The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 43 Dua Sisi Yang Berlawanan


__ADS_3

Hari menjadi gelap, Sinar sang rembulan kini tersembunyi di balik awan gelap yang menaungi seluruh ibukota membuat tidak ada lagi langit malam cerah yang terlihat dan kini perlahan tapi pasti sang langit mulai menangis.


Membasahi atap atap dengan rintik air yang kini mulai menggenang di jalanan, Aktivitas malam berhenti seketika dimana ketika para warga mulai kembali ke rumah mereka masing masing maka jalan di ibukota mulai terasa sepi.


Kini mereka mulai bersiap menghabiskan malam dengan berkumpul dengan keluarga mereka, merasakan hangatnya api yang di nyalakan untuk menghangatkan tubuh mereka di kala hujan yang mengguyur semakin deras dan membuat suhu menjadi turun.


Seperti halnya para warga kerajaan yang berkumpul dengan keluarga mereka, Beberapa penghuni istana kini juga berkumpul bersama di dalam sebuah ruangan dimana di sebuah ranjang yang ada Disana hal yang terlihat deja vu kini kembali ada.


"Ayah... Dimana ayah menemukan Zen..." Tanya Elize yang kala itu berdiri berdampingan dengan Nania di samping kiri ranjang sementara Arthur berada di seberang tempat tidur Zen.


"Para penjaga yang menemukan nya... Dia ditemukan tidak sadarkan diri di depan gerbang... Setelah itu mereka langsung melaporkan ini..." Jawab Arthur.


"Kenapa Zen bisa tiba tiba berada di depan gerbang, selain itu dia tidak sadarkan diri..." Gumam Elize dengan nada yang begitu penasaran.


"Yuuna bagaimana kondisinya..." Shin yang kala itu berada di ujung bagian bawah ranjang bersama Rika, Iori dan juga Daven berbicara setelah Yuuna berdiri dari penyembuhan yang ia lakukan.


"Kanade baik baik saja... Tidak ada luka serius di tubuhnya..." Jawab Yuuna dengan tenang.


"Syukurlah..." Ucap Lega Shin bersama dengan suara helaan nafas dari yang lainnya.


Perlahan lahan jari jari Zen mulai bergerak, matanya yang tertutup kini melakukan beberapa kedipan kecil, dan kemudian terdengar suara nafas yang begitu pelan, matanya kini terbuka dan memperlihatkan sebuah tatapan biru yang sedikit lemas.


""Zen..."" Elize dan Nania secara bersamaan langsung mendekatkan wajah mereka setelah melihat Zen yang sudah sadar dan terlihat seperti sedang kebingungan.


"Nania... Putri Elize... Ada apa..." Ucap Zen yang langsung mengenali dua sosok perempuan yang memperlihatkan ekspresi wajah senang sekaligus lega.


"Zen, kau mengingat ku..." Ucap Nania kini meraih telapak tangan Zen dan menggenggam nya dengan kedua tangan.


"Apa yang kau katakan... Tentu saja aku mengingat mu..." Jawab Zen dengan lirih.


"Hey... Kenapa kalian menangis, apa ada sesuatu yang terjadi..." Tanya Zen dengan sangat kebingungan, dia tidak tau apa penyebab Elize dan Nania menyeka air mata yang mulai turun dari sudut matanya, begitu pula dengan Shin yang terlihat sangat lega.


"Syukurlah... Aku sungguh bersyukur..." Ucap Nania dengan begitu haru.


"Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi Kalian jangan menangis... Aku baik baik saja..." Ucapnya dengan lembut kemudian membalas genggaman tangan Nania.


"Yah... kami tidak akan menangis lagi..." Yang menjawab adalah Elize, dia hendak mencuri panggung dari Nania yang terus menerus menggenggam erat tangan Kiri Zen.


"Pahlawan Zen, apa kau yakin sudah baik baik saja..." Tanya Arthur yang berada disisi lain ranjang tepat dibelakangnya ada Daven yang juga terlihat sangat khawatir.


