The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 26 Kegilaan Yang Memuncak Untuk Mereka Yang Percaya Pada Tuhan


__ADS_3

Malam Hari / Nipotia Kingdom


Jalanan malam yang terang menyelimuti ibukota, ketika matahari telah terbenam aktivitas malam di kota pun dimulai, entah itu para pemburu Magische yang baru kembali dari perburuan, pesta kecil di kafe kafe ibukota, Pasar malam dan berbagai hiburan, semuanya nampak berjalan dengan lancar dan damai tanpa sedikitpun gangguan.


Yah tentunya hal itu hanya berlaku untuk jalanan yang ada di pusat kota, sementara itu di daerah pinggiran kota jalanan jalanan nampak sepi dan gelap dimana hanya sinar redup dari rembulan yang menyinari nya.


Jauh di dalam kegelapan itu, dua orang yang kini tengah bersiap siap untuk misi pertama mereka, tidak mengenakan apapun yang mencurigakan seperti jubah ataupun topeng Keduanya yang hanya berpenampilan seperti biasa itu berjalan keluar dari dalam sebuah gang dan muncul di antara ramai riuh jalanan pusat kota.


Berjalan lurus ke arah Utara dimana terdapat sebuah istana yang berdiri megah dengan halaman yang begitu luas dan mansion mansion kerajaan yang jumlahnya hampir memenuhi seluruh area istana.


Setelah sampai beberapa puluh meter di depan gerbang masuk area istana keduanya berhenti dan menatap ke arah para pengawal kerajaan yang mengawasi istana, dimana di depan gerbang saja sudah di jaga oleh Hampir 10 orang dengan armor lengkap dan senjata di tangan mereka.


"Ngomong ngomong kak Zen, bagaimana kita bisa menemukan mansionnya, di dalam ada banyak sekali mansion para bangsawan..." Daven berbicara ketika tengah berbaur dengan para warga yang ada di dekat keduanya, berpura pura membeli sebuah barang dari salah satu kedai kecil yang ada Disana.


"Untuk itu tenang saja... Dia memberikanku bonus informasi tentang letak mansionnya, di dalam area istana ada 4 mansion dan 1 istana, dua mansion merupakan milik anggota kerajaan dan dua lainnya milik para bangsawan... Dan untuk letak Mansion bangsawan yang kita incar ada di sebelah kanan, lebih tepatnya yang ada di pinggir kanan..." Jelas Zen mengambil sebuah miniatur berbentuk kapal yang dipajang di kedai tadi.


"Seperti biasa kak Zen sangat hebat..."


"Tidak usah memuji ku, dengar aku akan memberikan mu waktu 15 menit untuk menyelesaikan urusan mu setelah itu aku akan menjemputmu di tempat sebelumnya... Kalau kau terlambat maka aku akan tinggalkan kau..."


"Kenapa sangat terburu buru?..."


"Di dalam area istana ada seorang Jenderal yang disebut sebut sebagai anjing penjaga... Dia bisa melacak penyusup yang berada di istana dengan menggunakan deteksi sihir, karena itu sebelum di temukan kau sudah harus selesai... 15 menit adalah waktu yang lama untuknya menemukan kita..."


"Kita? Apa itu berarti kak Zen juga bisa ditangkap?"


"Tentu saja..."


"Baiklah aku mengerti, akan ku selesaikan dalam 15 menit..." Daven mengangguk pasti setelah mengerti dengan arahan Zen.


"Bagus ikuti aku..." Zen meletakkan kembali miniatur yang ada di tangannya kemudian memimpin jalan menuju ke sebuah gang kecil yang berada tidak jauh dari kedai yang keduanya kunjungi.


"Shadow Magic : Reach Enchancer"


"Kak Zen apa ini" Daven memberontak ketika tubuhnya tertelan ke dalam bayangan malam yang berada tepat di bawah kakinya.


"Tenang saja... Itu adalah jalan masuk kita" Balas Zen sesaat sebelum keduanya menghilang dari dalam gang, dan tak lama setelah itu keduanya muncul kembali beberapa meter di halaman belakang sebuah mansion yang sangat besar dan luas.


"Ini... Sihir perpindahan... Hebat.."


