The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 31 Nania Dan Senyum Manisnya


__ADS_3

Siang Hari / Terarria Kingdom


Trankk...


Zen melompat mundur kemudian sedikit menyerong ke kanan menghindari sebilah Rapier yang Menyerang nya dengan sangat cepat, Setelah itu di ayunkan nya Katana yang ia pegang secara horizontal ke bagian bawah tubuh Mira.


Keduanya kini terlibat dalam sebuah simulasi pertarungan di sesi latihan mereka, Zen kembali mengambil ancang ancang ketika tahu serangannya dapat di tahan Oleh Mira dengan mata Rapiernya yang bergerak dengan sangat cepat, menahan serangan yang muncul dari segala arah dan membuatnya melangkah mundur dengan segera karena sedang di pojokkan.


"Boleh juga, kau sudah berkembang cukup jauh dari perkiraan ku..." Ucap Mira di sela sela serangannya, memuji pergerakan Zen yang semakin tajam terhadap serangan kejut darinya.


"Ini belum seberapa..." Zen mengubah pegangan katananya menjadi dua genggaman tangan, mengambil sebuah langkah cepat kesamping dan memberikan serangan kejut yang ia perkirakan tidak di duga oleh Mira.


Tapi tidak semudah itu, Mira yang sudah tahu pergerakan yang akan di lakukan Zen menendang ke samping dan mengenai kedua tangan Zen yang masih mencoba mengayun Katana.


Swushhh...


"Kau sudah kalah..." Ucapnya dengan percaya diri ketika berhasil melemparkan Katana Zen jauh ke udara dan membuatnya tidak bersenjata.


"Upsss... Maaf tapi sepertinya itu kata kataku..." Balas Zen dengan senyum mengejek ketika Sebilah katana lagi ia todonhkan ke bagian perut Mira.


Keduanya tetap dalam posisi itu selama beberapa waktu sebelum akhirnya Mira memilih untuk menyerah terhadap ancaman Zen, Karena jika dalam pertarungan sesungguhnya Mira pasti sudah mati.


"Relic yang sangat merepotkan..." Ucapnya mengangkat tangan ke atas tanda menyerah kepada Zen.


"Terima kasih atas pujiannya guru..." Balas Zen yang kemudian menurunkan katana nya dan menghilangkan nya sedetik kemudian.


"Seperti yang diharapkan dari sang pahlawan... Perkataan itu ternyata bukan hanya sekedar bualan..."


Mira menghilangkan Relicnya kemudian berbicara sambil berjalan menuju pinggir lapangan untuk meletakkan peralatan seperti zirah dan yang lainnya.


"Apa kau percaya kalau aku adalah seorang pahlawan?" Tanya Zen kemudian mengikuti Mira untuk meletakkan kembali Zirah dada yang ia kenakan.


"Aku percaya... Lagipula yang mengatakannya adalah yang mulia... Selain itu dari awal aku memang tau kalau kau berbeda dari para pejuang yang lainnya..." Jawab Mira melepaskan armornya dan membalikkan badannya ke arah Zen.


"Begitu... Yah kurasa apa yang kau katakan memang benar... Aku juga merasa kalau aku berbeda dari para pejuang yang lain..." Balas Zen dengan perkataan yang sedikit terdengar ambigu, di satu sisi Mira benar kalau dia berbeda, tapi disisi lain kebenaranya adalah dia bukan pahlawan tapi seorang pengkhianat.

__ADS_1


"Sayangnya masih ada yang tidak terima dengan pernyataan raja kalau kau adalah seorang pahlawan..."


"Ah itu... Kurasa memang benar..." Balas Zen yang sudah meletakkan kembali Zirahnya dan berjalan menuju ke luar lapangan dan diikuti oleh Mira.


"Yah dia memang selalu begitu... Dia pasti merasa syok karena tau orang yang ia remehkan adalah seorang pahlawan... Tapi tenang saja cepat atau lambat dia pasti akan mengakui mu..."


"Aku tidak terlalu berharap dengan perkataan mu... Selain itu hari ini ternyata cukup panas... Rasanya aku ingin berendam di dalam kolam es..." Keluh Zen sambil menyeka keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangan.


"Kau benar karena ini sudah mendekati akhir musim panas... Mungkin perayaan salju akan segera di mulai bulan depan..." Balas Mira yang juga merasa panas dan gerah.


Zen tidak terlalu mendengarkan ucapan Mira karena perhatiannya terfokus pada Nania yang berdiri di samping pintu yang menghubungkan Area istana dan juga Lapangan.


"Tuan Zen selamat datang kembali, maaf aku tidak sempat menyambut kedatangan mu sebelumnya..." Nania menundukkan kepalanya ketika sadar bahwa Zen sudah muncul dari balik pintu, bahasa yang ia gunakan bukan lagi sebuah bahasa formal seperti tuan dan pelayan pada umumnya karena itu adalah permintaan Zen sendiri, dia tidak menganggap Nania sebagai pelayan nya tapi sebagai seorang yang mungkin bisa ia sebut sebagai partner karena Nania sendiri sudah sering membantu Zen.


