The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 3 Indikasi Kecurigaan Si Pengkhianat Ketika Latihan Di Mulai


__ADS_3

Pagi Hari / Terarria Kingdom.


"Tuan Pejuang, Yang mulia menunggu di meja makan untuk sarapan bersama, anda di minta untuk kesana segera tuan" Pelayan yang berdiri di depan pintu Zen mengetuk pintu beberapa kali memanggil Zen tapi sama sekali tidak ada jawaban.


Sampai ada akhirnya dia memutuskan untuk masuk demi membangunkan Zen yang ia pikir masih tertidur.


"Ada apa?" Panggil suara yang berasal dari belakang si pelayan dan suara itu berasal dari Zen yang sudah bangun terlebih dulu karena dia adalah orang yang suka melakukan olahraga pagi.


"Ahh... Maafkan ketidak sopanan saya tuan..." Ucap sang pelayan wanita pada Zen yang berdiri dengan santai di depannya sambil membungkukkan badan.


"Ah, kau tidak perlu sampai seperti itu, Aku hanya bertanya kenapa" Ucap Zen yang merasa risih ketika orang yang lebih tua darinya menundukkan kepala, setidaknya Maid itu dua tahun lebih tua dari Zen.


"Yang Mulia Arthur memanggil anda ke ruang makan untuk sarapan bersama, anda di minta segera kesana..." Ucapnya begitu sopan kepada Zen, yah meskipun Zen tau kalau dia adalah Maid tetap saja dia merasa risih.


"Ah... Baiklah aku akan segera kesana..." Balas Zen segera masuk ke kamarnya untuk berganti baju dengan pakaian yang sudah di sediakan oleh Kerajaan.


"Kalau begitu izinkan saya untuk membantu tuan pejuang mengganti pakaian" Ucap Sang Maid kemudian hendak masuk ke dalam kamar.


"Tunggu apa kau bilang, aku bisa melakukannya sendiri..." Ucap Zen dengan panik.


"Tapi para pejuang yang lain meminta pelayan pribadi mereka untuk membantu mengganti pakaian... Dan itu juga merupakan tugas saya sebagai pelayan pribadi Tuan..." Ucap Sang Maid dengan lebih sopan memaksa masuk ke dalam Kamar.


"Tidak... Tidak... Apa kau tidak waras, aku bukan anak kecil dan aku bisa melakukan nya sendiri, tunggu saja disini... Lagipula apa - apaan mereka...." Balas Zen segera menutup pintu kamarnya.


Dia dengan cepat berganti pakaian, tapi di dalam lemari hanya ada satu set pakaian saja yang ada, yaitu sebuah Kemeja lengan pendek, celana abu - abu panjang dan juga jubah abu - abu yang hampir terlihat polos selain lambang aneh di belakangnya.


Karena tidak ada pilihan lain Zen segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ada di lemari setelah itu keluar dari dalam kamar menemui Maid yang sedang menunggunya di luar kamar.


"Dimana ruang makannya..." Tanya Zen ketika membuka pintu kamar, membuat sang maid terdiam sebentar ketika melihat penampilan Zen.


"Ada apa, apa mungkin aku terlihat aneh, mau bagaimana lagi hanya ada pakaian ini di dalam lemari" Tegurnya kepada si Maid.


"Tidak maafkan saya tuan, Itu terlihat sangat cocok, kalau begitu silahkan ikuti saya tuan pejuang..." Ucapnya setelah kesadarannya Kembali kemudian berjalan di depan Zen.


"Namaku Zen Kanade... Jadi bisa kau ganti kata tuan pejuang itu..." Balas Zen, dengan alasan yang sana yaitu risih ketika dia di panggil Pahlawan, karena notabenenya dia hanyalah Seorang pembunuh pahlawan yang menyamar menjadi pahlawan.


"Kalau begitu Akan saya Panggil Tuan Zen, Nama saya Nania..." Balas si Maid memperkenalkan dirinya.


"Kalau begitu salam kenal Nania..."


"Yah salam kenal Tuan Zen..."