"Waktumu dimulai dari sekarang, 15 menit lagi kita akan bertemu disini jadi segeralah pergi... Kemungkinan besar bangsawan yang kau cari berada di ruang kerjanya... Jadi langsung saja pergi kesana... Manfaatkan sihir mu dengan baik... Mengerti?" Zen mendorong tubuh Daven sedikit menjauh darinya sambil menjelaskan tentang apa yang harus di lakukan nya.


"Baik, aku mengerti..." Daven mengangguk kemudian secara perlahan berjalan ke pintu yang berada di belakang halaman.


"Kalau begitu semoga berhasil..." Ucap Zen kemudian tertelan masuk ke dalam bayangan nya lagi, meninggalkan Daven yang kini sudah berada tepat di depan pintu halaman belakang mansion.

__ADS_1


"Dimension Eater : Embodiment" Daven melepaskan sarung tangan hitam yang ia kenakan kemudian menyentuh pintu tadi dengan tangan kanannya.


Tanpa Suara apapun pintu megah dan besar tadi perlahan mengecil dan menghilang begitu saja membuat sebuah lubang besar untuk siapa saja masuk ke dalam mansion.


Dengan sebuah langkah yang terkesan pelan Daven memasuki mansion dengan sedikit hati hati, berharap agar tidak memancing keributan sedikitpun.


Secara berkala dia mengecek lorong lorong terang yang ia lewati untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun disana, tapi tentu saja semua itu tidak berjalan lancar karena ada beberapa pengawal yang kini sedang berjalan mendekat ke belokan lorong tempat nya bersembunyi.


Tapp... Tapp... Tapp...


Suara langkah kaki yang makin dekat dengannya membuat Daven sedikit gugup dengan detak jantung yang tak beraturan, karena bagaimanapun dia tidak pernah membunuh atau melukai seseorang sebelumnya dan ini akan menjadi kali pertamanya dia berada dalam pertarungan hidup dan mati dimana jika dia tidak berhasil mengalahkan pengawal yang mendekat maka akan menjadi kekalahannya.


Dia menutup mata nya dan berusaha untuk fokus terhadap suara yang semakin dekat, dan ketika Kegelapan memenuhi indarnya, suara suara polos adik adiknya yang sudah tiada serasa memenuhi semua indranya.


"Kau tau kabarnya Tuan Fats akan membangun sebuah bar di daerah belakang..." Suara itu menggema di antara dinding lorong, menbuat Daven kembali membuka matanya yang tertutup.


"Maksudmu di tempat yang ada tenda kecil itu... Haha seperti biasa Tuan Fats tidak ada rasa kasihan sedikitpun... Tapi itulah yang membuatnya seru... Ketika membunuh mereka kita mendapatkan bayaran yang besar, membunuh anak anak untuk mendapatkan bayaran besar bukankah sangat menguntungkan... Hahaha" Balas suara yang satu lagi.


"Ya ya... Itu sangat menguntungkan dengan begitu di hari liburku besok aku bisa menyewa beberapa wanita lagi haha... Ini sangat menguntungkan..."


"Kalau begitu aku juga iku-"


Tapp...


Daven muncul dari balik lorong dengan wajah tertunduk dan berhenti beberapa meter di depan kedua pengawal yang berkeliling tanpa membawa senjata apapun itu dan hanya berlapis armor sliver tebal.


"Hey bocah darimana kau datang... Segeralah keluar..." Usir yang satu lagi, tapi Daven sama sekali tidak memberikan respon apapun.


"Hey bocah apa kau dengar!" Merasa kesal karena tidak ditanggapi salah satu pengawal tadi berjalan ke arah Daven dan berniat untuk mendorong pundaknya.


Crass...


"Gahh!!!" Teriakan menggema ketika tangan yang digunakan pengawal tadi menghilang begitu saja sesaat setelah Daven menyentuhnya dengan tangan kosong.


"Dimension Eater : Pain Of Emptiness" Daven mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah puas saat tangan yang sudah hilang itu mengeluarkan banyak darah dan tidak Berhenti mengalir.


"A... Apa... Yang sudah kau lakukan" Tanya salah satu nya lagi dengan langkah mundur yang terkesan ketakutan.


