
Zen menegak ludahnya sendiri ketika tubuhnya terikat dan di giring langsung menuju ruang singgasana untuk berhadapan dengan raja kerajaan Nipotia, sepanjang jalan dia di kawal oleh beberapa penjaga yang bersiap dengan Relic maupun senjata kerajaan mereka menjamin agar Zen tidak kabur kemana mana.
Di tambah Efek sihir penghapusan milik perempuan dengan rambut merah sebelumnya membuat Zen sama sekali tidak bisa mengaktifkan sihir sedikitpun, dan dia akhirnya menyerah dengan helaan nafas panjang sambil mengikuti langkah para pengawal yang menggiringnya lengkap dengan kedua tangan yang di rantai bak budak yang hendak dijual.
Grekk...
Pintu besar terbuka bersama dengan cahaya terang dari dalam yang cukup menyilaukan mata Zen, dia sama sekali tidak takut tapi pikirannya tetap saja berkecamuk mengingat ini sudah hampir setengah jam semenjak dia dan Daven berpisah, dia hanya berharap kalau Daven tidak menunggu nya dan sudah pergi dari istana terlebih dulu.
Bruakk...
Tendangan dari belakang menjatuhkan Zen ke depan singgasana dalam posisi berlutut dan tangan yang terantai dan wajah kusut yang ia perlihatkan, sesaat setelah nya ia mengangkat wajah menatap ke atas di mana dua sosok yang terlihat penuh wibawa tengah duduk berdampingan di tambah satu sosok wanita dengan wajah angkuh di sebelah keduanya.
"Itu sakit, bisakah kalian memperlakukan ku sedikit lebih lembut... Kalian pikir aku samsak" Umpat Zen dengan wajah kesal tanpa ketakutan apapun, dia berdiri dari tempatnya berlutut kemudian memasang wajah menantang terhadap pria yang duduk di singgasana.
"Wahai mata mata dari kerajaan Terarria... Katakan apa tujuanmu datang ke kerajaan ku..." Ucap sang raja dengan nada bicara yang begitu tegas seolah ingin mengintimidasi Zen yang berdiri dengan penuh percaya diri di depannya.
"Sebelum aku menjawabnya bolehkah aku bertanya satu hal?" Balas Zen mengangkat kedua tangannya yang diikat rantai tadi dengan begitu santai.
"Sialan mana sopan santun mu... Apa penduduk Terarria tidak tahu sopan santun... Sadarlah dengan posisi mu sekarang..." Sahut kesal Perempuan dengan rambut merah yang ada di samping setelah mendengar perkataan Zen yang dinilai tidak tahu sopan santun.
Zen tidak menanggapi makian tadi bahkan dia tidak menoleh sedikitpun ke arah perempuan yang memakinya, dia hanya menganggap perkataan itu seperti angin yang berlalu dan hanya terus menatap sang raja dan menunggu jawaban darinya dan perbuatannya itu mengundang reaksi semua orang yang hadir langsung di ruang singgasana.
"Tenang semuanya... Silahkan aku akan memperbolehkan mu bertanya satu hal..." Si raja memukul sandaran tangan kursinya kemudian mempersilahkan Zen yang terus menerus menatapnya tanpa rasa takut.
"Baiknya... Kalau begitu aku ingin kau memberi tahuku tentang apa yang akan kau lakukan padaku setelah ini..."
"Apa kau khawatir tentang hidup mu... Tenang saja selama kau bisa bekerja sama dengan kami maka aku akan menjamin kehidupan mu setelah ini..." Balas sang raja dengan kewenangan nya yang membungkam protes semua orang.
"Begitu, terima kasih karena sudah menjawabnya..."
"Hanya itu saja... Kalau begitu aku ingin kau menjawab pertanyaan ku... Apa yang kau lakukan di kerajaan ini..."
"Yahaha, anda ini cukup pandai memberi lawakan kecil..." Tawa Zen menutup mulutnya dengan tangan yang di rantai.
"Berani nya kau!!!"
"Maihime hentikan... Apa maksud perkataanmu?" Sang raja menenangkan putrinya yang emosi kemudian menatap Zen dengan waja serius.
"Dimana mana yang namanya mata mata tugasnya adalah memantau musuh, itulah tujuanku kemari..." Zen mengangkat tangannya ke atas seolah meregangkan badannya di tengah situasi yang serius.
"Apa kau disini atas perintah raja kerajaan Terarria..."
"Benar..."
"Katakan siapa namamu..."
"Kanade Zen..."
"Aku ingin berbicara secara privasi dengan Kanade Zen, karena itu selain anak dan istri ku silahkan meninggalkan ruangan ini..." Sang raja berdiri dari tempatnya duduk kemudian memerintahkan semua yang ada di ruangan untuk pergi, dan sontak membuat semua orang memberikan reaksi yang heran sekaligus khawatir.