Keduanya berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terletak di Bangunan sebelah dimana di dalam ruangan itu sebuah meja panjang yang dapat memuat sekitar 30 an orang terpampang rapi dengan kursi kursinya.


"Mereka sudah di sini saja" Ucap pelan Zen ketika mengetahui kalau dialah orang terakhir yang datang, kemudian ia duduk tepat di samping Natsukawa Isuzu.


"Zen Kanade... Kenapa kau duduk di sebelahku..." Tanya kasar Natsukawa kepada Zen yang baru saja duduk.


Zen melihat ke arah Natsukawa dan menyadari kalau dia tidak suka Zen duduk di dekatnya.


"Kalau tidak salah kau adalah Natsukawa... Maaf memangnya aku tidak boleh duduk disini..." Tanya Zen dengan sedikit canggung.


"Hanya pangeranku saja yang boleh duduk di sebelah ku, untuk orang dengan sihir lemah sepertimu kau cukup lancang juga yah..." Balasnya sinis.


"Apa - apaan itu... Kau Sombong sekali hanya karena punya sihir Kaca... Cihh..." Ucap Zen kemudian tidak jadi duduk di sebelah Natsukawa dan pindah beberapa bangku di sampingnya terlihat seperti dia adalah orang yang tersisihkan.


"Bagus Menjauhlah dariku..."


Sarapan pagi semua orang berjalan dengan sangat baik, sesekali raja , ratu , bahkan putrinya mengobrol dengan para pejuang dan hanya Zen yang menikmati makannya sendirian dan hanya menyaksikan ke asyikan perbicangan di antara para pejuang dan juga anggota kerajaan.


Setelah sarapan pagi, kedua puluh orang itu di arahkan ke halaman belakang kerajaan yang menjadi tempat latihan para tentara dan juga penyihir kerajaan.


"Selamat pagi para pejuang, hari ini kalian akan belajar cara mengeluarkan sihir kalian..." Sapa ramah Kira kepada para pahlawan, halaman kerajaan saat itu hanya ada para Pejuang beserta beberapa prajurit istana yang tengah latihan bersama dengan seorang ksatria wanita berparas anggun dan cantik dengan mata emas dan rambut hitam yang bergaya ponytail lengkap dengan Zirah perak yang menutup seluruh tubuhnya di tambah dengan pedang yang menempel di pinggang.


Mata anak laki - laki yang melihatnya saja langsung terpana saat itu juga mengalihkan Fokus mereka, kecuali Zen yang merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan mata Kira padanya seolah mengatakan "Untuk apa pengguna sihir tidak berguna seperti mu ikut latihan bersama kami, pergilah" seperti itulah yang terlihat di mata Zen.


Dia hanya mendengus kecil sambil berharap kalau Semuanya akan berjalan dengan baik - baik saja tanpa sedikitpun hambatan.


"Baiklah kalian semua, sekarang aku akan menjelaskan bagaimana cara mengeluarkan sihir kalian, yang pertama adalah mempelajari cara mengalirkan mana ke seluruh tubuh kalian... Pertama tutup mata kalian dan rasakan mana yang ada di dalam tubuh kalian" Jelasnya, kemudian para murid mengikuti instruksi yang dia berikan.


"Jika Kalian merasakan hangat pada tubuh kalian maka itulah yang di sebut sebagai mana, mana adalah energi yang dapat membentuk sihir..." Zen yang juga mengikuti instruksi dari Kira merasakan perasaan hangat di dalam tubuhnya.


"Sekarang alirkan mana yang ada ke tangan kalian dan bayangkan tentang atribut sihir kalian..."


Swusshhh...


"Berhasil" Ucap Senang Iori ketika angin kecil muncul di atas telapak tangannya, begitu pula dengan yang lain, Percikan Listrik keluar di tangan Shin.


"Bagus kalian semua cepat belajar yah, bagus sekali seperti yang di harapkan dari Para pahlawan... Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Kira ketika Zen satu - satunya orang yang tidak mengeluarkan sihirnya.

