
Pagi Hari
Terarria Kingdom
Istana Kerajaan
"Selamat pagi Zen bagaimana keadaan mu...?" Tanya Nania yang kala itu menerobos masuk ke kamar Zen kemudian membuka jendela kamar, yang dimana ketika cahaya matahari masuk Zen langsung terbangun dan menyoroti sekeliling ruangan.
"Hoamm... Selamat pagi Nania... Entahlah mungkin sudah sedikit membaik" Jawabnya dengan sedikit menguap, wajah ngantuk masih terlihat jelas bersama dengan sebuah peregangan yang ia lakukan di atas tempat tidur.
"Jika kau merasa kurang sehat beristirahat lah saja dulu untuk hari ini, aku akan meminta Putri Elize agar mengizinkan mu tidak masuk akademi" Balas Nania kemudian membuka lemari yang ada di pinggir ruangan dan mengambil Beberapa lembar pakaian.
"Kalau begitu tolong yah, aku juga merasa sedikit sakit ketika menggerakkan tubuhku... Jadi kurasa aku akan beristirahat hari ini" Zen turun dari tempat tidur kemudian menyambut pakaian yang ada di tangan Nania, dimana pakaian itu akan ia kenakan setelah mandi.
"Baiklah, ngomong ngomong apa kau butuh bantuan untuk mandi" tanya Nania dengan wajah santai seolah ucapan itu adalah sebuah ucapan biasa.
"Tidak perlu, aku baik baik saja..."
"Begitu, baiklah... Aku akan membantu untuk menyiapkan sarapan para pejuang sekaligus mengantarkan makananmu kesini"
"Yah, terima kasih..." Jawab Zen kemudian Nania berlalu keluar ruangan, meninggalkan Zen yang kini tengah menolehkan kepalanya keluar jendela, melihat ke arah luar jendela dimana cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna.
Ekspresi wajahnya berubah seketika, tatapan matanya terlihat begitu dingin di tambah dengan ekspresi wajah datar.
Setelah beberapa saat berdiam Zen akhirnya pergi menuju kamar mandi yang dimana berbentuk seperti kolam besar dan bernuansa mewah seperti bak mandi khusus.
Dia mandi dengan segera dan setelah mengenakan pakaiannya ia keluar dengan wajah segar, meski demikian tidak mudah baginya untuk mengenakan pakaian hanya dengan satu lengan saja tapi dia merasa bahwa dia akan segera terbiasa dengan itu.
"Kau sudah selesai mandi ternyata" Ucap Nania yang muncul dari pintu sambil membawa nampan berisi makanan kemudian langsung ia letakkan di atas meja dekat jendela.
"Yah" Jawab Zen mengusap usap rambut belakangnya dengan telapak tangan kemudian berjalan menuju ke meja.
Bersama dengan Nania keduanya menghabiskan waktu untuk makan bersama sambil berbincang bincang kecil, Ada Nania yang kelihatannya sangat senang melihat Zen yang bersikap seperti biasa sementara Zen sedang sibuk beradaptasi untuk makan dengan tangan kiri.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu dan akhirnya keduanya selesai menghabiskan sarapan pagi mereka, Nania pergi sambil membawa piring kotor bekas mereka makan sekaligus untuk menemui Elize.
Zen yang diminta oleh Nania agar beristirahat sama sekali tidak bergeming dari tempatnya duduk, dia malah terus melirik keluar jendela, memantau pergerakan yang ada di luar melalui kamarnya.
"Mereka sudah pergi" Ucapnya ketika gerombolan para pejuang nampak melewati gerbang dengan wajah yang begitu senang.
"Sekaranglah saatnya" Ucapnya lagi kemudian bangkit dari tempatnya duduk, wajahnya terlihat tanpa ekspresi dan begitu datar.
Dia berjalan menjauh dari jendela dan berdiri di depan pintu masuk.
"Shadow Magic : Reach Enchancer" Rapalnya seketika kemudian menghilang dari kamarnya menuju ke suatu tempat dengan pakaian seadanya.
Sampai akhirnya sebuah bayangan terbentuk di dalam sebuah sel penjara dimana terletak di bagian bawah tanah, atau biasa disebut dengan penjara bawah tanah.
"A.. apa yang terjadi!!" Kata suara yang terdengar gemetar ketakutan, wajahnya terlihat sangat pucat ketika menyaksikan di sel penjara nya yang begitu gelap muncul tatapan mata biru yang begitu intens dari tanah.
