
Lili memasuki kamarnya dengan wajah yang sangat bahagia.
Lili merebahkankan badannya ke atas kasur.
"Aku telah mempunyai pacar. " Lili tersenyum manis memikirkan hal itu.
"Dia menciumku." Lili menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Cekrek. " Kirana masuk ke dalam kamar Lili.
"Apakah kau sedang berbahagia? " Kirana bertanya kepada Lili.
"Tentu Kakak, Rivaldo memintaku untuk berpacaran dengannya. "
"Apa kau menerimanya? " Kirana kembali bertanya kepada Lili.
"Mmm, tentu saja Kakak. Aku sangat menyukai Rivaldo."
"Jadi hari ini adalah hari jadian aku dan Rivaldo. " Lili menambahkan kalimatnya.
"Selamat kalau begitu. " Kirana memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum.
"Kamu tidurlah. Aku akan kembali ke kamarku. " Kirana keluar dari kamar Lili.
"Bagaimana mungkin dia berbahagia di atas penderitaanku? " Kirana berbicara sendirian di dalam hatinya.
Kemudian Kirana kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Beginikah rasanya jatuh cinta?. " Lili terus saja tersenyum memikirkan saat dia berciuman dengan Rivaldo.
"Ah, Lili. Kamu harus segera mengganti pakaian dan tidur." Lili menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Lili pun mengganti pakaiannya dan tertidur dengan pulas.
.....
Dua minggu kemudian, Rivaldo dan Lili bertunangan.
Rivaldo memasangkan cincing ke jari manis Lili dan Lili melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Rivaldo.
"Cih, mereka berdua berbahagia di atas penderitaanku. " Kirana menatap tajam ke arah mereka.
"Ini semua adalah gara-gara Kau Lili. Aku bersumpah, aku akan mencari cara untuk menyingkirkan Kau. Kau tidak pantas berada di sini. " Kirana terus mengoceh di dalam hatinya.
"Apakah kamu baik-baik saja Kirana? " Merry bertanya kepada Anaknya.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja Ibu. Pacarku telah di ambil oleh Lili. " Kirana mengungkapkan perasaannya kepada Ibunya.
"Tidak apa-apa Sayang. Semua itu akan berlalu dengan cepat."
__ADS_1
"Ingat Sayang. Kamu akan menjadi Pewaris Utama jika Lili menikah nanti. Pikirkan hal itu Sayang. " Merry berusaha menasehati anaknya.
"Ibu, ini begitu menyakitkan. Aku tidak tahan melihat mereka berdua bermesraan di depan mataku. "
"Aku sangat mencintai Rivaldo. " Kirana berusaha menegaskan kepada Ibunya.
"Cinta itu tidak akan membuat kamu kenyang dan kaya raya Kirana. Lupakan saja Rivaldo dan cari pria lain yang lebih ganteng darinya. Kamu jangan bodoh Kirana. Kamu itu cantik, pintar dan sebentar lagi akan menjadi Pewaris Utama William Grup. Tidak akan ada pria yang berani menolakmu. Percaya kepada Ibu. " Merry menggenggam tangan anaknya.
"Tapi Rivaldo menolakku. Aku menginginkan Rivaldo, bukan pria lain. " Kirana melepaskan genggaman Ibunya dan pergi meninggalkan pesta itu.
"Kenapa anak itu begitu bodoh?. " Kirana tidak peduli dengan kesedihan anaknya.
Yang ibu pikirkan cuman harta dan harta. Dia tidak pernah memikirkan perasaanku.
Kirana terus saja menangis.
Pokoknya, bagaimana pun caranya aku harus tetap mendapatkan Rivaldo. Aku tidak rela kehilangan Rivaldo.
Air mata Kirana terus saja membasahi pipinya.
Tiba-tiba saja seseorang mengagetkan Kirana.
"Apa kau menangis? " Rivaldo bertanya kepada Kirana.
"Apa kau buta? " Kirana balik bertanya kepada Rivaldo.