__ADS_1


"Sudah ku bilang, sihir bayangan adalah sihir yang tidak berguna, kenapa kau tidak menyerah dan bergabunglah dengan para prajurit..." Kira yang merendahkan Zen sebelumnya kembali berbicara.


"Cih..." Dengus Zen kemudian melirik ke arah Ksatria perempuan yang ada di dekat para prajurit.


"Mira... Aku menyerahkan pejuang ini padamu... Karena sihirnya tidak berguna jadi akan kuserahkan dia padamu yah..." Teriak Kira memanggil ksatria perempuan dengan nama Mira itu.


"Baiklah... Bawa dia kemari..." Sahut Mira.


"Kau dengar itu... Segera kesana..." Usir Kira.


"Yah, Setidaknya aku ada kegiatan..." Balas Cuek Zen kemudian lewat di samping Kira, Meninggalkan ke 19 teman - temannya yang akan berlatih dengan Kira.


Berbaris di antara para prajurit yang mengenakan zirah perak dan bersenjata kan Pedang dan Tombak.


Mira berjalan mendekat ke Arah Zen dan menatapnya, "Kau sepertinya memiliki tubuh yang lemah yah... Apa kau yakin bisa mengikuti sesi latihan dengan para prajurit?" tanya nya dengan sedikit jahil.


"Akan ku coba, Jika memang tidak sanggup maka aku akan beralih menjadi pustakawan saja..." Balas Zen dengan ketidakpedulian yang sangat tinggi, matanya menunjukkan bahwa dia sama Sekali tidak peduli dengan perkataan yang di Lontarkan oleh Mira.


"Lelucon yang bagus... Sekarang kalian semua mulailah mengayunkan senjata kalian..."


""Baik Bu!!!"" Jawab serentak para pasukan mulai berpasangan untuk memulai latihan.


"Baik kau boleh memilih senjata yang ada Disana... Ada banyak jenis silahkan pilih yang sesuai dengan mu setelah itu aku yang akan menjadi pasangan mu untuk berlatih... Jangan lupa pakai Pelindung juga" Tunjuk Mira kepinggir halaman Latihan dimana ada beberapa tombak diatas meja lengkap dengan pedang dan yang senjata yang lainnya.


Zen mengikuti instruksi dari Mira kemudian berjalan ke meja yang ada Disana, Matanya melirik kesemua jenis senjata Yang ada, kemudian mengambil sebilah senjata perak yang nampak begitu familiar dengannya.


"Katana?, kenapa ada katana di dunia ini... " ucapnya heran.


"Sudah memilih? Sekarang kemarilah..." Panggil Mira lagi ketika Zen menggenggam Katana di tangannya.


"Baik...." Jawab Zen kemudian berlari kecil menuju ke arah Mira yang sudah siap dengan sebilah Rapier.


"Kau memilih Katana yah... Yak kurasa itu akan cocok untukmu..."


Zen tersentak ketika mendengar itu dari Mira, membuatnya berpikir apa budaya Jepang benar - benar sudah sampai di dunia ini, lantas siapa yang membawanya, kapan itu terjadi, itulah yang ada dipikirannya sekarang, dia tahu kalau dia dan teman-temannya bukankah satu-satunya orang yang dipanggil kedunia ini.


"Ada apa... Kau belum siap" tanya Mira ketika Zen kelihatan melamun sembari berpikir.


"Maaf... Tidak apa aku sudah siap... Mari mulai..." Zen memasang posisi siap bertarung, kuda kuda yang ia pelajari selama berada di klub Kendo akan dia gunakan sekarang juga.


"Meskipun hanya latihan aku tidak akan segan - segan yah..." Ucap Mira mengacungkan Rapier ke arah Zen.


Di genggamannya Katana itu dengan sekuat tenaga ketika Mira mulai maju Menyerang menusuk dengan sebilah Rapier, pergerakan yang sangat cepat membuat Zen tidak sempat menghindar ketika tusukan itu mengarah ke bagian perutnya.


Tringgg...


Decingan kecil ketika Rapier dan Armor dada miliknya bersentuhan membuat Zen mundur beberapa meter kebelakang, memulai analisis terhadap pergerakan Mira yang jadi keahlian nya selama berada di Klub Kendo.


"Dia menggunakan Rapier karena dia bisa bergerak dengan gesit... Hebat juga..." Ucap Zen yang memegangi perutnya yang terasa sedikit nyeri setelah serangan barusan.


Mira tidak memberikan Zen istirahat, dia kembali bergerak dengan kecepatan yang tinggi, berlari menuju Zen.


"Sayang sekali... Tapi gerakan mu sudab terbaca" Zen memutar tubuhnya kebelakang ketika selesai menganalisis serangan dari Mira, Tapi saat dia berbalik Mengayunkan Katanya tidak ada Mira Disana.


Dari bagian bawah tubuh Zen, Mira memutar kakinya ketika berhasil menjepit kaki kanan Zen.


Brukk...


"CheckMate"


Zen terjatuh sebelum bisa menyerang Mira, Di depan matanya acungan Rapier kelihatan begitu menakutkan dan siap menusuk kapan saja.


"Baiklah aku kalah... Kau benar - benar tidak menahan diri yah..." Zen melepaskan Katana yang ada di genggamannya dan mengangkat tangan.


"Yahh... Aku kagum kau bisa membaca pergerakan ku... Tapi karena itu aku bisa mengalahkan mu... Kau bereaksi terlalu cepat jadi aku masih ada waktu untuk mengubah arah serangan..." Ucap Mira memberikan uluran tangan membantu Zen berdiri.


"Begitu yah... Sepertinya itu letak kesalahan ku..."


"Tidak perlu murung kau hanya kurang beruntung karena melawan ku... Mungkin kau akan menang jika kau melawan para prajurit biasa..."


"Kata 'Mungkin' itu terdengar meragukan..." Zen membuang wajah kemudian memungut Katana yang ada di bawah.


"Yah, kurasa kau masih harus berlatih lagi... Hari ini mungkin kau bisa beristirahat, besok kau akan berlatih langsung di bawah ku..."


"Baik, terima kasih..."


• • •


Sihir Bayangan, adalah sebuah sihir yang merupakan turunan dari sihir kegelapan, berada satu tingkat di bawahnya membuat pengguna sihir bayangan merupakan orang yang tidak bisa di anggap remeh jika dia benar - benar bisa menggunakan sihir bayangan secara utuh.

__ADS_1


Segala hal yang berkaitan dengan bayangan adalah kekuasaan nya, mengendalikan, menciptakan sesuatu dari bayangan apapun, bahkan dapat berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain selama tempat itu adalah sebuah bayangan.


Tidak menguras banyak mana karena bukanlah sihir pembentukan melainkan sihir Tetap, pengguna mempunyai ruang bayangannya sendiri dengan sebuah bayangan sebagai pintu masuknya, selain itu pengguna sihir bayangan juga dapat mengendalikan bayangan itu sendiri entah itu memperluas area bayangan atau bahkan memperkecil nya.


Karena itu sihir Bayangan bisa di katakan sebagai sihir yang sangat merepotkan jika menjadi lawan... Bahkan sihir cahaya sekalipun tidak dapat mengalahkan sihir bayangan.


Intinya hanya satu, Jangan melawan pengguna sihir bayangan di tempat gelap, karena itu sama saja dengan melawannya di kandang sendiri..


• • •


Sore Hari / Terarria Kingdom


Seminggu tak terasa telah berlalu semenjak Zen dan teman - teman sekelasnya di panggil ke dunia Jinx sebagai pahlawan yang akan menyelamatkan kerajaan, Hari hari itu berlalu dengan kegiatan yang sama, yaitu latihan agar mereka bisa menjadi lebih kuat.


