TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Aku adalah ayah kalian


__ADS_3

"Jimmy, bangun Sayang! Kamu harus pergi ke sekolah. " Lisa membangunkan Jimmy yang sedang tertidur pulas.


"Lima menit lagi Ibu. " Jimmy menarik selimutnya.


"Tidak ada Lima menit Jimmy. Adik-adikmu sudah bangun, mereka sedang bersiap-siap. Lalu bagaimana denganmu." Lisa menarik selimut Jimmy, kemudian menggendong Jimmy menuju depan pintu kamar mandi.


Setelah sampai di depan pintu kamar mandi. Lisa menurunkan Jimmy.


"Kamu mau mandi sendirian, atau Ibu yang memandikanmu." Lisa meletakkan tangannya di pinggang.


"Aku sudah besar Ibu. Aku bisa mandi sendirian." Jimmy dengan malas mengucek matanya sendiri dan masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu kamar mandi.


"Anak itu." Lisa tersenyum tipis.


Kemudian Lisa membereskan meja belajar Jimmy. Ia melihat beberapa foto yang di selipkan di dalam buku.


"Ini kan foto Ayah dan Ibu. Ha, ini foto Kirana dan Tika." Lisa melihat satu persatu foto yang ada di sana.


"Ini foto Rivaldo. Dan pria ini, kenapa foto Adam Manggala juga ada di sini. " Lisa memperhatikan foto Adam Manggala.


"Adam Manggala ini lumayan tampan juga ya." Lisa melihat foto Adam yang lainnya.


"Kalung ini. Kalung ini sama persis dengan kalung yang di tinggalkan seorang pria di malam itu. Jangan-jangan... " Lisa memfoto kembali foto itu dengan menggunakan ponselnya.


Kemudian Lisa pergi dari kamar Jimmy. Ia berusaha bersikap tenang saat menuruni tangga.


"Makanannya sudah siap Bi?" Lisa mendekati Bi Minah.


"Sudah Nona. " Bi Minah membawa makanan itu ke meja makan dengan di bantu oleh Lisa.


Tak beberapa lama kemudian, Jimmy menuruni tangga. Kemudian dia duduk di kursi meja makan.


"Baiklah anak-anak, ayo sarapan pagi dulu sebelum pergi ke sekolah." Lisa berusaha bersikap tenang padahal ia terlihat gelisa.


Kemudian ketiga bocah itu sarapan bersama-sama. Mereka menyantap sarapan mereka dengan sangat lahap.


Setelah sarapan, mereka berpamitan kepada Ibu mereka untuk pergi ke sekolah.


"Alis pergi ke sekolah dulu Ibu. " Alis mencium punggung tangan Ibunya dan memeluk Ibunya.


"Tommy pergi ke sekolah dulu Ibu. " Tommy mencium punggung tangan Ibunya.


"Jimmy pergi ke sekolah dulu Ibu. Jimmy menyayangi Ibu. " Jimmy memeluk Ibunya.


Kemudian ketiga bocah itu pergi ke sekolah di antar oleh Pak Karman.


Sebelum memasuki mobil Lisa sedikit berteriak kepada anak-anaknya.


"Rajin-rajin belajar ya sayang, jangan nakal."


"Ok Ibu. " Mereka bertiga menjawab dengan serentak.


"Pak Karman bawa mobilnya hati-hati ya. Tolong jaga keselamatan anak saya. " Lisa meminta tolong kepada Pak Karman.

__ADS_1


"Ok Nona, jangan khawatir. " Pak karman menghidupkan mesin mobilnya, lalu pergi menuju sekolah.


Sesampainya di sekolah, ketiga anak-anak itu turun dari mobil.


"Makasih Pak." (Suara Alis)


"Makasih Pak. " (Suara Tommy)


"Makasih Pak. " (Suara Jimmy)


"Iya, sama-sama Tuan dan Nona. Rajin belajar ya! fighting!" Pak Karman menyemangati mereka bertiga.


"Iya, fighting Pak Karman. " Mereka bertiga pergi memasuki sekolah.


"Ah, anak-anak itu. Kenapa mereka sangat lucu dan menggemaskan." Pak Karman menghidupkan mesin Mobilnya dan pergi dari tempat itu.


....


Ruangan kerja Adam.


"Apakah kamu sudah memerintahkan seseorang untuk mengambil rambut mereka? " Adam berbicara kepada adiknya.


"Sudah Saudaraku. Aku memerintahkan seorang guru untuk mengambil rambut mereka." Agam menjawabnya dengan penuh percaya diri.


"Bagus. " Adam hanya mengucapkan sepatah kata sambil tersenyum tipis.


.....


Di sekolah.


Satu persatu siswa dan siswi di periksa.


