The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 27 Eyes For Eyes And Life For Life


__ADS_3

Tapp... Tapp... Tapp....


Langkah kaki yang menggema itu membuat suasana menjadi mencekam dimana setiap jalanan yang di lewati Daven berubah menjadi lorong gelap tanpa sedikitpun penerangan, dan kini Daven telah tiba di depan sebuah pintu yang mungkin kelihatan tidak ada bedanya dibanding pintu pintu yang ia lewati sebelumnya.


Tapi yang membuatnya yakin bahwa ruangan yang ia akan masuki kali ini adalah ruangan si bangsawan adalah suara yang berasal dari dalam, suara perbincangan beberapa orang yang terdengar sangat keras bahkan sampai menggema di lorong yang di lewati oleh Daven.


"Dimension Eater : Embodiment" Daven melepaskan kembali sarung tangannya kemudian menyentuh pintu dengan warna coklat dengan ornamen yang memberikan kesan klasik didepannya.


Dan ketika sentuhan halus tangannya mengenai permukaan pintu tadi, Pintu yang berdiri kokoh tadi menghilang bersama dengan tembok yang ikut menghilang membentuk sebuah persegi yang cukup lebar dimana Daven dengan wajah tertunduk berdiri tepat di tengah tengah lubang yang ia bentuk, berdiri dengan pose seorang pembunuh yang sadis.


"Siapa Disana!! Bagaimana caramu masuk" Teriak orang dengan janggut panjang yang berdiri di pinggir ruangan seolah sangat terkejut dengan kemunculan Daven yang heboh sekaligus menakutkan.


Daven tidak menjawab dan hanya berjalan masuk dengan langkah pelan yang begitu teratur, bersembunyi di balik wajah yang tertunduk dan suara tarikan nafas yang begitu halus.


"Panggil para penjaga!" Perintah nya pada beberapa pelayan yang ada di dekat pintu masuk yang sudah hancur, kemudian kedua penjaga tadi menjawab dengan sebuah anggukan yang kelihatan sangat gugup dan mata penuh ketakutan.


Daven tidak menghiraukan pelayan yang melewatinya dan hanya terus melangkah menuju meja dimana seorang pria dengan perut buncit dan tatapan mata sipit dengan rambut yang di sisir gaya belah tengah tengah duduk manis, dia melirik ke kanan dan ke kiri dengan tatapan panik saat Daven sudah semakin dekat dengannya dan tahu kalau saat itu juga nyawanya sedang terancam.


"Apa yang kau inginkan, jangan mendekat" Ucap takut bangsawan yang duduk di kursinya setelah tatapan membunuh Daven di Tunjukkan.


Zrurrrr... Brukk...


Daven terlempar ke pinggir ruangan ketika sengatan listrik yang melesat dalam bentuk seperti peluru mengenai bahu kanannya, dan dari yang terlihat, pria berjanggut sebelumnya kini tengah mengarahkan sebuah tongkat kecil ke arah Daven.


"Aku tidak tau siapa dan apa tujuanmu kesini, tapi kau tidak boleh mendekati tuan Fats sedikitpun" Ujarnya kemudian menurunkan tongkat kecil tadi dan mulai mendekati Daven yang lengannya sedikit terluka akibat serangan tadi.


"Ha... Haha... Hahahaha" Daven tertawa dalam pandangan yang tertunduk, dia mengangkat kepalanya seketika menatap balik si pria berjanggut yang kini berdiri tepat di depannya.


"Kenapa kau tertawa... Kau pikir aku bercanda!!" Balasnya merasa diremehkan oleh Daven.


"Tidak, aku tidak menganggap perkataan mu tadi sebuah candaan, tapi aku menganggapnya sebagai angin lewat..."


"Sialan apa kau meremehkan ku!... [Thunder Magic : Crush Flash]" Pria berjanggut tadi marah ketika menyaksikan bahwa Daven tertawa dari balik wajahnya yang tertutup, merasa bahwa Daven memberikan penghinaan terhadapnya Si Pria berjanggut kembali mengangkat tongkatnya dan mengarahkan tepat di atas kepala Daven yang masih terduduk dengan darah yang mengucur dari lengannya.


