
Lokasi : Tim 1 & Tim 2.
Iori terlihat meluncur di atas tanah, dengan [Gram] yang Kecepatan berputarnya tidak bisa di lihat dengan mata kosong, Dia menangkis setiap anak panah yang di tembakkan oleh Shin di karenakan Shin terus menerus membuat jarak dengannya.
Selain itu kecepatan gerak Shin juga sangat cepat karena sihir nya ia gunakan untuk mempercepat gerakan yang ia buat, dan baginya membuat jarak itu sangat mudah.
Swushh...
Fokus Shin teralih, Matanya dengan cepat menangkap sebuah pergerakan bayangan dari arah belakang dan dengan segera ia melompat naik ke udara, kemudian tepat seperti perkiraan nya sebuah bayangan runcing terlihat menusuk lurus di tempatnya berdiri tadi dan mulai mengarah ke Iori.
Dari jarak yang cukup jauh darinya ada Zen yang menjadi pelaku serangan mendadak tadi, dia kembali menyiapkan sebuah bayangan runcing dan segera ia arahkan ke Shin yang masih melayang di udara.
Set... Set... Set...
Tiga anak panah di lepaskan oleh Shin demi menghalau bayangan Zen, dan Bayangan tadi terbelah ketika ujung anak panah menyentuh nya setelah itu bayangan tadi menghilang.
"Kalau kau ada disini itu berarti putri Elize sudah kalah, benar begitu Zen..." Ucap Shin setelah berhasil mendarat dengan sempurna di atas tanah.
Zen berjalan menjauh dari tempat awal ia menyerang, dan memperlihatkan wujudnya pada Iori yang juga saat itu berhenti menyerang karena takut terkena serangan nyasar dari Zen.
"Entahlah, mungkin saja begitu... Siapa yang tau apa yang terjadi pada putri Elize..." Jawab Zen dengan Mengangkat satu bahunya.
"Cih, itu berarti pertarungan ini akan menjadi dua lawan satu yah..." Umpat Shin dengan wajah masam.
Zen tidak menjawab nya dan malah menyiapkan Beberapa shadow hand di belakangnya, sedangkan Iori juga kembali memasang kuda - kuda bertarung dengan terus memutar [Gram].
"Sayanganya aku tidak selemah yang kau pikirkan Zen... Kau bahkan tidak tau seperti apa Kekuatan sihirku yang sebenarnya karena kau bahkan tidak pernah sekali pun menghadiri latihan sihir..."
"Benarkah kalau begitu... Hey Iori... Seperti apa kekuatan nya?" Teriak Zen pada Iori.
"Agh!" Shin membeku, dia lupa bahwa tidak hanya ada Zen Disana, tapi juga ada Iori yang bahkan tidak pernah absen menghadiri latihan sihir, jadi tentu saja dia sudah melihat kekuatan sihir semua murid.
"Ehmm... Kekuatan sihir nya-"
"Baik cukup, kalau aku tau seperti apa kekuatan sihir nya maka ini tidak akan asik, bukankah kita ingin memberikan kejutan pada para rakyat..." Zen memotong kalimat Iori kemudian menyiapkan satu buah kertas di selipan jarinya.
"Itu benar... Kalau kau tau kekuatan ku tidak akan asik..." Balas Shin yang terlihat sedikit berkeringat dingin.
"Kalau begitu mari kita bertarung tanpa tahu apapun!!" Zen mulai menyerang, dia melemparkan kertas yang ada di selipan tangan nya ke arah Shin.
Shin mendorong tubuh nya kesamping demi menghindari itu, tapi terlalu terlambat baginya lagi untuk menyadari bahwa bukan hanya Zen lawannya, karena dia menyadari itu setelah melihat Iori yang dengan gagahnya Mengayunkan punggung tombak ke arahnya.
Brakk..
Suara decingan memenuhi telinga keduanya untuk sementara waktu ketika ayunan tombak Iori dapat di tahan oleh Shin dengan Xbow yang ada di punggung tangan nya.
