
Agam di jemput oleh sekretarisnya yang bernama Arsena ke dalam rumahnya.
Pria itu membungkukkan badannya bertanda Agam untuk segera pergi dengannya.
"Bu, Agam pergi ke kantor dulu ya. "
Agam dengan cepat bangkit dari duduknya dan mencium kening Melati.
*Apa-apa an sih dia. Dia ini terus saja menodaiku.* (Melati)
Melati berusaha memperlihatkan senyumnya meskipun sangat terpaksa.
*Lumayan, bisa mencium keningnya* (Agam)
Sedangkan Marbela juga ikut berdiri dari duduknya, karena anaknya akan berangkat bekerja.
Marbela menghampiri anaknya dan memeluknya anaknya itu. Tak lupa juga, Marbela mencium pipi kanan dan pipi kiri Agam.
Seketika wajah Agam berubah menjadi merah merona. Masak sih, seorang ketua geng mafia di perlakukan seperti anak-anak oleh ibunya. Itulah yang di pikirkan oleh Agam.
Agam pun melirik ke arah Melati, dia berharap Melati tidak menertawakan dirinya. Atau menghina dirinya.
Arsena dari jauh, tampak bisa membaca ekpresi dari Tuannya. Dia berusaha menahan senyumnya. Kali ini Arsena begitu bahagia melihat pemandangan itu. Di tambah Tuannya seolah bertingkah seperti anak kucing yang sedang malu.
Yang jadi pertanyaannya, seperti apa ya anak kucing yang sedang malu itu? Hahaa.
Agam pun melangkahkan kaki menuju Arsena.
Dia melangkahkan kaki dengan cepat, dan dengan sengaja menginjak kaki Arsena.
Arsena hanya meringgis kesakitan di dalam hatinya. Dia berusaha mempertahankan sifat coolnya. Apalagi ini depan Nona mudanya dan di depan Nyonya Marbela.
Arsena sengaja melakukan itu, karena dia tahu pasti sekretarisnya sedang menertawakan dirinya di dalam hati.
Dia seolah-olah sedang memperingatkan dengan menginjak kaki Sekretarisnya.
Kekanak-kanakan sekali Tuan Muda somplak ini ya. Hahaa. Ketua mafia macam apa yang bertindak sesomplak ini.
Agam memasuki mobil dengan membuka pintu mobilnya sendirian. Biasanya di bukakan oleh Arsena, namun sekarang dia membukanya sendiri. Entah apa yang di pikirkan oleh Agam, yang jelas dia sedang kesal aja sekarang.
Arsena yang melihat itu, seakan bisa membaca mood Tuan Mudanya.
Dia langsung melangkahkan kaki menuju kursi duduk pengemudi. Jangan sampai singa ini mengamuk. Itulah yang di pikirkan oleh Arsena.
Arsena pun menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobil berwarna hitam itu.
"Bagaimana? kondisi aman terkendali kan? "
*Terkendali apanya? hati anda saja tidak terkendali Tuan. * (Arsena)
__ADS_1
"Untuk sekarang ini aman Tuan. Tapi sepertinga beberapa anggota ingin bertemu dengan anda. Lagian sudah lama anda tidak menjumpai mereka. "
"Baiklah, kalau begitu kita pergi menuju markas. "
Arsena pun membelokkan mobilnya. Dia dan Tuannya akan pergi menuju markas.
Ketika sampai di markas. Beberapa anggota menghentikan kegiatan mereka. Tampak mereka sedang sibuk berlatih di markas itu.
Arsena membukakan pintu untuk Tuannya.
Beberapa dari anggota sudah berlari ke arah mobil. Jangan sampai mereka membuat kesalahan.
Agam turun dari mobil berwarna hitam itu.
"Anda sudah lama tidak berkunjung Tuan."
"Iya Tuan, anda baik-baik saja kan? "
Agam melihat ke anggotanya yang sedang berbicara.
"Akhir-akhir ini saya sangat sibuk mengurus perusahaan."
"Seperti yang di lihat, kondisi saya baik-baik saja. Saya ingin menyampaikan informasi. "
Beberapa anggota saling menatap.
"Tenang saja, ini bukan soal tinju meninju. Atau pun soal mematai seseorang. "
Arsena seperti berusaha menahan senyum tipisnya di bibir.
"Sebentar lagi saya akan menikah."
"Uuuu. "
Mereka semua bertepuk tangan.
"Akhirnya, Tuan Agam menyusul Tuan Adam. "
Mereka berbahagia menyambut berita itu.
"Semoga keadaan tenang dan damai seperti ini. Saya sedang tidak ingin terlibat perkelahian. Untuk kalian semua, jangan berbuat kekacauan. "
"Dan juga, jaga keamanan dan tingkatkan ke amanan. "
"Siap Tuan. "
Mereka semua tertawa dan kembali bertepuk tangan.
Agam pun mendekati salah satu anggotanya.
__ADS_1
"Kenapa kau terlihat sangat bahagia? "
"Karena anda akan segera menikah Tuan. Semoga anak anda lucu-lucu. Dan juga, istri saya beberapa bulan lalu melahirnya. Saya sudah memiliki putri yang cantik dan menggemaskan Tuan. "
Agam hanya mengangkat sebelah alisnya.
Para anggotanya saja sudah memiliki istri dan anak sebagian. Saudaranya juga begitu.
Dia berfikir, dia sudah ketinggalan jauh oleh orang-orang itu.
Arsena seperti melihat kesepian dari ekspresi Tuannya.
Di umur yang tak muda lagi, dia masih saja mengurus semuanya. Bahkan untuk mengurus kebahagiaannya saja, dia tidak sempat.
Soal perempuan adalah musuh terberat bagi seorang Agam. Karena sebelumnya dia tidak pernah mendekati perempuan. Tidak ada yang tau, siapa wanita yang pernah di cintai oleh Agam. Dia seperti sedang mengunci rahasianya rapat-rapat.
"Arsena, ayo kita berduel di ring. "
*Yah. * Arsena menghela nafasnya.
Dua lelaki itu naik ke atas ring.
Agam membuka jasnya, begitu juga dengan Arsena.
"Tuan, bisakah di ganti dengan anggota lain? "
"Kenapa? "
"Saya tidak ingin melukai wajah tampan saya. Istri saya menunggu di rumah Tuan. "
Para anggota seperti menahan tawanya masing-masing.
Kemudian satu pukulan melayang ke arah wajah tampan Arsena.
Arsena dengan cepat bisa menangkis serangan mendadak itu.
Agam tersenyum tipis.
"Jangan memamerkan bahwa kau tampan dan sudah memiliki istri. "
"Kenyataannya begitu Tuan. "
Arsena tertawa selepas mungkin, begitu juga dengan Agam.
"Selamat Tuan, sepertinya anda sedang jatuh cinta. " Seolah-olah Arsena bisa membaca fikiran Tuannya.
"Diamlah. "
Dan pertarungan sengit pun di mulai.
__ADS_1
Ini adalah latihan bagi mereka, bukan pertarungan sesungguhnya ya.
Bersambung....