
Suara ramai dan riuh dari arah bawah membuat Zen terganggu dalam tidurnya, dia masih berada di atas ranjang sambil terus menangkap suara yang terus bermunculan tanpa ada jeda sedikitpun itu.
Hari masih pagi dan harusnya belum ada aktivitas apapun yang di lakukan di penginapan tapi dari jendela kamarnya yang mengarah langsung ke jalanan kota terlihat banyak sekali orang orang yang berkumpul bersama dengan para pasukan kerajaan, tentu saja dengan senjata yang ada di tangan mereka.
Zen yang sudah tidak bisa kembali terlelap itu akhirnya memilih untuk turun kebawah dan mencari tahu apa yang sebenarnya menjadi alasan orang orang berkumpul.
Dia turun dan akhirnya menyatu di antara orang orang yang berbadan besar dan juga berwajah menakutkan itu, tapi di antara mereka Zen berhasil menangkap siluet pemuda yang mungkin sedikit lebih tua darinya tengah sibuk menanyakan orang orang.
Pemuda yang terlihat tengah menanyai satu persatu pria berbadan besar itu nampak seperti di tolak oleh mereka dan akhirnya berpindah pindah, sampai akhirnya ia berada di dekat Zen.
"Apakah kau sudah mendapatkan tim untuk perburuan?" Tanyanya secara spontan tanpa ada basa basi lagi pada Zen, wajahnya terlihat seperti akan putus asa setelah banyak di tolak oleh orang orang tadi.
"Sebenarnya aku belum mengerti tentang apa yang terjadi disini, jadi kalau bisa aku ingin kau menjelaskan nya..." Tanggap Zen, dia terlihat kurang memberi simpati dalam kalimat yang ia lontarkan.
"Rupanya kau belum tau yah, hari ini di hutan kota Ratusan Amiese telah membangun sarang Disana, dan kerajaan meminta para rakyat yang mampu bertarung untuk menghabisi mereka semua..." Jelas Singkat si pemuda tadi sambil sedikit menunjuk keluar.
"Amiese Itu Magische?"
"Tentu saja, bahkan sudah masuk tingkat Strum yang hampir setara dengan Katastrophe... Sebenarnya kau ini dari dunia mana, masa hal itu saja tidak tau..." Balasnya dengan perkataan yang tidak ingin Zen dengar.
"Maaf saja jika aku tidak tau, lalu tim yang kau maksud itu apa..."
"Dalam perburuan kali ini pihak Kerajaan meminta untuk membentuk tim yang jumlah anggota nya tidak di batasi, dan setiap tim akan menerima bayaran sesuai berapa banyak mereka memburu Amiese... Selain untuk keamanan, tim juga bertujuan untuk menambah kekuatan membunuh Amiese karena satu orang saja tidak mungkin membunuh monster itu..."
"Jadi tujuan mu bertanya padaku?" Zen mulai menebak dalam pikirannya.
"Aku berniat mengajak mu untuk bergabung dengan timku jika kau belum menemukan tim, sudah ada tiga orang lainnya yang bergabung dan aku ingin mencari satu lagi..." Jelasnya tapi Zen tidak melihat orang lain yang datang bersamanya.
"Jadi maukah kau bergabung?" Tawarnya sekali lagi pada Zen yang mulai berpikir untuk membunuh waktu sebelum rencana yang ia buat di jalankan.
"Sepertinya aku akan bergabung, lagipula aku tidak tau apa yang akan kulakukan kedepannya..." Balas Zen dengan nada bicara yang lagi lagi tanpa sedikitpun simpati di dalamnya.
__ADS_1
"Bagus, kalau begitu mari berkumpul bersama yang lainnya di alun alun kota... Kita akan mendengar arahan di sana sebelum berangkat..." Ajaknya kemudian berjalan terlebih dulu meninggalkan Zen menuju pintu keluar penginapan.
Zen menyusul dengan cepat setelah siap dengan pakaian yang biasa ia kenakan, dan kemudian berjalan berdampingan dengan pemuda tadi.
"Namaku Viel Alzard... sebutan ku adalah Penyihir Badai Malam... Dari sebutan ku saja harusnya kau sudah tau seperti apa sihirku..." Dia memperkenalkan diri dengan cara perkenalan yang baru di telinga Zen, tidak pernah Zen mendengar sebutan atau apapun itu di Kerajaan Terarria.
"Ya, mungkin aku sudah tau... Dan sebutan tadi itu apa?, Apa mungkin itu adalah julukan atau semacamnya..." Tanya Zen.
"Bukan bukan, itu adalah gelar yang kau dapatkan ketika lulus dari akademi sihir... Ngomong ngomong jika di lihat kau seumuran denganku... Siapa namamu..."
"Kau bisa memanggilku Kana..." Jawab Zen lagi dan lagi menyembunyikan identitas nya dengan nama yang beragam.