Shin menendang dengan kakinya dan berhasil memukul mundur Iori, dia berhasil menjaga jarak kembali, tapi tidak secepat itu baginya untuk merasa tenang karena ada beberapa Shadow hand yang tengah menuju ke arahnya.
Dia melepaskan anak panah dari busurnya, kemudian berlari meninggalkan tempatnya berdiri.
Berulang kali Zen melemparkan jarum jarum kecil ke arah Shin tapi semuanya dapat di hindari dengan mudah, bahkan tingkat akurasi tembakan panah Shin terbilang sangat tinggi karena dia berhasil mengenai jarum jarum kecil nan tipis tadi dengan anak panahnya.
"Lightning Magic : Lightning Blast"
__ADS_1
"Carta : Arcana" Zen kembali melakukan trik yang sama seperti saat dia melawan Elize, dimana dia tidak akan membiarkan lawannya menggunakan sihir sedikitpun.
Dia melemparkan Arcana ke udara dan kembali menjadi jarum jarum tipis yang melesat menembus angin.
Sementara Iori kini terlihat tengah mengejar Shin dengan terus memainkan [Gram], Tapi tidak ada pilihan lain setelah ia melihat Shin yang melayang di udara, Iori langsung melemparkan tombaknya ke arah Shin dengan sekuat tenaga.
"Sial!" Shin sadar bahwa saat ini dia tidak bisa menghindari serangan dari mereka satupun, dia tidak bisa hanya menghalau bayangan dari Zen yang ikut menyerang dari arah depan ataupun tombak Shin dari arah belakang secara bersamaan.
"Flower Magic : World Tree, Yggdrasil" sebuah akar panjang kini melilit tubuh Shin dan menariknya menjauh dari kedua serangan yang mengepung nya.
Dimana akar tadi berasal dari sebuah pohon besar yang begitu tinggi dan besar walaupun letaknya cukup jauh dari Iori dan Zen.
Pohon tadi kini semakin tinggi dan tinggi, kemudian di salah satu ranting terlihat tim 1 yang tengah berkumpul bersama dengan Miharu yang mengumpulkan mereka semua termasuk Elize yang sebelumnya menjadi tawanan tim 2, bahkan kubus tanah yang menjadi tempat mereka menaruh kristal di letakkan di pucuk pohon.
"Apa apaan itu..." Ucap Zen yang baru pertama Kalinya melihat pohon sebesar dan setinggi itu di dunia manapun ia berada.
"Itu adalah Sihir pamungkas dari Katagawa... Sepertinya mereka memang tidak mau kalah..." Jawab Iori yang langsung mengenali sihir tadi sebagai sebuah sihir yang kuat.
"Sampai mengeluarkan sihir pamungkas... Sepertinya para pejuang ingin sekali mendapatkan pujian dari rakyat dan juga raja..." Zen kini mendekati Iori kemudian membawanya masuk ke dalam bayangan dan ikut berkumpul bersama Luna, Natsukawa dan Rika yang saat itu terlihat terluka.
Riuh ramai penonton yang menyaksikan Pertarungan itupun menjadi jadi, mereka semua larut dalam kekaguman mereka terhadap para pejuang yang berhasil menghindari setiap situasi yang berbahaya dengan kekuatan dan kerja sama yang begitu baik.
Dan tentunya dari arah balkon, Arthur merasa sangat senang dengan respon rakyatnya yang begitu gembira dan senang seiring berjalan nya pertarungan.
"Uwah... Mereka benar benar serius dengan ini" Ucap Natsukawa dengan sedikit terkesan takut.
"Mereka memiliki skala jangkauan sihir yang begitu besar, sedangkan rata rata di antara kita hanyalah sihir yang berfokus pada satu target.." ucap Rika yang merasa sedikit insecure setelah menyaksikan kekuatan sihir dari Tim 1.
"Meski begitu bukan kah kalian juga harusnya punya sihir pamungkas..." Zen berbalik menatap ke arah Rika dan yang lain lainnya.
"Ada apa dengan kalian... Jangan bilang kalau..."
"Yah... Yang mempunyai sihir pamungkas sampai sekarang hanya Shin, Hana, Kodaka, Miharu, Iori dan Rika... Sisanya masih belum punya..." Ucap Natsukawa dengan sedikit Takut.
"Ha!???"
"Tapi Kau bisa menghilangkan sihir pamungkas dari Miharu bukan Zen... Seperti yang kau lakukan pada kak Elize..." Tanya Luna seolah mengalihkan pembicaraan.
"Bodoh... [Arcana] hanya dapat digunakan sebelum sihirnya aktif dan itupun ada batasannya... Kalau Sihir itu sudah aktif maka aku tidak dapat membatalkan nya... Selain itu untuk ukuran sihir pamungkas akan sangat tidak berguna jika mengharapkan [Arcana] Untuk membatalakan nya..." Balas Zen memukul kepala Luna dengan kepalan tangannya.
"Bukankah itu artinya kau juga tidak berguna Kanade..." Sahut Natsukawa yang Kembali mendapatkan kepercayaan diri setelah mendengar kalimat Zen.
"Setidaknya aku punya sihir pamungkas..."
"Jadi apa yang akan di lakukan sekarang... Seperti nya mereka sudah tidak mau menunggu lagi..." Rika menunjuk ke atas, Menunjuk ke arah Tim 1 yang terlihat bersiap menyerang dari atas ranting pohon raksasa.
Shin kini Mengangkat lengannya ke atas dan membidik ke arah langit di atas kepala Rika dan lainnya, kemudian melepaskan puluhan anak panah kelangit.
Sementara Anting yang Hana kenakan dimana anting tersebut adalah wujud Relicnya bersinar dengan sangat terang seolah bersiap ikut menyerang.
Kodaka yang mengepalkan tangannya itu kini membuat dua buah tangan Golem raksasa yang muncul dari atas tanah, dimana Relicnya yang berbentuk sarung tanganlah yang menjadi pengendali nya.
Elize yang berhasil melepaskan diri dari Penjaga kaca Natsukawa terlihat menunjuk kearah Tim 2 dengan ujung [Lancy].
__ADS_1
"Oy oy... Jangan bercanda... Mereka sangat brutal..." Ucap Natsukawa yang melihat ke arah langit dimana awan gelap mulai berkumpul dan mengeluarkan suara gemuruh yang begitu keras.
Sementara di belakang Hana Puluhan Tidak Ratusan atau bahkan ribuan Tombak cahaya berkumpul dan siap di lepaskan kapan saja.
"Serang!" Ucap Elize kepada semua anggota timnya, kemudian serangan yang terdiri dari Sambaran Halilintar, Dua tangan Raksasa, Ribuan Tombak Cahaya, dan juga akar merambat yang begitu besar mengarah ke tim 2 dengan cepatnya.
Zen maju ke depan kemudian menatap dengan tatapan mata biru yang bercahaya di antara gelapnya awan yang menaungi area pertarungan, Dia terlihat berdiri seolah-olah menyambut kematian dengan menantang serangan dari tim 1.
"Shadow Magic : Additional Limb" Zen menumbuhkan tangan lengan kirinya kemudian memanggil Katana dari bentukan Relicnya.
Ia berdiri dengan menggenggam Katana tadi dengan kedua tangan nya, dan dari tangan kirinya yang menerbangkan beberapa residu ke udara langsung menyelimuti Katana dengan bayangan hitam.
"Shadow Magic : Lightless Slash" Zen Mengayunkan Katanya secara vertikal ke arah Tim 1 dan serangan gelombang gelap itu mengarah cepat ke arah Kubus tanah tadi.
