The Traitor : Relic War

The Traitor : Relic War
Chp. 18 Pengantaran Perbekalan Berujung Candaan Yang Memberikan Harapan Palsu


__ADS_3

"Tunggu dulu bagaimana caranya kau bisa sampai kesini..." Patricia melompat dari tempatnya duduk karena kaget dengan kemunculan Zen Yang sangat tiba tiba.


"Anda bertanya bagaimana bukankah sudah jelas?...Dengan sihir, bukankah Anda bilang kalau kami boleh menggunakan segala macam cara agar bisa sampai disini?, Karena itu saya menggunakan sihir untuk sampai kesini..." Jawab Zen dengan sangat cepat seolah dia sangat tenang di situasi sekarang.


"Maksudnya apa kau hanya menggunakan sihir?" Tanya Haley yang nampak cukup tenang.


"Yah, begitulah..."


"Tapi ini baru beberapa saat sejak kami meninggalkan kalian... Bagaimana caranya kau bisa sampai secepat ini dengan sihir... Bahkan jika kau menggunakan sihir spatial jaraknya akan sangat jauh dan banyak menghabiskan mana..." Patricia yang masih tidak percaya kembali memulai debat pada Zen.


"Kenapa anda mengira kalau saya menggunakan sihir spatial... Padahal atribut sihir saya adalah bayangan..."


"Sihir Bayangan, jangan bilang sewaktu ujian masuk yang kau gunakan juga sihir bayangan..."


"Benar... Harusnya anda sudah tau dengan hanya melihatnya..."


"Tapi sihir itu bukannya-"


"Sudahlah Bu Patricia... Mungkin bagi beberapa orang sihir bayangan adalah Sihir tingkat rendah, tapi mungkin saja dia akan menjadi orang yang mematahkan stigma semacam itu... Buktinya dia berhasil sampai disini dengan waktu singkat..." Haley berdiri, menepuk pundak Patricia sambil membela Zen.


"Anda benar pak Haley... Sepertinya saya memang salah sangka... Saya tidak tau kalau sihir bayangan akan sehebat ini..." Menyerah dengan argumennya yang di patahkan oleh Haley, Patricia menarik napas kecil kemudian duduk kembali.


"Yah tapi, meskipun kau bisa menjangkau jarak sejauh ini, bukankah itu sangat banyak menggunakan mana?" Tanya Haley ketika Patricia sudah duduk dengan tenang.


"Tidak, sihir yang saya miliki bukan hanya jenis pembentukan tapi tipe tetap dan penerapan... Saya rasa Pak Haley sudah tau maksudnya..." Jawab Zen.


"Jadi kau ingin bilang kalau kau menggunakan sihir bayangan tanpa mengorbankan mana sedikit pun?"


"Tidak tidak... Tentu saja saya tetap menggunakan mana untuk merapalkan sihirnya, hanya saja karena bayangan itu sendiri sudah ada jadi saya tidak perlu repot - repot untuk membentuk nya terlebih dulu karena itu akan sangat tidak efisien..." Zen mengayun ayun tangannya membantah dugaan dari Haley.


"Begitu yah, sepertinya kau sangat ahli dalam menganalisis yah, sejauh ini kau sudah berhasil menghilangkan anggapan ku kalau sihir bayangan adalah sihir yang tidak berguna..." Jawab Haley.


"Sebenarnya saya hanya sedikit memahami tentang sihir ini, yah anda bisa menganggap nya sebagai pemahaman umum..."


"Kau akan menjadi ancaman..." Ucap Haley pelan sesaat setelah ia menatap wajah Zen.


"Yah?" Tanya Zen dengan wajah heran merasa mendengar sesuatu.

__ADS_1


"Tidak, saya bilang kau boleh pergi istirahat duluan... Syukurlah kau ada disini dengan begitu kau akan membantu meringankan tugas kami, benar bukan Bu Patricia?" Ucap Haley mengalihkan pembicaraan.


"Yah, kira kira begitulah..."


"Maksudnya apa?" Tanya Zen heran dengan maksud perkataan Haley dan Patricia.


"Karena kau sampai secepat ini kau akan menjadi salah satu pengawas tes kali ini... Tugasmu adalah mengantarkan perbekalan kepada setiap orang yang sedang menuju kemari..." Jawab Haley menunjuk ke depan rumah di mana banyak Tumpukan kotak yang di susun dengan sangat rapi.


"Baiklah akan saya lakukan..."


"Terima kasih Zen Kanade... Kau benar benar sangat membantu..."


"Tidak masalah..."


• • •


Malam Hari...


Zen turun dari lantai dua sambil mengusap usap kepalanya menuju ke arah meja yang dimana terdapat Haley dan juga Patricia yang tengah duduk sambil melihat ke arah sebuah cahaya yang kelihatan seperti peta.


"Yah begitulah... Terima kasih sudah mengizinkan ku untuk beristirahat..." Jawab Zen kemudian berdiri tepat di samping Haley.


"Baguslah... Kalau begitu ini saatnya untuk mengantar perbekalan... Sebelum itu saya akan mu tunjukkan dulu lokasi para murid..." Patricia mengangkat jari telunjuk dan menunjukkan sebuah titik merah yang ada di peta cahaya.


"Titik titik ini adalah lokasi para murid, tugasmu adalah mengantarkansatu persatu perbekalan ke daerah titik merah ini dan menyerahkan langsung pada mereka... Kau mengerti..."


"Yah itu sangat mudah dipahami.."


"Bagus kalau begitu mulailah mengantar... Saya sudah membagi perbekalan sesuai jumlah para murid dan sudah ku susun rapi di depan... Pergi ambil Dan segera antarkan, ingat satu murid hanya mendapatkan satu perbekalan..." Ingat Patricia ketika Zen baru ingin melangkah menuju keluar.


"Baik baik..."


Zen yang kini sudah tiba di luar tengah memandang ke arah barisan kantung kulit yang tepat di samping pintu keluar, ukurannya cukup kecil dan membuat Zen bertanya apa isi dari kantung kulit itu, yah meskipun jawabannya sudah jelas kalau itu adalah perbekalan.


"Shadow Magic: Ingestion" Rapal Zen memasukkan kantunh kulit tadi ke dalam ruangan Bayangan nya agar pengantaran dapat berjalan lebih mudah nantinya.


"Shadow Magic : Reach Enchancer" Tertelan masuk ke dalam bayangan nya sendiri Zen kini sudah menghilang sepenuhnya.

__ADS_1


"Yoo, selamat malam..." Sapa Zen yang muncul di hadapan seorang murid saat dia tengah bersandar di batu besar bersama dengan empat orang Lainnya.


"Huwahh!!!" Menyeret tubuhnya ke belakang, murid laki laki tadi nampak ketakutan dengan kemunculan Zen dari dalam tanah secara tiba tiba, dia meringkuk di bahu seorang murid perempuan yang tidak dikenal oleh Zen.


"Kalian ketakutan? Ayolah aku bukan hantu..." Desah Zen merasa tersakiti dengan reaksi kelima orang itu, bagaimana mereka tidak takut jika di malam yang gelap dimana hanya ada sinar bulan sosok misterius tiba tiba muncul dari tanah dan mengejutkan mereka semua.


"Baiklah baiklah aku akan langsung pergi setelah memberikan perbekalan pada kalian..." Ucap Zen.


"Perbekalan?"


"Yah benar... Ambillah" Zen mengeluarkan lima Shadow Hand dari arah belakangnya, dan di setiap shadow hand tadi menggenggam sebuah kantung kulit yang Zen simpan sebelumnya.


Para murid menangkap kantung kulit yang dijatuhkan oleh shadow hand milik Zen dengan wajah heran.


"Dari mana ini, dan siapa kau..." Tanya murid yang sebelumnya meringkuk setelah memastikan bahwa Zen bukan orang yang berbahaya.


"Sepertinya aku memang kurang terkenal... Yah aku juga sama seperti kalian murid yang menjalankan Tes Fisik... Dan aku dari kelas B... Dan perbekalan itu dari para pengawas..." Jawab Zen.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini..."


"Kau bertanya seperti orang bodoh saja... Tentu saja para pengawas yang menyuruh ku untuk memberikan ini pada kalian..."


"Mungkinkah kau sudah sampai di garis akhir..." Dia bertanya dengan wajah kaget heran dan beberapa Ekspresi tak percaya lainnya.


"Kau mendapatkan seratus poin..."


"Tapi bagaimana bisa... Lupakan, kumohon bawa kami ke garis akhir... Kami sudah tidak sanggup lagi, tes ini terlalu berat... Kumohon... Kami akan melakukan apapun asal kau berjanji akan membawa kami ke garis akhir bersamamu.." pintanya dengan wajah yang kelihatan sangat putus asa.


"Hahaha... Baiklah... Baiklah... Aku akan membawa kalian..." Zen tertawa kecil sambil menyipitkan matanya.


"Syukurlah... Terima ka-"


"Hanya bercanda... Silahkan lanjutkan Tesnya aku akan mengantar perbekalan pada yang lain... Semoga berhasil" Zen memotong kalimat murid tadi kemudian secara cepat masuk kembali ke dalam bayangannya, meninggalkan kelima murid yang sudah kehilangan harapan.


Note : Tetap Support Author biar Novel ini tetap update terbaru...


see u next chapter

__ADS_1


__ADS_2