
"Zen...." Nania terlihat murung, memanggil Zen dengan suara yang begitu lembut, tapi tidak ada respon atau bahkan sedikitpun Reaksi dari Zen yang duduk merenung di atas kasur sambil menatap ke arah bawah.
Elize yang berdiri tepat di samping Nania pun sama terpukul nya dengan apa yang terjadi pada Zen, bahkan tidak ada sedikitpun Zen mengingat sesuatu tentangnya.
Begitu pula dengan para pejuang, seperti Shin, Iori, Rika, Natsukawa, Miharu, Yuuna dan beberapa pejuang yang turut hadir di kamar Zen berbarengan dengan Arthur dan Luna.
Tapp... Tapp.... Tapp
Shin berjalan dengan sebuah langkah pelan, mendekat ke arah kasur Zen kemudian duduk tepat disampingnya.
"Zen... Apa kau baik baik saja..." Tanyanya karena sedari tadi dia belum berbicara dengan Zen yang kini menoleh ke arah Shin dengan sebuah tatapan kosong dan mata yang terlihat mati.
"Siapa... Kau?" Ucapnya dengan tanpa emosi sedikitpun.
"Aku adalah sahabat mu... Shin... Kita sangat akrab sebelumnya... Apa kau benar benar tidak mengingat nya..." Jelas Shin, tapi Zen sama sekali tidak memberikan jawaban selain kembali menatap ke bawah dengan tatapan yang sama.
Shin dengan wajah murung akhirnya menyerah setelah Beberapa saat Zen sama sekali tidak menjawabnya dan hanya terus melamun, Dia menjauh dengan tatapan yang terlihat sangat sedih.
Rika menyambut kedatangan Shin kemudian mengusap usap punggung belakang Shin dengan lembut, memintanya untuk tenang dan tetap berpikir positif.
"Yuuna... Sebenarnya apa yang terjadi... Kenapa Kanade bisa lupa ingatan..." Yang bertanya adalah Miharu yang kala itu berdiri tepat di belakang Natsukawa.
"Maaf Haru... Aku sama sekali tidak tahu..." Jawab Yuuna dengan sedikit kecewa.
"Ayah... Kenapa semua ini terjadi... Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan ingatan Zen..." Elize berbicara pada Arthur dengan sebuah nada kesal bercampur sebuah rasa kecewa dan juga sedih.
"Untuk sementara, Nania... Mintalah Zen untuk beristirahat... Setelah itu semua yang ada disini harap meninggal kan ruangan dan biarkan Zen beristirahat..." Ucap Arthur memberikan sedikit solusi untuk keadaan yang terasa cukup membuat semua orang kehilangan semangatnya.
"Baik yang Mulia..." Balas Nania setelah menyeka air matanya yang perlahan lahan mulai muncul dari sudut mata, kemudian dia berjalan mendekati Zen yang sama sekali tidak bergerak atau bahkan mengubah posisinya.
"Tuan Zen... Tidak, Maksud ku Zen... Beristirahat lah... Kuharap saat bangun nanti kau sudah bisa mendapatkan kembali ingatanmu... Kumohon kembalilah menjadi Zen yang dulu, aku sangat sedih melihat keadaan mu yang seperti ini..." Ucap Nania merangkul kepala Zen dan menyandarkan nya di dadanya, memberikan sebuah usapan kepala yang begitu lembut tepat dihadapan semua orang, kemudian secara perlahan ia melepaskan pelukannya dan menyandarkan kepala Zen pada bantal lalu membungkusnya dengan sebuah selimut tebal.
Ekspresi Zen sama sekali tidak berubah dan tetap membuka matanya, dia hanya patuh dan membiarkan Nania membaringkan kepalanya di bantal, semua indranya terasa mati karena dia sama sekali tidak menangkap apa yang dikatakan Oleh Nania.
"Selamat Malam, Zen... Beristirahat...." Perkataan Nania yang terdengar begitu memilukan sesaat sebelum dia berjalan pergi masih juga tidak mendapatkan respon apapun dari Zen yang terus memberikan sebuah tatapan kosong.
Tekkk...
Pintu tertutup bersama dengan keluarnya semua orang dari dalam ruangan, menyisakan Zen sendirian yang terus menatap kosong ke arah Langit langit kamar yang berwarna putih bersih, hari sudah sore dan sebentar lagi akan beranjak menjadi malam.
Dan untuk hari ini semuanya hanya menghabiskan waktu dengan menyaksikan Zen yang dimana terlihat sangat berbeda, sosok Zen yang acuh tak acuh sudah hilang berganti dengan sosok yang memancarkan aura sedingin Es dengan tatapan kosong tanpa sedikitpun semangat hidup didalamnya.
Kini Zen sendiri sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri, kata kata yang menggema di dalam kepalanya terasa begitu menganggu.