"No Comment..." Jawab Daven mendekati penjaga yang mundur secara perlahan itu dan melewati penjaga yang jatuh berlutut sambil merasakan sakit di tangannya, dan penjaga yang di dekati Daven tadi mempercepat langkahnya dan mulai berlari.


"Dimension Eater : Circle of Chaos" Kembali merapalkan mantranya kini Daven menciptakan sebuah Bulatan sempurna di salah satu lutut penjaga yang berlari.


Brukkk... Crass...


Darah mengucur di pergelangan kaki yang putus atau lebih tepatnya menghilang entah kemana, dan membuat si penjaga yang kehilangan kaki tadi terjatuh dengan rintihan yang begitu keras.

__ADS_1


"Gahhhh!!!" Penjaga yang tadinya berlutut karena merasa sakit kini berdiri kemudian mengarahkan tinjunya yang harusnya tidak bertenaga lagi kearah Daven yang berfokus terhadap penjaga tanpa kaki tadi dan berusaha menyerang Daven dari belakang.


Brukk... Tubuh itu terjatuh sesaat setelah tatapan mematikan dari Daven melihat ke arahnya, dan darah yang mengucur deras keluar dari leher tanpa kepala yang kini sudah terlepas.


"Akhhh!!!" Teriak penjaga tanpa kaki yang kelihatan takut terhadap pemandangan yang ada di depannya ,terlebih tatapan Daven yang kini terkesan dingin dan sangat membumi menatapnya tanpa ampunan.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan, kau menyerang kami yang tak bersalah..." Ucapnya berharap Daven akan memberikan ampunan jikalau dia membujuknya.


Tapi sayangnya bujukan itu membuahkan sebuah tatapan dan seringai aneh dari Daven yang kini kelihatan sangat berbeda dimana kesan gila mungkin sangat pas untuknya.


"Hey pak... Apakah kau percaya pada Tuhan?" Ucapnya berjongkok tepat dihadapan si penjaga tadi.


"A... Apa yang kau katakan..."


"Aku bilang apakah kau percaya pada Tuhan.." Tanya Daven sekali lagi kini dengan seringai yang lebih menakutkan.


"Te... Tentu saja... Memangnya ke.. kenapa..."


"Kalau begitu apakah kau sering berdoa padanya?.."


"Y... ya..."


"Anak baik... Kalau begitu maukah sekarang kau berdoa padanya agar bisa selamat?"


"Sebenarnya apa yang kau inginkan" dia berteriak mencoba mengancam Daven dengan rasa takut.


"Jangan berteriak, aku hanya menyuruh mu untuk berdoa pada Tuhan... Bukankah kau percaya padanya, bukankah kalau kau mengingat nya dia akan melindungi mu... Kalau begitu berdoa lah... Berdoalah agar selamat..."


"Kau sudah gila!!!"


"Yah kau benar, aku sudah gila... Itu karena Tuhan yang kau percayai... Meskipun sudah sering berdoa padanya dia masih tetap membunuh adik adikku, dan kau tau lewat perantara apa dia membunuh nya?" Daven menyentuh kepala si Penjaga tadi dengan tatapan yang begitu dingin dan nada bicara yang tertahan oleh rasa sedih.


Mata si penjaga tadi terbelalak ketika sentuhan dan ucapan dari Daven sampai di semua Indranya, dia kembali mencerna perkataan dari Daven dan mulai menganga.


"Mung... Mungkinkah kau adalah..."


"Yah, aku adalah kakak dari anak anak yang kau bunuh... Dan aku kemari untuk membalas kan dendam mereka..."


"Ti... Tidak mungkin, aku... Aku akan mati, tidak tidak aku tidak mau mat-"


Crass... Kepala kembali hilang sesaat sebelum si penjaga Selesai dengan kalimat nya yang gemetar ketakutan, membuat tubuh yang tak lagi bernyawa itu jatuh kesamping dengan darah yang menodai pakaian Daven dan juga lantai lantai bersih.


"Begitu pula apa yang adik adikku inginkan" Balas Daven meninggalkan kedua tubuh tanpa kepala tadi dan berjalan lurus menuju ke ruang kerja bangsawan yang ia perkirakan sudah dekat.


Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...

__ADS_1


see u next chapter


__ADS_2