
Maaf ya guys, yang tertembak itu adalah Tommy, bukan Jimmy guys.
#salamdariautor
Dokter keluar dari ruangan Tommy.
Lisa, Adam dan Agam langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri dokter.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok? " Lisa bertanya dengan wajah yang sangat cemas.
"Kami akan segera melakukan operasi untuk mengambil peluru yang berada di punggung anak Ibuk, peluru itu lumayan dekat dengan jantung anak Ibuk."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok. "
1 jam.
2 jam.
30 menit.
Perawat keluar dengan wajah cemas.
Lisa dan Adam menghampiri sang perawat.
"Bagaimana keadaan anak saya Sus? " Lisa mempertanyakan kondisi anaknya.
"Dia mengalami pendarahan hebat Buk. Kami membutuhkan golongan darah yang sesuai dengan golongan darah anak Ibuk. " Sang perawat menatap mata Lisa yang mulai memerah.
"Saya bisa mendonorkan darah saya." Lisa bersedia mendonorkan darahnya untuk anaknya sendiri.
"apakah golongan darah Ibuk O? " Suster bertanya kepada Lisa.
Lisa dengan reflek kaget karena dia memiliki golongan darah AB.
"Golongan darah saya O Sus, saya bisa mendonorkan darah saya untuk anak saya. " Adam dengan cepat bersedia mendonorkan darahnya untuk anaknya.
"Ikuti saya Pak!" Suster menyuruh Adam untuk mengikutinya.
Lisa sangat syok dengan pernyataan Adam kepada suster.
"Benarkah dia ayah anakku? " Lisa masih saja belum percaya dengan semuanya.
Lisa melangkahkan kaki ke sebuah ruangan, dimana kedua anaknya sedang tertidur bersama Agam.
Saat menghampiri mereka berdua, Agam pun terbangun.
"Maaf, saya ketiduran Lisa. " Agam meminta maaf kepada Lisa.
"Tidak apa-apa, seharusnya saya mengucapkan terimakasih kepada anda." Lisa menatap wajah Agam.
"Lisa, jangan panggil saya anda. Nama saya Agam, saya adalah saudara dari Adam yang merupakan ayah dari anak-anak ini. " Agam berusaha menjelaskan kepada Lisa.
"Saya masih belum bisa menerima semuanya. Ini begitu cepat buat saya." Lisa sedikit mengeluh dengan semua yang telah terjadi.
"Saya sangat takut, saya takut suatu saat nanti mereka akan di ambil dari saya. Saya mengandung mereka selama sembilan bulan, kemudian saya sendiri yang melahirkan mereka. Tidak ada keluarga maupun suami yang menemani saya saat itu. " Mata Lisa mulai memerah.
"Saya mengerti Lisa. Kami tidak ada niat mengambil mereka dari kamu." Agam berusaha menenangkan Lisa.
"Ah, saya mempunyai bukti. Ini adalah sebuah foto yang membuktikan bahwa anak-anak ini adalah anak dari Adam saudara saya. "
Agam memperlihatkan foto bukti tes DNA, bahwa Jimmy, Tommy dan Alis adalah anak Adam.
__ADS_1
Lalu Agam menggeser layar ponsel tersebut. Dia memperlihatkan kalung garuda yang mempunyai inisial M kecil di belakang burung garuda itu.
"Apakah kamu memiliki kalung ini? Jika iya, itu adalah kalung milik Adam." Agam dengan fokus menjelaskannya kepada Lisa.
"Yah, aku mempunyai kalung ini." Jantung Lisa berdetak begitu kencang.
"Deg."
"Maaf, sepertinya aku harus ke toilet sebentar. Tolong jaga Jimmy dan Alis sebentar ya. "
Tanpa mendengar jawaban Agam, Lisa berlari ke arah toilet.
Dia mencuci wajahnya berulang kali.
"Lelaki itu, lelaki itu adalah Adam Manggala. "
Bayangan beberapa tahun yang lalu muncul di pikiran Lisa.
Saat itu Lisa dan Adam Berc**m*n ganas, mereka saling mengeluarkan suara kas.
"Ah, en*k kan? "
"En*k, lebih cepat lagi. "
.........
"Agh, apa yang aku pikirkan. Anakku baru saja tertembak dan sekarang bayangan mesum itu muncul di otakku. "
Lisa kembali mencuci wajahnya. Lalu mengeringkan wajahnya dengan tisu yang telah tersedia di wastafel itu. Kemudian dia keluar dari toilet tersebut.
"Kriuuuuk. " Perut Lisa berbunyi.
"Anak-anak, Apakah mereka kelaparan? " Lisa berlari keruangan dimana Jimmy dan Alis ketiduran.
Saat itu Lisa melihat kedua anaknya sedang menyantap nasi goreng yang di temani oleh Agam dan dua bodygoardnya.
"Apakah kamu sudah makan? " Agam bertanya kepada Lisa.
"Kruuuuk." Tiba-tiba perut Lisa kembali berbunyi.
Agam tersenyum melihat exspresi Lisa. Wajahnya terlihat mulai memerah karena menahan malu.
"Mmm, sepertinya kamu kelaparan. Kemarilah Lisa, mari kita makan bersama-sama. " Agam mengajak Lisa untuk makan bersama-sama.
Tak lama kemudian Adam datang menghampiri mereka.
Adam diam saja, wajahnya terlihat pucat. Luka yang ada di kening kirinya telah di bersihkan oleh perawat.
"Apakah kamu lapar? " Lisa memberanikan diri menegur Adam.
"Tidak, aku sudah makan. " Adam berusaha berbohong.
"Kriuuuk. " Tiba-tiba perut Adam berbunyi.
Lisa dengan cepat melihat ke arah Adam.
"Kau berbohong. " Lisa tertawa geli melihat exspresi Adam.
Adam dengan malu tersenyum miring dan kembali ke wajah aslinya, yaitu datar dan dingin.
"Maaf saudaraku, nasi gorengnya sedang habis. Aku akan menyuruh Ucok dan Irvan membelinya lagi. " Agam berusaha menahan tawanya.
__ADS_1
"Apakah kamu bahagia? " Adam bertanya kepada Agam.
"Sedikit, aku bahagia melihat saudaraku tersenyum meskipun sedikit. "
Adam hanya diam terpaku.
"Apakah dia jarang tersenyum? " Lisa bertanya kepada Agam.
"Ya, begitulah. "
"Pak Kaku, ayo makan bersama denganku. Nasi goreng ini terlalu banyak untukku. "
"Aku bisa menunggu Lisa, Ucok dan Baron sedang memesan lagi untukku. " Mata Lisa dan Adam saling bertemu.
"Apakah ayah tidak mau makan bersama kita? " Alis mulai angkat bicara.
"Ayah menolak tawaran Ibu. " Jimmy langsung bicara ke poinnya.
"Tidak, ayaaah...."
Jimmy memotong pembicaraan Ayahnya.
"Jika tidak, Ayah makan berdua saja dengan Ibu. Ibu bilang nasi goreng itu terlalu banyak untuknya. Apakah kamu juga mendengar itu Alis? " Jimmy menatap Alis dan beralih menatap Ayahnya.
"Iya aku mendengarnya, Ibu mau kan makan satu berdua dengan Ayah? Jadi, hari ini kita makan bersama - sama. Ada Paman Agam, Ayah, Ibu, Jimmy dan Alis, kecuali Tommy yang sedang di ruangan operasi. " Alis angkat bicara dengan polosnya.
Lisa hanya mengangguk-gangguk sambil menyendok nasi goreng yang akan dia santap.
"Tuh, Ibu memperbolehkan Ayah. Ayah sedang diet ya? " Alis berusaha menyudutkan Ayahnya.
Agam terperangah melihat debat kecil antara ayah dan dua anak itu.
"Ya, Ayah akan makan dengan Ibumu. " Adam terpaksa mengalah.
"Ibumu? " Jimmy dan Alis serentak menyebut kata yang sama.
"Ibu kita Ayah. Ayah harus belajar lagi cara mengucapkan kata yang baik dan benar dalam Bahasa Indonesia. " Alis dengan bawel menasehati Ayahnya.
Adam dengan cepat menghampiri Lisa dan duduk di lantai seperti saudaranya dan yang lainnya.
Adam duduk berhadap-hadapan dengan Lisa.
Lisa mengambilkan sendok dan air minum yang ada di dalam Plastik.
Mereka berdua makan sambil bertatap-tatapan.
"Dia lumayan ganteng juga, hidungnya mancung, tinggi, tegap, dan kulitnya putih bersih. " Lisa berbicara di dalam hati.
"Dia sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, dia lebih berisi dari beberapa tahun yang lalu. Dia berubah menjadi wanita dewasa. " Adam juga berbicara di dalam hatinya.
Tak sengaja Lisa menyenggol sendok milik Adam.
"Maafkan aku. " Lisa tersenyum kepada Adam.
kenapa jantungku berdebar-debar?
"Deg. "
" Apakah aku akan di diaknosa terkena serangan jantung?. " Adam memperhatikan senyuman manis Lisa, leher Lisa dan kemudian melanjutkan memakan nasi goreng seperti biasa.
Bersambung...
__ADS_1