The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 45 Dewa Kematian Berlengan Satu Yang Memberikan Julukan Baru


__ADS_3

"Aku sudah dengar tentang apa yang terjadi pagi ini..." Arthur berdiri, memandang keluar jendela kamar Zen, dimana Zen sendiri saat itu tengah melanjutkan aktingnya berpura pura sakit dengan duduk di atas ranjang.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan... Menghukum ku?... Apa menurutmu apa yang ku lakukan itu salah?" Jawab Zen kemudian menoleh ke arah Arthur dengan tatapan mata dingin.


"Kau berada di posisi benar dan salah secara bersamaan..."


"Begitukah... Kupikir kau akan bilang bahwa aku sepenuhnya salah..."


"Yah bisa di bilang kau akan bersalah kepadaku jika apa yang terjadi sekarang tersebar di masyarakat kota..."


"Hooo..."


"Mereka pasti akan berpikir bahwa keamanan istana sangat lemah, bahkan sebelumnya akademi juga sempat mendapat serangan dari pihak luar, para Wizard Laravel juga sudah sering mendesak agar kerajaan ini menutup segala akses dari kerajaan luar..."


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan itum... Apa kau akan menuruti para Wizard Laravel dan membuat Kerajaan ini menjadi kerajaan yang terisolasi dari dunia luar...?"


"Entahlah... Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan sekarang, di tambah lagi kau akan melakukan tugasmu malam ini... Itu hanya akan melemahkan kepercayaan rakyat pada kerajaan... Dan pada akhirnya akan kembali membuka celah para pemberontak untuk masuk..." Arthur berbicara dengan nada yang terdengar begitu putus asa, wajahnya kelihatan cukup murung bersama dengan helaan nafas yang begitu panjang.


"Apa kau yakin tidak akan menunda tugasmu sampai Relic war selesai..." Sambung Arthur kemudian membalikkan badannya, memberikan sebuah tatapan memelas pada Zen yang sama sekali tidak terlihat peduli padanya.


"Tentu saja aku tidak akan memperlama tugasku lagi, karena sekarang akan ada hukuman dan peringatan untukku ketika aku menunda nya..." Balas Zen.


"Hukuman dan peringatan apa yang kau maksud..."


"Entahlah, hanya saja itu terasa sangat menyakitkan, seperti kepalaku akan meledak kapan saja..."


"Begitu... Kalau memang begitu aku tidak bisa menghentikan mu... Meski begitu aku harus tetap menjaga kepercayaan rakyat setelahnya..."


"Kalau begitu kau hanya perlu memastikan bahwa berita itu tidak tersebar sampai ke masyarakat..." Ucap Zen yang memikirkan sebuah solusi paling sederhana yang terlintas dikepalanya.


"Andai semudah itu..." Jawab Arthur kemudian berjalan menuju pintu keluar, karena hari yang sudah beranjak siang dan dia mempunyai beberapa tugas yang harus segera di selesaikan.


"Yah seperti nya aku bisa memberikan solusi..." Ucap Zen sesaat lagi sebelum Arthur meninggalkan ruangannya.


"Apa yang kau katakan..." Sahut Arthur kembali melirik ke dalam ruang kamar Zen dan menyaksikan Zen yang memasang Topengnya dan memberikan ekspresi yang biasanya ia tunjukkan pada yang lain.


"Kubilang aku mungkin bisa memberikan mu sebuah solusi agar kepercayaan para rakyat masih tetap bersama kerajaan.."


"Aku tidak percaya akan mendengar itu dari orang yang akan memicu masalah ini..."


"Yah setidaknya masih ada sedikit sisa Zen yang dulu di dalam diriku... Jadi aku akan membantumu... Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kau tidak menghalangi ku..."


"Kalau begitu mari kita dengar... Apa solusi yang akan kau berikan padaku..."


"Tentu... Aku akan memberi tahumu... Sekarang juga"


• • •


Malam Hari.


Terraria Kingdom


Desir angin malam yang begitu lembut kini berubah menjadi rintikan hujan yang mulai mengguyur kota dengan derasnya, angin bertiup sangat kencang karena sekarang sudah memasuki tahap akhir musim semi dan akan segera masuk ke musim dingin.


Udara yang perlahan menjadi dingin dapat di tangkis menggunakan nyala api dari tungku pembakaran yang ada di masing masing rumah ataupun mansion para penghuni kerajaan.


Berusaha melawan cuaca yang dingin, kini di dalam sebuah mansion salah satu Bangsawan sebuah pesta tengah berlangsung, tidak menghangat kan tubuh mereka dengan suhu dari api melainkan menggunakan alkohol dalam jumlah banyak kini pesta yang diadakan oleh dua orang pejuang itu tengah berada di puncak nya.


"Selamat malam para bangsawan sekalian...." Ucap seorang pejuang dengan rambut sebahu yang dipotong gaya emo saat berdiri di tengah tengah ruang pesta pada orang orang yang menghadiri pesta yang ia gelar.


"Malam ini adalah malam dimana seluruh kekuasaan milik Duke Regard berpindah tangan... Jadi karena itu mari kita habiskan malam ini dengan berpesta sampai pagi!!! Bersulang" Ucapnya sambil mengangkat secangkir gelas berisi minuman keras berwarna putih bening.


""Bersulang"" Jawab semua yang hadir saat itu ikut mengangkat gelas mereka keatas.

__ADS_1


Pesta kemudian berlanjut, semua menari dan tertawa dengan lepas, menikmati hidangan yang disediakan sekaligus saling menggoda satu sama lain.


Kemudian sampailah mereka pada akhir pesta, semua yang tadinya hadir memenuhi aula mansion berangsur-angsur pergi dengan wajah yang kelihatan begitu senang sampai dengan ruangan itu sepi dan para pelayan mansion masuk untuk membersihkan ruangan itu.


"Kenma... Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang datang padahal aku sudah mengundang mereka semua..." Tanya remaja laki laki yang mengenakan pakaian dengan style Tuxedo pada remaja berambut emo.


"Entahlah Saki... Mereka pasti sibuk dengan kedatangan Kanade... Padahal dia itu sama Sekali tidak penting ya kan..." Jawab Kenma.


"Itu benar... Baiklah aku akan kembali ke kamar ku sekarang... Para selir ku pasti sudah menunggu... Sampai jumpa..." Ucapnya kemudian memberikan gelas yang ada di tangannya pada pelayan yang melintas.


Kemudian Saki berjalan menuju pintu keluar dengan langkah kaki yang sedikit lunglai akibat meminum cukup banyak alkohol.


Dia berbelok ke arah kanan kemudian menghilang dari pandangan Kenma yang saat itu masih berkutat dengan minuman yang ada di tangannya.


Saki kini berjalan di antara lorong lorong terang yang berhiaskan berbagai macam furniture seperti vas dan lainnya dimana semua itu tersebar sampai ke sudut mansion.


Matanya masih terlihat segar tapi langkahnya terlihat begitu tidak karuan, meskipun begitu dia masih dapat mengendalikan dirinya agar tidak jatuh.


Tap... Tap... Tapp...


Saki berhenti beberapa meter sebelum sampai di belokan Koridor, matanya menangkap sosok siluet manusia yang berjalan dengan langkah kecil dimana wajahnya tertutup oleh tudung yang ia kenakan dan hanya memperlihatkan matanya yang berwarna biru.


Saki yang awalnya mengira itu hanyalah seorang pelayan hendak berlalu tapi seketika ia menyadari bahwa orang yang berada di depannya sekarang tengah berdiri sambil membawa sebilah pisau dapur yang cukup tajam kelihatan nya.


"Pembunuh!!" Ucapnya seketika kemudian mundur secara perlahan.


"Kau menyadarinya... Seperti yang di harapkan dari seorang pejuang seperti mu" Ucap Sosok Tadi yang menyembunyikan pisau dapur di balik lengan kirinya.


"Apa yang kau inginkan dariku..." Saki tidak terlihat gentar, dia sama sekali tidak tau bahwa orang yang ada didepannya sekarang adalah Zen meskipun sudah terlihat jelas bahwa dari lengannya yang hanya tersisa satu saja.


"Nyawamu..." Zen membalik tangannya kemudian melemparkan pisau tadi ke arah Saki yang masih terlihat waspada.


Lesatan pisau yang membelah udara itu Langung terbang ke arah wajah Saki.


Trankk..


Pisau yang mengenai lengannya tadi kini terjatuh ketika mengenai kulit Saki seolah-olah beradu dengan sebuah besi yang cukup keras.


"Dasar siala-"


Bruakk...


Zen muncul dari arah depan Saki dengan begitu cepat kemudian menendang bagian samping perutnya dengan kaki kanan menuju ke arah dinding abu abu.


"Sayang sekali tapi kekuatan mu hanya sampai disitu saja..." Ucap Zen kemudian menginjak kepala Saki yang terkapar di dinding dengan kaki kanannya.


"Siapa kau sebenarnya..." Tanya dengan suara yang begitu lirih.


"Kalau kau ingin tau maka pastikan kau melihat wajahku dengan jelas untuk terakhir kalinya..." Jawab Zen menurunkan kakinya dari kepala Zen dan mengangkat dagunya dengan kaki kiri.


Dia sedikit membungkuk kemudian menatap wajah Saki yang nampak sedikit berkeringat dan berdebu, dengan tangan kirinya ia melepas tudung yang ia kenakan dan memperlihatkan wajahnya yang begitu familiar bagi Saki.


"Kanade..."


"Yah, syukurlah kau mengenalku jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi..." Jawab Zen dengan seringai tipis yang ia tunjukkan.


"Kenapa kau melakukan ini, apa aku pernah berbuat salah padamu..." Tanyanya dengan sedikit gemetar ketika aura Zen berubah seketika.


"Menurut mu bagaimana-"


"Apa yang terjadi disini... Aku mendengar suara yang sangat berisik barusan..." Suara lainnya muncul dari arah yang berlawanan dari arah Zen datang dimana Remaja bergaya rambut emo tiba tidak jauh di dekat keduanya.


"Saki apa yang terjadi disini..." Tanyanya ketika menyaksikan temannya itu tengah di pojokkan oleh Zen.

__ADS_1


"Kenma, Kanade... Kanade adalah orang gila... Dia ingin membunuhku..." Teriak Histeris Saki yang masih berada di bawah kekuasaan Zen.


"Kanade apa yang kau lakukan pada Saki hah??? Apa kau ingin membunuhnya dasar sialan!!"


"Berisik!!" Zen menoleh kemudian memberikan tatapan yang begitu menakutkan pada Kenma seolah ingin mengintimidasi nya.


"Sialan kau [Fire Magic: Burn]" Kenma mengarahkan tangannya ke arah Zen kemudian melepaskan sebuah gelombang api berwarna merah yang terlihat cukup kecil.


Zen dengan santainya memanggil sebuah Shadow Hand dan Mengangkat tubuh Saki untuk melindungi dirinya dari serangan api Kenma.


"Arghh!!!!" Saki berteriak ketika kobaran api itu menghanguskan punggungnya.


"Saki!" Kenma berlari mendekat ketika Zen melemparkan tubuh Saki Yang terbakar ke udara dan berusaha menangkap nya sebelum mendarat ke tanah.


Crass...


Tubuh Saki melayang, dengan kondisi perut yang tertembus oleh sebuah objek runcing berwarna hitam pekat darah muncrat dan mengotori wajah Kenma yang saat itu berdiri mematung dengan wajah pucat saat melihat tubuh Kenma yang tak lagi bergerak di depan wajahnya langsung.


"Aghhh!!!" Dia berteriak sekuat mungkin, perutnya merasakan mual dan terasa seperti di aduk aduk, sambil menutup mulutnya agar tidak memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya Kenma berjalan mundur dengan sangat gemetaran.


Zen menarik kembali bayangan runcingnya dan menjatuhkan tubuh Saki yang mungkin masih hidup tapi dalam keadaan sekarat.


"Kau... Kau bukan manusia... Kau bukan manusia..." Suara yang gemetar bersama dengan wajah pucat dari Kenma mengundang sebuah jiwa terpendam Zen untuk keluar.


Dia mengeluarkan sebuah seringai yang menakutkan kemudian tatapan matanya yang begitu puas terlihat begitu intens.


"Tentu saja aku bukan manusia gahahhaha!!!" Teriak Zen dengan sangat keras.


"Setelah melakukan semua ini aku bukan lagi manusia dasar bodoh... Aku adalah dewa kematian yang akan mengantar nyawamu ke neraka terdalam..." Sambung Zen kemudian berjalan mendekat ke arah Kenma.


Dia berjalan melewati tubuh Saki yang masih Tidak bergerak tapi tarikan nafasnya masih terdengar walaupun sangat pelan.


Crasss...


Sebelum melewati tubuh Saki secara penuh, Zen menyempatkan diri untuk menghabisi nyawa Saki langsung, dia mengarahkan bayangan runcing itu ke bagian Jantung Saki dan menusuknya secara berulang kali.


"Aghh!!!" Kenma kembali berteriak dengan sangat keras ketika akhirnya Saki benar benar meregang nyawa di tangan Zen yang saat itu terlihat tersenyum puas.


Kenma dengan langkah gemetar berusaha berdiri kemudian mencoba berlari sekuat tenaga untuk Memanggil bantuan ataupun tempat persembunyian dari Zen.


Tapi Zen tida membiarkannya pergi begitu saja, dengan shadow hand yang ia kendalikan Zen berhasil menangkap Kenma yang berusaha melarikan diri itu dan membawanya ke depan wajah Zen.


"Kau mau kemana hah??"


"Ti... Tidak!!"


"Hey, aku mau bertanya kenapa kau menyembunyikan matamu di balik rambut mu... Apa ada alasannya?" Tanya Zen.


"Apa mungkin kau menginginkan sebuah julukan... Seperti pejuang bermata satu..."


"Kalau begitu bolehkan kalau aku mencongkelnya keluar... Dengan begitu kau akan dikenang sebagai mending Pejuang dengan mata satu... Heyy... Boleh kan... Boleh kan?!!!" Tanya Zen yang sudah siap dengan bayangan runcing di belakangnya.


"Am... Ampuni aku..."


"Gahahahhaa!!! Matilah"


Crass.... Crasss...


"Uaghhhhh?!!!.......!!..!"


Note: Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2