
"Lepaskan.... Gehhh" Anak laki laki yang tangannya di tahan oleh Zen itu memberontak sambil menarik narik lengannya dengan paksa.
Bruakk...
Buah buahan yang dia simpan di dalam bajunya jatuh ke tanah berserakan bersama dengan tubuhnya yang tersimpuh sambil menatap ke buah yang berjatuhan tadi ketika Zen melepaskan genggaman tangan nya.
Dengan gerakan cepat ia mengumpulkan kembali buah buahan yang jatuh di sekitarnya dan Zen hanya memperlihatkan apa yang di lakukan oleh anak laki laki itu.
"Sudah cukup pencuri... Kali ini aku tidak akan melepaskan mu..." Suara dari belakang terdengar memburu bersama dengan ucapannya yang membangunkan perhatian semua orang yang lalu lalang.
Zen berbalik dan mendapati seorang pria paruh baya yang datang dengan sebuah tongkat pendek di tangannya, berjalan dengan tergesa Gesa ke arah anak laki laki yang masih mengumpulkan buah buahan yang jatuh.
"Akhirnya kau tertangkap juga... Sekarang ikut aku... Akan ku serahkan pencuri seperti mu kepada penjaga untuk di penjara..." Ucapnya lagi kemudian menarik paksa lengan anak laki laki tadi.
"Tidak lepaskan aku..." Membela dirinya anak laki laki tadi kembali memberontak sambil menahan bajunya agar buah buahan yang sudah ia kumpulkan tidak jatuh kembali.
Grekkk...
"Gahhhh!!!" Pria tadi berteriak ketika gigitan yang begitu kuat melukai bagian atas telapak tangannya, dimana anak laki laki tadi nampak sedang mencoba usaha terakhir untuk melepaskan diri.
"Bocah sialan!!!" Marah dengan tindakan yang dilakukan oleh anak laki laki tadi, pria itu mengangkat tinggi Tongkat pendeknya dan mengarahkan langsung ke tubuh anak laki laki yang kini nampak cukup ketakutan.
Sleppp...
"Baik paman, tidak perlu sejauh itu... lepaskan dia, Aku akan membayar makanan yang ia curi..." Ucap Zen yang akhirnya mulai bereaksi sesaat sebelum tongkat pendek itu mencium tubuh sang anak laki laki yang mulai meringkuk dan bersembunyi di balik lengannya.
"Apa katamu... Dia tidak boleh di lepaskan... Dia sudah berulang kali mencuri dagangan ku... Apa kau pikir aku akan melepaskan nya begitu saja..." Balas sang pria paruh baya yang tangannya tertahan oleh Shadow Hand yang muncul dari belakang Zen.
Tidak menjawab pertanyaan dari si pria paruh baya, Zen kembali mengeluarkan sebuah shadow hand dari arah belakang yang kini membawa sebuah kantung kulit berukuran kecil, kemudian dia lemparkan ke si pria paruh baya yang matanya sedikit ketakutan.
"Di dalamnya ada sekitar 1.500 Ril... Apa cukup?" Ucap Zen menatap tajam ke si pria paruh baya.
[p.s : Ril adalah mata uang yang digunakan di dunia lain]
"Darimana kau menda-"
"Aku tanya apa itu cukup?" Zen menambah kesan penekan pada ucapannya lagi sambil menatap dengan sangat menakutkan dimana mata birunya siap untuk menghabisi si pria yang mulai bergetar.
"I... I.... Ini cukup" Jawabnya gemetaran.
"Kalau begitu pergilah..." Usir Zen kemudian dengan langkah cepat yang gemetar si pria pergi dari hadapan Zen sambil membawa kantung berisi uang.
"Sekarang berdirilah dan pungut kembali makananmu..." Ucap Zen memandangi anak laki laki yang ada di depannya.
Mengikuti perintah dari Zen, si anak laki laki berdiri dan memungut kembali buah buahan yang kembali berserakan untuk kedua kalinya.
"Te... Terima kasih paman..." Ucapnya sedikit gugup, kemudian berbalik dan ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Tunggu dulu..." ucap Zen menahan bahu si anak laki laki.
"Maafkan aku... Aku tidak punya uang untuk menggantinya... Tapi pasti akan ku ganti suatu saat... Rumah ku ada di gang sana... Kau bisa pergi dan menagihnya kapan kapan... Jadi maafkan aku..."
