The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 47 Diskusi & Terima Kasih


__ADS_3

Langit cerah setelah hujan deras yang mengguyur kota memberikan kesan sejuk dan juga damai, cuaca di siang hari yang harusnya terasa panas kini terasa begitu nyaman ditemani dengan terpaan angin dingin di musim semi yang sebentar lagi akan berakhir dan mulai masuk ke musim dingin.


Atau begitulah yang mereka harapkan akan terjadi, berbanding terbalik dengan suasana kota di balik dinding istana, Ketegangan, Rasa Cemas, Khawatir, Takut, Sedih, Semua perasaan itu mulai beradu tepat di hadapan Arthur, dimana seluruh pejuang dan para petinggi istana hadir untuk berdiskusi setelah mereka memberikan penghormatan terakhir bagi Saki dan Kenma.


Zen menyadari bahwa situasi sekarang sangat tidak menguntungkan bagi Arthur karena apa yang terjadi kali ini tentunya akan menjadi bahan protes para pejuang maupun para rakyat ibukota.


Beberapa pejuang kini tengah berbisik bisik di antara kerumunan mereka, berdiskusi sendiri tentang apa yang terjadi, dan mulai mengambil spekulasi atas kejadian nya.


Arthur yang terlihat cemas itu terlihat sedikit terganggu dengan suara bisik bisik yang terdengar cukup samar baginya,


"Mohon perhatian kalian semua para pejuang" Ujarnya kemudian berdiri dari kursi dan maju sedikit kedepan, perlakuan terhadap dirinya itu berhasil mengalihkan perhatian semua pejuang termasuk Zen yang berada di dekat Shin dan Rika.


"Sebagai seorang raja aku ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi, ini semua diluar kendali dan juga siasat yang kumiliki, karena itulah kerajaan tidak bisa menyelamatkan Pejuang Saki dan Kenma..." Ucapnya kini dengan nada bicara yang terdengar begitu menyesal.


"Ayah..." Elize yang berada tepat di samping singgasana Arthur terlihat begitu prihatin ketika ayahnya menundukkan kepala kepada para pejuang.


"Yang Mulia angkat kepala anda... Tidak baik bagi Seorang raja jika menundukkan kepala nya semudah itu meskipun kepada kami..." Ucap Shin yang pertama kali bereaksi, hal ini cukup terasa de Javu baginya.


"Aku sungguh menyesal..." Ucapnya lagi kemudian Arthur mengangkat kepalanya setelah melihat kekhawatiran yang ada di wajah Shin.


"Apa yang sudah terjadi tidak dapat kita ulang lagi yang mulia, mencegah nya kembali terjadi dimasa depan saya rasa itulah maksud dari kata menyesal..." Ucap Rika yang langsung mendapat respon positif dari semua yang ada di ruang Singgasana.


"Terima kasih banyak Pejuang Rika... Kurasa apa yang kau katakan memang ada benarnya..." Balas Arthur.


"Saya punya saran yang baik untuk mencegah ini terjadi lagi yang mulia..." Iori angkat suara sambil mengacungkan tangannya ke atas.


"Silahkan Pejuang Iori..."


"Misalkan ini adalah kasus penyerangan dan targetnya adalah para pejuang maka cara untuk mencegahnya adalah dengan tidak bergerak secara individu... Setidaknya bergerak lah dengan 3 orang atau lebih sehingga jika si penyerang muncul akan mudah untuk mengalahkannya..."


"Itu benar... Si penyerang pasti cukup kuat sehingga bisa mengalahkan Saki dan Kenma... Karena itu jika kita bergerak dalam jumlah banyak si penyerang pasti akan kesulitan..." Sahut Shin yang menganggap saran dari Iori sangat bagus.


Zen hanya berdiam dan tidak berniat menyahuti perkataan siapapun dan hanya menunggu gilirannya tiba untuk berbicara, tapi dari diam itu dia terus memikirkan cara apa yang harus ia gunakan untuk menghancurkan siasat dari Iori.


