TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Kecelakaan


__ADS_3

Lisa bangun dari tidurnya. Ia langsung menulis dengan sesekali meminum segelas air putih. 


"Akhirnya selesai. " Lisa menyimpan tulisannya dan pergi menuju kamar mandi. 


Setelah itu Lisa pergi ke kamar anaknya untuk membangunkan satu persatu putra dan putrinya. 


"Jimmy, bangun sayang. Saatnya pergi ke sekolah nak. " Lisa mengusap-ngusap punggung anaknya.


"Kenapa pagi begitu cepat Ibu? Jimmy baru saja tidur." Jimmy duduk dari tidurnya dan mengucek-ngucek matanya. 


Lisa hanya tersenyum dan lanjut membangunkan Tommy. 


"Cekrek"


Lisa masuk ke dalam kamar itu. 


"Tommy?"


"Iya Ibu. Tommy sedang mandi. " Tommy menyaut dari dalam kamar mandi.


"Ok, bagus Tommy. Setelah itu ganti baju dan turun ke bawah untuk sarapan bersama-sama ya nak. " Lisa sedikit berteriak. 


"Ok Ibu. " Tommy menjawab dari dalam kamar mandi. 


"Cekrek"


"Ibu, Alis sedang mengganti pakaian. Kenapa Ibu masuk tanpa mengetuk pintu dulu? " Alis berusaha menutup tubuh mungilnya. 


"Apakah kamu malu? " Lisa bertanya kepada anaknya.


"Iya, itu memalukan Ibu" Alis memasang wajah yang kesal campur marah.


"Hmp, lain kali Ibu akan melakukan itu khusus buatmu Alis, apakah kamu sudah bersiap-siap? " Lisa bertanya kepada anak tercantiknya. 


"Seperti yang Ibu lihat, aku akan mengenakan pakaian saragamku. " Alis menjawabnya dengan wajah cemberut. 


"Ok. Baiklah sayang. Ibu meminta maaf soal yang tadi. " Lisa menutup pintu kamar putrinya. 


"Anak itu. " Lisa tersenyum kecil. 


"Seorang Ibu meminta maaf kepada putrinya. Hmp, jika seorang Ibu memang salah. Kenapa gengsi meminta maaf kepada anaknya sendiri? Toh seorang Ibu tidak akan mati karena meminta maaf kepada anaknya. Mungkin para orangtua cuman gengsi meminta maaf kepada anaknya." Lisa berusaha mengambil kesimpulan.


"Eh tunggu, sebagian orangtua jarang mengakui kesalahannya kepada sang anak. Jika sang anak bersalah orangtua akan memarahi anak. Bagaimana sebaliknya? jika orangtua bersalah apakah anak tidak boleh memarahi orangtuanya? Aku pikir boleh-boleh saja, semuanya harus adil. Tapi.. Ah, hanya sedikit orangtua yang memahami maksudku. Untung saja cara mengendalikan anakku saat ini lumayan mudah, cukup minta maaf jika bersalah dan mereka juga akan minta maaf jika bersalah. Sifat anak mencerminkan sifat orangtua." Lisa merekam pembicaraannya sendiri. Rekaman itu akan dia gunakan untuk bahan tulisannya nanti. 


.....


"Sayang, aku mau pergi belanja sebentar. Aku akan telat pergi ke kantor. " Kirana meminta izin kepada suaminya.


"Kirana? Kita ini sedang berhemat. Keuangan kita sedang kristis. Perusahaan Ayahmu dan Ayahku baru saja kebakaran. Tolong mengerti hal ini Kirana." Rivaldo terlihat kesal dengan tingkah laku istrinya yang boros. 


"Aku berbelanja memakai uangku sendiri, bukan memakai uangmu. Aku hanya ingin membeli beberapa pakaian dan perlu ke salon kecantikan. Beberapa hari ini aku lumayan stres. Jadi aku butuh respresing sedikit. Tolong pahami yang sedikit itu. " Dengan tidak peduli Kirana mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Rivaldo. 


"Kenapa semakin hari, aku semakin tidak suka dengan sifat Kirana? Aku merasa bersalah dengan Lili." Mata Rivaldo sedikit memerah dan ia memejamkan matanya.


"Apakah ini semua karma bagiku?" Rivaldo meneteskan air mata dan mengusap air mata tersebut. 


....


"Jimmy, Tommy, Alis, kita sudah sampaaai. Belajar yang rajin ya anak-anak. " Hari itu Lisa mengantarkan anak-anak ke sekolah.

__ADS_1


"Ok Ibu. " Mereka bertiga serentak menjawab dan menyalami Ibu mereka satu persatu. 


"Alis menyayangi Ibu. " Alis yang duduk di depan memeluk Ibunya. 


"Ibu juga menyayangi Alis. Belajar yang rajin ya sayang dan lakukan yang terbaik di sekolah. "


"Ok Ibu. " Alis mencium pipi kanan Ibunya.


"Ibu, ingat janji Ibu. Jangan masuk ke kamar Alis tanpa mengetuk pintu dulu." Alis menatap Ibunya dengan serius.


"Baiklah Alis. Ibu akan mengingatnya. " kemudian Alis tersenyum dan keluar dari mobil Ibunya. 


Hari ini Pak Karman tidak masuk bekerja karena dia dalam keadaan sakit. Jadi makanya hari ini Lisa terpaksa mengantar anak-anaknya ke sekolah. 


Lisa menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya. Di tengah perjalanan Lisa melihat banyak orang yang berkumpul. Disaat itu Lisa menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya. 