Zen menoleh kemudian melihat ke arah wajah Arthur, sepintas Tatapan nya terlihat begitu dingin tapi itu hanya terlihat sangat Cepat untuk di sadari oleh Arthur karena dengan segera ekspresi wajahnya kembali berubah.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku yang mulia... Aku sudah baik baik saja... Maaf membuat mu Khawatir" Jawab Zen.


"Yah tidak masalah yang penting kau sudah kembali seperti semula sekarang... Beristirahat lah lebih banyak sampai kau benar benar pulih..."


"Terima kasih lagi untuk perhatian- eghh" Zen memegangi kepalanya yang seketika terasa sakit dengan tangan kiri yang sudah lebih dulu dilepaskan Nania.


"Ada apa..."


"Zen... Kau baik baik saja?"


"Yah, aku baik baik saja... Hanya saja aku merasa sedikit sakit di kepalaku..." Zen menghentikan Nania dan Elize yang berusaha menyentuhnya memberi kode bahwa dia baik baik saja.


"Jangan terlalu banyak bicara dan bergerak dulu... Istirahatkan tubuhmu Kanade... Mungkin ini karena pengaruh Kembali nya ingatan mu.." Ucap Yuuna yang berada di samping Elize.


"Baiklah Yuragi..."


"Semuanya mari kita biarkan Zen istirahat..." Ucap Shin yang mengerti maksud dari Yuuna.


"Ehmm"

__ADS_1


"Kalau begitu istirahat lah Kanade... Kami akan meninggalkan mu sekarang..."


"Yah..."


Semua orang kini beranjak keluar, termasuk Elize yang tidak lagi menghiraukan Nania yang masih ingin berada Disana, dari ekspresi wajahnya saja Nania terlihat begitu khawatir.


"Nania... Kau tidak pergi...?" Tanya Zen pada sosok Nania yang berada tepat di sampingnya tanpa bergeming sedikitpun.


"Aku akan menjaga mu malam ini..."


"Aku bukan lagi anak kecil yang harus dijaga saat sedang tidur..."


"Bukan itu maksud nya... Aku menjagamu agar kau tidak pergi Sendiri lagi..."


"Aku benar benar tidak mengerti untuk apa aku pergi dengan kondisi seperti ini..."


"Kau melakukannya!!" Nania meninggikan suaranya ketika mendengar ucapan dari Zen.


"Eh??"


"Kau pergi dalam keadaan terluka... Kau mengingkari Janji mu padaku... Kau membuat ku khawatir... Karena itulah aku tidak lagi percaya padamu..." Teriak Nania lagi membuat Zen terlihat ketakutan.


"Be... benarkah... Kalau begitu aku minta maaf"


"Tidak akan!!"


"Ha!???"


"Aku tidak akan memaafkan mu kalau kau tidak berjanji satu hal..."


"Janji??"


"Bagaimana pun aku harus pergi ke toilet nanti... Jadi kurasa aku tidak bisa berjanji seperti itu..."


"Bukan itu maksudnya bodoh!!"


"Lalu???"


"Sudahlah berjanji saja!!"


"Baik - baik aku berjanji" ucap Zen kemudian menutup matanya karena tatapan Nania begitu menakutkan.


"Kalau kau sampai melanggar nya maka aku tidak akan memaafkan mu..."


"Ya ya...."


Nania tersenyum, kemudian menyentuh tangan Zen yang tergeletak di atas ranjang.


"Kalau begitu aku akan meninggalkan mu sekarang, beristirahat lah yah..." Ucap nya kemudian berdiri.


"Baiklah" Ucap Zen dengan tenang kemudian menutup matanya, menurut pada Nania.


"Selamat malam Zen..." Suara langkah kaki Nania kini perlahan memudar, dan ketika pintu tertutup maka semua penerangan yang ada di kamar redup, dan Meninggalkan ruangan yang penuh dengan kegelapan dimana hujan deras masih terus mengguyur, dan Cahaya kilat menerangi kamar Zen sesekali.


Beberapa saat berlalu dan Zen kini tengah berbaring dengan kedua mata yang tertutup, suara hujan memenuhi semua Indra pendengaran.


Sudah sekitar lima belas menit setelah semua orang meninggal kannya seorang diri dan Zen tetap berdiam tanpa pergerakan apapun di dalam kamarnya yang begitu gelap.


