The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 30 Rencana Sang Pengkhianat Yang Terdengar Begitu Menakutkan


__ADS_3

"Ka... Kau bilang menjadi mata - mata" Elize maju lalu memegang pundak Zen seolah tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan.


"Hmm... Begitulah kebenarannya..." Balas Zen.


"Kau melakukan hal yang berbahaya seperti itu sendirian... Apa kau sudah gila..."


"Kalau bertanya siapa yang gila kurasa lebih baik kau bertanya pada yang mulia, karena dialah yang menyuruh ku untuk melakukan itu..." Ucap Zen melemparkan pandangan ke arah Arthur yang mulai berkeringat setelah tatapan dari Elize mengarah ke dia yang sedang duduk sambil menunggu.


"Ayah, apa maksud nya ini, aku tau kalau Zen adalah seorang pejuang dari kerajaan ini tapi menyuruh nya untuk pergi ke wilayah musuh itu terlalu berbahaya... Bagaimana mungkin ayah melakukan tindakan itu tanpa mendiskusikan nya terlebih dulu..."


Elize menghentakkan kakinya berjalan menuju ke arah Arthur yang tertunduk dan tengah berpikir tentang apa yang harus dia katakan untuk menjawab protes Elize, sementara itu sekarang Elize sudah tiba di depan meja Arthur dan berdiri sambil memasang pose yang terlihat seperti guru yang menciduk muridnya yang tengah menyontek, dan di sisi lain Shin, Iori, Luna, Rika hanya berdiam dan menyaksikan apa yang terjadi di depan mereka.


"Kak Elize tenanglah dulu..." Ucap Luna.


Dia bergerak dan meraih tangan Elize untuk menenangkan nya dari rasa marah pada ayah mereka.


"Luna kau diam saja... Ini bukanlah permasalahan yang bisa dibiarkan begitu saja..." Balasnya.


Kemudian menarik kembali lengannya dari Luna, Iori bergerak dan memberikan kode pada Luna untuk mundur dan membiarkan Elize tenang dengan sendirinya dan menyerahkan sisanya pada Arthur.


"Baiklah kalau kau memaksa ayah akan mengatakan yang sebenarnya padamu" Ucap Arthur.


Dia mengangkat wajahnya dan menatap balik Zen yang berdiri di belakang dengan tatapan mengancam seolah memberi tahu kalau sebentar lagi dia harus memulai rencana yang telah mereka buat dan rencana kan dari jauh hari.


"Katakan apa sebenarnya maksud ayah..." Ujar Elize yang menunggu penjelasan lebih lanjut dari Arthur.


"Ayah menyuruh Zen untuk memantau kerajaan Nipotia karena Zen sebenarnya bukan salah satu dari pejuang..."


Hening, tidak ada respon dari orang orang yang berada di ruangan terlebih lagi Elize yang mematung seperti terkena efek Paralyzed, dan Zen hanya tersenyum setelah mengetahui kalau Akhirnya Arthur akan memulai rencananya


"Tapi dia adalah seorang pahlawan!"


"He?" Semua orang mematung


"Pa... Pahlawan ayah bilang... Apa itu sungguhan..." Ucap Elize menggebrak meja Arthur seolah sangat terkejut dan matanya yang sebelumnya sangat mengintimidasi berubah menjadi sangat senang dan antusias.


"Yah, ayah menyuruhnya untuk memantau kerajaan Nipotia karena itu adalah salah satu dari tes yang dia hadapi, jika dia kembali dengan selamat maka sudah di pastikan dia benar benar seorang pahlawan... Ayah mengetahuinya saat penilaian sihir... Itu sebabnya kekuatan Zen berada jauh di atas para pejuang... Bahkan kekuatannya mampu mengalahkan penyihir cahaya..." Ucap Arthur.

__ADS_1


Dia kini melemparkan pandangan kembali ke Zen yang memberikan sedikit acungan jempol padanya.


"Jadi ayah menyuruh nya ke kerajaan Nipotia karena ingin membuktikan hal itu..."


"Benar... Dan setelah dia kembali ayah ingin mengugumknan ini pada semua orang... Karena itu ayah hanya diam" Ucap Arthur lagi kemudian berdiri dan memegangi kedua pundak Elize dengan kedua tangannya.


Melepas pegangan ayahnya Elize berbaik dan berlari kecil ke arah Zen yang kini sudah siap dengan lanjutan dari rencana mereka berdua.


"Zen apa itu benar...?" Tanyanya dengan tatapan yang begitu antusias.


"Bagaimana mengatakannya yah, aku sebelum nya juga tidak yakin dengan apa yang dikatakan yang mulia tapi sepertinya jika yang mulia mengatakan itu maka mungkin Saja benar..." Jawab Zen menggaruk canggung pipinya dengan jari telunjuk.


"Apa kau percaya...?" Sambungnya menatap wajah antusias Elize yang sebelumnya adalah wajah penuh dengan intimidasi.


