
"Kau melakukannya dengan baik untuk ukuran seorang pemula... Kanade Zen..." Suara perempuan yang muncul dari arah belakang mengagetkan Zen yang kala itu berdiri di dekat mayat Kenma dimana hampir seluruh tubuhnya terkoyak.
Dia berbalik dengan tatapan yang begitu intens menatap kearah perempuan yang muncul dengan tiba tiba di dekatnya.
"Filvy..." Ucapnya secara spontan ketika ingatan itu muncul secara tiba tiba di kepalanya.
"Apa yang kau rasakan sekarang Zen..."
"Apa maksudmu..."
"Maksud ku bagaimana perasaan mu setelah membunuh mereka..."
"Biasa saja... Mungkin sedikit merasa lega dan puas... Seperti itulah..." Jawab Zen yang mulai mengingat lagi saat dimana ia mengambil nyawa Kenma dan Saki.
"Seperti yang ku duga..."
"Lalu ada urusan apa kau kemari..." Zen kini mulai memperlihatkan raut wajah yang sedikit serius, dia melihat ke arah Filvy yang berjongkok di depan mayat Kenma.
"Bukankah sudah ku bilang kalau kau akan berada di bawah bimbingan ku sampai tugasmu selesai..." Balas Filvy kemudian meletakkan telapak tangannya di kepala Kenma.
Setelah itu sebuah cahaya berwarna merah muncul dari kepala Kenma yang di sentuh oleh Filvy dan setelah Beberapa saat cahaya merah tadi mulai meredup.
"Apa yang kau lakukan..." Karena penasaran Zen akhirnya memutuskan untuk bertanya ketika Filvy telah kembali berdiri dan mulai mendekatinya.
"Kau tau Zen... Aku hanya mempunyai dua jenis sihir..." Ucapnya kemudian berdiri beberapa jarak dari Zen.
"Lalu...?"
"Yang pertama adalah Mengambil dan yang kedua adalah memberikan..." Filvy mengangkat jarinya kemudian menaikkan jari telunjuk dan jari tengah.
Zen yang otaknya mulai berputar akhirnya menyadari sesuatu, dia menyadari tindakan apa yang di lakukan oleh Filvy tadi.
"Itu berarti barusan kau mengambil sesuatu darinya, dan itu adalah sihirnya bukan..." Terkanya ketika menyadari bahwa wajah Filvy melukiskan sebuah senyum yang terkesan sangat bermakna.
"Itu benar... Dan aku akan memberikan sihirnya padamu..." Wajah Filvy kini ia dekatkan dengan wajah Zen, kemudian bibir keduanya bertemu.
"Apa yang kau lakukan bodoh!!" Mendorong tubuh Filvy dengan kuat kebelakang, Zen sedikit terlihat panik dengan sedikit terlihat memerah.
__ADS_1
"Itu adalah cara untuk memberikan sihir nya... Sebenarnya tidak harus berciuman juga, tapi karena ini bukan yang pertama kalinya jadi itu tidak masalah kan..." Jawab santai Filvy sambil berjalan ke dekat mayat Saki.
"Tentu saja masalah bodoh!!, Lagian apa maksudmu tentang bukan yang pertama... Memangnya sudah berapa banyak kau melakukan itu dengan ku..." Masih dengan raut wajah yang panik Zen mengumpat ke arah Filvy.
"Ahh... Jadi kau melupakannya... Jahat Sekali padahal kita sudah sering melakukannya bersama... Bahkan sampai..."
"Sudah cukup!!, Jangan membicarakannya lagi..." Cegah Zen sebelum Filvy selesai dengan kalimat nya.
"Dasar pemalu, tapi wajah malumu itu juga kelihatan imut kok jadi tidak masalah..." Filvy kini kembali berdiri setelah melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan kepada Kenma.
Dia mendekat ke Zen lagi kemudian menciumnya kembali.
"Baik itu sudah selesai... Dengan begini kau sudah mendapatkan sihir api dan sihir pengerasan..." Ucapnya setelah melepaskan bibirnya.
"Si... sialan Kubilang hentikan bodoh..."
"Tidak usah malu malu Zen... Aku tau kau juga menikmati nya kan..."
"Apa yang kau bilang!, lagipula untuk apa kau memberikan sihir mereka padaku"
"Agar kau lebih kuat tentunya... Hanya dengan sihir bayangan saja kau tidak akan mampu untuk melakukan tugasmu... Karena itulah aku melakukan ini..."
"Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi... Karena ada cara yang lebih baik..." Ucapnya seolah ide hebat baru saja sampai di kepala nya.
"Katakan..."
