
"Ibu pergi kemana" Alis mendekati Ibunya.
"Ibu mau pergi ke Toko Kue dan Butik sebentar Alis. " Lisa berusaha menjelaskan kepada putrinya.
"Alis ikut Ibu. " Alis sangat ingin ikut dengan Ibunya.
"Tidak usah, Alis tunggu di rumah saja bersama Jimmy dan Tommy. Lagian kan ada Bibi baru di rumah kita. " Lisa berusaha membujuk Alis supaya tinggal di rumah saja.
"Nggak mau Bu, pokoknya Alis ikut Ibu. " Alis keluar duluan mendahului Ibunya.
"Karna Alis ikut, Jimmy juga ikut Ibu." Jimmy juga pergi mendahului Ibunya.
Sedang Tommy masih berdiri di posisinya.
"Lalu bagaimana denganmu Tommy? " Lisa bertanya kepada Tommy.
"Jika Ibu mengizinkan, Tommy sebenarnya juga Mau ikut. Kalau tidak, tidak masalah." Tommy menjawab pertanyaan Ibunya dengan raut wajah sedih.
"Baiklah, semuanya boleh ikut hari ini. Tapi tidak ada yang nakal di sana. Karna Ibu sangat sibuk hari ini." Lisa masuk ke dalam mobil yang di ekori oleh Tommy.
"Baik Ibu" Alis dan Jimmy menjawab dengan nada yang sangat bahagia.
Lisa menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya. Tak lama kemudian, mereka semua sampai di tempat tujuan.
Alis dan Jimmy bergegas keluar dari mobil. Mereka berlari ke arah Toko kue.
"Anak-anak itu." Suara Lisa terdengar sangat pelan.
"Ibu, apakah Tommy boleh meminta kue black forest? Tommy sangat ingin memakan kue itu. "
"Boleh Tommy, tetapi Tommy harus menghabiskannya setelah itu. " Lisa mengizinkan Tommy.
"Terimakasih Ibu. " Tommy keluar dengan wajah yang sangat bahagia.
Lisa keluar dari mobil dan dia di sambut oleh Satpam.
"Selamat siang Nona Lisa. "
"Selamat siang Pak, apakah Pak Toni sudah datang Pak? " Lisa bertanya kepada Pak Satpam.
"Sudah Nona, Pak Toni sedang menunggu anda. " Pak satpam membungkukkan badan tegapnya dan memperbolehkan Lisa untuk masuk.
Lisa terlihat membisikkan sesuatu ke karyawannya, lalu dia pergi dari tempat itu untuk menemui Pak Toni.
Sedangkan Jimmy dan Alis duduk di kursi tamu. Mereka menunggu Lisa sambil bermain game. Sedangkan Tommy melihat satu persatu kue yang ada di toko itu.
Tak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam toko itu. Si pria itu adalah Adam Manggala. Ia ingin mampir membelikan kue untuk anak sepupunya.
__ADS_1
Entah takdir apa yang mempertemukan mereka. Pada saat itu Tommy berdiri di sebelah Adam. Mereka berdiri dengan posisi yang sama yaitu sama-sama menyilangkan kedua tangan di bawah dada. Mereka seperti berfikir dengan wajah serius dan sesekali menggaruk kepala yang tidak gatal. Kemudian mereka menunjuk kue yang sama.
"Aku ingin kue ini. " Mereka berdua mengatakan hal yang sama secara serentak.
Beberapa pelayan melihat ke arah mereka.
"Coba lihat, pria itu sangat tampan."
"Iya, pria itu sangat tampan. Badannya tinggi, berkharisma."
"Wah, badan pria itu bagus sekali."
"Bukankah pria itu adalah Adam Manggala. Dia adalah Ceo dari Manggala Grup."
Semua tatapan terarah ke arah Adam. Sehingga mereka menyadari, wajah Adam lumayan mirip dengan Tommy.
....
"Aku menunjuk kue ini lebih dulu dari padamu Tuan Kecil. " Adam memperingati Tommy.
"Sepertinya kalian berdua menunjuk kue itu secara bersamaan. Aku melihatnya dengan jelas di sini." Jimmy tiba-tiba saja sudah berada di belakang mereka berdua.
Tommy melihat ke arah Jimmy, kemudian dia melihat lagi ke arah Adam.
Tommy mengucek kedua matanya, ia takut penglihatannya sedang bermasalah.