"Hanya itu?"
"Yah, dan jika kau ingin protes maka Protes lah pada orang bodoh yang memberiku nama ini..."
"Selera humor mu cukup buruk Kana... Ah itu mereka..." Viel menunjuk ke arah depan, ke arah sebuah gedung yang cukup tinggi dimana dibawahnya terdapat dua orang perempuan dan satu laki laki yang nampak tengah berteduh dari sinar matahari pagi.
"Kau lama sekali Viel, sinar matahari ini bisa membakar kulitku..." Keluh seorang wanita yang berada tepat di depan yang lainnya, dia mengangkat telapak tangannya di atas kepala seperti tengah hormat untuk menghalangi cahaya matahari.
"Itu benar Yuka, Viel pasti kesulitan... Jadi tidak perlu menegurnya seperti itu..." Wanita yang satu lagi membela Viel dengan balik menegur wanita dengan nama Yuka itu.
"Maaf karena membuat mu terlibat pertengkaran tidak penting yah, ini adalah hal biasa di kelompok kami..." Pria yang terlihat tenang di belakang berbicara pada Zen yang hanya memperhatikan dari jarak cukup dekat.
"Tidak masalah..."
"Haha, Kana mereka adalah anggota tim ini" Viel memperkenalkan ketiga orang tadi.
"Aku Yuka Alzard... Sebutanku adalah Penyihir Langit Putih..." Wanita dengan rambut coklat dan pelupuk mata yang begitu indah memperkenalkan dirinya.
"??"
__ADS_1
"Kalau aku Thea Alzard, setelah lulus aku mendapatkan gelar Penyihir Biru..." Wanita yang tadi membalas teguran dari Yuka ikut memperkenalkan dirinya.
"??"
"Salam kenal yah, Aku Dave Alzard... Sebutanku Penyihir Bias..."
"Ini hanya perasaan ku sana tapi kalian memiliki nama belakang yang sama..." Zen menyadari ada sesuatu yang aneh setelah mengingat semua perkenalan yang mereka berempat lakukan.
"Kau benar... Nama belakang kami memang sama karena beras dari yayasan Alzard... Kami semua di besarkan Disana..." Viel menjelaskan pada Zen yang kelihatannya begitu bingung dengan apa yang terjadi.
"Artinya kalian semua satu keluarga?"
"Mungkin bisa diartikan seperti itu, tapi kami semua berbeda orang tua, kami adalah anak anak yang tidak mempunyai orang tua yang di besarkan bersamaan...." Jelas Viel lagi.
"Kurasa aku mengerti... Kalian bisa memanggilku Kana, aku tidak punya sebutan atau apapun itu... Tapi aku adalah penyihir yang sangat kuat" Zen memperkenalkan dirinya dengan begitu percaya diri.
"Pfft, padahal kau hanya punya satu lengan tapi kau mengatakan kau sangat kuat... Viel kau ini suka bercanda dalam memilih orang" Yuka menahan tawa ketika Zen selesai memperkenalkan dirinya, baginya orang yang kehilangan tangan tidak pantas mengatakan apa yang Zen katakan.
"Kau akan lihat nanti... Sekuat apa aku..."
"Shuttt... Diamlah, seperti nya arahan akan segera di berikan" Ucap Thea pada yang lainnya ketika dia melihat seorang yang datang dengan sebuah kereta kuda dan turun sambil membawa sebuah kertas kemudian berdiri di tengah alun alun kota.
"PENYAMPAIAN DARI YANG MULIA RAJA... INI ADALAH PERMINTAAN DARIKU SEBAGAI RAJA KALIAN, ANCAMAN YANG MEMBAHAYAKAN KERAJAAN INI HARUS DI MUSNAHKAN DENGAN SEGERA KARENA ITU AKU MEMINTA DENGAN PENUH HORMAT KEPADA SIAPAPUN YANG MAMPU BERTARUNG UNTUK IKUT SERTA DALAM MISI PEMBASMIAN SKALA BESAR INI, AKAN ADA BAYARAN BESAR BAGI MEREKA YANG MAMPU MEMBUNUH AMIESE DALAM JUMLAH BANYAK... TUJUAN DARI MISI KALI INI ADALAH MEMBASMI SARANG SEKALIGUS MEMBUNUH RATU AMIESE YANG BERSEMBUNYI DI DALAMNYA BEKERJASAMA LAH UNTUK MELAKUKAN MISI INI, SEMOGA BERHASIL... SEKIAN..." Teriakan itu membangkitkan perhatian semua orang dan membuat mereka bersiap siap menuju keluar kota untuk melakukan perburuan meskipun hari masih pagi dan matahari belum sampai di puncak terangnya.
"Mau pergi sekarang?" Tanya Viel pada anggota kelompoknya.
"Tentu"
"Yah"
"Ayo.."
__ADS_1
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru
see u next chapter