"Maafkan aku. " Rivaldo memeluk Kirana.
"Ini sangat menyakitkan. Aku seolah-olah ingin mati saja. Kenapa aku harus mencintai laki-laki jahat sepertimu. " Kirana terus saja menangis.
"Aku memang jahat. Aku minta maaf Kirana. Tapi sekarang ini aku adalah tunangan dari adik tirimu. Aku melakukan itu semua untuk membantu Ayahku. Tolong mengertilah Kirana. " Rivaldo memeluk Kirana dengan erat.
Suatu saat nanti, Kau akan menikahiku dan meninggalkan tunanganmu. Aku akan membuat Kau tergila-gila kepadaku meskipun merelakan kehormatanku.
Kirana melepaskan pelukannya dan mencium Rivaldo.
"Ah, lepaskan aku Kirana. " Rivaldo mendorong Kirana.
"Aku rela menjadi simpananmu. Aku berjanji akan menjaga rahasia ini." Kirana menurunkan cel*na dal*mnya dan mengambilnya.
Kirana tanpa rasa malu memasukan cel*na dal*mnya ke dalam kantong celana milik Rivaldo.
"Apakah kamu benar-benar tidak keberatan? " Rivaldo bertanya kepada Kirana.
"Aku tidak akan pernah keberatan. " Kirana mencium Pipi Rivaldo.
"Kau yakin Kirana? " Rivaldo meremas ****** Kirana.
"Aku yakin. " Kirana pun memeluk Rivaldo.
__ADS_1
Ini adalah cara yang terbaik supaya Kau tetap bersamaku. Aku rela bertelanjang di depanmu asalkan dirimu tidak pergi meninggalkan diriku.
Kirana tersenyum licik di dalam pelukkan Rivaldo.
"Kirana, aku harus pergi dulu. " Rivaldo melepaskan pelukannya.
Kirana dengan cepat mencium Rivaldo. Lidah mereka saling bertemu dan menari-nari.
"Aku akan segera kembali sayang. " Rivaldo tersenyum mesum. Ia mengeluarkan cel*na dal*m Kirana di dalam kantongnya dan menciumnya.
"Aku akan menunggumu Sayang. " Kirana mencium bibir Rivaldo dan leher Rivaldo. Dia pun lebih dulu meninggalkan Rivaldo.
Sebelum pergi, Kirana sedikit mengangkat roknya, dan mengoyangkan tubuh seksinya.
"Daaah Sayang. Muach. " Kirana pergi meninggalkan Rivaldo.
"Hah, aku tidak menyangka." Rivaldo berbicara sendirian.
Rivaldo memasukkan cel*na itu ke dalam kantongnya dan pergi dari tempat itu.
Ketika pesta berlangsung. Kirana dan Rivaldo saling mencuri pandang. Lili yang polos tidak mengetahui itu semua.
"Lili, selamat atas pertunanganmu. " Kirana memeluk Lili.
"Terima kasih Kakak. " Lili membalas pelukan Kakak Tirinya.
Setelah itu Kirana menyalami Rivaldo dan memeluk Rivaldo.
"Selamat ya Rivaldo. "
"Jaga Adik Tiriku baik-baik." Kirana mencoba mengambil muka di depan Ayahnya.
"Tenang saja Kirana. " Rivaldo memeluk Kirana.
"Apa kau ingin mencoba kehangatanku? " Kirana berbisik ke telinga Rivaldo.
"Lain kali aku akan menikmatinya. " Rivaldo membalas bisikan Kirana.
"Kirana, ayo ikuti Ibu. " Tiba-tiba saja Merry mengajak Putrinya untuk mengikutinya.
Kirana dan Rivaldo melepaskan pelukan mereka.
Ah, Ibu ini mengganggu saja.
Kirana dengan terpaksa mengikuti Ibunya.
"Apa yang kamu lakukan Kirana? " Merry bertanya kepada Kirana.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like, dan koment ya.
Terima kasih.