang lalu ia sendiri kebingungan harus membuat akhir cerita seperti apa


"Itu bagus sekali, akhir cerita yang bahagia sekali, bagus kak Elize" Luna memberikan sebuah acungan jempol.


"Benarkah? terima kasih Luna... Bagaimana jika berikutnya giliran mu..."


"Baik... Aku sudah memikirkan akhir cerita ini sejak dulu... Tepat setelah sang ayah mengakhiri ceritanya sang anak pun tidak berwajah murung lagi, dia tidak mau terus terkena penyakit ini dan ingin kembali seperti semula, kedua orang tuanya kemudian sangat senang dan mendukung keinginan sang anak karena setelah sekian lama sang anak akhirnya kembali tersenyum.


Beberapa hari kemudian desa itu kedatangan seorang ahli sihir muda yang usianya sama seperti sang anak, dikatakan bahwa ahli sihir muda itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.


Mendengar itu sang ayah memanggil ahli sihir tadi kerumahnya demi menyembuhkan sang anak, dan setelah di sembuhkan sang anak akhirnya sembuh, dia berlari larian ke sana kemari dengan sangat gembira.

__ADS_1


Pada akhir cerita si ahli sihir hendak melanjutkan perjalanannya dan ingin meninggalkan desa, sang anak yang mendapat kabar itu berniat mengikuti sang ahli sihir melakukan perjalanan.


Dia berbicara pada kedua orangtuanya dan kedua orangtuanya pun setuju karena itu memang keinginan sang anak sejak dulu.


Dan pada akhirnya sang anak mengikuti sang ahli sihir tadi melakukan perjalanan dan pergi melihat dunia luar seperti yang ia impikan dan kedua orangtuanya mengantar dengan sebuah senyuman dan lambaian selamat tinggal.


Begitulah akhir yang inginkan" Luna duduk di kasur nya kemudian mengakhiri ceritanya yang begitu panjang.


"Ahli Sihir itu ibaratkan seorang pangeran saja yah... Seperti yang ada pada cerita putri salju..." Miharu yang dengan antusias mendengarkan cerita sedari tadi akhirnya mulai angkat bicara.


"Pangeran... Kau benar Haru... Ahli sihir itu adalah pangeran yang datang membawa kebahagiaan untuk sang putri..." Rika menepuk pundak Miharu pelan.


"Selanjutnya bagaimana kalau kau Zen..." Elize menunjuk Zen yang duduk berpangku tangan sedari tadi sambil menyimak.


"Aku bukan orang yang pandai membuat Cerita... Yang ada ceritanya nanti akan menjadi gelap..." Jawab Zen berusaha menolak.


"Tidak masalah... Bukankah kita memang ingin membuat akhir cerita yang berbeda..." Elize seolah menangkis perkataan Zen tadi dengan Perisai tebal yang tak dapat di tembus artinya Zen tidak dapat menolak lagi perkataan Elize.


"Baiklah, jangan menyesal setelah mendengar akhir cerita yang ku buat..."


"Mulai lah..."


"Ekhem... Setelah mendengarkan cerita sang ayah yang penuh dengan warna mimpi membuat putrinya yang dunianya sudah monokrom menjadi semakin terpuruk, dia berpikir bahwa warna pelangi tidak akan lagi cocok untuk dunia nya yang semakin gelap... Dia menitikkan air mata bukan karena bahagia atau pun terharu, tapi karena penyesalan yang ada di hatinya.


Dia tidak akan dapat melihat warna pelangi lagi, dia tidak akan dapat mewujudkan impiannya sampai kapan pun karena tindakan sang ayah yang memperlihatkan dunia luar seolah mengatakan 'Ayah akan mewakili mu melihat dunia luar putriku karena sampai kapanpun kau tidak akan bisa melihatnya'.


Kesedihan nya memuncak tepat Setelah kedua orangtuanya meninggalkannnya sendiri di kamar, dia menangis sesenggukan dan pikirannya menjadi kacau, ia melirik ke meja yang ada di pinggir ranjang dimana ada semangkuk buah dengan pisau kecil yang tergeletak begitu saja.


Ia mengambil pisau tadi dengan tangan yang gemetaran, 'Untuk apa aku hidup jika tidak bisa mewujudkan impianku', 'Aku hanya membebani orang tuaku selama ini', 'Mereka pasti kesusahan'.


Begitulah yang ia pikirkan dan kemudian dia menaruh pisau buah tadi di lehernya dan-"


"Sudah cukup, hentikan Zen" Elize menghentikan cerita Zen yang baru saja mau berakhir.


Zen kembali ke dunia nyata setelah terus terpaku pada cerita yang mengalir dalam Kepalanya, dan melihat ke arah Luna yang duduk di ujung ranjang sambil menutup wajah dengan bantal.


Rika, Haru, Hana, dan Yuuna yang memasang wajah takut setelah mendengar cerita Zen juga tidak luput dari pengelihatannya.


"Yah kurasa seperti itulah akhir cerita yang ku pikirkan..." Ucapnya pasrah.


Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...

__ADS_1


see u next chapter


__ADS_2