Tidak ada satupun yang melihat apa yang di lakukan oleh Zen karena mereka semua terfokus dengan serangan dari tim 1, sementara tim 2 tengah berlindung di balik dinding air yang di ciptakan oleh Rika, mereka tidak sempat melindungi Kristal karena jaraknya yang cukup jauh dan Hanya sempat melindungi diri mereka sendiri.
Duarrr...
Ledakan besar terjadi ketika semua Serangan itu mendarat di satu tempat yang sama dan mengahasilkan sebuah tanah lapang yang hancur berkeping keping.
Rika dan anggota tim 2 kini keluar dari dinding air yang hancur karena tidak kuat menahan serangan itu tapi untungnya mereka hanya menerima beberapa luka ringan karena hampir semua damage di tahan oleh dinding air Rika.
Dan seperti yang terjadi selanjutnya, Kristal milik tim 3 hancur tanpa menyisakan satupun kepingan kecil dan Tim 1 terlihat begitu senang atas kemenangan mereka.
"Simulasi pertarungan berakhir... Dan hasilnya Seri!" Ucap suara yang menggema entah dari mana.
Semua yang mendengar itu terheran heran, tentang kenapa hasilnya bisa seri, padahal tim 2 hampir saja menjadi bubur seperti Kristal mereka jika tidak ada perlindungan Rika.
"Yo..." Zen yang berada satu tingkat di atas Tim 1 berkumpul dimana mereka menaruh kubus tadi disana memanggil dari arah depan dengan santainya.
"Zen..."
"Kanade..." Ucap mereka yang sama sekali tidak sadar bahwa Zen berada di sana entah dari kapan.
"Sayang Sekali tapi hasilnya harus seri walaupun kalian sudah menggunakan sihir pamungkas kalian..."
"Bagaimana caramu sampai Disana..." Tanya Shin yang masih terlihat syok.
"Aku adalah bayangan dan bayangan adalah aku... mungkin itulah jawabannya..." Balas Zen kemudian melompat dari atas dahan dimana terdapat pecahan kristal putih yang berserakan.
"Sialan... Padahal Kupikir kami sudah menang, ternyata tuan putri memang benar... Orang yang paling merepotkan di antara mereka adalah kau..." Umpat Shin setelah menerima hasil yang terjadi ketika tahu bahwa memang hasilnya benar benar seri seperti yang di katakan oleh suara tadi.
"Benar benar... Zen, kau memang orang yang mengagumkan... Aku mengakui kekuatan mu" Sahut Elize.
Setelah itu mereka semua turun secara perlahan akibat sihir Haru yang mulai dia nonaktifkan.
Kedua tim kini berkumpul bersama setelah itu cahaya terang tadi membawa mereka kembali ke arena latihan akademi, dimana mereka di sambut dengan tepuk tangan dan sorakan dari para penonton yang terdiri atas Para Rakyat dan juga Murid akademi.
"Para Rakyat Kerajaan Ku... Hari ini kedua tim pejuang sudah menunjukkan kekuatan mereka... Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperlihatkan kepada kalian semua seperti apa kehebatan para pejuang yang menjadi tonggak keamanan kerajaan dan kekuatan apa yang mereka miliki untuk menghadapi Relic war... Tapi itu hanya sebagian kecil dari kekuatan para pejuang... Dan di antara mereka masih ada yang memiliki kekuatan yang sama hebatnya...
Aku sebagai raja kerajaan Terarria mengharap kepercayaan kalian terhadap para pejuang, dengan begitu mereka dengan segenap hati akan melindungi kerajaan ini dari semua mara bahaya yang mengancam..." Ucap Arthur dari bangku nya, suaranya menggema dengan penuh wibawa dan ketegasan membuat para rakyat yang telah mendengar perkataan itu menjadi bersemangat dan menambah Keributan soarakan mereka.
Semua pejuang kini muncul bersama ke tengah arena dan mulai melambai lambai ke arah Penonton, mereka semua memberikan wajah penuh harapan dan juga senyuman yang menenangkan.
__ADS_1
Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter