
Zen terdiam, menatap dengan bingung ke arah Arthur sambil mengangkat tangannya kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke samping kepala, dan memberi kode kepada Arthur dengan gerakan itu, 'Apa Otakmu Masih Sehat?', Mungkin seperti itulah kode yang diberikan olehnya.
Tidak menanggapi kode dari Zen, Arthur kembali berjalan menuju meja kerjanya kemudian duduk dengan santai, mengambil sebuah berkas yang terletak di atas meja dan melemparkannya ke depan, Menyuruh Zen untuk membacanya.
Masih dalam keadaan diam, Zen mendekat ke meja kerja Arthur kemudian meraih berkas yang di lemparkan nya Lalu membacanya Cepat.
"Lalu apa yang kau ingin aku lakukan dengan ini?..." Tanyanya menutup berkas tadi dan melemparkannya kembali ke Arthur, tidak ada lagi formalitas dalam situasi mereka saat itu, setelah melihat poster berisikan wajah seorang pria dengan raut wajah seram dan luka yang ada di wajahnya, Zen sedikit bergidik Ngeri.
"Dia adalah Martin Si Uccisore, dari Informan kerajaan yang berdomisili di Kerajaan Nipotia mereka mengetahui kalau Uccisore akan turut ambil bagian dalam Relic War nanti dengan bergabung bersama pasukan Relic kerajaan Nipotia.." Jelas Arthur sembari mengambil berkas tadi dan menyimpan nya.
"Lalu?"
"Uccisore dulu nya adalah bagian dari kerajaan ini... Relicnya adalah Serpente... Sebuah Pedang bermata dua yang bisa memanjang dan memendek sesuai dengan keinginannya... Bisa dibilang dia adalah orang yang kuat dan berbahaya atau kau bisa menyebut nya sebagai maniak pertarungan... Selain itu dia juga adalah bekas Komandan pasukan sebelum Mira..."
"Kenapa dia bisa bergabung dengan Kerajaan Musuh?" Tanya Zen.
"Itu adalah kisah yang panjang dan Rumit..."
"Kalau begitu buat jadi singkat dan mudah dipahami..."
"Baiklah, Singkatnya karena kesalahan yang ia buat saat masih menjadi komandan pasukan, kerajaan ini memutuskan untuk mengasingkannya jauh dari kerajaan mungkin di saat itulah kerajaan Nipotia mengajaknya bekerja sama..."
"Artinya dia bergabung dengan Kerajaan Nipotia untuk membalas dendam pada kerajaan ini karena sudah mengusirnya?"
"Yah kau benar... Selain itu ia memiliki banyak informasi Kerajaan dan cepat atau lambat dia pasti akan membocorkan nya..."
"Kenapa cepat atau lambat?, Bukankah sekarang harusnya dia sudah membocorkan nya?"
"Dari Informasi yang kami terima dia hanya akan turut andil untuk membalas dendam dirinya sendiri dan tidak berniat untuk memberikan bantuan lain... Tapi aku ragu sampai kapan dia akan begitu.. jika Kerajaan Nipotia mampu membujuk nya maka kerajaan ini akan dalam bahaya..."
"Begitu... Sejauh mana informasi yang ia punya tentang kerajaan ini..."
"Karena baru beberapa bulan yang lalu kami mengusirnya, mungkin dia tahu sampai kerajaan ini membangun banyak pos dan benteng untuk persiapan perang... Jika hal itu sampai bocor maka, persiapan yang belum rampung itu akan diserang oleh Kerajaan Nipotia..."
"Seperti nya kau benar benar tertekan dengan ini yah... Dari kantung matamu saja aku sudah tau kalau kau tidak bisa tidur tenang beberapa hari ini..." Ledek Zen ketika melihat kantung mata hitam di bawah mata Arthur yang hanya bisa di lihat oleh orang yang teliti.
"Bukan hanya itu saja yang membuat ku tertekan.."
"Ada lagi? Sebenarnya sebanyak apa masalah yang kau punya..."
"Kakak Luna... Elize saat ini tengah menuju ke Kerajaan musuh, sesaat setelah dia tahu mengenai hal ini dia berbuat nekat untuk segera menghabisi Uccisore... Dia hanya dua tahun lebih tua dari Luna dan merupakan orang terkuat di akademi tentunya akan sangat berbahaya jika dia pergi kesana sendirian untuk menghabisi Uccisore... Dia akan sangat di butuhkan untuk perang nanti..."
"Aku baru tau kalau kau punya anak lagi... Sejak kapan ia pergi..."
"Beberapa Hari yang lalu... Rencananya aku akan memperkenalkan dia dengan kalian ketika pulang dari akademi, tapi setelah mendengar kabar itu dia langsung saja pergi sendirian menuju kerajaan Nipotia..."
"Pada Akhirnya sebagai raja kau akan tetap menyuruh putri - putri mu untuk masuk ke dalam Medan perang... Sungguh ayah yang egois dan tidak sayang anak"
__ADS_1
"Ini ku lakukan untuk mendapatkan kedamaian kerajaan ini... Apa kau pikir aku sendiri tega mengirimkan anakku pada tempat dimana mereka bisa kehilangan nyawanya... Untuk orang yang selalu berpikir logis aku lebih mementingkan rakyat rakyat ku daripada anak - anakku sendiri... Tapi secara batin aku menyayangi mereka..." Arthur sedikit berteriak membuat Zen merasa sedikit bersalah dengan ucapan nya.
"Maaf, Harus nya aku tidak mengatakan itu... Kurasa aku sedikit mengerti perasaan mu..."
"Apa - apaan itu, menjijikan sekali... Kau bahkan tidak punya anak kenapa kau bisa merasakan apa yang ku rasakan..." Arthur berbicara dengan tatapan Jijik Pada Zen, hilang sudah sosok Raja yang Agung dan penuh wibawa di mata Zen dan berganti dengan orang tua yang kelihatan menyebalkan.
"Berisik... Lalu kenapa harus aku..."
"Kau mempunyai sihir bayangan bukan..."
"Tentu, tapi itu sihir yang tidak berguna..."
"Jangan membohongi ku... Aku sudah hidup lebih lama dari mu.. jadi tidak ada gunanya kau menyembunyikan kekuatan sebesar itu padaku..."
"Lalu jika kau tau, apa yang akan kau lakukan..."
"Aku ingin kau pergi ke kerajaan Nipotia dan mencari Elize, aku tidak ingin kehilangannya secepat ini, cari dia sebelum dia menemukan Uccisore..."
"Hanya itu?"
"Tentu saja tidak... Setelah membawa kembali Elize kau harus membunuh Uccisore sebelum dia membocorkan tentang kerajaan ini dan untuk mengurangi kekuatan tempur dari kerajaan Nipotia..."
"Tapi aku bukannya harus masuk ke akademi..."
"Tentu saja kau harus masuk ke sana agar tidak ada yang curiga denganmu..."
"Lalu bagaimana caraku mencari nya..."
"Terlalu merepotkan"
• • •
Pagi Hari / Akademi Shield
Kereta kuda berhenti di depan gerbang masuk menuju akademi yang luasnya lebih besar daripada istana kerajaan, Kereta yang menurunkan para pejuang dan juga Si Putri Luna akhirnya pergi setelah mengosongkan penumpang dari dalam kereta.
"Jadi disini yah... Luas juga..." Iori terlihat kagum dengan pose berdiri nya yang sangat menarik perhatian seolah dia adalah pahlawan yang akan pergi menantang bos terkuat dalam sebuah anime atau Novel.
"Cukup ramai yang mendaftar yah... Kira kira berapa banyak yang akan di terima?" Tanya Shin ketika menyaksikan bahwa sudah cukup banyak orang yang datang ke Akademi.
Zen yang turun dari kereta ikut berkumpul dengan para pejuang lain mencoba untuk bersembunyi di antara mereka semua ketika tatapan mata semua orang menuju ke arah para pejuang.
"Sudah sudah... Ayo masuk, tidak baik jika kita terus berdiri disini saja..." Ajak Luna dengan senyuman kecil mendorong Iori dari belakang.
"Kanade..." Suara Perempuan dari belakang Zen membuat nya mengangkat kepala dan menoleh kebelakang.
Miharu si perempuan dengan mata hitam dan rambut berwarna ungu itu memanggil nya dengan sangat lembut dan penuh dengan perhatian.
__ADS_1
"Yah? Kalau tidak salah ingat kau adalah Miharu Katagawa..." Zen berbalik kemudian menatap ke arah Miharu.
"Yah, kita sudah mengobrol beberapa kali sejak di sekolah jadi harusnya kau sudah mengingat namaku..." Miharu memasang senyum kecilnya.
"Maaf ada apa Miharu Katagawa?"
"Panggil saja Miharu... Ngomong - ngomong apa Kanade baik - baik saja... Dari tadi kau terlihat menunduk, apa mungkin kau merasakan mual setelah naik kereta?"