"Dimension Eater : Dissapear" Daven yang masih menganggap remeh pria yang ada didepannya merapalkan mantra yang membuat Sihir dan Tongkat yang di pegang oleh si pria tua berjanggut hilang tanpa menyentuhnya sedikitpun, seolah menghilang begitu saja menjadi pasir ataupun debu yang terbang ke udara.


Brukkk...


"Tidak mungkin, kau menghilangkan Relic ku... A... apa yang kau lakukan" Pria tua tadi jatuh duduk bersimpuh setelah menyaksikan sihir yang di arahkan Daven padanya, dan mulai sedikit mundur kebelakang dengan menyeret bokong nya.


"No Comment!!" Daven berdiri kemudian berdiri di hadapan si pria berjanggut, mengangkat tangannya yang tak lagi berlapiskan sarung tangan ke kepala si Pria berjanggut, dan mata yang ia tunjukan adalah mata yang sama seperti saat dia menghabisi kedua penjaga sebelumnya, mata yang terkesan haus darah dan penuh kegilaan.

__ADS_1


"Mata untuk mata, Gigi untuk Gigi, Dan nyawa untuk nyawa... Kau dihukum" Ucap Daven dengan wajah yang terkesan dingin dan matanya yang tanpa emosi sedikitpun sesaat setelah dia merubah ekspresi wajahnya dari kegilaan yang melanda jiwanya.


"Hekkkk!! Huk! Huk!"


Brukkk...


Darah keluar dari dalam mulut si pria berjanggut dan mengotori bagian bawah Daven yang masih bersih dan tidak ternodai seperti bagian atasnya, ia menggunakan sihirnya untuk langsung menghilangkan beberapa organ dalam si pria berjanggut dan membuatnya muntah darah dan mati seketika dan tubuhnya yang tak lagi bernyawa jatuh kesamping kemudian membuat suara yang cukup keras.


Bukkk...


Kini yang jatuh adalah si Bangsawan, kursinya yang tergelatak bersama dengan tubunya yang mulai mengesot untuk menjauh dari Daven yang sekarang sudah selesai dengan urusan nya yang pertama itu bersembunyi dari balik meja dan bersandar di dinding yang berada tepat di belakang meja kerjanya.


"Waktu yang tersisa hanya 1 setengah menit karena itu aku tidak akan berlama lama lagi dan akan langsung menghabisi mu..." Daven mengarahkan tangannya ke depan kemudian dengan segera menunjuk ke arah bangsawan yang meringkuk ketakutan di pinggir ruangan.


"Tu... Tunggu dulu... Dengarkan aku..." Ucap si Bangsawan yang kini memberanikan diri untuk berbicara pada Daven.


"Aku tidak tau alasan mu kemari dan menyerangku, tapi jika kau ingin uang maka akan ku berikan, ini... Di dalamnya ada 2 juta Ril, Karena itu lepaskan aku... Tentu saja akan ku berikan lebih jika kau melepaskan ku... Yah..." Tawarnya menyerahkan sebuah kantung yang berukuran cukup besar dari bawah meja kepada Daven.


Daven tidak menjawab dan hanya berjalan menghampiri kantung yang di lemparkan oleh si bangsawan tadi dan mengambilnya.


"Itu benar... Lepaskan aku dan akan kuberikan lebih..." Ucapnya senang setelah merasa bahwa Daven terpancing dengan tawarannya, tapi dari ekspresi yang diberikan oleh Daven menunjukkan bahwa dia tidak terlalu memperdulikan tawaran dari si bangsawan dan malah bersiap kembali dengan jari telunjuk yang di arahkan ke depan.


"Sayang sekali karena kau tidak tau tentang apa yang ku inginkan, kalau begitu cari tahulah pada Tuhan yang akan segera kau temui, [Dimension Eater : Blank Realm]" Tanpa ampunan Daven melepaskan sebuah bola Hitam transparan yang muncul dari ujung jari telunjuknya ke depan.