Zen muncul kemudian berdiri di depan Duke Regard yang kini tertahan di dalam penjara karena kasus pemberontakan yang ia lakukan beberapa waktu lalu.
"Selamat Pagi... Apa kabarmu Tuan Regard" Tanya Zen dengan nada bicara yang begitu tenang kemudian dia berjalan mendekati Regard yang mundur kebagian belakang sel karena ketakutan.
"Apa kau sudah melupakan ku...?" Ucap Zen yang mendekat kan wajahnya ke Regard seolah memberikan petunjuk untuk mengingat nya.
"Kau... Si pejuang yang menjebloskan ku kesini..."
"Sudah ingat rupanya..."
"Apa yang kau inginkan dariku... Asal kau tau saja masalahmu belum berakhir... Kau tidak akan dilepaskan begitu saja dari keluarga ku atas apa yang-"
Crasss...
"aghh!!!" Suaranya terhenti ketika Katana yang panjangnya sekitar satu meter itu menembus pergelangan kakinya.
"Kenapa kau masih bisa sombong seperti itu... Padahal kau hidup sampai sekarang saja hanyalah sebuah keberuntungan... Karena jika tidak ada para pemberontak itu eksekusi mu pasti sudah dilakukan sejak lama..." Ucap Zen dengan nada Bicara yang terdengar begitu mengintimidasi yang tentunya menjadi pelaku penusukan itu.
__ADS_1
Regard terlihat gemetaran, banyak keringat yang keluar dari wajahnya bersama dengan tatapan yang begitu ketakutan dimana dia terlihat seperti tikus yang di pojokkan oleh predatornya.
"Sekarang jawab aku tuan yang keberuntungan nya sudah habis... Kau belum memberi tahuku siapa pejuang yang kau mintai bantuan untuk melakukan perbuatan keji mu itu..." Tanya Zen yang kini mengarahkan Katananya ke leher Regard dimana bertujuan untuk menekan jawaban darinya.
"Jawabanmu" Tanya Zen lagi ketika tidak ada jawaban dari Regard dan dia malah berdiam diri, hal itu tentu saja membuat Zen terlihat kesal, dia menaikkan ujung Katananya dan menusuk tepat di bawah dagu Regard.
Menghasilkan Regard yang kini terlihat begitu kesakitan karena tusukan itu membuat darah dari bagian bawah dagu nya tidak berhenti mengalir.
"Kalau kau menjawabku maka rasa sakit itu akan ku hilangkan, tapi kalau kau masih berdiam maka mungkin rasa sakitnya akan bertambah puluhan kali lipat"
"TOLONG - TOLONG AKU!!! ADA PEJUANG YANG TIDAK WARAS DISINI, DIA MENCOBA MEMBUNUHKU!!!" Regard berteriak dengan sangat kuat berusaha memanggil sipir penjara.
Tapi tidak ada satupun jawaban atas panggilan, itu bahkan tidak ada suara apapun yang terdengar.
"Sayang sekali... Tapi saat ini suaramu tidak bisa menjangkau siapapun, karena penjara ini sudah kumanipulasi agar tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar..." Ucap Zen memberikan seringai yang terlihat begitu menakutkan.
"Ti... Tidakk!!"
Crasss...
Berusaha menjauh dari Zen tubuh Regard kini bergelantungan di atas Penjara dengan darah yang mengalir dari perutnya yang dimana berasal dari tusukan bayangan runcing milik Zen.
"Kau membuang waktuku..." Ucap Zen yang kini berdiri tepat di bawah Tubuh Regard yang bergelantungan, sambil mengangkat Katananya
"Ba... Baiklah akan kuberitahu... Mereka adalah Pejuang Kenma Dan Sasaki... Mereka berdua tinggal di mansion keluarga kami... Itu saja bukan... Sekarang ampuni aku... Sembuhkan aku..." Jawabnya dengan panik ketika melihat Zen yang mulai memainkan Katananya lagi.
"Mengampuni mu? Menyembuhkan mu? Kapan aku bilang begitu..."
"Tadi kau bilang untuk menghilangkan rasa sakit ku bukan..." Ucapnya kini dengan raut wajah yang begitu gugup.
"Yah memang benar aku akan menghilangkan rasa sakit itu... Tapi bukan dengan menyembuhkannya..." Zen tersenyum, tapi bukan senyum yang biasanya ia berikan, tapi seperti seorang psikopat yang akan menghabiskan targetnya.
"Ti... Tidak.. jangannnnnn!!!!..."
__ADS_1
Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter