The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 57 Memilih Jalan Yang Salah


__ADS_3

"Terima kasih karena sudah membawa putriku kembali dengan selamat Kanade Zen..." Demian mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sosok Zen yang berada tepat di sampingnya, dimana kala itu mereka tengah menyaksikan wajah tidur Maihime yang masih tidak sadarkan diri semenjak Zen membawanya kembali.


Sang Ibu kini terlihat tengah sibuk merawat putri semata wayangnya itu dan dari wajah nya saja Zen tau bahwa dia sangat khawatir terhadap kondisi Maihime yang pingsan.


"Jangan khawatir kan itu..." Balas singkat Zen, ucapannya berkebalikan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat tidak peduli dengan apapun.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan ke depannya dari sekarang" tanya Demian yang sudah mendengar rincian dari apa yang di alami oleh Zen dan juga Maihime, Zen yang di khianati oleh kerajaan Terarria membuat Demian merasa kasihan padahal selama ini Zen lah orang yang paling berperan besar terhadap kedamaian kerajaan itu.


"Bukankah kau harusnya sudah tau?" Zen mulai berjalan menuju pintu keluar kamar dan hendak pergi meninggalkan mereka.


"Maksudmu kau ingin membalas dendam pada kerajaan Terarria..." Tebak Demian yang mungkin terkesan terlalu terburu buru mengambil kesimpulan.


"Balas dendam... Apa itu?, Tindakan seperti itu tidak akan membuatku puas... Setelah balas dendam apa yang akan ku dapat..." Menarik pintu dengan pelan Zen melirik ke dalam, melirik ke arah Demian yang memasang wajah bingung sekaligus tidak paham dengan maksud perkataannya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan..."


"Tentu saja bukan... Aku akan menjadi dewa di dunia ini..."


"Menjadi... Dewa..."


"Habisnya aku ini kuat loh..." Zen berlalu begitu saja setelah memberikan pernyataan yang terdengar sangat berani dan penuh dengan tekad itu, senyum sinis tergambar jelas saat mengucapkan itu.


Dia kini mulai melangkah menuju ke suatu tempat yang ia sendiri tidak tau ada dimana, tidak ada niatan sedikitpun di dalam dirinya untuk bekerja sama dengan kerajaan Nipotia ataupun Kerajaan lain, karena tepat seperti yang ia katakan bahwa dia benar benar akan menjadi dewa di dunia baru ini, tidak peduli apapun yang akan terjadi padanya di kemudian hari.


Dengan mantel hitam yang ia terima dari Demian sebelumnya Zen mulai berjalan di luar istana dan bersatu dengan orang orang yang tengah berlalu di jalanan kota yang ramai penduduk.


Berjalan sambil menundukkan kepalanya dan tidak memperdulikan siapapun yang ia lewati ataupun yang melewatinya, hari yang sudah sore dan sebentar lagi akan beranjak menjadi malam membuatnya sedikit merasa lega.


Karena dia hanya memiliki sedikit uang yang tersisa dan rencananya malam ini ia akan pergi ke tempat dimana uang bisa datang padanya secara cepat.

__ADS_1


Benar, area perjudian dimana ia yakin bahwa akan banyak orang orang dengan banyak uang akan pergi ke sana, ia tidak memiliki banyak rencana untuk hal itu dan hanya akan bertaruh pada keberuntungan yang ia miliki meskipun ia sama sekali tidak di sayangi oleh Dewi Fortuna.


Menghabiskan cukup banyak waktu untuk berjalan di kota kini malam hari pun tiba, tanpa perlu susah mencari tempat yang Zen ingin kunjungi sudah terlihat sangat jelas dari kejauhan.


Memasuki sebuah bangunan yang terlihat seperti bar biasa pada umumnya Zen melepaskan tudung mantelnya dan mulai merlirik ke sekeliling area.


Pemandangan yang mungkin terlihat seperti pemandangan bar pada umumnya, dimana lampu berwarna warni yang menerangi, alunan musik yang tak beraturan dari arah sebuah grup musik, wanita wanita dengan pakaian minim yang duduk mengelilingi beberapa pria dan mungkin juga wajah frustasi dan puas dari orang yang menang ataupun kalah dalam perjudian.


"Uwah... Si Raja Judi benar benar menghabisi lawannya lagi kali ini..."


"Dia kalah besar tuh..."


"Seberapa kaya orang yang bisa mengalahkan si raja judi nantinya..."


"Memangnya dia bisa kalah... Bukankah dari awal belum ada yang bisa mengalahkan nya..."


"Sudahlah kau bisa pergi sekarang... Lain kali kau hanya perlu membawa lebih banyak uang yah..." Ucap si pria berwajah sombong yang di duga Zen sebagai orang yang di sebut sebagai raja judi oleh orang orang tadi.


Dengan wajah malu dan tubuh yang tanpa busana sedikitpun itu pria tadi kini berlari menuju keluar bar dengan sangat cepat berusaha meninggalkan kerumunan yang tak henti hentinya menertawai dirinya itu.


Zen tersenyum, karena akhirnya ia menemukan orang yang pantas menjadi lawannya karena jika ia menang ia akan menjadi kaya mendadak, atau itulah yang ia pikir.


Ia memanggil Relicnya kemudian membentuk sebuah topeng setengah wajah yang persis seperti milik Aki kemudian mengenakannya.


Zen maju melewati kerumunan yang masih memenuhi meja tempat perjudian tadi kemudian berdiri di seberang meja si raja judi yang kini tengah sibuk dengan para wanita yang mengelilinginya.


"Permisi Tuan... Kalau tidak keberatan maukah anda melawanku..." Ucap Zen menawarkan dirinya secara spontan untuk menantang si raja judi.


"Rupanya masih ada yang memiliki keberanian untuk melawanku... Kalau begitu Baiklah... Silahkan duduk..." Jawabnya setelah perhatian nya teralih dari para wanita tadi menuju ke Zen yang mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitas nya.

__ADS_1


"Terima kasih, ini adalah kehormatan..." Balas Zen masih berpura pura sopan kemudian duduk bersebrangan.


"Lalu berapa banyak uang yang kau miliki..."


Zen menjawabnya sambil melemparkan sekantung kulit berisi semua uang yang ia miliki ke atas meja.


"Mungkin sekitar 5.000 ril saja..." Jawabnya dengan sedikit canggung.


"5.000 ril?, Itu bahkan hanya cukup untuk satu permainan saja..." Ucap si raja judi meremehkan Zen.


"Tolonglah tuan buat itu menjadi dua atau tiga permainan..." Mohon Zen tetap mempertahankan sandiwara nya yang penuh dengan sanjungan pada si raja judi.


"Baiklah... Aku akan membuatnya menjadi dua permainan..." Setelah merasa bahwa Zen bersungguh sungguh si Raja judi akhirnya setuju kemudian mengambil sebuah kartu dari bawah meja.


"Katakan siapa namamu anak muda yang nekat.." tanyanya sambil menyerahkan kartu tadi pada satu wanita dengan tampang seperti pelakor di sebelahnya.


"Rain... namaku adalah Rain..." Balas Zen yang mulai memikirkan nama samarannya.


"Baiklah Rein namaku adalah Cald... Apa kau sudah siap dengan permainannya..." Tampang si raja judi berubah menjadi sangat serius.


"Tentu saja tuan Cald... Aku siap kapanpun anda siap..."


"Kalau begitu kenapa kita tidak mulai saja permainan nya..."


"Yah... Mari kita mulai..."


Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2