TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Tommy telah selesai di operasi


__ADS_3

Nasi goreng Lisa dan Adam hampir saja habis. Adam begitu cepat menyuap nasi goreng.


"Apakah kamu begitu lapar? " Lisa bertanya kepada Adam karena Adam begitu cepat dan lahap saat makan.


"Aku beberapa hari ini susah makan, tapi entah kenapa nafsu makanku begitu baik hari ini. " Adam menyuap kembali nasi goreng dan mengunyahnya begitu cepat.


"Orang ini seperti tidak makan berbulan-bulan, dia dengan cepat menghabiskan nasi goreng. Please lah, tadi itu cuman basa basi. Aku menawarkan dia nasi goreng ini karena dia telah mendonorkan darahnya untuk putraku. " Lisa berbicara di dalam hati.


"Apakah kau tidak lapar lagi? Jika tidak, aku akan menghabiskan nasi goreng ini. " Adam dengan sepontan berkata seperti itu kepada Lisa.


"Kau? namaku Lisa, bukan Kau. " Lisa terlihat agak ketus.


"Tapi dulu namamu adalah Lili. Kenapa berubah menjadi Lisa? " Adam bertanya tanpa peduli perasaan Lisa.


"Ok, Kau. Terserah saja. Aku serahkan kepadamu. " Lisa menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.


Adam diam saja dan memilih fokus ke makanannya.


"Aku haus. Lisa tolong ambilkan aku air minum. " Adam menyuruh Lisa untuk mengambilkannya air minum.


"What? dia pikir aku babunya. Aku ini bukan pembantu bahkan istrinya. Ini orang tidak tau diri. " Lisa mengambilkan air minum di dalam plastik dan menyodorkannya kepada Adam.


"Pipetnya. " Adam berbicara sepatah kata saja sambil melihat ke arah Lisa.


"Deg. "


Lisa melihat ke arah Adam.


"Kenapa wajahnya begitu tampan? " Lisa berbicara di dalam hati.


"Apa yang kamu perhatikan? Aku meminta pipet Lisa. " Adam menatap tajam ke arah Lisa.


Lisa mengambilkannya dari dalam plastik dan menyerahkannya kepada Agam.


"Tampan? Please sadarlah Lisa." Lisa kembali berbicara di dalam hatinya.


"Apa yang kamu pikirkan? apakah kamu sedang berkata di dalam hati bahwa aku ini adalah tampan?" Adam memasukan pipet ke dalam botol.


"Enggak. " Wajah Lisa berubah agak ke merahan.


"Kenapa dia bisa menebak isi kepalaku? Apakah dia bisa membaca pikiranku? " Lisa berbicara di dalam hati.


"Yah, nasi gorengnya habis. " Lisa mengeluh sambil menatap Adam.


"Nasi gorengnya sampai. " Ucok dengan gembira menenteng 3 porsi nasi goreng.


"Kenapa tiga? " Adam bertanya kepada Ucok dan Irvan.


"Buat Tuan Adam satu, buat saya satu dan buat Irvan satu Tuan. " Ucok melangkahkan kaki ke arah Adam dan memberikan nasi goreng itu kepada Adam.


"Makasih Cok. " Adam menerima nasi goreng yang di berikan Ucok.


"Sama - sama Tuan. " Ucok dan Irvan berencana keluar dari ruangan itu karena berniat memakan nasi goreng itu di luar ruangan saja.


Mereka berdua tidak ingin merusak ketenangan yang ada diruangan itu.

__ADS_1


"Kamu pergi kemana? Maksud saya kenapa kamu tidak membeli 4 atau 5 bungkus saja. Saya ingin tambah soalnya. " Agam menatap Ucok dan Irvan yang ingin melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


"Ah, anu Tuan. Nasi gorengnya sudah habis. Tiga bungkus itu adalah detik - detik terakhir Tuan. " Ucok menjawabnya sambil memamerkan gigi rapinya.


"Yah, saya kurang ni Cok. " Agam mengeluh seperti anak kecil.


"Kamu jangan lebay Gam, kamu makan dengan saya saja. "


"Atau. " Adam melihat ke arah Lisa.


"Apa? " Lisa menatap Adam dan berbicara sepatah kata.


"Atau, kamu ingin bergabung dengan kami untuk menghabiskan nasi goreng ini?" Adam mengangkat nasi goreng dan membukanya.


"Tidak, terima kasih." Lisa menolak Adam.


"Keputusan yang bijak." Adam duduk di sebelah Agam. Mereka berdua menyantap nasi goreng itu dengan lahap.


"cih, bijak apanya. Jika aku tidak menahan malu. Aku akan menghabis sebungkus nasi goreng itu tanpa membagi siapapun." Lisa mengoceh di dalam hati.


Air luda Lisa terasa agak keluar ketika melihat Adam dan Agam menyantap nasi goreng itu dengan Lahap.


