
Agam.
Ketika melakukan perjalanan bisnis, Agam bertemu dengan seorang wanita yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.
Wanita itu tanpa permisi tidur di atas ranjang tempat tidurnya, yang menyebabkan dirinya harus tidur di atas sofa.
Tapi entah kenapa, Agam tidak merasa marah atau pun merasa jengkel kepada wanita itu. Dia merasa sangat terhibur oleh tingkah wanita mabuk itu.
Semalaman mereka terus berbincang-bincang, Agam dengan sabar mendengarkan curhatan wanita itu.
*Aku kira, hanya aku yang merasa kesepian. Ternyata wanita ini juga merasa kesepian. *
*Ayahnya meninggal dunia dan Ibunya juga meninggal dunia. Wanita ini sekarang sedang hidup sebatang kara.
Di tambah lagi, dia mengaku telah putus dari pacarnya. *
*Aku terkadang hanya terdiam mendengar ocehan wanita ini, dia terus mengoceh.*
***
Ketika aku akan pergi ke suatu tempat. Aku melihat wanita itu kembali.
Aku berfikir dia akan meloncat dari jembatan itu, mengingat dirinya sudah bangkrut dan tidak punya siapa-siapa lagi.
__ADS_1
Aku menyuruh supirku menepi dan berhenti, lalu menghampiri wanita itu.
Aku melihat dirinya sangat kacau dan membawa sebuah koper.
Dia meminta bantuan kepada diriku.
Aku kira, dia akan menawarkan tubuhnya untukku. Tapi ternyata dia malah menawarkan tenaganya untukku.
Aku sedikit malu dengan dugaanku terhadap dirinya.
Tapi yang lucunya, dia meminta uang kepadaku. Aku memberinya tanpa perhitungan, mengingat dirinya adalah seorang yatim piatu.
Aku jadi teringat untuk mempekerjakan dia sebagai istri bohonganku. Atau istri sebenarnya juga tidak apa-apa, mengingat dirinya tidak terlalu buruk.
Aku pun memberikan kartu kamar hotelku, supaya dia bisa beristirahat dan menenangkan fikirannya.
Aku yakin, pasti dia sedang stres dengan hal yang dia alami sekarang.
Aku menyuruhnya untuk menungguku di kamar hotel tempat kami pertama bertemu.
Aku berkata demikian, karena hari cukup mendung pada saat itu.
***
__ADS_1
Di malam harinya aku masuk ke dalam kamar hotelku. Aku cukup kaget melihat wanita itu.
Dia menungguku dan dia bilang, dia sangat mencemaskan aku.
Aku menganggap itu adalah suatu bentuk perhatian, mengingat diriku selalu sibuk oleh urusan pekerjaan.
Tidak ada wanita di hidupku, kecuali Ibuku ya.
Aku membiarkan wanita yang bernama Melati itu tidur di atas ranjang tempat tidurku. Sedangkan aku memilih untuk tidur di atas sofa.
Yah, aku masih mengingat. Sebagai seorang pria, aku harus mengalah terhadap wanita. Itulah hal baik yang pernah di sampaikan oleh Ibuku.
Wanita itu terus saja mengajakku berbicara ini itu. Aku tau, dia terus saja memperhatikan aku dari kejauhan.
Aku sangat ingin bernegosiasi dengan wanita itu. Aku ingin mengatakan, bisakah dia menikah denganku. Karena aku tidak ingin terus di desak soal pernikahan.
Tidak akan ada yang di rugikan dalam pernikahan ini. Dia cukup berperan sebagai istriku dan aku akan membiayai semua kebutuhan hidupnya. Aku akan bertanggung jawab penuh terhadap hidupnya.
Dia terbantu soal finansial dan aku terbantu soal pernikahan.
Aku akan berniat untuk menawarkan pekerjaan seperti itu kepada dirinya. Tapi bagaimana aku menyampaikannya? Apakah dia akan tersinggung dengan ucapanku? atau gimana?
Aku terus saja memikirkan hal itu sembari tidur di atas sofa.
__ADS_1
Apakah keputusan itu sudah tepat atau belum? Tapi aku berharap ini adalah keputusan yang sangat tepat, dan aku ingin menawarkan hal ini kepada Melati Purnama.