Swushhh....


Si Bangsawan berteriak setelah Bola Hitam Transparan tadi menyentuh hidungnya dan kemudian membesar, melenyapkan apa yang berada dalam cakupan bola yang ukurannya beberapa ratus kali dari bola basket ataupun bola voli itu, bahkan tembok yang berada di belakang si Bangsawan pun ikut menghilang bersama dengan Si bangsawan yang tak lagi bersisa barang hanya batang hidungnya.


Daven tersenyum dengan senyum yang begitu menakutkan dan mata yang membesar, "Adik adikku, kakak mu ini sudah membalaskan dendam kalian, sekarang beristirahatlah dengan tenang... Dan biarkan kakakmu ini yang mengurus sisanya..." Ucap Daven kemudian mengangkut kantung Berukuran sedang yang diberikan si bangsawan tadi kemudian melompat turun dari lobang yang terbentuk di tembok.


Kembali menuju area belakang mansion yang menjadi tempat dimana keduanya akan kembali bertemu setelah menghabiskan waktu lima belas menit secara terpisah, dan beberapa saat setelah Daven meninggalkan ruangan tadi para penjaga muncul dengan jumlah banyak, tapi keterkejutan mereka hanya sebatas pada wajah takut dan juga tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata mereka.


• • •


Beberapa saat Yang Lalu Di Tempat Zen...


"Ini sangat sulit untuk tetap bersembunyi... Penjagaannya terlalu ketat... Bahkan jika aku masuk dengan menggunakan perpindahan belum tentu di dalam sana tidak ada penjaga lagi..." Keluh Zen yang bersembunyi di belakang sebuah Vas besar yang menjadi bagian dari hiasan koridor istana.


Dia bersembunyi tidak jauh dari ruang kerja Raja kerajaan Nipotia yang dimana di jaga oleh dua orang yang kelihatannya begitu kuat dan membawa dua buah senjata berbeda yang di duga Zen adalah Relic milik mereka.


"Sepertinya Dewi Fortuna sangat pilih kasih terhadap keberuntungan ku" Umpatnya dengan sedikit kesal setelah mendapat kan jalan buntu dari pemikiran nya selama ini.

__ADS_1


Waktu yang berlalu masih 4 menit dan masih ada 11 menit lagi sebelum dia dan Daven akan kembali bertemu dan sampai saat itu tiba dia ingin masuk ke ruangan kerja Raja untuk melancarkan misinya dalam menata matai kerajaan Nipotia, tapi seperti yang sudah terjadi dia berada dalam keadaan yang tidak di untungkan dimana dia tidak bisa bergerak secara sembarangan agar tidak ketahuan kalau sedang menyusup karena meskipun mempunyai sihir kuat untuk melawan pasukan dalam jumlah banyak akan sangat merepotkan baginya, terlebih sihirnya sangat terbatas pada Bayangan yang ada.


Saat ini Zen hanya memiliki dua pilihan, dimana pilihan pertama dia akan menerobos masuk kedalam ruangan kerja sang raja dengan resiko bahwa di dalam sana akan ada beberapa pasukan yang tengah berjaga, kedua menerobos masuk dari depan dengan resiko bahwa dia yang sedang menyusup akan ketahuan dan berakibat buruk padanya.


Tentunya jika menimbang di antara kedua pilihan itu, maka pilihan pertama terdengar lebih baik dimana meskipun di dalam sana ada pengawal istana Zen hanya perlu menghabisi mereka saja, tapi tentu saja jika dia menghabisinya maka suara yang ia timbulkan akan sampai ke luar ruangan dan hasilnya akan sama dengan pilihan kedua.


Tapi yang menjadi pertimbangan Zen adalah kemungkinan adanya pengawal yang berjaga di dalam ruangan adalah 1/2 artinya ada kemungkinan bahwa tidak ada siapapun di dalam sana kecuali berkas berkas yang Zen cari.


