The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 56 Perpisahan Yang Menjadi Awal Perjalanan Sang Dewa


__ADS_3

"Sang Pahlawan telah berkhianat..." Dengan satu kalimat itu Arthur membungkam semua suara ramai yang memenuhi Arena, Bahkan sampai membuat mata Zen terbelalak dan tidak mengerti dengan situasi yang tengah dia hadapi.


"Tung-, eh!!" Zen berusaha mengangkat kepalanya yang kini bersentuhan langsung dengan tanah.


"Jangan berbicara apapun wahai pengkhianat yang durjanah, tidak ku sangka kau adalah musuh dalam selimut... Kau adalah seorang pengecut..." Berbicara dari pinggiran arena, Kira sang magician kini memaki Zen dengan berbagai macam umpatan.


"Pengecut??, Cih... Jika saja aku tidak di ikat akan ku buat mulutmu itu tidak bisa di gunakan lagi..." Zen berdecak keras membalas umpatan dari Kira yang langsung membuat dia bergetar ketakutan atas gertakan itu.


"Pahlawan Zen... Tidak maskudku Zen si Pengkhianat... Saat ini juga aku akan memberikan mu hukuman mati... Atas tindakan pengkhianatan mu pada kerajaan... Selain memicu terjadinya pemberontakan dan melenyapkan dua pejuang kerajaan, kau juga bekerjasama dengan Kerajaan Nipotia dengan menyusupkan Putri kerajaan mereka ke dalam istana... Akuilah tindakan mu itu sekarang juga!!" Ucap Arthur dengan nada yang terdengar sedikit bercampur dengan kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya, ia kembali berakting dengan sempurna dihadapan semua orang dan itu terlihat memukau.


Zen yang terdiam setelah semua ungkapan yang nyaris benar semua itu terdengar dengan jelas di telinganya, pikirannya kembali bergerak dengan cepat untuk mencerna semua yang pernah terjadi mulai dan perkataan Uccisore, Pangeran Regard sampai beberapa insiden yang pernah ia lalui.


Dan akhirnya sampailah dia pada kesimpulan yang paling masuk akal dengan kondisinya sekarang, dia hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya.


"Hahaha... Begitu yah... Rupanya begitu... Kau hanya memanfaatkan ku sebagai kambing hitam atas semua Masalah yang sudah kau buat... Harusnya aku sadar lebih cepat... Tapi aku masih saja naif sampai tidak bisa sadar akan hal itu..." Zen berbicara dengan sedikit mengejek, dia sadar bahwa posisinya sekarang Harusnya tidak membuat dia berani mengatakan itu tapi dia sama sekali tidak takut.


Para pejuang beserta dua putri kerajaan itu terkejut dengan pernyataan dari Zen yang terdengar seperti akan menantang satu kerajaan, bahkan Daven sendiri terlihat sangat takut menyaksikan senyum menakutkan dari sosok guru sekaligus kakak angkatnya itu.


"Memang benar... Apa yang kau katakan memang benar... Aku lah yang memicu pemberontakan, akulah orang yang menghabisi kedua pejuang dengan tangan ku sendiri... Dan juga aku memang bekerja untuk kerajaan Nipotia... Lalu kenapa...??"


"Apa kalian semua yang ada disini begitu mencintai raja kalian yang busuk sampai sampai sudah berada di bawah pengaruh buruknya... Hey para Pejuang... Apa kalian mendengar ku... Bagaimana dengan kalian.... Aku yakin walau hanya sedikit kalian juga pasti merasa kan hal yang sama dengan ku bukan..." sambung Zen dengan berteriak seperti orang gila kearah balkon dimana Arthur dan pejuang lainnya berada.


"Menyayangi Rakyat?, Rela berkorban?, Kekuatan kerja sama, Kekuatan pertemanannya?, Apa itu... Aku sama Sekali tidak melihat hal yang sama di Kerajaan ini, yang ada hanyalah Senyum Palsu, Keegoisan, Saling Menyalahkan... Dasar raja dari kerajaan busuk yang pandai bersandiwara..." Umpatan Zen begitu tajam, begitupula dengan tatapan matanya yang semakin memicing.


"Setelah di pikir pikir lagi, membunuh para pejuang saja tidak akan asik... Bagaimana jika aku menjadi dewa saja di dunia ini... Lagipula aku ini kuat... Gahahahhaa!!!"


