TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Tommy tertembak


__ADS_3

Di pagi hari yang sedikit gerimis, Lisa menonton televisi di dalam kamarnya. 


Saat itu dia terus menerus mengganti channel TV untuk mendapatkan siaran yang dia inginkan. Tanpa sengaja Lisa mendengar nama Kirana Gunawan dari salah satu channel. 


"Kirana Gunawan telah menabrak seorang istri dari pengusaha muda sukses. Wanita itu bernama Camila Roger. Saat ini Kirana Gunawan sedang koma di salah satu rumah sakit sedangkan Camila Roger meninggal dunia tadi malam karena pendarahan hebat di kepalanya." 


Saat itu, Lisa langsung mengganti channelnya. 


"Kenapa aku harus mendengar nama Kirana lagi? Hah." Lisa menghela nafasnya panjang-panjang. 


Sedangkan di dalam kamar, tiga anak dari Lisa mendengar berita yang sama. Hari ini mereka tidak sekolah karena tanggal sedang merah. 


"Jimmy, dengarlah. Saudara tiri ibu menabrak istri Ayah."


"Ya, aku mendengarnya Alis. "


"Wah ada kesempatan ini, Ibu dan Ayah bisa bersama. Kita akan bersama-sama Jimmy. " Alis terlihat sangat bersemangat. 


"Bagaimana denganmu Tommy? Bahagiakan mendengarnya?" Alis bertanya kepada Tommy. 


"Entahlah, aku justru kasian dengan Ayah. Istri Ayah baru saja meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan. " Wajah Tommy sedikit murung. 


Alis dan Jimmy melihat ke arah Tommy. 


Dua minggu telah berlalu. 


Adam berduka atas kepergian istrinya. 


Menjelang kepergian sang istri, Adam sempat berbincang dengan Camilla. 


"Aku sudah mengetahui semuanya Adam. Sepertinya ini adalah karma bagiku. Wanita itu yang mengantarkanku ke rumah sakit. Ini bertanda kalian berdua memang sudah di takdirkan untuk bersatu. Ambillah kunci di dalam laci make up ku dan bukalah laci meja kerjaku. Diaryku ada di sana. Aku sudah tidak sanggup lagi. Maafkan aku Adam. " Lalu Camilla meninggal dunia dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. 


"Camilla, kamu jangan becanda. Ini tidak lucu Camilla. " Lalu datanglah dokter yang menyuruh Adam keluar dari ruangan itu karena kondisi di sana sudah darurat. 


"Apa maksud Camilla? " Adam berfikir dengan keras.


"Aku harus mencari diary itu. " Adam berbicara di dalam hati. 


Adam mengambil kunci di dalam laci make up Camilla, lalu dia pergi ke ruangan kerja Camilla. 


Setibanya di sana, Adam membuka laci kerja milik Camilla. 


"Inikah diarynya?"


Adam mengambil buku yang lumayan tebal. 


Adam pun membaca satu persatu isi diary tersebut. 


"Hari itu aku melihat semuanya. Orang yang akan di nikahkan denganku tidak ingin tidur denganku. Dia lebih memilih wanita malam dari pada dirinya. Tapi untung saja aku mengancam wanita itu sebelum masuk kamar itu. Aku melemparkan beberapa ikat uang. Namun sial, wanita lain masuk ke dalam kamar itu. Aku melihat semua adegan mereka, karena camera pengintai telah di pasang oleh orang suruhanku yang berpura-pura berpihak kepada Adam. "


"Mereka menikmati sentuhan demi sentuhan. Hatiku terasa hancur dan sakit. "


"Jadi itukah sebabnya dia tidak ingin tidur sekamar denganku? " Adam bertanya-tanya di dalam hatinya.

__ADS_1


"Jadi dia mengetahui semuanya? " Adam kembali bicara di dalam hati. 


Adam membolak balikan helaian selanjutnya. 


"Wanita itu datang ke pesta pernikahanku. Wanita yang pingsan itu adalah dia. Dia sedang hamil, aku yakin itu adalah anak dari Adam."


"Wanita itu di usir. Dia tinggal dengan Keluarga Bastian. Dia pergi keluar negeri untuk melahirkan anak-anak itu. Betapa terkejutnya aku, dia sedang hamil 3 bayi. Namanya juga berganti menjadi Lisa Bastian. "


"Jadi selama ini dia mengetahui semuanya, namun dia bertingkah seolah-olah tidak mengetahui apapun. Dia bertingkah bodoh di depanku. " Adam kembali berbicara di dalam hatinya dan membolak balik kertas itu kembali. 