"Baiklah, mulai sekarang tidak ada lagi dari para pejuang yang bergerak sendiri... Setidaknya berpasangan lah untuk mencegah hal ini kembali terjadi... Ini adalah perintah... Dan tidak hanya para pejuang tapi juga semua penghuni istana... Mengerti!" Arthur kini mengeluarkan aura tegas dan penuh wibawa nya ketika mengatakan hal itu.


""Mengerti!"" jawab semua yang hadir langsung di ruangan secara serentak.


"Terima kasih... Selanjutnya ada satu lagi masalah yang harus di selesaikan... Dan aku butuh bantuan dari kalian semua..." Sambung nya kemudian mengambil sebuah kertas berisi rencana yang akan ia lakukan dalam beberapa hari.

__ADS_1


"Kejadian kali ini tidak hanya berpengaruh pada kalian dan juga penghuni istana, tapi para rakyat juga akan terkena dampak dadi hal ini, menurunnya kepercayaan mereka kepada para pejuang atas kasus ini pasti akan menimbulkan beberapa keributan... Bahkan yang paling parah adalah kembali terjadinya pemberontakan... dan Untuk mempertahankan kepercayaan rakyat terhadap Kerajaan kita akan mengadakan Simulasi pertarungan antar pejuang... Mari perlihatkan kepada para rakyat seperti apa kekuatan dari para pejuang yang akan melindungi kerajaan ini..."


• • •


"Diskusi Selesai... Seperti yang telah di bagi, para pejuang akan melakukan simulasi pertarungan dalam 4 kelompok dimana setiap kelompok akan berisi 5 orang, Elize dan Luna juga akan turut serta untuk mengenapkan jumlahnya... Besok pagi kita akan melakukan Simulasi... Dan meskipun hanya simulasi kalian semua harus mengerahkan semua kekuatan kalian... Mari kita tunjukkan kepada mereka seperti apa para pejuang itu..." Ucap Arthur berdiri dari singgasananya dan mengakhiri rapat setelah wujudnya sudah hilang dari pandangan semua orang.


Para pejuang ikut membubarkan diri mereka dari ruang singgasana, berjalan bergantian menuju pintu keluar dan sesuai dengan perkataan Arthur mereka terlihat bergerak secara berpasangan.


Tidak ada pelajaran di akademi untuk hari ini dan besok karena sudah masuk ke penghujung Minggu, dan mereka semua hendak melakukan aktivitas seperti biasa dan melupakan tentang apa yang mereka lihat tadi pagi.


"Zen... Kemana kau akan pergi..." Tanya Shin melihat Zen yang berjalan sendirian menuju ke arah yang berlawanan dengan para pejuang lainnya, dan tentu saja suara dari Shin mengakibatkan pandangan semua pejuang yang tadinya berjalan mengarah ke Zen.


"Tidak... Aku hanya ingin pergi ke kota sebentar..." Jawab Zen dengan suara seperti biasanya, dia sedikit menurunkan volume suaranya agar para pejuang lain tidak terus menerus menatap kearahnya.


"Hanya sendirian... Bukankah kita diminta untuk pergi berpasangan..."


"Yah kurasa kau benar... Tapi tidak masalah bukan... Aku hanya akan pergi ke kota... Lagipula ini masih siang, aku yakin jika penyerang itu tidak akan bergerak disaat seperti ini..." Jawabnya dengan sangat yakin.


"Apa yang membuat mu yakin dengan itu Kanade..." Tanya curiga Yuuna yang mungkin pergi berpasangan dengan Shin, Rika, Iori dan Juga Natsukawa.


"Karena kalau aku adalah si penyerang itu maka aku tidak akan bertindak bodoh dengan bergerak di siang hari dimana banyak orang yang bisa melihat nya... Atau seperti itulah..." Sanggah Zen ketika Yuuna terlihat cukup yakin dengan pertanyaannya.


"Begitulah caraku hidup..."