Namun setelah suara petir yang begitu keras terdengar Zen membuka matanya, memperlihatkan Mata biru yang menyala, wajahnya terlihat pucat dan dingin dalam gelap nya ruangan kamar.


Dia bangkit dari tempatnya berbaring kemudian turun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Shadow Magic : Reach Enchancer" Rapalnya kemudian tenggelam masuk ke dalam bayangan ruangan gelap, menghilang seketika dari dalam kamarnya.


• • •


Malam Hari


Istana Kerajaan Terarria


Ruang Kerja


Arthur kini terlihat cukup sibuk dengan tumpukan dokumen yang ada di atas mejanya, semuanya berisi tentang laporan pemasukan dari berbagai Distirk yang ada di ibukota, Wajahnya terlihat cukup lelah bersama dengan kantung matanya yang tipis membuat kesannya yang berwibawa hilang seketika.


Dia menaruh sebuah dokumen di atas meja kerjanya kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah rak dokumen yang berada disisi kiri ruangan kerjanya.


Memilih milih beberapa dokumen yang untuk menemukan apa yang ia cari sedari tadi, dan akhirnya menemukan nya di pojok rak.


Dia berbalik dan berniat berjalan menuju ke meja kerjanya sambil membuka dokumen tadi.


Brakk!!


"Eghh!!"


Srett...


Tubuh Arthur menghantam dinding dengan cukup keras ketika sebuah dorongan dari arah depan mendorong nya kebelakang dengan sangat cepat, membuatnya menjatuhkan dokumen yang tadi ia pegang.


Kemudian dengan mata terbelalak dia melihat kearah Katana yang kini berada di lehernya dan siap menebasnya kapan saja, dimana orang yang menodong dan mengunci pergerakan nya adalah sosok Zen Yang memasang wajah dingin dengan tatapan mata biru yang membunuh.


"Zen... Apa yang kau lakukan" ucapnya pelan.


"Dengarkan aku Arthur... Kau adalah satu satunya orang yang mengetahui identitas ku sebagai si pengkhianat... Aku akan segera melakukan tugasku untuk pertama Kalinya... Aku akan membunuh dua orang Pejuang yang sebelumnya berkomplot dengan Duke Regard...


Karena itu mulai sekarang aku ingin memperingatkanmu... Jika kau sampai mencoba menghalangi atau mengungkap bahwa akulah yang membunuh mereka maka akan kupastikan bahwa kau akan berkumpul dengan Anggota keluarga mu di alam baka segera..."


"Ke... Kenapa tiba tiba... Apa yang sebenarnya terjadi padamu... Kau tidak pernah menyinggung soal ini..." Ucap Arthur sedikit gemetaran dia bisa saja melepaska. Diri dari sihir bayangan Zen tapi tidak dengan Katana yang ada dilehernya.


"Aku bukanlah Zen yang dulu lagi, mulai sekarang aku tidak akan bertindak naif... Aku akan melakukan tugasku dengan benar mulai sekarang..." Jawab Zen.


"Kau hanya akan mengurangi kekuatan tempur kerajaan ini jika kau membunuh mereka berdua..."


"Aku tidak peduli, lagipula mereka hanyalah sampah yang bertinda berdasarkan nafsu dan hasrat yang menggebu Gebu"


"Lalu kau pikir aku akan membiarkan- agh!!"


Arthur sedikit merintih ketika Katana yang ada di lehernya mulai menyentuh Kulit luar Leher nya dan menimbulkan luka iris yang cukup panjang dimana darah memgalir sedikit demi sedikit dari sana.


"Jawaban mu!" Ucap Dingin Zen.


"Ba... Baiklah" Jawab Arthur takut dan gemetar.


Zen menurunkan katana nya kemudian melepaskan Arthur dari sihir bayangannya.


"Terima kasih atas kerja samanya, yang Mulia" Ucap Zen setelah membalikkan badannya dan menoleh ke Arthur dengan sebuah seringai yang menakutkan.


Setelah itu kembali tertelan ke dalam bayangan nya, masuk ke dalam dan meninggalkan Arthur yang menyentuh luka di lehernya dengan telapak tangan.


"Zen... Yang mana dirimu sebenarnya"


Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2