"Ibu, aku tidak bisa menghabiskannya. Bisakah Ibu menghabisnya denganku? " Alis mengajak Ibunya untuk makan berdua dengannya.


"Iya sayang. " Lisa terasa bergembira di dalam hati.


1 jam kemudian.


"Ibu aku sangat mengantuk. Aku tidak bisa tidur di tempat yang seperti ini. " Alis mengeluh kepada Ibunya.


"Kamu jangan manja Alis. Kita harus tetap di sini. Tommy sedang di operasi." Jimmy sedikit kesal dengan adiknya.


"Aku tidak manja Jimmy. Aku bilang, aku hanya tidak bisa tidur di sini. " Alis menatap Jimmy dengan kesal.


"Yang artinya kamu minta untuk pulang dan tidur di kasur empukmu. Kamu egois Alis. " Jimmy dengan spontan mengatakan Alis sangat egois.


Tiba - tiba perawat masuk ke dalam ruangan tempat mereka berkumpul.


"Nona Lisa, Tommy sudah selesai di operasi. Dia sudah kami pindahkan ke ruangan lain. " Sang perawat menatap Lisa.


"Dimana ruangannya Sus? " Lisa bertanya kepada Perawat itu.


"Kami memindahkannya ke ruangan VIP Nona."


Sang perawat memegang tangan Lisa.


"Maaf Nona Lisa, saya tidak mengenali anda. Saya tidak tau jika anda putri angkat Nyonya Caroline. " Wajah Perawat itu terlihat begitu gelisa.


"Tidak apa - apa Sus. Ayo antar saya ke ruangan anak saya. "


"Saya sangat ingin bertemu dengan anak saya. " Lisa tidak mempersalahkan hal yang menjadi kegelisaan bagi Perawat.


Adam menggendong Alis, sedangkan Agam menggendong Jimmy. Mereka mengekori Lisa dari belakang.


Sang Perawat membukakan pintu sebuah ruangan untuk Lisa.

__ADS_1


"Masuklah Nona Lisa. " Sang Perawat menyuruh Lisa untuk masuk.


Lisa melihat Tommy yang sedang tertidur lengkap dengan peralatan medis.


"Apakah dia baik - baik saja Sus? " Lisa bertanya kepada Perawat.


"Dia masih dalam kondisi di bius Nona. Besok pagi dia akan terbangun. Jangan cemas Nona, dia baik - baik saja. "


Lisa merasa lega mendengar ucapan Sang Perawat.


"Maaf Nona, saya pamit dulu." Sang Perawat minta izin untuk pergi dari ruangan itu.


"Iya sus, terima kasih. " Lisa mengucapkan terima kasih kepada Perawat.


"Hati - hati di jalan Sus." Agam mulai angkat bicara.


Sang Perawat tersenyum kecil saat melewati Agam dan Adam.


"Kenapa dia hanya tersenyum? " Agam bertanya kepada Adam.


"Dia malas menjawab pertanyaanmu. " Adam menjawab pertanyaan Agam dengan wajah datar.


"Kenapa dia berbicara begitu denganku? apakah aku salah jika aku menyapa Suster yang cantik itu? Tidak ada dosanya dan tidak ada undang - undang yang melarang menyapa seorang Suster. " Agam mengoceh di dalam hatinya.


"Paman, tolong turunkan aku. Aku ingin mendekat ke tempat tidur Tommy. " Jimmy meminta Agam untuk menurunkannya.


"Iya keponakan Paman yang tampan. " Agam menurunkan Jimmy.


Jimmy mendekati Tommy yang terbaring lemah.


"Jimmy, cepatlah bangun. Jika kamu bangun, aku akan menjadi kakak yang baik untukmu. "


Lisa tersentuh mendengar ucapan Jimmy.


Tanpa di sadari Lisa meneteskan air matanya dan cepat - cepat menghapusnya.


Lisa pun menghampiri Jimmy.


"Dia akan baik - baik saja Jimmy. " Lisa memeluk Jimmy.


Sedangkan Alis memeluk ayahnya.


"Aku tidak ingin Tommy mati Ayah."


"Dia kakak terbaikku, dia tidak pernah memarahiku seperti Jimmy. Dia kakak yang lembut dan baik hati. Dia tidak gengsi jika bermain barbie denganku. Dia berbanding terbalik dengan Jimmy Ayah. " Alis memeluk Ayahnya dengan erat.


"Jangan menangis Alis, nanti Tommy mendengarmu. Kita bisa saja membangunkan dia yang sedang tertidur pulas. " Adam berusaha menghibur putrinya.


"Iya ayah." Alis menghapus air matanya dan kembali memeluk ayahnya.


...


Bersambung..


Jangan lupa like dan coment ya. Masukan kamu sangat berguna bagi Autor dalam menyelesaikan novel ini.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2