Sebuah kata yang terdengar seperti Sebuah Tugas dan Alasan begitu menganggu pikirannya, dia terus mencoba mencari tahu tentang maksud dari perkataan itu, mencari kedalam data base ingatannya yang sudah tereset dan juga menghilangkan semua kenangan yang dulu dia punya termasuk kenangan pahit yang ia miliki.
"Aku... Harus mencari tahu kebenaranya, siapa aku... Tugas dan alasan apa yang dimaksud?..." Gumam Zen dengan tempo bicara yang sangat pelan dan lambat.
Setelah itu Zen bangkit dari tempat tidurnya, menggerakkan kedua kakinya menuju ke samping tempat tidur kemudian berdiri dengan hanya mengenakan sebuah celana panjang dan bertelanjang dada.
Dia Melirik kemeja yang berada tepat di dekat jendela dimana diatas meja ada sebuah pakaian yang disediakan oleh Nania tempo hari jika sewaktu-waktu Zen akan bangun.
__ADS_1
Tentu saja Zen dengan langkah kaki yang lunglai dan terasa berat menghampiri meja tadi dan mengambil pakaian yang terdapat di atas meja.
Mengenakan sebuah baju dengan warna hitam yang dimana memiliki model seperti Jas Lab dan memiliki banyak kancing di bagian Atas.
Zen yang merasa kesulitan memasang kancing dengan hanya menggunakan satu tangan saja akhirnya berhasil membalut tubuhnya dengan pakaian tadi, dimana lengan kanan bajunya melambai lambai tertiup angin sore yang masuk melalui jendela yang terbuka.
Zen mendekat ke arah jendela dan langsung melihat ke bawah, melihat ke arah tanah datar yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya sekarang, dan sangat mudah baginya melompat turun.
"Siapa yang harus kupercaya... Apa mereka benar benar mengenal ku... Apa aku benar benar berasal dari tempat ini..." Gumamnya sambil menimbang nimbang keputusan yang akan dia buat.
Pikirannya di liputi oleh berbagai macam keraguan, dia belum mempercayai Nania dan juga semua orang yang tadinya berada di kamarnya, meskipun dia sendiri tidak menyadari berapa banyak orang yang datang untuk melihatnya.
"Yang bisa kupercaya sekarang hanyalah diriku sendiri, setidaknya aku tahu kalau Namaku adalah Zen... Aku akan mengungkap kebenaran nya... Dan mencari tahu tugas dan alasan aku berada disini..." Ucap Zen yang rambut hitamnya terbang tertiup oleh angin yang muncul dari luar.
Zen mengangkat kakinya kemudian memanjat ke pinggiran jendela, setelah itu.
Bukkk...
Tubuhnya mendarat ke tanah dengan sangat tida mulus, dimana bagian tubuhnya yang pertama kali menghantam tanah adalah bahu kanannya, membuatnya meringis dengan suara pelan.
Tapi hanya itu saja tidak akan membuatnya menyerah dan meskipun dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, Zen bangkit dengan tertatih kemudian berjalan dengan langkah lunglai sambil memegangi bahu kanannya yang sakit ke arah depan dimana tidak jauh dari tempatnya terjatuh ada sebuah pintu kecil di tembok batu yang menjadi pelindung istana.
Zen menarik pintu besi yang tidak terkunci itu dengan sisa tenaga yang ada kemudian melewatinya dengan cepat dan meninggalkan pintu tadi dalam keadaan terbuka.
Berjalan keluar dari area istana menuju ke pusat kota yang kini banyak orang yang berlalu lalang.
Kepala Zen yang diperban itu mungkin menjadi penyebab orang orang tidak mengenalinya sebagai pahlawan yang diperkenalkan oleh Arthur, ditambah dengan Zen yang berjalan dengan wajah yang sedikit tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Bukk...
Secara tidak sengaja Zen menabrak punggu seseorang yang tengah berhenti di tengah jalan dan terlihat seperti tengah berbincang dengan seseorang.
"Haaaa??!!! Apa apaan kau ini..." Ucap orang yang ditabrak oleh Zen dengan sangat kesal, dia berbalik dan menatap ke arah Zen yang lebih pendek darinya dan tengah menundukkan pandangannya.
Zen tidak menjawab atau meminta maaf pada si pria tadi, dia hanya sedikit bergeser dan hendak berjalan menjauh karena sebelumnya itulah yang ia lakukan.
"Oyyy bocah kemana kau mau pergi?, Kenapa tidak meminta maaf, tidak tau sopan santun sama sekali kau ini..." Pria tad menarik bahu kiri Zen dan menghentikan langkahnya yang begitu lunglai.
Zen berbalik setelah langkahnya terhenti, memberikan tatapan mata biru yang terlihat kosong dan tanpa sedikitpun emosi ke si pria tadi dan tidak mengatakan apapun.
"Kenapa kau menatap ku dan bukannya meminta maaf..."