Dan selain itu Zen juga tau rasanya jika dia memperlakukan Nania sebagai seorang pelayan yang sesungguhnya, itu akan melelahkan dan rasanya cukup menyiksa bagi Zen karena...


"Ah, tidak perlu meminta maaf... Aku juga tidak memberitahu mu kapan aku akan kembali..." Balas Zen dengan Segera ketika Nania masih saja menundukkan kepalanya.


"Terima Kasih Tuan Zen..." Ucapnya mengangkat kembali kepalanya.


"Ngomong - ngomong ada apa?"


"Ketika aku mendengar tentang Tuan Zen yang sudah kembali, aku buru buru ingin menyambut mu, karena itu aku kesini..." Balas Nania yang berusaha keras agar tidak berbicara sopan meskipun dia sendiri belum bisa menghilangkan kata 'Tuan' dari kalimatnya.


"Ah, begitu yah... Terima kasih karena sudah repot repot..."


"Sudah menjadi tugasku sebagai pelayan pribadi mu... Ngomong - ngomong para pejuang yang lain sudah makan terlebih dulu bersama yang mulia... Apa Tuan Zen ingin bergabung dengan mereka?" Balas Nania Lagi.


"Ah tidak perlu, itu akan menjadi sangat canggung jika aku muncul tiba tiba... Tolong Bawakan saja makanannya ke kamar, ah dan juga tolong minta porsi untuk dua orang yah..." Ucap Zen memberikan tanda peace ke Nania.


"Baik sa... Aku mengerti... Akan segera aku bawakan ke kamar tuan Zen..." Ucap Nania kemudian pamit kepada Zen.


"Oke... tolong yah... Aku akan menunggu..."


Zen berlalu dengan arah yang berbeda dari Nania dimana dia pergi ke kamar dan Nania pergi ke dapur mengambil makanan.

__ADS_1


Dan Setelah beberapa saat makanan datang, Zen membuka Pintu dan mempersilahkan Nania yang membawa sebuah nampan berisi makanan dalam jumlah yang cukup untuk dua orang masuk ke kamar.


"Letakkan saja di atas meja..." Tunjuk Zen ke arah sebuah meja yang berada di dekat Jendela besar dan di dampingi dengan dua kursi.


Nania mengikuti instruksi dari Zen dan meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja dan mempersiapkan kursi untuk Zen ketika dia menghampiri nya.


"Aku akan kembali ke dapur... Jika Tuan Zen sudah selesai silahkan panggil saja..." Ucap Nania pamit undur diri pada Zen tapi ketika baru beberapa langkah tangannya di tahan oleh Zen.


"Apa yang kau katakan... Duduklah dan makan bersama ku, kau belum makan siang bukan..." Ucap Zen.


"Eh, apa yang tuan Zen bilang... Kami para pelayan tidak di perbolehkan untuk makan bersama tuan kami... Jadi aku akan kembali ke dapur dan makan Disana..." Tolak Nania.


"Siapa yang bilang kalau kau adalah pelayan ku? Dan aku juga tidak pernah menganggap diriku sebagai tuan mu, kau saja yang memanggil ku sebagai tuan..."


"Lalu aku ini siapamu..."


"Aku menganggap ku sebagai partner ku... Bukankah makan bersama dengan partner itu adalah hal yang wajar... Karena itu duduklah..." Zen menarik tangan Nania yang ia pegang menuju ke kursi yang berada di sisi lain meja dan Nania tidak bisa melawan


"Jadi maksudmu menginginkan dua porsi adalah untuk ini..."


"Yap benar sekali, sekarang duduklah dan makan bersama ku..." Ucap Zen kemudian ikut duduk dan mulai mengambil sendok yang di sediakan oleh Nania.


"Ada apa?" Tanya Zen ketika Nania sama sekali tidak memulai makannya dan hanya memberikan sebuah senyuman yang sangat jarang ia tunjukkan karena wajahnya yang terkesan jutek dan juga sering tidak berekspresi.


"Tidak... Aku hanya merasa bersyukur karena disuruh untuk melayanimu, dari para tuan ku selama ini tidak ada yang pernah memperlakukan ku seperti ini, mereka sama sekali tidak pernah peduli padaku... Tapi tuan Zen berbeda... Aku sangat senang..." Ucapnya menebar senyum yang begitu manis.


"Begitu, syukur lah... kalau kau merasa senang aku juga merasa senang..." Balas Zen dengan wajah malu malu karena wajah tersenyum Nania begitu mempesona tapi pikiran itu hanya sesaat saja karena ada sesuatu di dalam kepalanya yang membuatnya terpaksa harus menghilangkan pemikiran seperti itu.


"Yah, Terima Kasih... Zen" Ucapnya Lagi.


"Dengan senang Hati, Nania..."


Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2