
Malam Hari
Nipotia Kingdom
"Ini sangat membosankan..." Zen memainkan sebuah api kecil yang ada di ujung jarinya sambil menatap keluar jendela dimana dari lantai atas penginapan dia dapat melihat orang orang yang berlalu lalang dengan terangnya cahaya lampu kota.
Tidak ada apapun yang bisa dia lakukan selain menunggu hari esok tiba dan meskipun malam harusnya sudah masuk larut tapi dia sama sekali tidak merasa ngantuk ataupun lelah, sehingga dengan alasan itu dia menjadi tidak bisa tidur.
"Yah setidaknya hari ini aku sudah menjadi kaya, perjudian memang sangat menyenangkan... Tidak heran banyak yang candu dengan itu..." Gumamnya sambil memikirkan kejadian hari ini dimana dia berhasil menang melawan Cald dalam sebuah taruhan besar yang dimana membuat keuntungan baginya.
Zen berputar dan berjalan menuju pintu keluar dan segera turun kebawah, berkumpul di antara kelompok kelompok kecil yang ada di lantai bawah penginapan dan menyatu dengan sendirinya, bersembunyi diantara mereka.
Zen menduga bahwa sebagian besar dari mereka adalah para pemburu Magische Kerajaan dan sekarang mereka tengah berkumpul untuk pembagian hasil ataupun urusan lainnya.
Kesimpulan itu muncul hanya dari melihat tampang mereka yang seperti pembunuh dengan badan besar nan kekar beserta senjata yang sama besarnya.
Dengan helaan nafas panjang di tengah sesaknya orang orang berbadan besar ini Zen hanya meraih ke sebuah gelas kecil yang ada di depannya kemudian meminum sebuah cairan yang terasa manis asam ketika menyentuh lidahnya dan dia sama sekali tidak tau minuman apa itu, tapi dia cukup menyukainya.
"Ayolah kalian berdua jangan bercanda... Tidak mungkin ada Magische tingkat Strum di hutan... daripada itu..."
Srekk...
"Bagaimana jika kalian berdua ikut bersenang senang bersama dengan kami..." Kumpulan pria yang berada cukup jauh di belakang Zen menarik tangan salah satu perempuan yang terlihat seumuran dengan Zen kemudian memaksa untuk ikut dengannya.
"Oy oy, kalian semua apa yang kalian lakukan... Hentikan itu... Apa seperti itu sikap kalian sebagai pemburu Magische..." Suara yang terdengar bijak dan penuh wibawa menghentikan aksi kerumunan tadi dan membuat mereka melepaskan tarikan tangan dari dua gadis tadi.
"Cih, orang ini datang lagi... Teman teman, kita pergi... Jangan sampai berurusan dengannya..." Melihat kedatangan sosok setengah baya dengan perawakan yang mungkin lebih kecil dari mereka orang orang tadi mulai menyingkir dan pergi begitu saja.
"Sebagai pemburu Magische mereka seharusnya lebih menghormati perempuan... Kalian baik baik saja?" Ucapnya kemudian melemparkan pertanyaan ke arah dia gadis tadi secara spontan.
"Ah yah, terima kasih karena sudah membantu, jujur mereka sangat merepotkan..." Ucap Wanita dengan rambut berwarna rami yang tangannya di tarik tadi.
"Tidak masalah... Memangnya ada urusan apa sampai kalian bisa seperti tadi..." Tanyanya sambil mengangkat telapak tangan, meminta mereka agar tidak merasa sungkan terhadapnya.
__ADS_1
"Benar juga... Tadi kami meminta bantuan mereka untuk mengusir Magische Tingkat strum Ameise yang sedang membuat sarang di dalam hutan..." Jawab cepat gadis yang satu lagi kemudian dengan wajah panik dia segera menjelaskan segala yang ia tau.
"Apa kalian yakin kalau yang kalian lihat itu memang Ameise di hutan... Kalian tidak salah liat kah..." Setelah mendengar penjelasan dari si wanita dengan rambut ponytail berwarna coklat itu si Pria berbadan besar menjadi semakin penasaran.
"Kami yakin sekali... Mereka menyerang kereta keluarga kami dan sekarang para pengawal sedang menahan mereka selagi kami berdua mencari pertolongan..."
"Kenapa baru mengatakannya sekarang... Itu sangat gawat... Kita harus kesana dan menolong keluarga kalian..." Pria tadi percaya dan bergerak dengan panik menuju pintu keluar dimana langkahnya di ikuti oleh dua gadis tadi.
Brukk...
Baru saja berdiri dari tempatnya duduk, Zen kini menabrak seorang yang berjalan dengan tergesa Gesa dan membuat gelas yang ia pegang terjatuh begitu saja.
"Ahh, sial sekali..." Keluhnya sambil mengambil gelas yang terjatuh kemudian kembali berdiri tegap menatap balik orang yang menabraknya.
"Perhatikan jalanmu pak... Disini orang sangat banyak jadi jangan berjalan dengan cepat..." Ucapnya dengan tanpa ketakutan, dia benar benar tidak tau siapa yang ada di depannya dan tidak mau tau.
"Maaf anak muda... Aku sedang Terburu-buru, ada situasi gawat..." Ucapnya kemudian berlalu begitu saja.
"Meskipun begitu kau tidak harus berlari di antara kerumunan orang besar ini..." Ucap kecil Zen ketika pria tadi kembali meninggalkannnya dengan langkah cepat dimana disusul oleh dua orang perempuan lainnya.
• • •
Waktu Yang sama
Terarria Kingdom.
Ini adalah malam pertama yang akan di lalui para pejuang tanpa kehadiran Zen, beberapa di antara mereka kembali berkumpul di kamar Luna bersama dengan Elize.
Malam dengan langit cerah dan angin semilir yang masuk melalui jendela membuat suasana di dalam kamar di selimuti oleh hawa yanh cukup dingin dan sunyi.
Semua orang kembali berdiaman tanpa sedikitpun percakapan dan hanya berkumpul untuk membiarkan pikiran mereka berkecamuk di dalam kepala.
Elize yang menyembunyikan tangisnya di balik bantal yang ia peluk, Luna yang duduk sembari terus memandangi Kakaknya di pinggir ranjang, Hana, Rika, Haru yang duduk tidak jauh dari Shin, Iori, dan Aki beberapa kali betukar pandangan, mereka tahu bahwa tidak hanya Elize yang terus merasa sedih tapi juga ada Nania di suatu tempat di istana yang sedang menangis terisak dan mereka meyakini itu.
__ADS_1
"Kak Elize... Lebih baik Kakak beristirahat Sekarang... Aku yakin kakak akan merasa jauh lebih baik saat bangun nanti..." Luna membuka suara ketika merasa suasana yang ada semakin tidak enak.
Namun dari perkataan yang ia lontarkan sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Elize yang hanya terus menyembunyikan wajahnya.
"Kak Elize..." Luna naik mendekat ke arah Elize kemudian menyentuh pundaknya.
"Uwahhh!!!" Elize melemparkan bantalnya kemudian menjadikan bahu Luna sebagai tempat untuk dia menangis dengan sangat keras.
"Ini terjadi lagi... Kenapa hal ini selalu terulang... Apa yang sebenarnya terjadi..." Ucapnya dengan sesenggukan mencoba untuk memperjelas perkataannya.
"Sudahlah Kak, jangan terlalu dipikirkan itu tidak baik untukmu..." Luna mengelus bagian belakang Elize untuk menenangkan nya.
"Kenapa Zen sampai melakukan itu... Kenapa dia mengatakan bahwa saat kami bertemu nanti kami akan menjadi musuh, kenapa dia berkata seolah olah akan berpisah untuk selamanya... Aku tidak ingin itu... Sama sekali tidak... Kalau memang bisa memilih maka aku tidak ingin bertemu dengannya... Atau mungkin aku berharap tidak bertemu dengannya..." Curhatnya dengan tangisan yang tertahan, dia mencurahkan semua perasaan nya pada semua orang yang hadir kala itu.
"Kak Elize... Sudah cukup... Aku yakin semua ini akan menjadi jelas nanti, kakak hanya perlu bersabar dan menunggu..." Seolah menahan diri agar tidak ikut menangis Luna terus mengusap punggung belakang Elize dengan semakin kuat.
Sampai akhirnya tidak ada lagi suara tangisan dan akhirnya Elize tertidur dalam pelukan Luna setelah terus menangis dalam waktu yang lama.
"Syukur lah kak Elize sudah tidur... Malam ini aku akan tidur dengannya... Jadi kalian boleh meninggalkan kami..." Ucap Luna pada Iori dan yang lainnya.
Mereka menjawab dengan sebuah anggukan kemudian berjalan keluar ruangan, kemudian menutup pintu dan meninggalkan Luna dan Elize yang akan segera beristirahat.
"Hey... apa yang akan kalian lakukan..." Ucap pelan Iori yang berdiri di depan pintu kamar dan berada di paling belakang, dia bertanya pada Shin, Rika, Aki, Haru Dan Hana yang berada di depan.
"Entahlah, aku tidak tau, hanya saja Setelah melihat tangisan Putri Elize tadi... Aku harap hari ini Segera berakhir dan dia segera membaik..." Jawab Rika dengan wajah ceman, meletakkan genggaman tangannya di depan dada seolah tengah berdoa.
"Siapapun pasti tidak akan percaya bahwa Zen melakukan itu semua... Tapi dia mengakuinya... Selain itu yang mulia sudah mengeluarkan perintah perburuan Zen... Bahkan tingkat kesulitannya jauh dari Magische tingkat Katastrophe..." Shin berbicara dia langsung mengingat semua kejadian di istana tadi.
"Yah, aku yakin akan banyak yang memburunya... Tapi bukan itu yang harus di khawatir kan sekarang... Kita bisa menyerahkan itu pada keputusan rapat besok... Semoga saja semuanya tetap berjalan baik... Karena sebentar lagi Relic War akan terjadi, dan jika Zen berada di pihak musuh maka kita semua pasti akan kesulitan..."
"Yah Kau benar..." Pembicaraan berakhir dan semua orang kembali ke kamar mereka masing masing setelah memberikan isyarat pada kalimat terakhir, beberapa langsung terlelap tapi beberapa lagi sama sekali tidak bisa beristirahat karena pikiran mereka terus Berkecamuk.
Memikirkan tentang apa yang akan terjadi kedepannya untuk mereka.
__ADS_1
Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
see u next chapter