TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
TPD 2 _ini memalukan


__ADS_3

Agam bertanya kepada Melati, yang mana pertanyaan itu berhasil membuat melati bungkam dan merasa malu.


Yah, dia bertanya apakah Melati itu seorang jones?


Jawabannya memang benar, Melati baru saja menjadi jones.


Akhirnya sepasang manusia itu memutuskan untuk mengobrol dan membahas ini itu.


Entah kenapa, Agam merasa nyaman berbicara dengan wanita yang bernama Melati itu.


Kemudian mereka pun memutuskan untuk berpisah. Maksudnya Melati pergi dari hotel itu. Dia hendak pergi ke rumah sederhananya.


***


Melati pergi ke rumah dengan menggunakan taksi. Sesampainya di rumah, dia melihat beberapa orang laki-laki yang menggunakan baju serba hitam. Mereka itu berbadan kekar.


Melati sedikit berlari ke rumah sederhana itu.


"Eh, kalian siapa? kenapa kalian mengeluarkan perabotan di rumah ini? "


Melati berusaha menghentikan kegiatan mereka.


"Maaf, kami cuman menjalankan tugas Nona. Rumah ini telah menjadi milik bos kami. "


"Yah, rumah ini di sita bos kami. "


"Heh, kalian enak saja ya. Seharusnya kalian memberi pemberitahuan dulu atau minta izin dulu kepada saya. Ini adalah rumah almarhum ayah saya. Kalian jangan lancang ya. " Melati sungguh marah melihat orang-orang itu. Meskipun Melati Marah, orang-orang itu tetap menjalankan tugas mereka. Mereka tidak memperdulikan Melati sama sekali.

__ADS_1


"Ini pakaian Nona, silahkan pergi dari tempat ini. Rumah ini sudah milik bos kami. " Salah satu seorang laki-laki berotot mendorong koper milik Melati.


"Ini koper Nona, silahkan pergi dari rumah ini. " Melati terlihat memberontak karena di usir dari rumahnya sendiri.


"Jangan macam-macam Nona, kami sedang tidak ingin melukai siapa pun. Tolong kerja samanya. "


"Tapi rumah ini adalah rumah saya. Saya harus tinggal di mana lagi jika tidak tinggal di rumah ini."


"Jangan merampas milik orang lain dong Pak. "


Tapi mereka yang ada di sana tidak menghiraukan perkataan Melati.


Melati kembali memberontak dengan menghalangi salah satu laki-laki yang sedang mengangkat televisinya.


"Saya bilang, jangan menghalangi saya. " Laki-laki itu mendorong Melati yang membuat melati terjatuh di lantai keramik berwarna putih itu.


"Jangan sampai kami melakukan kekerasan Nona. Silahkan pergi dari rumah ini. " Beberapa dari mereka mulai menghentikan kegiatannya dan memandang Melati.


Melati pun dengan terpaksa meninggalkan rumah itu. Dia menyeret kopernya dengan wajah yang sedih.


Air matanya mulai membasahi pipinya.


*Apakah begini rasanya jika kita hidup sebatang kara? Lalu sekarang aku harus kemana? Tidak ada sanak saudara yang bisa di harapkan untuk membantuku.


Mereka itu tidak peduli denganku. *


Melati terus berjalan menyeret koper miliknya. Dia sempat berhenti untuk mengecek uang miliknya.

__ADS_1


"Sial, uangku tinggal dua ratus ribu. Apakah uang ini cukup untuk membayar penginapan? "


"Penginapan? hah, untuk makan saja sudah jelas tidak cukup. "


Melati kemudian melanjutkan perjalanannya. Dia melangkahkan kaki dan menyeret koper itu tanpa arah.


Tidak ada tujuan yang akan dia tuju.


*Dimana aku akan tinggal sekarang? *


Melati berdiri di dekat jembatan. Tidak terasa dia sudah jauh juga melangkahkan kaki dan menyeret kopernya.


Dia menatap langit yang sedang mendung.


*Jangan sampai hari hujan, sebelum aku mendapatkan penginapan.*


Melati berdiri di jembatan dan ingin berteriak. Dia sangat ingin berteriak kencang.


Namun tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri dirinya.


"Hei, apa yang kau lakukan Nona? Apa kau ingin bunuh diri sekarang? "


Lelaki itu tampak tertawa melihat Melati.


*Ah sial. Aku bertemu dengan laki-laki ini lagi*


*Kenapa dunia terasa kecil sekali sih?*

__ADS_1


bersambung ....


😁😁😁


__ADS_2