TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Ingatan Lisa sebagai Lili


__ADS_3

Setelah Adam berbicara dengan Lisa. Adam pun pergi meninggalkan Lisa.


Saat itu, Lisa merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri.


"Apa yang telah aku lupakan? rasa apa ini? " Lisa bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Jantungnya berdebar-debar dan kepalanya mulai terasa sakit.


"Apa yang telah terjadi denganku sebelum Kakek dan Ibuku meninggal dunia? " Lisa berusaha mengingatnya kembali.


Kepala Lisa semakin terasa sakit.


Ia pun mengingat di saat dia tertawa bahagia bersama Kakek dan Ibunya.


Lisa juga mengingat, di saat Kakeknya terbaring koma di rumah sakit.


"Kenapa ingatan menyakitkan itu kembali muncul? " Lisa memegang kepalanya.


Tiba-tiba bayangan ketika Ibunya terbaring kaku di kamar mayat begitu jelas.


"Ibu, jangan tinggalkan Lili. "


"Lili mohon Ibu. " Lili berusaha membangunkan Ibunya yang terbaring kaku.


"Sudah Lili, Ibumu sudah meninggal. "


"Hentikan Lili, jangan gila seperti itu. " Arkan berusaha menarik Lili untuk pulang, tapi Lili tidak mau pulang.


"Pelayan, pelayan. " Arkan berteriak kepada pelayannya.


Seketika beberapa pelayan masuk ke dalam kamar mayat itu.


"Bawa Lili pulang, kunci dia di dalam kamarnya. Jika dia terus saja memberontak, bius saja dia. " Arkan memerintah pelayannya.


"Ah, kepalaku sakit sekali. " Lisa memegang kepalanya.


"Ok, tenang Lisa, tenang. Kamu sekarang adalah Lisa, kamu bukan Lili lagi. " Lisa berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Kemudian Lisa mengambil obat yang terdapat di dalam tasnya. Lisa pun menelan obat itu.


"Lupakan Lisa, lupakan itu semua. " Lisa berusaha mengendalikan dirinya sendiri.


Lisa berusaha mengatur pernafasannya. Ia pun menghela nafasnya panjang-panjang.

__ADS_1


"Huuf, ha. Huuf, ha. "


Tak lama kemudian, Lisa turun dari atap gedung itu. Lisa berniat untuk pergi ke ruangan anaknya.


Saat itu Lisa melihat Rivaldo dengan seorang gadis muda yang hendak memasuki sebuah ruangan.


Seketika Lisa mengingat masa lalunya dengan Rivaldo.


Waktu itu Lisa yang masih bernama Lili pergi berlibur dengan Rivaldo ke sebuah pantai. Lili dan Rivaldo memutuskan masuk ke sebuah restoran untuk makan siang.


Saat itu Rivaldo selalu saja mendapat pesan dan bahkan mendapat panggilan telfon dari seseorang.


"Sayang, Kakak angkat telfon ini dulu ya. Ini dari rekan kerja Kakak. " Rivaldo mencium kening Lisa dan meninggalkan Lisa.


Rivaldo tampak berbincang-bincang sambil tertawa. Hal itu di lihat oleh Lili dari kejauhan.


"Apa yang membuatnya begitu bahagia? Apakah itu benar-benar dari rekan kerjanya? " Lili mulai curiga kepada Rivaldo.


Tak lama kemudian, Rivaldo mendekati Lili. Namun pada saat itu Lili memilih untuk diam. Dia tetap berfikiran positif kepada tunangannya.


"Ting. " Ponsel Rivaldo kembali berbunyi, itu menandakan dia sedang mendapat pesan dari seseorang.


Lili hanya melihat ke arah ponsel itu.


"Itu dari siapa sih Kak? " Lili memberanikan diri untuk kembali bertanya kepada Rivaldo.


"Dari rekan kerja Kakak. " Rivaldo hanya melihat sekilas ke arah Lili.


"Perempuan atau Laki-laki? " Lili kembali bertanya.