"Wanita itu sudah pulang. Aku berharap dia tidak akan mengambil Adam dariku. Aku sangat mencintai Adam. "


"Adam sudah menemukan keberadaan anak-anaknya. Aku tidak bisa melakukan apapun. "


"Kakakku berjanji akan membunuh anak-anak itu. "


"Aku tidak mengerti, kenapa semua ini terjadi kepadaku. Tuhan membenciku. Apakah ini sebuah karma bagiku? Aku akan segera mati. Kangkerku sudah menyebar ke seluruh tubuhku."


"Aku berharap, setelah aku meninggal. Adam bersatu dengan Lisa dan membesarkan anak-anak mereka bersama. "


"Adam, aku sangat mencintaimu. Aku tau, kau selalu mencari keberadaan Lisa. Kau mencintai Lisa. Hatiku kembali hancur, namun kali ini aku menerimanya karna aku akan segera mati. "


Ketika membaca satu persatu tulisan itu, mata Adam mulai berlinangan air mata. 


"Kau bodoh Camila. Kau sudah tau semuanya, namun kau diam saja. Apakah ini keinginanmu? "


"Ketiga anak-anak itu tidak boleh mati di tangan saudaraku. Mereka harus tetap hidup, aku harus segera menghentikannya. Ini adalah kado terakhirku untuk Adam dan Lisa. "


"Saudara Camilla akan membunuh anak-anakku. "


Adam segera mengambil ponselnya dan menelfon Agam. 


"Agam, tolong pergi ke rumah Lisa. Anak-anakku dalam bahaya. Aku yakin, Baron akan datang untuk membunuh anak-anakku. " Adam memberi perintah kepada Saudaranya.


"Dari mana kamu mengetahui ini semua? " Agam bertanya kepada Adam.


"Dari Camilla. Ternyata selama ini Camila sudah mengetahui semuanya. "


"Tolong perintahkan anak buah untuk pergi ke rumah Lisa secepatnya. "


"Tolong kawal anak-anakku. "


Saat itu Adam berlari mengambil kunci mobilnya di dalam kamar. Ia berlari menuruni tangga dan tiba-tiba ia terjatuh di pertengahan tangga. Pada saat itu,  dia pingsan di tempat. 


Sedangkan di tempat Lisa, Baron sudah duluan berada di lokasi. Dia melihat 3 anak itu sedang bermain di halaman di temani oleh Lisa. 


"Dasar wanita ******. Dasar wanita perusak. " Baron berbicara di dalam hatinya. 


Dia mengeluarkan pistol dan menembak salah satu anak dari Lisa. Ketika akan menembak satu kali lagi, hal itu di hentikan oleh Agam. 


"Matilah kau." Agam memukul Baron dengan keras. 


"Pegangi dia. " Agam memerintahkan anak buahnya,  lalu berlari ke keponakannya. 

__ADS_1


"Tommyyy" Lisa berteriak histeris. 


"Kau tidak apa-apa Tommy? " Jimmy bertanya kepada Tommy. 


"Dia tertembak? Dia berdarah Jimmy. " Alis berteriak dan melihat sekitaran yang ada di sana. 


Alis melihat seorang pria yang sedang di pegangi. 


"Apakah dia orangnya? " Alis bertanya kepada Paman Agam. 


Saat itu Agam hanya mengangguk dan berusaha menggendong Jimmy. 


"Siapa kamu? " Lisa bertanya kepada Agam. 


"Nanti saja pertanyaannya Lisa. "


"Ayo kita bawa Tommy ke rumah sakit. " Agam menatap Lisa. 


Dengan air mata yang terus mengalir, Lisa hanya bisa mengangguk dan berlari ke dalam mobil milik Agam. 


Sedangkan Alis berlari ke arah Baron. 


Alis mempergunakan bela dirinya. 


Dia membuat Baron terjatuh dan memukuli baron sampai babak belur. Anak buah Adam yang ada di sana hanya terdiam terpaku. 


"Anak Tuan Adam sangat menyeram jika dia marah. "


"Dia benar-benar seperti Tuan Adam. " Mereka saling berbisik. 


"Mati kau. Berani-beraninya kau menembak kakakku." Alis terus saja memukuli Baron. 


"Mana Alis Ibu? " Jimmy bertanya kepada Ibunya. 


"Anak itu, betapa hebatnya dia. " Di kondisi genting seperti itu, Agam tersenyum melihat Keponakannya. Dia memuji keahlian Keponakannya.


"Alis? " Lisa sangat terkejut dengan kelakuan Alis. 


"Biarkan saja, anak buahku akan menyusul membawa Alis ke rumah sakit dengan kita. "


"Jalan Pak." Agam memberi perintah kepada supirnya. 


Ketika di jalan,  Agam teringat dengan Adam. 


Dia mengambil ponselnya di dalam kantong. 


"Dimana pria itu? " 


Agam menelfon Adam. 


"Kenapa lama sekali di angkat? Mungkinkah dia di jalan? Atau terjadi sesuatu dengannya. " Agam berbicara di dalam hati. 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2