"Yah, Kurasa begitu... Aku perlu ke kamar mandi sebentar jadi tolong beritahu yang lainnya yah" Zen beranjak pergi dari kumpulan para pejuang dan memisahkan diri agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian, dia menunduk bukan karena mual tapi karena malu.
"Kau pikir apa yang sudah kau perbuat pada bangsawan seperti ku rakyat jelata... Kau mengotori sepatu ku dengan kaki miskin mu..." Suara perempuan yang terkesan arogan dan penuh dengan cacian terdengar ketika Zen baru beberapa langkah menjauh dari kumpulan para pejuang.
Semua perhatian teralih ke arah tengah halaman dimana seorang wanita yang berpakaian mewah tengah mencaci perempuan berambut kepang yang tertunduk di depannya.
"Ada apa itu?" Zen memilih untuk berhenti dan menyaksikan kejadian yang ada.
"Maaf, aku tidak sengaja..." Ucap Si anak perempuan berambut kepang masih menatap ke bawah dengan nada bicara yang ketakutan.
Plakkk...
Tamparan keras mendarat di pipinya dan membuatnya jatuh tersungkur ke samping dan membuat pakaiannya menjadi kotor.
"Sudah bersalah kau masih saja tidak tahu sopan santun... Dimana rasa hormat mu kepada bangsawan..." Ucapnya lagi menginjak kaki si rambut Kepang.
"Maafkan saya Nona..." Nada Bicara nya yang bergetar menandakan bahwa dia saat itu juga ketakutan membuat yang lain hanya berdiam dan tidak kau membantu karena merasa takut juga dengan si bangsawan perempuan.
"Hentikan Rose... Kau terlalu Berlebihan" Luna maju meskipun apa yang ia lakukan sudah terlambat tapi bagi semua orang yang melihat dia adalah sosok Dewi yang tengah menolong orang yang kesusahan.
"Ahhh... Rupanya ada si putri yang mau naik tingkat jadi Dewi yah... Sayang sekali tapi status mu di akademi ini bukanlah sebagai putri lagi tapi seorang murid jadi perintah mu tidak berlaku sekarang..." Jawab Rose dengan angkuhnya.
"Yah memang benar... Tapi dengan begitu kekuasaan keluarga mu juga tidak berlaku disini jadi segera hentikan apa yang sedang kau lakukan itu..."
"Kalau aku tidak mau?" Tanyanya seolah meremehkan Luna yang memiliki sihir beratribut suara.
"Aku akan melaporkan mu kepihak akademi..." Jawab Luna menantang balik Rose.
"Mari kita lihat apa kau bisa melakukannya" Rose mengangkat tangannya ke depan kemudian membaca sebuah mantra sihir.
"Piercing Ice" Ucap nya kemudian sebuah lingkaran sihir terbentuk, Luna memasang sikap bertahan sementara para pahlawan yang lain berlari mendekat ke arah Luna untuk membantu nya.
"Carta" Zen yang berada di kejauhan memanggil Relicnya, membayangkan bentuk Relic milik Arthur semalam setelah itu Carta berubah bentuk menjadi Arcana yang dapat menghilangkan semua jenis sihir, dengan Rose sebagai targetnya Relic Zen mengunci sihir es milik Rose.
Trankk...
Lingkaran sihir es itu pecah dan tidak jadi menyerang ke arah Luna, semua yang ada melihat kejadian itu terkaget ketika Lingkaran sihir milik Rose pecah dan mencari siapa yang melakukannya.
"Peraturan Akademi Nomor Yang kedua... Penggunaan sihir di luar pertandingan dan pelajaran akan di anggap sebagai pelanggaran... Dan mari kita lihat apa yang kita dapat disini... Pendaftar yang tengah bertengkar dengan mengeluarkan sihir?" Suara anak laki laki yang berasal dari kerumunan orang itu memancing perhatian, semuanya berbalik dan melihat kearah anak laki - laki berambut belah tengah yang berjalan menenteng beberapa buku.
__ADS_1
"Hanya karena ketua tidak ada disini sekarang bukan berarti kalian bebas melanggar peraturan dan meskipun kalian belum resmi menjadi murid kalian akan tetap terkena hukuman... Jadi untuk menentukan hukuman nya aku ingin mendengar penjelasan dari semua ini... Karena itu silahkan temui aku setelah mengikuti ujian masuk... Dan tunjukkan seberapa kuat kalian sampai berani melanggar aturan saat aku yang berkuasa...." Ucapnya dengan tatapan sadis membuat Rose bergidik Ngeri sementara Zen sendiri sudah tidak terlihat lagi dimanapun.
Note : Jangan Lupa Like, Comment And Vote yah Guys!!!