
Teruntuk,
Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Para Pejuang atau siapapun yang menemukan surat ini, dan terkhusus Putri Elize.
Saya meminta maaf untuk keegoisan saya yang mungkin akan menyulitkan keadaan kalian, Tapi saya mohon untuk diberikan izin pergi dari Istana, Ketika surat ini sudah terbaca artinya saya sudah jauh.
Saya akan mencari dan mengejar dia, dia yang bersedia menerima saya, dia yang begitu egois dan serakah dengan kata Kuat dan Bahagia, Izinkan saya mencari dan menemukan Zen, Saya janji akan membawanya kembali secepat mungkin dan saya pastikan akan mengembalikan nya seperti semula.
Tertanda, Nania.
"Nania..."
Secarik kertas yang dia genggam mulai terlihat kusut, bahkan tinta yang digunakan untuk menggores huruf diatasnya kini sudah mengering dan menyatu sempurna dengan kertasnya menandakan bahwa apa yang tertulis disana sudah lewat beberapa jam semenjak selesai ditulis.
Surat yang ia temukan tepat di depan pintu kamarnya itu sepertinya membuat ia semakin terguncang, kesedihan yang ia rasakan belum sepenuhnya hilang tapi hatinya memaksa untuk tetap kuat agar ia tidak terus jatuh dalam keterpurukan.
"...."
"Kak Elize... ada apa..." Luna yang muncul dari arah belakang tidak membuatnya terkejut, dia masih berusaha mempertahankan kewarasan yang ada di dalam kepala sekuat mungkin.
Luna menyadari bahwa Kakaknya itu tengah dalam perasaan gundah, tapi ia tidak menyangka bahwa akan membuatnya begitu terjatuh, ia melirik ke arah tangan Elize dimana terdapat secarik kertas disana.
"A... apa yang kak Elize baca... sebuah surat?" Tanyanya dengan hati hati dan sedikit pelan dari biasa.
Elize sama sekali tidak memberikan respon jawaban terhadap pertanyaan Luna dan hanya sedikit memutar tubuhnya dan berbalik menghadapi sosok Adik semata wayangnya itu.
Ia mendekap nya secara langsung tanpa ada basa basi terlebih dulu, meletakkan kepalanya di bahu Luna dan terdengar sedikit terisak, perbedaan tinggi keduanya bukan lah sebuah masalah yang harus diperhitungkan.
Luna tidak tahu menahu mengenai apa yang membuat Elize kembali terisak, malah dia mengira bahwa Elize sudah bangkit dari keterpurukan nya semalam, tapi apa yang sedang ia hadapi sekarang adalah kebalikan dari semua yang ia kira, sehingga air mata yang sama kini turun dari sudut matanya.
Kesedihan yang Elize bagi mampu membuatnya merasakan hal yang sama, itu bukanlah luka Fisik melainkan sebuah Luka pada hati kecil Elize, yang dimana berkali lipat lebih menyakitkan daripada Luka Fisik yang pernah ia alami.
"Luna... tolong katakan padaku bahwa ini bukanlah sebuah kebenaran..." Elize membuka suara, dalam isakan tangis yang membuat suaranya agak teredam, sebaris kalimat yang ia tujukan semaki membuat Luna terpaku dalam kesedihan.
"Kak Elize... bertahanlah... jangan menangis terus, Nanti... nanti aku juga ikut menangis..."
Meskipun apa yang ia ucapkan berbanding terbalik karena sedari tadi ia sudah masuk dalam dunia kesedihan milik Elize, Luna menyeka air matanya dan berusaha berhenti menangis, bagaimanapun ia harus terlihat kuat agar bisa menghibur Sang Kakak.
Ia mendorong tubuh Elize agak menjauh darinya dan mengambil selembar kertas yang tadinya berada dalam genggaman Elize, membaca dengan cepat kini ia mengerti kenapa Elize kembali bersedih.
"Kak Elize..." Tekad yang kuat terpancar dari matanya itu, Ia memegang bahu Elize yang masih bergetar dan menatap lekat lekat matanya, Berusaha menyampaikan sesuatu tapi sebelum itu ia mengisyaratkan pada Elize agar berhenti tersedu.