"Kalian semua habisi orang gila itu..." Kira berteriak setelah tawa Zen membuatnya merinding ketakutan.

__ADS_1


Mata Zen yang menangkap pergerakan itu langsung saja menajam, dia sama sekali tidak mau bergerak dari posisi nya yang sekarang.


"Explosion!!" Rapalnya dengan singkat kearah prajurit yang berlari sambil menodongkan senjata mereka ke Zen.


Duarr...


Ledakan besar terjadi bersama dengan sebuah kabut asap tebal yang perlahan mulai memudar.


Memperlihatkan pemandangan yang cukup mengerikan di arena dimana banyak tubuh hangus yang tak lagi bernyawa tergeletak dan itu berasal dari para prajurit yang hendak menyerang Zen tadi.


"Bukankah sudah ku bilang, aku ini kuat loh..." Zen berdiri diantara asap yang semakin menipis, dia memutar mutar pergelangan tangannya yang sempat terikat tadi.


"Sialan!! [Sand Magic : Sandstorm]" Kira menyerang dengan cepat dengan sebuah badai pasir yang mengelilingi Zen.


"Dasar orang tuli... [Fire Magic : Incertation]" Zen menutupi sekeliling Kira dengan api yang berkobar.


"Kalau tidak salah, itu adalah sihir dari Kenma..." Ucap Yuuna yang tentu saja mengingat tentang itu.


"Jadi benar Kanade lah yang membunuh mereka berdua..." Rika menyambung dengan sebuah ucapan yakin, setelah sebelumnya sedikit meragukan perkataan dari sang raja.


"Shrink Scorch Everything" Kobaran api yang mengelilingi Kira perlahan menyusut ke arah tengah dimana Kira berdiri menahan panasnya api yang semakin besar.


Kemudian.


Duarr....


"Aghhhh!!!"

__ADS_1


Ledakan besar kembali terjadi ketika kobaran api tadi sudah menutup dengan sempurna dan mengunci Kira, menjadikan tubuhnya hangus yang perlahan jatuh ketanah dan saat itu juga badai pasir yang mengelilingi Zen menghilang.


Zen mengeluarkan sebuah Shadow Hand dan dia ambilnya tubuh Kira yang tak lagi bergerak itu, kemudian mengangkat nya setinggi dada, dia mengambil sihirnya dengan cepat kemudian menjatuhkan tubuh Kira kembali ke tanah.


"Terima kasih atas sihirnya... Tuan Kira..." Ucap Zen berjalan dengan santainya ke arah tubuh Maihime.


Tidak ada yang bergerak berusaha menghentikan nya dan hanya menyaksikan saat dimana Zen melepaskan Maihime dari Pasung yang menguncinya.


"Ohh tuan putri... Maafkan aku yang sama sekali tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi tenang saja, tidurlah sedikit lebih lama dan semuanya akan baik baik saja..." Ucap Zen kemudian membuat sebuah tangan tambahan dan menggendong Maihime dengan gendongan ala Putri.


"Zen.." Elize berusaha berlari turun dengan cepat, dan kemudian muncul di dekat Zen yang tengah menggendong Maihime, Begitu Pula dengan Nania yang mengikuti langkah Elize dengan cepat.


"Sampai Jumpa Putri Elize, Nania... Aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, tapi mungkin sebagai musuh... Tapi aku harap semuanya akan berakhir baik..." Ucap Zen membuat Elize dan Nania semakin berjalan dengan ke arahnya.


"Zen tunggu, ini semua bohong bukan..." Elize berusaha meraih Zen yang terasa semakin jauh darinya.


"Kau hanya bercanda kan Zen, seperti yang biasa kau lakukan..." Sambung Nania.


"Sand Magic : Sandstorm Dispelling" Zen merapalkan sihir dan membuat semua tempat terselimuti oleh badai pasir yang sudah ia modifikasi menjadi lebih kuat.


Membuat Elize dan Nania sama sekali tidak dapat mendekati nya, dan langkahnya tertahan beberapa meter dari Zen.


"Sampai Jumpa lagi..." Ucap Zen yang perlahan menghilang masuk ke dalam tanah dengan sihir bayangannya.


"Zen!!!"


Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...

__ADS_1


see u next chapter


__ADS_2