"Tentu saja... Aku selalu penasaran kenapa kau sangat hebat, ternyata kau adalah seorang pahlawan!" Jawab Elize kemudian menggenggam kedua tangan Zen dan tersenyum penuh.


"Putri Luna... Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Bisik Shin yang berada di pinggiran ruangan bersama yang lainnya.


"Yah..." Balas Luna tentunya dengan berbisik juga kemudian memancing perhatian dua orang lainnya


"Ini mungkin terdengar bodoh, tapi aku penasaran apa bedanya pejuang dan pahlawan..." bisiknya pelan.


"Begitu rupanya, tapi kenapa Seorang pahlawan berada di antara para pejuang seperti kami..." Tanya Rika.


"Mungkin saja Zen adalah pahlawan yang tidak sengaja terpanggil bersama dengan para pejuang..."


"Hooo...."


"Ayah Ini adalah sesuatu yang besar... Kita harus segera memberitahukan ini kepada yang lainnya..." Ucap Elize masih dengan begitu antusias.


"Kalau begitu kalian segera beritahukan kepada semua penghuni istana untuk berkumpul... Kita akan mengadakan Penguguman untuk para rakyat..." Perintah Arthur pada Elize dan yang lainnya.


""Baik yang mulia""


"Baik ayah..." Balas yang Lainnya kemudian berlari keluar ruangan dan tidak menyadari bahwa Zen sama sekali tidak ikut dalam rombongan mereka dan hanya tinggal di dalam ruangan sang raja.


"Berjalan lancar bukan..." Ucap Zen kemudian mendekati Arthur.

__ADS_1


"Tapi apa kau yakin dengan begini musuh akan keluar?" Tanya Arthur dengan ragu.


"Karena pahlawan adalah orang yang kuat maka aku yakin jika kabar ini sampai ke telinga para pemberontak mereka akan bergerak untuk menelusuri tentang pahlawan yang dimaksud dan mungkin juga mereka akan muncul untuk membunuhku..." Balas Zen kemudian mengeluarkan sebuah shadow hand yang membawa secarik kertas.


"Begitu yah... Lalu kertas apa itu..."


"Tahap ketiga rencana kita berjalan dengan lancar, aku berhasil bertemu dan bernegosiasi dengan raja Demian meskipun itu adalah sebuah kebetulan aku bisa tertangkap dan bertemu dengannya..."


"Berarti kertas itu adalah..."


"Sebuah perjanjian kerja sama dan gencatan senjata sementara... Mereka setuju membantu kita untuk membasmi para pemberontak... Meskipun aku harus sedikit berbohong tentang pemberontak yang ada di Kerajaan mereka..."


"Karakteristik seorang pengkhianat memang sangat melekat padamu, aku kagum tentang bagaimana caramu menyelesaikan sesuatu dengan sangat efisien... Jadi informasi apa yang kau peroleh...."


"Ehmmm... Mari kuingat... Katanya markas para pemberontak tidak berada di kedua kerajaan, jadi kemungkinan besar berada di wilayah tidak terjamah... Kemungkinan besar ada beberapa Spatial Gate di Kerajaan ini... Jadi kita harus segera menemukannya... Karena itu rencana ini sangat dibutuhkan... Agar kita bisa tahu tentang lokasi markas mereka..."


"Wilayah tak terjamah yah... Sangat nekat... Sepertinya Regurd sangat berani mengambil resiko untum menantang Kerajaan ini..." Pikir Arthur menahan kepalanya dengan lekukan kedua jarinya.


"Yah, kurasa kau yang bersalah karena sudah membuangnya... Aku akan bertanya itu lain kali... Jadi kuharap kau siap..."


"Itu hanya masalah keluarga, lupakan jadi tentang markas mereka apa yang akan kau lakukan..."


"Aku berencana untuk pergi menyerang seorang diri..."


"Kau mau mati? Mereka itu sangat kuat..."


"Tidak, daripada membawa beban aku lebih memilih untuk bertarung sendirian... Ditambah aku yakin putramu tidak akan tinggal diam dengan masalah ini jadi dia pasti akan menyerahkan banyak pasukannya..."


"Kau secara langsung mengatakan kalau para pejuang dan putri Putriku adalah beban..."


"Itu memang benar... Aku tidak ingin bertarung dengan mereka yang memiliki mental lemah..." Balas Zen melemparkan surat tadi pada Arthur dan berjalan menuju keluar ruangan.


"Kuharap kau punya rencana tentang itu, atau itu akan menjadi misi bunuh diri..." Ucapnya sesaat sebelum Zen keluar dari ruangan sepenuhnya.


"Tenang saja... Aku tidak bilang akan benar benar pergi sendirian... Ada seorang lagi yang kekuatannya seperti bencana..." Balas Zen kemudian pintu kembali tertutup.


Note : Minal Aidzin Walfaidzin Guys... Mohon maaf lahir dan Batin yah...

__ADS_1


tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...


see u next chapter


__ADS_2