"Bagaimanapun pergilah dengan seseorang Zen... Ini demi keselamatan mu juga... Ah yah, Katagawa yang akan menemani mu... Bagaimana..." Saran Shin kemudian menarik tangan Miharu yang bersembunyi di baliknya.


"E.. E... Eh... Kenapa aku..." Ucapnya dengan gugup.


"Pergilah Haru... Ini adalah kesempatan mu untuk berbicara dengannya... Ayo sana..." Dorong Rika.


"Ta.. tapi Kanade..."


"Kau tidak masalah kan Kanade..."


"Terserah saja..." Ucap Zen dengan tidak peduli kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan para pejuang.


"Dengar sendiri bukan... Ayo pergilah Haru"


"Ba.. baiklah..." Miharu dengan segera menyusul Zen sambil berlari kecil, kemudian berhenti berlari tepat di belakang Zen.

__ADS_1


Keduanya kini mulai melangkah keluar area istana, tidak ada percakapan yang terjadi bahkan ketika mereka sudah sampai di kota, hanya saling berdiam diri dan memandang ke area sekitar, Bagi Zen ini bukanlah masalah karena Miharu yang diam adalah sebuah keuntungan baginya, sementara bagi Miharu sendiri dia merasa bahwa harus memulai percakapan agar perasaan canggung itu hilang.


"Ka... Kanade... Kemana kita akan pergi..." Tanyanya dengan sedikit gugup setelah akhirnya memutuskan untuk memulai percakapan.


"Ehmmm... Entahlah kurasa aku hanya ingin berkeliling saja... Bagaimana dengan kau sendiri Katagawa... Ada tempat yang ingin kau kunjungi? Kalau ada ayo kesana... Aku juga merasa tidak enak membuatmu mengikuti ku yang tanpa arah..." Balas Zen tanpa sedikitpun melihat ke arah Miharu.


"Be... Begitu yah... Aku juga tidak ingin pergi ke suatu tempat... Jadi aku akan mengikuti mu saja..."


"Ah, benar juga... Hari itu Shin bilang kalau ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku... Apa itu?" Tanya Zen setelah mengingat tentang perkataan Shin yang sudah berlalu.


"A... Ah... It.. itu... An... Anu..."


"Kenapa..."


"Se... Sebenarnya aku ingin berterimakasih..." Ucapnya Lugas seketika.


"Berterimakasih? Untuk apa? Kupikir kita tidak terlalu sering bertemu ataupun berbicara..." Zen terlihat penasaran kemudian sedikit melirik Miharu yang dimana wajahnya terlihat begitu malu.


"Apa... Kau sudah lupa..."


"Tentang apa..."


"Waktu itu... Kau menyelamatkan ku dari para berandalah sekolah..."


"Ehmmm... Kapan yah... Kurasa aku sudah melupakannya..."


"Yah, itu sudah lama... Tepatnya saat kita masih kelas 3 SMP... Hari itu aku di ganggu dengan berandalan Anak SMA saat dalam perjalanan pulang... Mereka memaksa ku untuk ikut dengan mereka... Untungnya saat itu kau datang... Entah kenapa kau terlihat sangat kuat saat memberi mereka pelajaran..."


"Yah kalau di ingat ingat lagi seperti nya itu memang pernah terjadi... Kalau tidak salah hari itu mereka juga ikut menahan ku untuk meminta uang, jujur saja aku tidak berniat untuk membantu mu... Aku hanya memberi mereka sedikit pelajaran karena sudah memalakku..."


"Tapi tetap saja karena kau melakukan itu aku jadi selamat, tidak tahu apa jadinya kalau kau tidak ada... Sebenarnya aku ingin berterima kasih langsung saat itu tapi kau sudah pergi... Dan saat aku sadar kalau kau ada di SMA yang sama dengan ku aku jadi berpikir punya kesempatan untuk berterima kasih..."


"Begitu... Yah kurasa memang benar..."


"Sekali Lagi Terima Kasih Kanade..."


"Terserah saja..."


Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru

__ADS_1


see u next chapter


__ADS_2