Seorang laki-laki menghampiri mobil Lisa. 


"Nona apakah saya boleh minta bantuan? Tolong antar wanita itu ke rumah sakit Nona. Wanita itu baru saja kecelakaan. "


"Ah, silahkan Pak. Bawa wanita itu ke mobil saya. Saya akan mengantar wanita itu ke rumah sakit yang terdekat. "


"Terimakasih Nona. "


Laki-laki itu tampak berbicara dengan orang-orang berkumpul disana dan menunjuk-nunjuk mobil milik Lisa. 


Beberapa orang mengangkat wanita yang telah bercucuran oleh darah. 


Lisa keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil bagian belakang. 


"Hati-hati Pak. " Lisa terlihat begitu cemas. 


Lisa menelfon seseorang. 


"Tolong tunggu saya di depan rumah sakit. Ada seseorang yang sedang sekarat. Dia baru saja mengalami kecelakaan. Sepuluh menit lagi saya akan sampai di sana. " Lisa memerintahkan seseorang. 


"Baik Nona. "


Lisa mematikan telfonnya dan masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.  


"Sepertinya wanita itu kehabisan banyak darah Nona. Tolong lebih cepat. " Seorang bapak-bapak yang duduk di belakang dengan wanita itu mengatakan kalimat itu. 


Lisa hanya diam dengan sesekali melihat wajah wanita itu. 


"Sepertinya aku tidak asing dengan wajah wanita ini. "


"Dimana aku melihatnya? " Lisa berbicara di dalam hatinya.


Sepuluh menit kemudian Lisa sampai di Rumah Sakit. Ia telah di sambut oleh beberapa dokter dan perawat. 


Mereka dengan cepat mengeluarkan wanita itu dari dalam mobil Lisa dan membawanya ke sebuah ruangan. 


"Pak, bagaimana kronologi kecelakaan wanita itu? " Lisa bertanya kepada bapak-bapak yang menemaninya ke Rumah Sakit. 


"Tadi wanita itu di tabrak oleh seorang wanita yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "


"Trus dimana wanita itu pak? " Lisa bertanya kepada Sang Bapak.


"Wanita itu telah di jemput oleh suaminya." Bapak itu menjawab.

__ADS_1


"Apakah dia baik-baik saja? " Ketika Lisa menanyakan hal itu, tiba-tiba saja seorang laki-laki menghampiri bapak itu. 


"Terimakasih ya Pak, telah menghubungi saya." 


Saat mendengar suara itu Lisa sangat terkejut. Ia melihat ke arah sumber suara. 


"Lili? "


"Rival?"


Mereka berdua sama-sama terkejut.


"Apa yang kamu lakukan di sini? " Lisa bertanya kepada Rivaldo.


"Jangan bilang yang kecelakaan itu adalah Kirana." Lisa menatap wajah Rivaldo yang sedikit cemas.


"Tunggu. Apakah Tuan dan Nona ini saling mengenal? " Bapak paru baya itu bertanya kepada mereka berdua. 


"Ya, saya mengenalnya Pak. " Rivaldo menjawab pertanyaan sang bapak. Sedangkan Lisa menganggukkan kepalanya. 


"Baguslah kalau begitu." Tiba-tiba saja ponsel sang bapak berbunyi. 


"Maaf Tuan, Nona. Sepertinya bos saya telah memanggil saya. Saya harus segera pergi dari tempat ini. " Sang Bapak berpamitan kepada Lisa dan Rivaldo.


"Iya Pak. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih ya Pak. " Rivaldo tampak menyelipkan beberapa uang di kantong celana sang bapak. 


"Tidak usah Tuan. Saya ikhlas Tuan. " Sang Bapak mengambil uang itu di kantongnya dan memberikan kembali kepada Rivaldo. 


"Ambil saja Bapak." Setelah memujuk bapak itu, akhirnya sang bapak mengambil uang pemberian Rivaldo dan pergi dari tempat itu. 


Sekarang hanya ada Rivaldo dan Lisa. Mereka saling bertatapan sejenak, kemudian Lisa memutuskan pergi dari tempat itu. 


"Kamu mau pergi kemana? "


Langkah kaki Lisa terhenti.


"Kenapa? " Lisa balik bertanya kepada Rivaldo. 


"Lili, yang kecelakaan itu adalah kakakmu. Apakah kamu tidak bersimpati dengannya?" Rivaldo bertanya kepada Lisa.


"Lalu apakah dia bersimpati denganku saat Ayah mengusirku dari rumah?" Lisa malah balik bertanya kepada Rivaldo.


Saat mendengar ucapan itu, Rivaldo terdiam sejenak. 


"Kamu terdiam? " Lisa pun pergi dari tempat itu. 


Saat keluar dari Rumah Sakit itu, Lisa berpapasan dengan Adam dan Agam. Namun Adam tidak menyadari hal itu.


"Bukankah itu Lisa? Kenapa dia berada disini. Hmp, wajarlah ya. Ini adalah Rumah Sakit milik keluarga Bastian. " Agam berbicara di dalam hati. 


Bersambung...


Maaf ya pembaca setia. Author baru bisa apload sekarang, karena kemaren ini Author sakit selama seminggu dan masih ada pekerjaan lainnya yang harus di selesaikan.


salam dari Author.


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE YA. SUPAYA AUTHOR LEBIH BERSEMANGAT LAGI UNTUK APLOAD.


terimakasih atas dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2