"Aku akan memberikanmu sihir mengambil dan memberikan milikku padamu..." Ucapnya lagi.
"Benar juga... Itu lebih baik... Berikan padaku..."
"Tidak semudah itu Zen... Aku akan memberikannya padamu kalau kau mau berjanji satu hal padaku..."
"Janji..."
"Yah, berjanjilah kalau kau akan...."
"Haaa?!!!!"
__ADS_1
• • •
Pagi Hari
Terarria Kingdom.
Pagi hari ini adalah pagi yang berbeda dari sebelumnya, dimana yang harusnya disambut dengan ceria sebagai permulaan hari baru seluruh istana kini tengah di gemparkan dengan penemuan dua mayat pejuang di dalam mansion Duke Regard.
Yang menemukannya pertama kali adalah seorang pelayan di kala hari semakin pagi dan mereka baru saja selesai membersihkan ruangan bekas pesta semalam, keduanya ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan dimana Mayat Saki perutnya terkoyak dan Kenma yang wajahnya hampir tidak dapat dikenali.
Mendengar mengenai kabar itu, pada pejuang yang tersisa kini berbondong-bondong datang ke Mansion Duke Regard untuk melihat situasinya, mereka penasaran dan mulai berspekulasi sendiri tentang kejadian yang menimpa keduanya.
"Ini terlalu mengerikan..." Yuuna yang berada di antara para pejuang kini terlihat tengah menahan diri agar tidak muntah ketika bau darah yang mulai membusuk tercium.
Para pelayan yang bertugas di area mansion kini tengah sibuk mengurus mayat keduanya, dengan menggunakan kain berwarna merah mereka membungkusnya kemudian mengangkat nya secara bersamaan menuju ke suatu tempat.
"Siapa yang melakukan ini pada mereka berdua... Padahal Kenma dan Saki tidak pernah menyinggung siapapun selama disini..." Sahut Aki yanh yang tentunya mengenal dua sosok tadi sebagai teman selama mereka dibumi.
"Tidak, aku yakin bukan begitu... Mereka berdua kemungkinan besar tidak sedang di serang... Karena aku menduga mereka berdua bertengkar" Yang berbicara adalah Kodaka, dia terlihat tengah memikirkan sesuatu setelah melihat kejadian barusan.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu Asegawa..." Karena ragu dengan perkataan Kodaka, Aki kembali bertanya dan menuntut jawaban atas ucapan nya tadi.
"Aku melihat bekas lukanya... Beberapa bagian tubuh Saki terkena luka bakar... Selain itu ada beberapa memar di tubuh Kenma... Jika mengingat tentang sihir yang mereka punya maka kemungkinan besar ini terjadi karena keduanya bertengkar..." Kesimpulan dari Kodaka membuat Zen sedikit tenang, karena apa yang dikatakan olehnya barusan sangat objektif dengan apa yang terjadi pada kondisi keduanya saat ditemukan.
"Yah, mungkin saja apa yang dikatakan Asegawa memang benar... Tapi kita juga tidak bisa mempercayai itu sepenuhnya, karena mungkin saja itu adalah taktik dari si penyerang untuk membuat kita mengambil kesimpulan yang salah..." Yuuna berusaha berpikir realistis, kini dia sudah sedikit tenang.
"Benar sekali Yuragi... Kita tetap tidak boleh lengah, karena ada kemungkinan ini adalah kasus penyerangan... Dan bisa saja target selanjutnya adalah salah satu atau mungkin beberapa orang diantara kita..." Ucap Setuju Zen yang kala itu angkat bicara, dia tidak bisa hanya diam saja setelah pendapat dari Kodaka di sanggah dengan mulus oleh Yuuna.
"Apapun itu, tapi untuk sekarang mari kita berdoa agar mereka berdua dapat beristirahat dengan tenang, setelah itu ayo kita minta pendapat Yang mulia tentang ini..." Iori kini nampak sedikit murung, ia berlalu mengikuti para pelayan yang daritadi membawa tubuh keduanya menuju ke suatu tempat yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir mereka.
"Yah, mereka berdua sudah menyelesaikan tugasnya terlebih dulu" Sahut Shin mengikuti Iori dan kemudian diikuti lagi oleh Para pejuang.
Sementara Zen yang berada di belakang kini menatap ke arah Yuuna dengan tatapan dingin yang begitu Intens, matanya terlihat memancarkan aura membunuh yang begitu kuat ketika melihat Yuuna yang berjalan di depannya.
"Mungkin aku akan sedikit menegurnya lain kali..."
Note : Tetap support author biar Novel ini tetap update terbaru...
__ADS_1
see u next chapter