The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 39 Kejadian Yang Membuatnya Merasa Sedih Dan Terpukul


__ADS_3

Malam Hari


Terarria Kingdom


Suasana yang begitu tegang membanjiri seluruh kamar Zen, dimana di tempat tidur kini terbaring Zen yang sedang dalam kondisi bertelanjang dada dan bagian bawahnya tertutup oleh selimut tebal yang kini mulai terkena bercak darah.


Nania dan Elize berdiri berdampingan dengan raut wajah khawatir tepat di belakang Yuuna yang kini menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan Zen yang terbaring dengan helaan nafas yang semakin pelan.


Tidak hanya Yuuna yang berusaha menyembuhkan Zen saat itu tapi beberapa orang lainnya yang mengenakan sebuah jubah berwarna merah dan putih juga ikut membantunya dengan memberikan banyak perban di beberapa bagian tubuh Zen setelah menutup luka dan menghentikan pendarahan nya terlebih dahulu.


Yuuna menghentikan rapalan sihirnya kemudian berdiri dan mundur Beberapa langkah ke belakang, dan berhenti tepat di samping Elize.


Tidak jauh di dekat mereka, Arthur dan juga Beberapa pejuang seperti Shin, Iori dan juga Rika berdiri dengan wajah yang nampak cemas sama seperti Elize dan Nania, dan orang yang berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah panik itu adalah Daven yang dipanggil oleh Elize untuk ikut masuk sementara Yurina sudah terlebih dulu kembali ke tempat tinggalnya.


"Sudah tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan Putri Elize..." Ucap lega Yuuna dengan sedikit menepuk pundak Elize yang kelihatan begitu khawatir memberitahu nya bahwa sekarang Elize bisa tenang.


"Apa kau yakin... Apa Zen sudah baik baik saja... Kapan dia akan bangun?!!" Jawab Elize.


"Tenang saja, dia sudah baik baik saja sekarang, tapi maaf untuk sekarang tidak bisa dipastikan kapan dia akan bangun... Jadi untuk saat ini kita hanya bisa menunggunya..." Yuuna tetap menjawabnya dengan tenang meskipun Elize sendiri terlihat begitu panik dan khawatir.


Mendengar itu Nania menghela nafas lega, begitu juga dengan semua yang berada di kamar Zen.


"Kalau bisa untuk sementara kita tinggalkan Kanade sendiri dan biarkan dia beristirahat dengan tenang..." Ucap Yuuna lagi kali ini dia memberikan permintaan pada Arthur.


"Baiklah, semua yang ada disini boleh kembali ke kamarnya masing masing, terima kasih pejuang Yuuna..." Balas Arthur kemudian berjalan menuju keluar ruangan.


Kemudian diikuti oleh para pejuang dan juga para tabib yang ikut mengobati Zen.


"Nania kau dengar bukan... Tenang saja kau tidak perlu khawatir... Zen adalah orang yang kuat... Dia pasti baik baik saja... Kau hanya perlu percaya padanya..." Elize menepuk bahu Nania yang berdiri mematung dan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri dan terus memandangi wajah Zen yang sedikit demi sedikit terlihat seperti biasa dan tidak pucat lagi.


"Yah, saya mendengar nya tuan Putri... Tapi saya akan tetap disini... Bagaimana jika nanti saat tuan Zen bangun tidak ada orang yang berada di dekatnya... Karena itu biarkan saya disini menjaga tuan Zen..." Ucap Nania menolak Ajakan Elize untuk meninggalkan Zen sendiri.


"Aku paham bagaimana perasaan mu, karena aku juga berpikir seperti itu sebelumnya... Tapi seperti yang dikatakan Yuuna kita harus membiarkan Zen sendiri..."


"Tapi tuan putri-"


"Nania..." Elize memberikan kode pada Nania dengan menggelengkan kepalanya, memberi isyarat bahwa Nania harus Berhenti berbicara dan menurutinya saat itu juga.


Tidak bisa menolak, Nania mengikuti instruksi dari Elize dan berjalan menuju keluar ruangan dengan langkah pasrah, wajah khawatir nya sama sekali tidak berubah sedikitpun begitu pula perasaan yang bergejolak di dalam hatinya, seolah menolak untuk pergi meninggalkan Zen sendirian dan menyuruh nya untuk tetap berada di sisi Zen.


Elize menatap sebentar wajah tenang Zen, kemudian ikut menyusul Nania menuju keluar ruangan, ketika pintu di tutup suasana yang begitu hening dan tenang menyelimuti tempat dimana Zen terbaring dengan perban yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Semua orang kini sudah kembali ke ruangan mereka masing-masing, Dan untuk Daven sendiri saat ini dia tengah dimintai penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi oleh sang raja.


• • •


Unknown Place


Unknown Time


"Selamat Pagi..., Apa tidurmu nyenyak?..." Suara berat itu memanggil sosok pria yang terbaring tidak jauh di depannya, tubuhnya yang pucat bersama dengan luka yang tak kunjung sembuh itu seolah memberitahu bahwa sekarang dia sekarang berada dalam keadaan yang berbahaya.


Zen membuka matanya secara perlahan kemudian mengangkat kepalanya, melihat ke arah sosok pria yang ia rasa cukup familiar.


"Ini... Dimana?"


Mata Zen nampak memudar, dan tidak terlihat sedikitpun kehidupan di dalamnya, nada bicaranya yang begitu pelan dan parau terdengar sangat berbeda dan memberikan kesan yang berbeda dari Zeb biasanya.


"Kau tidak perlu tahu..."


"Apa... Yang sebenarnya terjadi... Kenapa aku berada di tempat ini?..."