"Alis, sepertinya rambut kamu perlu di rapikan sedikit." seorang guru laki-laki merapikan rambut milik Alis dengan sedikit memotongnya. Ia memotong ujung rambut Alis bagian belakang.


Guru laki-laki itu memasukkan rambut Alis ke dalam kantong plastik yang terpisah. Kebetulan hal itu di lihat oleh Tommy.


Setelah itu, guru laki-laki itu memeriksa rambut Tommy.


"Sepertinya rambut Tommy harus di rapikan sedikit. " Guru laki-laki itu memotong rambut Tommy dengan gunting. Lalu memasukkan rambut Tommy ke dalam kantong plastik yang terpisah.


Kemudian guru laki-laki itu melangkahkan kaki menuju tempat duduk Jimmy.


Guru laki-laki itu juga memotong rambut Jimmy dengan gunting, kemudian memasukkan rambut itu ke dalam kantong plastik yang terpisah.


Setelah selesai mengambil rambut ketiga bocah itu. Guru laki-laki itu menelfon Agam.


"Aku sudah melakukannya." Guru laki-laki itu berbicara lewat telfon.


"Seseorang sedang menunggumu di gerbang sekolah. Berikan saja rambut itu kepada pria itu dan dia akan memberikan imbalannya. " Lalu panggilan itu di tutup.


Guru pria laki-laki berjalan ke arah gerbang. Kemudian memberikan rambut itu kepada pria yang telah menunggu di sana.


Si pria itu memberikan amplop yang berisi uang kepada guru pria itu.

__ADS_1


"Ucapkan terimakasihku kepada Agam. " Guru pria itu hanya berbicara seperti itu, lalu pergi meninggalkan gerbang.


....


Ternyata rambut itu di berikan kepada Adam untuk melakukan tes DNA. Hal itu dia lakukan sebagai barang bukti bahwa ketiga bocah itu adalah anaknya.


Beberapa jam kemudian, hasil tes DNA keluar.


Dengan cepat, Adam melihat tes DNA tersebut. Ternyata hasilnya 99,9999%, yang artinya tes DNA itu membuktikan bahwa ketiga bocah itu adalah anak-anaknya.


"Aku sudah menduganya. Ternyata benar mereka adalah anak-anakku. "


Adam pun pergi ke sekolah anak-anaknya di temani oleh supir dan Saudaranya. Ia juga di ikuti oleh beberapa bodyguard yang menyamar dengan menggunakan mobil yang berbeda.


Setelah sampai di sekolah itu, kebetulan saja ketiga bocah itu berjalan menuju gerbang.


Adam dengan cepat keluar dari mobil. Ia sedikit berlari mendekati ketiga kurcaci itu.


Tiba-tiba saja Adam memeluk mereka bertiga.


"Maafkan Ayah. Ayah minta maaf kepada kalian bertiga." Jimmy, Tommy dan Alisya sangat terkejut.


Beberapa orangtua dan anaknya memperhatikan hal tersebut.


Agam mendekati Adam. "Saudaraku, semua orang sedang memperhatikannya. Lihatlah mereka, mereka terlihat sangat terkejut. " Agam memberitahu saudaranya.


Dengan terpaksa Adam melepaskan pelukannya. Ia memperlihatkan sebuah kertas.


"Ini adalah bukti bahwa kalian bertiga adalah anak-anakku." Adam memberikan kertas itu kepada Jimmy.


Pada saat itu Jimmy membaca kertasnya dengan seksama.


"Tes DNA? kami tidak pernah melakukan tes DNA. " Jimmy terlihat seperti kebingungan.


"Bisa saja terjadi, karna tadi rambut kita telah di potong oleh seseorang guru. Tommy melihat guru itu memasukan rambut kita ke dalam kantong yang berbeda." Tommy melihat Jimmy.


"Yah, aku mengerti maksudmu Tommy." Jimmy menatap Adam.


Alis dengan cepat mengambil kertas tes DNA itu. Ia membacanya dengan seksama.


"Ayah, Alis bertemu dengan Ayah." Alis memeluk Adam dengan erat.


"Ayah, Alis merindukan ayah. Ayah kemana saja selama ini? " Alis sangat kegirangan karena telah bertemu dengan ayahnya.


Saat itu mata Adam mulai memerah. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya.


"Maafkan Ayah sayang. Ayah minta maaf." Adam memeluk Alis dengan erat.


bersambung...


Buat teman-teman terimakasih ya telah membaca tulisannya ini.


Sebelumnya tolong bantu support autor dengan bantu Like, koment dan vote supaya autor tambah semangat lagi untuk menulis ceritanya.

__ADS_1


Terimakasih dan mohon maaf jika tulisannya masih berantakan.


__ADS_2