"Aku tidak membahas soal itu..."
"Ja... Jadi..."
__ADS_1
"Kenapa kau memanggilku paman... Apa aku terlihat setua itu sampai sampai kau memanggilku paman hah????" Tatapan mata Zen Sangat tajam begitupun nada bicaranya yang terdengar seperti sedang mengancam.
"Maafkan aku!!" Tubuh anak laki laki itu bergetar ketakutan ketika menyaksikan tatapan langsung dari Zen.
"Aku masih muda jadi panggil aku Zen..."
"Ta... Tapi paman..."
"Aku bilang panggil aku Zen!!!"
"Ba... Baik kak Zen..."
"Bagus... Sekarang jelaskan padaku kenapa kau mencuri... Dan kemana orang tua mu..." Tanya Zen yang sudah kembali seperti biasa.
Beberapa saat menunggu tapi tidak ada jawaban dari si anak laki laki yang berdiri mematung di depan nya.
"Kalau ingin tau, kak Zen bisa ikut aku kerumah... Akan ku jawab di sana..." Ucapnya setelah beberapa saat berpikir.
"Boleh saja... Tapi sebelum itu katakan siapa namamu..."
"Daven... Namaku Daven..."
"Baiklah Daven... Aku harap kau bisa memberiku penjelasan yang bagus tentang ini..."
"Tentu, mari ikuti aku kak Zen..." Ajak Daven kemudian melangkah sambil terus menatap ke bawah tanpa memperhatikan ke depan sama sekali, membuat Zen sedikit keheranan tapi dia hanya menghiraukan nya dan hanya terus mengikuti nya dari belakang.
Keduanya berjalan menyusuri ramainya warga yang berada di jalanan malam ibukota kerajaan Nipotia, tapi semakin mereka berjalan jauh semakin berkurang pula orang yang terlihat sampai akhirnya Zen dan Daven sampai di sebuah jalan buntu yang dimana terdapat sebuah gang kecil di samping kanannya.
Masuk ke dalam gang kecil tadi, Zen menutup hidungnya ketika bau yang menyengat menutupi semua Indra penciuman nya, bau seperti bangkai yang masih baru membusuk beberapa hari di tambah dengan aroma sampah yang menyerebak.
"Kita sudah sampai... Disinilah aku tinggal..." Ucap Daven sambil melangkah mendekat ke arah tenda kecil.
"Kakak!!"
"Yeayyy kakak sudah pulang, aku sangat lapar..."
"Hmm... Apa kak Daven membawa makanan?"
Kemunculan tiga anak kecil yang muncul dari dalam Tenda, Zen sedikit melangkah mundur sembari melihat kemunculan tiga anak kecil yang dimana terdiri dari dua anak laki laki dan satu anak perempuan.
"Tenang saja... Kakak sudah membawa makanan, masuklah dulu dan kita akan makan bersama..." Ajak Daven yang dimana tergambar sebuah wajah penuh perhatian kepada anak anak yang dipikir Zen adalah adik nya Daven.
"Asyik..."
"Kak Zen juga masuklah..." Ajak Daven yang masuk dengan kaki telanjang.
"A... Ah... Baiklah..." Angguk Zen kemudian ikut masuk ke dalam tenda yang mungkin sedikit sempit untuk lima orang.
Dan Kini kelimanya duduk melingkar dengan buah buahan yang beraneka macam di bagian tengah dimana hanya di sinari oleh cahaya jingga dari lentera tua yang tergantung di atas.
"Baik, sebelum makan Dina, Dino, Dion jangan lupa untuk berdoa dulu... Ucapkan rasa terima kasih pada tuhan atas makanannya yah..." Ucap Daven ketika menyaksikan wajah senang adik adiknya.
""Baik kak"" Jawab ketiga adiknya secara bersamaan, kemudian ketiganya mengepalkan tangan di depan dada sambil menutup matanya, diikuti oleh Daven yang juga berdoa.
"Kak Zen makanlah juga..." Tawar Daven ketika dia dan adik adiknya sudah selesai berdoa dan mulai makan.
__ADS_1
"Tidak, kalian Makanlah..." Tolak halus Zen yang ikut menyaksikan wajah senang ketiga adik kecil Daven saat tengah menyantap makanan yang tersedia di depan mereka.