Kecuali Zen seorang, yang bahkan tidak pernah lagi menghadiri latihan sihir dengan Magician Istana, Kira, dia merasa bahwa tidak memerlukan latihan sihir sama sekali ketika tahu kalau dasar untuk menggunakan sihir bukanlah latihan melainkan sebuah pemahaman, Dia hanya Latihan fisik dan berpedang bersama dengan Mira si Ksatria Istana, Dan pelatihan yang cukup kejam terus ia lalui.


Pemahaman yang ia dapatkan dari sebuah buku yang membahas tentang berbagai macam sihir di perpustakaan kerajaan dimana menjadi tempat ia menghabiskan waktu belakangan ini.


Buku tua yang di sarankan oleh si penjaga perpustakaan itu membuatnya tertarik untuk membaca mengenai isinya dan benar saja, semenjak dia membaca buku itu dia tidak perlu lagi mengikuti latihan sihir dengan orang resek bernama Kira, yah itulah sebutan Zen untuk nya.


"Tuan Zen, anda dan para pejuang lain di panggil oleh Yang Mulia untuk menghadiri pertemuan dengan para bangsawan kerajaan di ruang pesta..." Nania yang menjadi pelayan pribadi Zen datang menghampiri Zen yang tengah bersantai di meja perpustakaan sambil melihat keluar Jendela.


"Para bangsawan?, Apa itu penting?, Rasanya itu akan menjadi hal yang canggung untuk orang yang tidak bersikap seperti pahlawan seperti ku... Lagipula aku lelah... Latihan dengan wanita itu tidak lama lagi akan membunuh ku..." Jawab Zen dengan malas sembari melihat ke arah Nania yang nampak manis dengan seragam maidnya.


"Tapi tuan Zen, ini adalah panggilan dari yang mulia, sudah menjadi tugas saya untuk memastikan Anda menghadiri pertemuan penting ini... Dan anda tidak bisa menolak"


Zen menghela nafas panjang sembari melihat ke arah langit yang perlahan berubah warna kejingaan itu, hari sudah hampir malam dan suasana nya terasa begitu tenang sangat pas untuk merilekskan dirinya setelah seharian latihan fisik dan membaca buku di perpustakaan.


"Kalau begitu, silahkan ikut saya keruang pesta tuan Zen..." Nania kini berjalan meninggalkan Zen yang masih merasa sangat berat untuk bergerak dari tempatnya duduk.


"Cih... Padahal pestanya akan tetap berjalan meskipun aku tidak hadir kan..." Keluh Rey kemudian berdiri dengan berat hati mengikuti Nania yang ada di depan keluar dari perpustakaan.


Keduanya berjalan tanpa sedikitpun obrolan yang terjadi di antara mereka, dan hanya berdiam diaman.


"Silahkan masuk tuan Zen, saya hanya mengantar sampai sini..." Nania berhenti di depan sebuah pintu yang terkesan cukup besar berwarna emas dan merah yang dipadukan dengan warna Emas terang.


"Ahh... Baiklah, terima kasih..." Ucap Zen dengan sedikit kebingungan menatap Nania setelah itu ia membuka pintu besar yang ada di depannya.


Memasuki sebuah ruangan yang memiliki pencahayaan yang sangat terang di berbagai tempat, beberapa meja panjang tersusun rapi dengan banyak makanan dan minuman di atasnya, tidak hanya makanan dan minuman orang orang yang hadir pun terlihat cukup banyak, selain teman sekelas nya yang berkumpul dengan Circle masing - masing ada banyak juga orang yang mengenakan pakaian mewah, mulai dari bapak - bapak paruh baya, Wanita Paruh baya, Remaja seumuran Zen baik laki - laki maupun perempuan serta para anak - anak kecil.


"Ramainya..." Keluh Zen menyaksikan kerumunan orang yang ada di sekitarnya kemudian berjalan ke salah satu meja yang ada di pojokan, karena itu adalah meja yang kelihatan sepi maka Zen memutuskan untuk menghindari kerumunan dengan berada di meja itu.


"Tempat terang seperti ini rasanya seperti Ingin membunuh ku saja..." Keluh Zen kemudian mengambil segelas minuman yang ada di meja.