"Laki-laki. " Hanya itu jawaban Rivaldo kepada Lili, dia pun senyum-senyum sendiri membalas pesan yang masuk ke ponselnya.


"Disaat libur begini masih mengurus pekerjaan ya Kak? " Lili bertanya lagi kepada Rivaldo.


"Lili, jangan banyak bertanya deh. Kakak lagi pusing. " Rivaldo meletakkan ponselnya agak keras. Hal itu membuat Lili sedikit terkejut.


"Udahlah ya. Dari pada berdua terus denganmu, lebih baik Kakak mengumpul saja dengan teman-teman Kakak. " Rivaldo mengangkat pantatnya dari kursi.


"Kak maafkan aku." Lili meminta maaf kepada Rivaldo.


"Sudahlah. Kau ke penginapan dengan ojek saja. Atau taksi jika ada. " Rivaldo melemparkan uang ke meja.


"Tapi Kak. " Lili berusaha menghentikan Rivaldo.

__ADS_1


"Maaf, mood Kakak lagi buruk Lili. Kakak butuh waktu me time. " Rivaldo meninggalkan Lili di restoran itu sendirian.


"Kak. "


"Sayang. " Lili berusaha memanggil Rivaldo, namun Rivaldo tidak menghiraukannya. Dia meninggalkan Lili begitu saja di tempat itu dan pergi mengendarai mobilnya ke suatu tempat


"Apakah dia begitu marah? " Lili berbicara dengan suara pelan. Kemudian Lili pulang sendirian dengan menyewa ojek yang ada di sana.


Setelah itu Lili memasuki penginapannya.


"Liburan seperti ini, apa yang harus aku lakukan? " Lili menscroll layar ponselnya untuk mengecek media sosial.


Saat itu, Lili melihat status Rivaldo yang mengatakan. "Hari ini begitu indah. " Dengan pemandangan pantai yang begitu indah.


Di saat yang bersamaan, Lili melihat status dari Kirana Kakak Tirinya yang mengatakan. "Terima kasih Sayang, terima kasih telah menemaniku. " Pemandangan pantai itu begitu sama dengan pantai yang di videokan oleh Rivaldo.


Namun pada saat itu Lili berusaha berfikiran positif. Dia menekankan kepada dirinya bahwa Kirana dan Rivaldo tidak berada di pantai yang sama.


Pada malam hari, Lili terbangun dari tidurnya. Lili pun melihat ponsel dan ia mendapat pesan dari Rivaldo.


"Kakak tidur di tempat teman Kakak, jangan menunggu Kakak. Maafkan Kakak. " Begitulah isi pesan Rivaldo kepada Lili.


Lili begitu kecewa saat menerima pesan itu dari Rivaldo.


"Dia lebih memilih teman-temannya dari pada tunangannya sendiri." Lili pun melangkahkan kaki menuju jendela penginapannya. Lili membuka jendela itu dan menikmati udara malam.


Saat itu, Lili melihat seorang lelaki yang sangat mirip dengan Rivaldo. Orang itu memasuki sebuah kamar penginapan dengan seorang wanita yang sepertinya Lili mengenalnya.


"Sepertinya itu Kak Rivaldo. Apakah mataku salah lihat? " Lili mengucek matanya agar bisa melihat lebih jelas lagi.


"Ah, mana mungkin. Katanya dia kan tidur di tempat temannya." Lili berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba Lisa di kagetkan oleh seseorang.


"Nona, ada apa Nona? " Salah satu Dokter menegur Lisa.


"Eh, saya tidak apa-apa Dok." Lisa masih menatap ruangan dimana Rivaldo dan seorang gadis memasukinya.


"Saya permisi ya Dok, saya mau masuk ke ruangan anak saya. " Lisa berpamitan kepada Dokter yang menyapanya.


Ada apa dengan Nona Lisa? Kenapa dia menatap ruangan itu? Itu kan ruangan Kirana yang sedang koma beberapa minggu ini.


Dokter itu tampak kebingungan, lalu dia pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2