"Maaf bertanya tentang ini, tapi dimana orang tua kalian..." Tanya Zen dengan suara pelan seolah berbisik pada Daven.
"Mereka bertiga adalah anak kembar... Dan ibu kami meninggal sesaat setelah melahirkan mereka... Ayahku entah berada di mana, 6 bulan lalu dia bilang akan pergi sebentar untuk mencari sesuatu di luar ibukota tapi sampai sekarang belum kembali..."
"Jadi dari awal kalian sudah tinggal disini hanya berempat?"
"Bukan... Awalnya kami punya rumah sendiri di pusat kota... Tapi karena tidak mampu membayar pajak jadi rumah kami di sita oleh bangsawan yang mengelola Distrik pusat... Jadi karena tidak punya tempat tinggal lain kami jadi membangun tenda kecil disini... Walaupun ini juga adalah area terlarang untuk membangun tempat tinggal..." Jelas Daven, membelas apel yang ada di tangannya dengan kuku panjang yang kelihatan cukup kotor.
"Area terlarang maksudnya bagaimana..."
"Disini adalah area milik salah seorang bangsawan... Kami mendirikan bangunan tanpa sepengetahuan darinya dan beberapa hari lalu kami ketahuan dan disuruh untuk pergi dari tempat ini... Tapi karena tidak tahu lagi harus pergi kemana jadinya kami masih menetap disini..."
"Apa mereka tidak melakukan sesuatu yang mengancam?"
"Untuk sekarang belum ada... Mereka hanya memberi ancaman agar kami segera pindah dari sini..."
"Begitu... Syukurlah" ucap lega Zen.
"Beberapa hari lagi aku akan berusia lima belas tahun... Dan saat itu aku akan bekerja sebagai pemburu Magische... Dengan begitu aku bisa mendapatkan uang dan menyewa sebuah penginapan..."
"Pemburu Magische yah... Itu cukup berat jika kau tidak memiliki bakat dalam pertarungan..."
"Tenang saja kak... Aku bisa beberapa bela diri karena ayahku dulunya adalah seorang Pasukan kerajaan... Jadi dia mengajarkan ku beberapa teknik untuk membela diri... Selain itu aku juga sudah punya atribut sihir sendiri... Hanya tinggal menunggu usiaku enam belas tahun sebelum aku mendapatkan Relic..." Jawabnya sedikit tersenyum lega.
"Jadi sihir apa yang kau punya..."
"Entahlah aku juga tidak terlalu mengerti bagaimana cara kerja sihir ini... Tapi dari penilaian sihir mereka menyebutkan kalau atribut sihir ku adalah Pemakan dimensi..."
"Pemakan dimensi katamu..." Zen sedikit berteriak ketika mendengar langsung ucapan dari Daven yang membuat adik adiknya berhenti makan untuk sebentar.
"Ada apa kak Zen... Kenapa berteriak seperti itu..."
"Daven... Apa kau sudah pernah menggunakan sihir itu sebelumnya..." Tanya Zen.
"Karena tidak tahu cara kerjanya jadi aku tidak pernah menggunakannya... Kenapa bertanya seperti itu..."
"Dengar kan aku Daven... Sihirmu adalah Void atau kehampaan... Dan dengan sihir itu kau bisa melenyapkan apapun yang berada dalam jangkauan kehampaan... Singkatnya sihirmu itu sangat kuat sekaligus berbahaya disaat yang bersamaan..."
"Begitu... Aku tidak begitu mengerti tapi secara garis besar aku paham dengan apa yang kak Zen katakan..." Mata Daven berbinar sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Baguslah... Besok bersama denganku... Akan ku ajari kau bagaimana caranya menggunakan sihir itu... Tapi berjanji lah jika kau paham cara menggunakannya kau tidak akan melakukan sesuatu yang salah..."
"Baik aku berjanji, kalau sihir ini bisa membuat ku menjadi kuat untuk melindungi adik adikku maka mohon ajari aku kak Zen..."
"Bagus... Besok siang kita akan bertemu lagi... Untuk sekarang pastikan kau untuk beristirahat... Karena besok akan jadi hari yang melelahkan..."
"Baik!!"
'Sepertinya aku mendapatkan tugas sampingan lainnya...'
Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru
see u next chapter
__ADS_1