TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Tidak ingin sendirian


__ADS_3

Mereka berlima sudah selesai menyantap makanannya.


Lisa membantu ketiga Asisten itu untuk membereskan piring-piring beserta makanan sisa yang ada di atas meja.


"Agh, aku begitu lelah hari ini. " Lisa menguap karena dirinya merasa mengantuk.


ternyata dari kejauhan, Adam melihat mulut Lisa seakan mau robek di saat sedang menguap.


"Kalau lelah sebaiknya istirahat. " Adam menatap Lisa tanpa berkedip.


"Aku ingin bertemu anak-anakku. Dimana mereka? " Lisa bertanya kepada Adam.


"Aku akan menelfonkan mereka. " Adam pun mengambil ponselnya yang berada di dalam kantong saku celananya.


"Hallo Ayah. " Telfon itu di angkat oleh Alis.


"Apa kabarmu? " Adam bertanya kepada gadis mungilnya.


"Alis baik-baik saja. Bagaimana dengan Ibu? Apakah dia masih marah-marah? " Alis mempertanyakan kondisi Ibunya kepada Ayahnya.


"Sepertinya tidak. Apakah Alis ingin bicara dengan Ibu? " Adam bertanya kepada putri kecilnya.


"Tidak. " Dengan cepat Alis memberikan ponsel itu kepada Jimmy.


Ternyata hal itu di dengar oleh Lisa, karena Adam membesarkan volume panggilan telfonnya.


Adam menatap Lisa yang sepertinya menyesal dengan perbuatannya.


Jimmy sudah muncul di layar ponsel. Dia tersenyum manis kepada Ayahnya.


"Hallo Boy, bagaimana kondisimu? " Adam bertanya kepada Jimmy.


"Aku baik-baik saja Ayah."


"Mmm, bagaimana kondisi Ibu? "


"Dia baik-baik saja. Apakah kau ingin bicara dengan Ibumu?" Adam bertanya kepada Jimmy.


"Iya Ayah. "


Dengan cepat Adam menyerahkan ponsel tersebut kepada Lisa.


"Jimmy ingin bicara denganmu. "


"Tolong kendalikan emosimu. " Lalu Adam pergi meninggalkan Lisa.


"Hallo Ibu. Apa kau baik-baik saja? " Jimmy mulai bertanya kepada Ibunya.

__ADS_1


"Ya, Ibu baik-baik saja. "


"Bagaimana kondisi adikmu? Ibu dengar, dia tidak ingin berbicara dengan Ibu."


"Dia baik-baik saja Ibu. "


"Sepertinya Alis sedang marah kepada Ibu. "


"Tapi tenang saja, Jimmy akan menjadi Alis baik-baik dan membujuk Alis agar tidak marah lagi dengan Ibu. "


"Anak yang pintar. " Lisa memuji putranya.


"Sekarang Jimmy tidur ya, jangan tinggalkan Alis. Temani Alis ya sayang. Ibu sangat mengandalkanmu. "


"Ok Ibu. "


Saat itu mata Lisa mulai memerah, karena dia sangat terharu memiliki anak yang pintar dan cerdas seperti Jimmy.


"Ibu jangan menangis, Ibu terlihat jelek saat menangis. " Jimmy mulai menghibur Ibunya.


Lisa pun tertawa setelah mendengar ucapan anaknya.


"Sekarang, apakah Ibu terlihat cantik? " Lisa memperlihatkan senyuman manisnya.


"Lumayan. " Wajah Jimmy begitu serius.


"Ibu ingin beristirahat. Telfonnya Ibu tutup. Love you sayang. "


"Love you too Ibu." Panggilan telfonnya di tutup oleh Lisa.


Kemudian Lisa terduduk dengan kondisi mata yang masih berkaca-kaca.


"Apakah aku menjadi Ibu yang kejam? " Air mata Lisa mulai mengalir di pipinya.


"Aku masih mempunyai dua orang anak. Mereka berdua masih membutuhkanku. Aku tidak boleh bersedih berlarut-larut. " Lisa berbicara di dalam hatinya. Saat ini, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Lisa memberikan ponsel itu kepada Adam.


"Terima kasih. " Lisa mengucapkan terima kasih kepada Adam.


Adam pun menerima ponsel itu.


"Apa kau menangis? " Adam melihat mata Lisa yang agak sembab.


"Kau terlihat jelek saat menangis. " Adam mulai mengejek Lisa.


"Ayah dan anak sama saja. " Lisa pun masuk ke dalam salah satu kamar apartemen.

__ADS_1


namun tak beberapa lama kemudian, Lisa keluar dari kamar itu.


"Apa? " Adam bertanya kepada Lisa.


"Bisakah kau menemaniku tidur di dalam kamar? "


"Aku sedang tidak ingin sendirian. "


"Bagaimana jika aku melakukan sesuatu kepadamu? " Adam bertanya kepada Lisa.


"Itu menjijikan. Maksudku, kau tidur di sofa kamar dan aku tidur di atas ranjang. Aku butuh seseorang untuk menjadi teman bicara, atau cuman sekedar bahwa seseorang yang lain ada di dalam kamar selain diriku. Aku merasa kesepian. "


Mendengar jawaban Lisa yang begitu panjang lebar. Adam pun mengangkat pantatnya dan masuk ke dalam kamar.


"Mana selimut untukku? " Adam bertanya kepada Lisa.


Lisa pun dengan cepat keluar dari kamar dan mengambil selimut yang berada di sofa tempat Adam tidur sebelumnya.


"Ini, kau meninggalkannya. "


"Ah, aku lupa. Maklumlah, aku sudah tua. "


"berapa umurmu? " Lisa bertanya kepada Adam.


"Hampir kepala empat. "


"Wah, kau memang sudah tua. " Lisa pun merebahkan badannya ke atas ranjang.


"Aku pikir, umurmu masih di bawah 35 tahun. Nyatanya sudah hampir ke 40."


"Apa kuncinya supaya bisa awet muda? " Lisa kembali bertanya kepada Adam.


"Aku lebih banyak meminum air putih dan berusaha menghindari air yang bersoda. "


"Hmp, apa kau sedang mempromosikan air putih sekarang? "


"Ada apa dengan otakmu? Kenapa kau selalu memojokkanku. "


"Lebih baik kau tidur saja." Adam menyuruh Lisa untuk tidur.


"Dasar, orangtua pemarah. " Lisa mengatakan Adam adalah orangtua.


Mandengar ucapan itu, entah kenapa Adam tersenyum tipis.


"Kau masih saja belum berubah. Bocah kecil cerewet dan masih saja mengesalkan. " Adam pun memejamkan matanya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2