__ADS_1
Sang raja mengangguk pelan demi meredakan ke khawatiran semua orang dan membuat semuanya membalas dengan menunduk hormat kemudian pergi keluar ruangan meninggalkan Zen, Si Raja, Istri Si Raja, Dan putrinya.
"Ayah apa maksudnya ini..."
"Benar suamiku, kenapa kau membiarkan orang berbahaya sepertinya berada di dekat kita..." Ucap sang istri dan sang anak secara bergantian memandang ragu Zen.
"Hey tunggu aku bukan orang berbahaya" Protes Zen dari bawah, dia juga sebenarnya tidak tahu kenapa sang raja menyuruh semua orang keluar agar bisa bicara kepadanya, tapi dia hanya memilih untuk mengikuti alur saja dan tidak berniat melawan agar bisa melihat perkembangan plot yang menarik.
"Maihime, Carla tenang dulu, ada alasan kenapa aku ingin berbicara pada anak ini.." Ucap sang raja menenangkan kedua keluarga nya yang protes.
"Lepaskan dirimu Kanade Zen..." Ucapnya lagi.
Zen memiringkan kepalanya, memasang wajah heran dengan ekspresi yang begitu natural karena dia benar benar tidak paham maksud si raja menyuruhnya melepaskan diri.
"Aku tahu kalau kau sebenarnya bisa melepaskan diri kapan saja..." Ucap sang raja menjawab rasa penasaran Zen.
"Kenapa anda menyimpulkan sesuatu yang tanpa dasar seperti itu..." Zen memicingkan matanya.
"Raja kerajaan Terarria bukanlah orang bodoh yang akan mengirim orang lemah yang bahkan tidak bisa melepaskan diri dari situasi seperti ini..."
"Hooo... Anda rupanya mengerti kalau begitu baiklah [Carta : Arcana]" Zen memanggil Relicnya di selipan jari kemudian menghapus sihir penhapusan milik Mai agar bisa menggunakan sihir kembali.
"Shadow Magic : Existance Caster" Bayangan menyelimuti rantai yang mengikat tangan Zen kemudian menelan nya seketika dan membuat Zen berhasil lepas dari rantai tadi dan mulai meregangkan tangannya.
"Bagus sekali, kau lebih hebat dari perkiraan ku..." Puji sang raja ketika dua anggota keluarganya diam terpaku menatap Zen yang berhasil lolos dengan sangat mudah.
"Jadi, apa yang ingin raja kerajaan Nipotia bicarakan dengan mata mata kerajaan Terarria ini...?" Beberapa saat setelah memutar mutar pergelangan Tangannya Zen kembali terfokus terhadap sang raja.
"Raja Demian, Ratu Carla dan Putri Maihime... Baik aku sudah ingat, jadi ada apa..."
"Kanade Zen, apa yang kau pikirkan tentang pasca perang yang akan terjadi dalam dua bulan nanti..."
"Perang lanjutan?" Terka Zen.
"Kebanyakan orang akan berpikir seperti itu... Tapi apa yang aku dan Raja Arthur pikirkan bukan seperti itu..."
"Tunggu tunggu... Biar aku tebak sekali lagi, mungkinkah kalian akan melakukan perjanjian perdamaian dan membentuk aliansi..." Zen mengangkat jari telunjuk nya sesaat setelah perkataan dari mulut Demian keluar.
"Bagaimana kau bisa tahu..." Balasnya yang kali ini benar benar tidak menyangka kalau tebakan Zen akan benar, dan dari hal itu Carla dan Mai yang berada di sampingnya memasang ekspresi terkejut.
"Ternyata benar... Kalau begitu apa kalian akan benar benar menandatangani ini?" Zen memanggil shadow hand di belakangnya kemudian selembar kertas berisi tulisan keluar di genggaman shadow hand tadi.
"Itu surat perjanjian... Bagaimana kau bisa memiliki nya... Jangan bilang kalau raja Arthur sudah mengumumkan tentang ini pada rakyatnya..."
"Tidak dia belum memberitahukannya pada siapapun selain aku... Meskipun beberapa waktu yang lalu surat ini membawa petaka baginya..."
"Begitu, kurasa memang seharusnya seperti itu... Agar posisi kami di mata rakyat tidak berubah kami berjanji akan membuat aliansi setelah Relic war nanti... Karena itu sampai Relic war berakhir kami tidak akan mengumumkan nya..." Demian menghela nafas lega kemudian duduk kembali di kursinya diikuti oleh Mai dan Carla.
"Kalau boleh kukatakan keputusan ini adalah memang yang paling tepat, setelah perang para rakyat akan mendapatkan beberapa kerugian dan tahu sebab apa yang di dapatkan dari perang karena meskipun itu pihak yang menang atau kalah keduanya akan sama sama merasa rugi.., dan kalian memanfaatkan kerugian itu untuk meredakan rasa kecewa para rakyat... Itu keputusan yang bijak sebagai seorang raja..." Balas Zen menyimpan kembali kertas tadi setelah ia gulung.