"Aku percaya pada Nania... mungkin saja ia akan benar benar membawa kembali Pejuang Zen... tidak, dia pasti akan membawanya kembali... Bagaimana dengan kak Elize sendiri..." Ujar Luna sesaat setelah mendapatkan perhatian penuh dari sang kakak.
"....." Elize masih tidak menjawab dan hanya terus menatap Luna seolah meminta penjelasan dari apa yang baru saja ia katakan.
"Disaat Nania sudah bangkit dari kesedihannya... dan memutuskan apa yang akan ia lakukan... Apa kak Elize akan diam saja dan terus meratapi kepergian Pejuang Zen..." Lanjut nya.
"Ak... aku..." Elize berbicara dengan suara yang tertahan dan agak terbata bata.
"Kuatlah kak Elize... Sudah cukup bersedihnya... Sekarang adalah saatnya untuk membuat keputusan tentang apa yang akan kak Elize lakukan... Bersedih tidak akan membuat Pejuang Zen kembali..."
"Luna..."
__ADS_1
"Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh putri Luna"
Suara yang muncul membuat kedua kakak beradik itu mengalihkan pandangan, melihat kearah sekumpulan orang yang muncul dengan wajah siap.
"Saya yakin Kanade bertindak seperti ini dengan sebuah alasan, dan jika kita mengetahui nya kita pasti bisa membawanya kembali..."
Suara Khas Iori yang terdengar begitu percaya diri membuat kesedihan diwajah Elize berangsur-angsur memudar.
"Saya adalah orang yang paling dekat dengan Zen dulu... dan saya tahu betul seperti apa dia... jadi... saya yakin semua ini ada alasannya..." Shin yang berada dalam sekumpulan pun ikut angkat bicara.
"Kak Elize..." Luna memanggil.
"Tidak perlu menanggung semuanya sendirian... Kami pasti akan ikut membantu menyelesaikan masalah ini.."
Kesedihan yang semakin tidak terlihat itu membangkitkan sedikit senyum hangat Elize, Cuaca yang berangsur menjadi dingin membuat senyum kecilnya menjadi makin hangat, dia mendapatkan harapan melaui adiknya dan bahkan para pejuang yang lain.
"Terima kasih... Semuanya..."
~ ~ ~
Trekk.. Trekk... Trekk..
"Sampai kapan kau akan berlari Nona!!"
Langkah cepat kuda yang dipacu oleh Nania kini mulai melambat, Dia sedikit berkeringat ketika kembali menoleh dan melirik ke arah belakang nya dimana segerombolan bandit kini tengah mengejarnya dengan kecepatan yang sama.
Nania sama sekali tidak mematuhi perintah dari bandit tadi dan hanya terus memacu kudanya, pikirnya jika ia berhadil sampai ke suatu desa atau kota maka dia akan aman dari kejaran bandit maka daru itu dia hanya menahan rasa takutnya dan terus memacu melawan arah angin.
"!!!"
Brukk...
Setelah berhasil menyusul Kuda yang ditunggangi oleh Nania dengan sekuat tenaga ia menendang ke arah punggung samping kudanya yang alhasil membuat Kuda Nania terjatuh kesamping dan tubuhnya terlempar beberapa meter dan terseret di atas jalan bebatuan.
"Akhirnya tertangkap juga" Kuda yang berhenti tidak jauh dari tempat Nania terjatuh menurunkan sosok berbadan kekar dengan wajah penuh luka, matanya menatap dengan penuh kepuasan saat Nania terlihat masih beurusan dengan luka ditubuhnya.
Srekk...
"Apa?, kau mau melawan kami?" Ucap bandit tadi ketika melihat Nania meraih pedang yang ia sarungkan Dipinggang kemudian memasang kuda kuda nya, ia tidak berpikir bisa menang melawan segerombolan bandit yang mungkin berjumlah tidak kurang dari 20 orang itu tapi setidaknya dia berpikir tidak kalah tanpa melawan.