"Ada apa ini..." Beberapa orang muncul dari sebuah gang kecil di pinggir jalan setelah mendengar nada tinggi si pria tadi.
"Bocah ini menabrakku, tapi bukannya meminta maaf dia malah menatapku... Tidak tau sopan santun sekali dia..." Jawab si pria yang ditabrak.
"Hooo... kalau begitu mari kita ajak dia kedalam... Dan ajarkan padanya seperti apa sopan santun itu..." Balas Pria dengan badan ceking tadi kemudian merangkul bahu Zen.
"Kalau begitu bawa dia..." Si Pria yang di tabrak berjalan pertama dan masuk ke dalam gang kecil tempat dimana pria ceking dan beberapa temannya muncul tadi, kemudian diikuti oleh Zen yang diseret paksa oleh si pria ceking masukn kedalam gang.
Bukkk..
__ADS_1
Si pria ceking tadi melemparkan tubuh Zen dengan kuat setelah mendapat kode dari si pria yang ditabrak, membuat tubuh Zen jatuh tersungkur.
"Sekarang apa yang harus kita ajarakan pada si bocah tidak tahu sopan santun ini..."
"Jangan terlalu kasar bungg... Dia sedang terluka seperti nya dan juga dia tidak punya lengan kanan... Sepertinya dia orang cacat hahaha!!!" Tawa si pria ceking menggema ke seluruh gang.
"Kalau begitu mulai sekarang kau akan Kupanggil dengan sebutan Bocah Tangan Satu yang cacat... Terdengar bagus bukan hahaha" Membalas ucapan si ceking pria yang ditabrak dan Beberapa temannya ikut tertawa terbahak bahak.
Zen tidak menanggapi mereka dan berusaha berdiri dengan suara rintihan yang begitu jelas, dimana dia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di hampir seluruh bagian tubuhnya.
"Kemana kau mau pergi haaa??!!!!" Pria yang ditabrak tadi mendekati Zen dengan sebuah langkah cepat setelah melihat Zen yang berusaha pergi dari tempat itu dengan terus berjalan memasuki gang, tapi sebenarnya Zen tidak berniat kabur atau apapun dia hanya ingin pergi saja karena merasa harus segera menemukan apa yang ia cari.
Bugkkk...
Pria yang di tabrak tadi meraih tubuh Zen dan menariknya kebelakang setela itu memberikan sebuah tendangan lutut di perut Zen, membuat Zen jatuh berlutut sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
Bukk...
Tidak sampai disitu saja, pria tadi kini menendang wajah Zen dengan sangat kuat dan membuatnya jatuh ke tanah dengan darah yang keluar dari pelipis dan juga sudut bibirnya.
Tidak menghentikan aksinya, Pria tadi kembali mendaratkan pukulan demi pukulan ke tubuh Zen, Dan teman temannya juga tidak mau menonton saja dengan segera mereka ikut bergabung dengan pria tadi.
Menginjak kepala Zen, Menendang Perutnya, Menekan kakinya sekuat tenaga semua mereka lakukan dengan sangat brutal untuk beberapa saat.
"Hee.. sudah lah dia sudah tidak bergerak lagi..." Pria yang ditabrak menghentikan aksinya dan juga teman temannya sesaat setelah perban yang menutup luka di lengan kanan Zen kembali terbuka dan mengeluarkan banyak darah.
Bahkan Zen sendiri sudah tidak lagi bergerak sedikitpun dan hanya terbaring tidak berdaya ditanah.
"Ayo pergi" ajaknya kemudian berjalan meninggalkan tubuh Zen yang sudah tidak lagi bergerak diikuti oleh teman temannya dimana sesaat sebelum pergi si Pria Ceking menyempatkan diri untuk menendang kepala Zen untuk terakhir kalinya kemudian ikut menyusul mereka.
Meninggalkan Zen yang kini kondisinya sangat parah, atau bahkan bertambah parah karena darah terus mengalir dari luka dilengannya yang terbuka.
Tappp.... Tappp.... Tappp...
Suara langkah kaki muncul dari dalam gang, mendekat ke tubuh Zen yabg yang tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah mati.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan mu juga..." Ucap Suara yang terdengar seperti seorang perempuan.
"Mulai sekarang... Kau akan berada di bawah bimbingan ku... Bersiap siaplah... Kanade Zen... Sang pengkhianat... Karena akan kuberitahu kepadamu... Seperti apa kebenaran yang kau cari!!"
Note : YOSHH AKHIRNYA ARC PERTAMA NOVEL INI DAH KELAR DAN AKAN SEGERA MEMASUKI ARC KEDUA DENGAN TAJUK "REVEAL THE TRUTH"...
ARC KEDUA AKAN SEGERA RILIS YAH... JADI TUNGGUIN AJA...
THANKS BUAT YANG UDAH SEMPETIN BACA, LIKE DAN JUGA KOMEN...
-KIRASHI:)
tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next Arc
__ADS_1