"Ahh..." Zen mendesah kecil ketika tangannya secara tidak sengaja menyentuh tangan orang lain.


"Maaf, silahkan" Ucapnya kemudian beralih gelas, tanpa melihat orang yang ada di dekat nya.


"Tidak masalah, terima kasih" Jawab suara yang terdengar begitu lembut dan tulus, suara yang begitu menenangkan bagi Zen dan dugaannya itu adalah suara perempuan.


Zen menoleh ke arah sumber suara dan mendapati wanita berambut biru panjang dengan banyak hiasan di kepalanya, gaun putih panjang yang ia kenakan menambah kesan cantik dan anggun pada dirinya selain itu matanya benar - benar sangat cantik dengan warna hijau Zamrud.


Tanpa membalas ucapan terima kasih darinya Zen meraih gelas yang berada di tempat lain kemudian pergi ke tembok untuk bersandar menikmati minumannya, meninggalkan sang wanita yang nampak sedikit kebingungan dengan sifat Zen yang cuek padanya, karena setiap saat orang - orang pasti akan terpanah akan kecantikan yang ia punya, tanpa satu orang pun yang lepas, hal itulah yang membuatnya risih dan memilih untuk menjauh dari kerumunan orang,


"Apa kau adalah salah satu pejuang yang terpanggil?" Tanyanya mendekat ke arah Zen yang masih bersandar sambil menutup kedua matanya.


"Yah, kau benar..." Jawab Zen sambil meneguk minuman yang ada di gelas.


"Aneh sekali, kau tidak memancarkan aura yang sama dengan para pejuang di sana, tapi itu aura yang hampir sama... Maksudku kau seperti bukan seorang pejuang..." Wanita itu melihat Zen dari atas sampai bawah seolah sedang menilainya.


"Eghhh... Rasanya sangat sakit ketika kau bilang begitu, meskipun tidak pernah ikut latihan tapi aku juga seorang pejuang loh... Mungkin" Zen dengan nada bicara yang cukup kesal menjawab pernyataan dari wanita itu tapi dengan suara yang sangat kecil di akhir kalimat.


"Lalu kalau kau memang pejuang, kenapa kau tidak berkumpul bersama yang lainnya..."


"Yah, karena beberapa alasan aku tidak mau bersama mereka... Selain itu untuk apa aku memberi tahu kepada mu, lagipula siapa kau..."


"Aku? Ahh... Perkenalkan aku Iyrs Albert, aku adalah Putri sulung dari bangsawan Albert, selain itu aku adalah tunangan dari Kurt Heyaz... Dan bisa kau jelaskan siapa kau sebenarnya..."


"Memangnya aku bertanya tentang yang terakhir itu... Haaa... Kepala ku jadi pusing berbicara denganmu, lebih baik aku pergi keluar..." Zen berjalan kedekat meja kemudian meletakkan gelasnya setelah itu membuka pintu besar menuju keluar Ruangan, tidak ada satupun orang yang menyadari kepergiannya selain Iyrs seorang yang masih terdiam dengan sifat cuek Zen dia memutuskan untuk mengikuti Zen keluar ruangan.


"Aku akan mengikuti mu loh kalau kau tidak menjawab"


Zen melangkah pelan sembari menarik napas panjang di setiap langkah yang ia lakukan seolah berusaha melepaskan stres yang ada di kepalanya dan tentu saja ia menyadari kalau dia sedang di ikuti oleh wanita aneh dengan nama Iyrs, yah dia sudah mendapatkan julukan bagus untuknya.


Dia mengambil jalan belok ketika sampai di pertigaan lorong, menghilang dari pandangan Iyrs yang masih mengikuti nya dari belakang, menghilang dari pandangan Iyrs tentu saja membuatnya sedikit panik dan berlari menyusul ke arah Zen berjalan.


Lorong tanpa pencahayaan adalah jalan yang di pilih oleh Zen membuat Iyrs kesulitan untuk melihat.


Sleppp...

__ADS_1


Note : Thanks Yang Udah Baca:)


__ADS_2