"Nona manis... bagaimana kau menyerah saja... dan ikutlah dengan kami... sangat disayangkan bila wajah manis dan cantik mu itu akan terluka saat bermain dengan kami..."
"Majulah kalian..." Meski tubuhnya terluka dan nafasnya mulai terdengar memburu Nania sama sekali tidak mengendurkan tekadnya untuk melawan.
"Yah biar sajalah, Aku suka gadis yang keras kepala dan tangguh... kalian... serang dia..." Perintah nya pada beberapa orang anak buahnya yang mulai maju menyerang Nania.
Nania yang menunggu serangan itu datang menaruh bilah pedangnya kesamping dan mengamati arah serangan bandit yang mulai menyerangnya.
Trankk....
Satu serangan berhasil ia halau, ia berpindah dengan cepat ke arah belakang penyerang dan menendangnya jatuh, tak lama serangan kedua dari penyerang yang lain datang, Nania menyerong dan berhasil menghindari serangan tadi dan membalasnya dengan menusuk satu lengan bandit tadi.
"Hoo... rupanya kau cukup terampil dalam bertarung" Puji bos bandit tadi, meskipun dia merasa tidak baik membiarkan Nania tetap menyerang anak buahnya.
__ADS_1
"Serang dia secara bersamaan..!!" perintah nya kembalu kemudian semua bandit bergerak bersama.
"!!!"
Trankk..... trankk... trankkk
Srettt...
Brukk...
"Hahaha..."
Tawa puas itu terdengar setelah salah seorang dari bandit tadi berhasil mendaratkan serangan ke arah Kaki Nania yang dimana membuat kuda kudanya jadi goyah dan dapat dijatuhkan hanya dengan satu serangan saja.
"Lepaskann!!" Erangnya ketika kedua tangannya di tahan dan kakinya juga ditahan.
Dia sama sekali tidak bisa melarikan diri, dan hanya memberontak minta dilepaskan, tapi sudah dipastikan bahwa permintaannya itu tidak akan dipenuhi.
"Horaa... dimana wajah tangguhmu tadi..." Ucap sang bos bandit yang sudah berdiri di hadapan Nania yang tertahan, dan wajahnya berangsur-angsur menyerah.
"Tenang saja... aku akan lembut padamu diawal..." Ucapnya dengan memasang wajah mesum.
"Ti.. tidak..." Nania menolak ketika tangan sang bos bandit mulai mengarah ke tubuhnya.
Dia menutup mata nya karena tidak berhasil menolak dengan memberontak.
"Meledaklah!"
Crazz...
"Bosss...!" Sang anak buah berteriak ketika dia melihat kepala sang bos meledak tanpa ada basa basi terlebih dulu, darah merembes kemana mana bahkan mengenai wajah Nania.
"A... apa..." Nania membuka matanya kembali ketika merasa bahwa tubuhnya tidak lagi tertahan oleh siapapun dan sadar bahwa bau darah telah menyelimuti tubuhnya.
Para bandit tadi kini telah berkumpul dan bersiap untuk menyerang seseorang yang berada di depan mereka.
"Kalian menghalangi..." Ucap suara yang terdengar seperti suara laki laki, Nania berdiri kemudian melirik ke arah sosok dengan rambut berwarna silver yang menyembunyikan mulutnya di balik jubah hitam yang ia kenakan.
"Se.. serang dia..."
Para bandit maju, dengan segera menyerbu sosok laki laki misterius yang muncuk entah dari mana itu, dan laki laki itu sama sekali tidak merespon terhadap serangan para bandit yang mulai mendekat kearahnya, dengan tenang ia menarik kebawah jubah yang menutupi mulutnya.
"Terhempaslah" Ucapnya dengan sedikit berteriak.
Bruakk...
Setelah mengucapkan itu semua bandit yang mengepungnya langsung sana terlempar kesegala arah bahkan ada yang terlempar dekat dengan Nania.
"Apa kau baik baik saja...?"
Note : **HOLLA GUYS... IT'S UR AUTHOR KIRASHI... SORRY BARU BALIK LAGI HEHE:)
NANTIKAN KELANJUTAN NYA YAH**...
__ADS_1