"Sudah ku bilang kau tidak perlu tahu apapun... Kau hanya perlu mengingat apa yang harus kau lakukan, dan alasan aku mengirim mu kedunia lain..."


"Yah... Jangan lupakan itu, hanya itu saja yang harus kau pastikan ada di ingatanmu yang sekarang... Karena kau adalah si pengkhianat... Dan itu sudah menjadi kewajibanmu..."


"Kita akan bertemu lagi saat tugasmu sudah selesai... Sampai jumpa lagi..."


• • •


Cahaya terang matahari siang kini mulai memanaskan suhu udara di kamar Zen, Jendela yang dibiarkan terbuka membuat angin sepoi-sepoi masuk dan menyejukkan kamar Zen yang terlihat begitu rapi dan bersih.


Dua hari berlalu sejak Zen kembali ke istana kerajaan dengan tubuh yang penuh dengan luka, dan semenjak saat itu Zen sama sekali belum siuman dan tetap terbaring tak bergerak dari atas ranjangnya.


Waktu demi waktu dihabiskan oleh Nania hanya untuk mengecek apakah Zen sudah sadar atau belum, dan sepanjang hari hanya dia saja yang keluar masuk dari ruangan untuk membersihkan kamar dan melihat kondisi Zen.


Kedipan mata kecil di lakukan oleh Zen yang kini mulai membuka matanya secara perlahan karena cahaya matahari yang begitu menyilaukan menembus masuk ke dalam kamarnya, Matanya terbuka dan sebuah tatapan yang terlihat kosong menatap ke arah Langit langit kamar yang berwarna putih bersih.


"Ini... Dimana... Lagi" Gumamnya kemudian menoleh ke samping kiri dimana terdapat sebuah kursi yang tengah di duduki oleh seorang perempuan berpakaian seperti pelayan tengah duduk tenang dengan mata yang tertutup, dan dari pengelihatan Zen perempuan itu kini tengah hanyut dalam tidur siangnya.


Zen kembali menolehkan kepalanya ke samping kanan dan melihat ke arah lengannya karena dari tadi dia tidak dapat merasakan lengan kanannya.


"Ehh... Sebenarnya apa yang sudah terjadi... Kenapa tubuhku penuh dengan luka..." Ucapnya dengan suara yang begitu pelan, dia mengangkat tubuhnya dengan tangan kiri dan duduk di atas ranjang dengan bertelanjang dada.

__ADS_1


Mendengar rintihan kecil dari arah depannya membuat Nania membuka matanya secara langsung dan melihat ke arah Zen yang kini duduk termenung di atas kasur dengan tatapan mata yang terlihat kosong.


"Z... Zen" Ucapnya dengan nada bicara yang terdengar bergetar, membuat Zen menoleh dengan tetap mempertahankan ekspresi yang kosong ke arah Nania.


"Eghh!" Zen merintih dengan suara pelan ketika secara tiba tiba Nania melompat dari kursinya dan memeluk tubuhnya yang masih terasa sakit dari samping.


"Syukurlah kau sudah sadar... Kau membuat ku Sangat khawatir... Kau berbohong, kau mengingkari janjimu... Padahal kau bilang untuk kembali dengan selamat... Tapi kau malah kembali dengan banyak luka... Kau bahkan tidak sadarkan diri selama 2 hari... Kau pikir seberapa khawatir aku padamu..." Ucap Nania menangis di bahu Zen yang memasang ekspresi bingung dengan mata yang terlihat mati.


Nania tetap menangis haru dalam pelukannya, sementara Zen sendiri tidak bereaksi apapun selain hanya membiarkan Nania yang terus menerus mengeluarkan air mata dan membasahi bahu Zen.


"Zen??" Nania yang akhirnya berhenti menangis dan melepaskan pelukannya menatap Zen dengan tatapan heran setelah dari tadi Zen sama sekali tidak memberikan reaksi apapun.


Dan dari yang dia lihat Zen tengah menatap kosong ke arah Depan, ekspresinya yang datar itu terkesan sangat dingin di tambah Mata birunya yang kini tidak lagi terlihat berkilau.


Zen berbalik karena merasa bahwa dirinya lah yang dipanggil oleh Nania.


"Ada apa... Apa kau baik baik saja..." Tanya khawatir Nania setelah menyaksikan ekspresi kosong itu dengan matanya sendiri.


"Siapa..?" Tanyanya dengan nada bicara yang begitu datar dan tanpa sedikitpun emosi di dalamnya.


Nania membesarkan kedua matanya ketika mendengar pertanyaan dari Zen.


"Apa yang kau katakan Zen... Ini aku... Nania..." Jawabnya dengan nada panik yang terdengar berusaha ditahan.


"Zen... Apa itu namaku??" Tanyanya lagi kini terlihat seperti berusaha mengingat ingat sesuatu.


"Zen itu tidak lucu untuk dijadikan sebuah candaan..."


"Maaf... Tapi aku sedang tidak bercanda... Kau juga belum menjawab siapa kau... Dan apa aku mengenal mu? Aku juga tidak mengerti dengan janji yang kau maksud..."


"Zen... Jangan bilang kalau kau!!" Nania menutup mulutnya seolah benar benar terpukul dengan apa yang terjadi pada Zen.


Dia tidak menyangka bahwa penderitaan Zen tidak akan berakhir sampai disini, dan tentu saja sebagai Orang yang dekat dengan Zen dia merasa sangat sedih ketika tahu bahwa Zen.


Kehilangan ingatannya...


Note : Dari Hasil Vote Kemarin Author sudah memutuskan untuk memilih rute apa...jadi yang penasaran silahkan simak ceritanya yah...


tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...


see you next chapter

__ADS_1


__ADS_2