"Ini adalah pertaruhan... Aku akan melakukannya agar bisa segera kembali ke kerajaan..." Ucap Zen dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada siapapun di dalam sana, dia bertaruh pada kemungkinan yang setengah setengah tadi agar bisa segera menyelesaikan hal ini.


"Shadow Magic : Reach Enchancer" Zen merapalkan mantranya kemudian meneluri seluruh ruangan untuk mencari dimana ada bayangan yang bisa ia jadikan tempat muncul.


Dan ketika tengah menyusuri seluruh ruangan Zen sadar bahwa pertaruhannya menang karena di dalam ruangan hanya diisi oleh kegelapan tanpa sedikitpun penerangan.


Dengan sedikit senyum puas Zen masuk kedalam bayangannya da muncul kembali di dalam ruangan gelap yang sangat luas dimana berjejer rak rak yang berisi dokumen dokumen tentang kerajaan.


"Sepertinya Dewi Fortuna tidak seburuk itu padaku..." Gumam Zen kemudian berjalan menyusuri kegelapan yang kelihatan begitu mencekam, meraba raba ke atas meja yang ia temukan dan akhirnya mengangkat sebuah dokumen.


"Ritual pemanggilan para pejuang dari dunia lain... Ini!!" Zen melotot memandangi dokumen Yang ada di genggamannya setelah membaca dokumen tadi dari jarak yang sangat dekat.


"Ini adalah berita yang sangat besar, aku harus segera memberi tahukan ini pada si Arthur sialan..." Zen dengan buru buru menyimpan dokumen tadi di selipan pakaiannya kemudian berniat pergi.


Tekkk...


Ruangan yang tadinya gelap gulita kini menjadi sangat terang ketika Zen baru saja membalikkan badan dan berniat pergi dengan cepat.


"Yang mulia... Saya sudah membuktikan bahwa benar adanya seorang mata mata kerajaan Terarria di kerajaan ini" Ucap Suara yang berasal dari balik rak yang kini membuka secara perlahan, mengejutkan Zen yang berada di depan Meja kerja.


Perlahan beberapa Rak kembali terbuka dan menampakkan beberapa orang yang keluar dari sana, mengepung Zen dari segala arah.


"Tidak diragukan lagi, Jendreal Gudao sihir penghubung dan Deteksi mu memang sangat mengagumkan..." Puji suara yang berasal dari rak buku di belakang Zen dimana seorang pria paruh baya berpenampilan seperti raja muncul dan dnegan suara yang penuh karisma dia memuji pria berbadan besar di seberangnya.


"Terima kasih yang mulia..." Tunduknya dengan hormat.


Zen yang terpojok mulai bersiap dengan rapalan Sihirnya, mencoba untuk kabur masuk ke dalam bayangannya dan menghilang dari pandangan semua orang.


"Vanishing Magic : None" Suara perempuan yang terkesan sangat angkuh itu muncul dari arah belakang ketika menyadari pergerakan mencurigakan di bawah kaki Zen.


Dan setelah mantra tadi terucap, Bayangan yang melebar di bawah kaki Zen menyusut dan tidak jadi menelannya masuk, Zen menoleh kesamping dimana seorang perempuan dengan rambut merah yang di ikat gaya Twintail tengah memandang rendah ke arahnya seolah berhasil menangkap seekor serangga pengganggu.


"Orang asing yang berani menyentuh negeriku tidak akan mendapatkan ampunan sedikitpun dariku" Ucapnya dengan sedikit penuh amarah setelah Zen memberikan Reaksi yang sedikit berbeda dari harapannya.

__ADS_1


"Maihime... Kau tidak perlu menghakiminya, karena bagaimanapun kita akan membuatnya mengatakan semua tentang kerajaan musuh" Balas Orang yang di duga Zen adalah raja kerajaan Nipotia pada Perempuan angkuh dengan mata merah itu.


"Dewi Fortuna Sialan aku benar benar tidak akan mengharapkan keberuntungan lagi darimu!"


__ADS_2