__ADS_1
"Kau mengerti rupanya, karena itulah sampai Relic war Selesai kami berdua memutuskan untuk saling bermusuhan... Karena jika tahu kalau kerajaan akan berdamai, pemberontak akan memulai aksinya dan memanfaatkan hal ini untuk melemahkan pandangan rakyat pada pemimpin kerajaan... Dan kami berdua tidak ingin hal ini terjadi..."
"Sebenarnya organisasi pemberontak yang kau maksud sudah bergerak di kerajaan Terarria... Dan mengenai perjanjian perdamaian ini sudah bocor ke beberapa pihak... Selain memata matai kerajaan ini aku juga bertugas untuk menyelidiki mengenai organisasi ini, kabarnya mereka akan memulai gerakan di kerajaan ini juga... Lebih baik kau berhati hati karena kemungkinan besar mereka akan melakukan kudeta pada kedua kerajaan..." Balas Zen setelah mendengar ucapan Demian yang dia nilai sudah terlambat, membuat wajahnya panik dan pucat seketika.
"Ini gawat, kalau sampai mereka melakukan pergerakan di kerajaan ini maka aku yakin akan sulit untuk mengembalikan kepercayaan para rakyat... Dan jika mereka benar benar akan melakukan kudeta maka akan menjadi ancaman bagi kedua kerajaan..."
"Sejujurnya sebelum ini aku mencurigai kemunculan pihak ketiga berasal dari akal akalan kerajaan ini... Tapi setelah melihat ekspresi mu barusan aku jadi yakin kalau pihak ketiga kali ini bergerak dengan sendirinya..."
"Itu tidak mungkin, selain itu menurutmu seberapa kuat dan berbahaya nya organisasi ini..." Demian berdiri kemudian menyapu udara dengan tangannya setelah mendengar dugaan Zen.
"Mereka sangat kuat, sebelumnya aku bertemu dengan pemimpin mereka, dan sihir yang ia punya adalah pembangkitan, selain itu baru baru ini mereka menculik salah satu murid akademi dengan sihir enchantment... Mungkin berbahaya adalah kata yang cukup..." Balas Zen setelah mengingat semua yang pernah ia alami sebelumnya.
Bukk....
"Suamiku"
"Ayah!"
Demian jatuh terduduk di kursinya sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, berpikir kalau apa yang dikatakan oleh Zen ada benarnya karena sihir pembangkitan adalah sihir yang kuat di tambah dengan enchantment mungkin tingkat kesulitannya akan bertambah berkali kali lipat.
"Apa kau sudah menemukan informasi mengenai mereka Kanade Zen..." Tanyanya.
"Kurasa mengira bahwa mereka berada di ibukota adalah sebuah kesalahan, karena sejauh ini aku tidak menemukan apa apa di ibukota... Tapi dua hari lalu aku sempat mendengar kalau ada pergerakan kelompok aneh di pasar gelap dari sang makelar informasi, aku sempat mengira itu mereka tapi berpikir kalau mereka dapat dengan cepat berganti posisi itu terasa aneh..." Jawab Zen mengangkat kedua bahunya keatas setelah itu kembali bermain dengan pikirannya.
"Memang benar itu terasa aneh, selain itu kenapa kau berpikir mereka berada disini..."
"Yah, karena mereka tidak di temukan dimanapun di kerajaan Terarria... Para penyidik kerajaan juga sudah melakukan investigasi ke beberapa tempat tapi tidak mendapatkan apapun..."
"Kalau begitu hanya ada satu kesimpulan, markas organisasi mereka tidak berada di kedua kerajaan, tapi kemungkinan besar di wilayah tak terjamah..."
"Wilayah tak terjamah?"
"Benar, itu berada jauh di luar perbatasan kedua kerajaan, kabarnya Disana banyak Magische tingkat strum sampai Katastrophe karenanya tidak ada yang berani kesana... Bahkan untuk masuk saja sangat sulit..."
"Jadi bagaimana caranya mereka dapat berada di kedua kerajaan..."
"Hanya satu kemungkinan... Mereka menggunakan gerbang spatial, ada dugaan kalau mereka meletakkan beberapa gerbang spatial di beberapa titik kedua kerajaan dan mereka keluar masuk dari sana..."
"Jadi pembobolan di akademi mereka lakukan dengan gerbang itu.... Sekarang aku mengerti..." Zen mengangguk kemudian memegangi dagunya.
"Kanade Zen maukah kau mendengar permintaan ku sebagai seorang raja..." Ujar sang raja dengan tatapan serius dan nada yang terkesan penuh wibawa.
"Kalau hanya mendengarkan aku tidak masalah" balas Zen.
"Kembalilah ke kerajaan Terarria dan beritahu kan hal ini pada Arthur, aku akan menulis surat tentang rincian yang aku ingin kalian lakukan..." Ucapnya.
"Kau akan melepaskan ku... Jadi ini yang kau maksud dengan kerja sama..."
"Yah, Mohon kerja samanya..."
__ADS_1
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru....
see u next chapter