"Tuan, kue itu tidak di jual. Adikku lebih dulu memilih kue itu. "
"Kue itu tidak di jual semenjak aku mengatakan kue itu tidak di jual Tuan. " Jimmy dengan berani menjawab perkataan Adam. Sehingga Adam kembali melihat ke arah Jimmy.
Tiba-tiba ada seorang pria masuk ke dalam toko itu.
"Apakah saudaraku sedang berdebat dengan Tuan-tuan kecil ini?" Agam melihat ke arah Tommy dan Jimmy. Kemudian memandangi saudaranya. Dia sangat terkejut saat melihat wajah Jimmy sangat mirip dengan Adam, dan wajah Tommy sedikit mirip dengan Adam.
"Menurutmu? " Namun Agam tidak mendengar jawaban Adam. Dia diam terpaku melihat dua bocah yang wajahnya mirip dengan Adam.
"Apa yang kamu lihat?" Adam membuat Agam terkejut.
"Tidak, sepertinya penglihatanku kurang normal saudaraku. "
"Begitukah? "
Adam melanjutkan memesan kue yang dia tunjuk.
"Tolong kotakkan kue ini Mbak. " Adam memerintah pelayan.
"Maaf Tuan, kue ini untuk Tuan Muda kami. Bagaimana kalau Tuan memesan kue ini? " Pelayan itu menunjukkan kue yang sama tetapi ukurannya jauh lebih besar dari yang tadi.
__ADS_1
"Tuan, anda sudah besar. Sepertinya kue yang besar itu sangat cocok untuk anda. " Jimmy memperlihatkan senyuman manisnya.
Agam menyembunyikan senyumannya saat mendengar Jimmy mengucapkan kata-kata itu kepada seorang Adam.
"Baiklah." Adam melihat wajah Jimmy sejenak, kemudian melihat kue yang di tunjuk oleh salah satu pelayan.
"Mbak, saya memesan kue besar itu. " Wajah Agam sedikit kesal. Dia sesekali mencuri pandang ke arah Tommy dan Jimmy.
"Kenapa wajah anak-anak itu lumayan mirip denganku?Perasaan apa ini? Apakah ini semua cuman kebetulan." Adam berbicara di dalam hatinya.
Tak lama kemudian, pelayan sudah selesai mengkotak kue itu. Adam membayar kue itu kepada kasir. Kemudian ia pergi dari tempat itu yang di ekori oleh Agam, lalu diikuti oleh bodyguard yang berdiri di dekat pintu.
"Sepertinya mereka bukan orang sembarang Jimmy. " Tommy berbicara pelan kepada Jimmy.
"Aku juga berfikir begitu. "
Tommy dan Jimmy terus saja memandangi Adam dan Agam sampai badan mereka menghilang dari penglihatan mereka. Ternyata para pelayan juga melakukan hal yang sama dengan mereka.
"Mbak, apakah Mbak mengenal pria tadi?" Tommy bertanya kepada pelayan.
"Pria itu adalah Ceo dari perusahaan Manggala Grup Tuan Tommy. Nama pria itu adalah Adam Manggala, dan pria yang baru datang itu adalah Agam Manggala yang merupakan adik dari Adam." Salah satu pelayan menjawab pertanyaan Tommy.
" Tapi sepertinya wajah Tuan Jimmy sangat mirip dengan Ceo Adam. Kalian berdua seperti ayah dan anak." Pelayan yang lainnya angkat bicara.
"Wajah Tuan Tommy juga agak mirip dengan Ceo Adam. Apakah ini cuman kebetulan saja?" Salah satu pelayan berbicara kepada pelayan yang barusan.
"Iya. Aku juga berfikiran begitu."
Para pelayan itu bertatap tatapan.
"Jangan-jangan," mereka menutup mulut mereka sendiri.
Tommy dan Jimmy hanya heran dengan tingkah pelayan yang ada di depan mereka.
Tiba-tiba Lisa datang.
"Kue yang mana kamu pesan Tom? ambil kuenya, ayo kita pulang. " Lisa memerintah anaknya.
"Pelayan sedang mengkotakkannya Ibu." Jimmy mewakili Tommy.
Tak lama kemudian pelayan menghampiri Lisa.
"Ini Nona Lisa. " Salah satu pelayan memberikan kue yang sudah di kotakkan kepada Lisa.
"Catat ya mbak, saya mengambil satu kue di sini. "
"Baik Nona Lisa."
__ADS_1
Mereka berempat kemudian pergi dari tempat itu.
Bersambung...