
Melati masuk ke dalam untuk mengganti seprei. Benar apa yang di katakan oleh Agam. Di seprei tersebut ada bercak darah.
"Jadi ini katanya yang aku sedang pamer. Pamer apaan coba? dasar laki-laki somplak. "
Melati pun dengan kesal menarik seprei tersebut dan menggantinya dengan seprei baru.
Tak lama kemudian laki-laki yang berstatus suaminya itu muncul dari balik pintu.
"Bagus, jadi istri itu harus rajin. "
"Ya rajin, kadang aku itu kebingungan. Jadi istri itu adalah sosok pendamping suami atau pelayan suami sih? "
"Atau jadi pembantu suami. "
Melati dengan sengaja melontarkan perkataan itu.
"Kamu kesal? "
"Nggak. Buat apa kesal. "
"Tapi perkataan kamu itu menunjukkan kalau kamu itu lagi kesal sama aku. Dosa tau. "
*Dia juga tau dosa. *
"Apaan sih. "
Melati pun melangkahkan kaki karena berniat untuk keluar dari kamar.
Entah kenapa, bawaannya dia lumayan kesal melihat suaminya pada saat itu.
Baru aja beberapa langkah. Sang suami bertanya kepada Melati.
"Kamu mau kemana? "
"Aku mau keluar kamar. Ada apa? "
"Disini aja."
"Nggak mau, aku mau nonton di luar aja. "
"Jadi istri itu jangan membantah terus. "
"Membantah sedikit nggak apalah."
"Heh. Terserahlah. "
Agam memilih untuk mengambil laptopnya dan menghidupkannya.
***
Bel apartement mereka pun berbunyi, itu menandakan bahwa ada tamu yang akan masuk ke apartement mereka.
Melati yang sedang menonton flm korea, menghentikan kegiatannya untuk sementara waktu.
Perempuan itu dengan malas bangkit dari rebahannya dan melangkahkan kaki menuju pintu apartement.
Melati melihat siapa tamu itu dari celah bulat pintu.
"Eih, itu Ibu. "
Melati pun merapikan rambutnya di sebuah cermin yang sengaja sudah di sediakan di dinding belakang pintu.
Wanita itu pun dengan pura-pura bahagia membukakan pintu apartement.
"Ibu. " Melati berusaha menampilkan senyuman termanisnya.
"Iya sayang." Ibu Marbela langsung memeluk Melati.
"Ibu tidak mengganggu kalian kan? "
"Enggak Bu." Melati berusaha sesopan mungkin.
"Ayo masuk Bu. "
Melati dengan semberingahnya mengalungkan tangannya ke lengan mertuanya.
"Agam mana sayang?"
"Agam lagi di dalam kamar Bu. "
"Panggilkan dia ya. "
__ADS_1
"Iya Bu. "
Melati pun memanggil suaminya di dalam kamar.
Pintu kamar di buka oleh Melati.
Wanita itu dengan cepat melangkahkan kaki ke arah Agam yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Agam, ada Ibu. "
"Hah. " Agam seketika terkejut.
"Ibu ngapain ke sini ya? "
Tapi Melati mengangkat bahunya bertanda dia tidak tau apa maksud kedatangan mertuanya itu.
"Mungkin dia kangen kamu. "
Agam bergegas menutup laptopnya.
Sebenarnya Melati ingin melihat apa yang sedang di lakukan oleh Agam dengan laptopnya. Tetapi pria itu seakan tidak ingin Melati melihat laptopnya.
Pria itu dengan langkah seribu melangkahkan kaki menuju Ibunya yang sedang duduk di atas sofa.
"Ada Bu? " Tatapan Agam seolah-olah ingin mengintrogasi Ibunya.
"Emang Ibu tidak boleh melihat anak ibu sendiri di apartementnya?"
"Nggak gitu juga Bu. Agam cuman bertanya ada apa Ibu kesini? mana tau ada yang penting kan? "
"Ada. Ibu sedang menangih sesuatu."
"Apa? "
"Buatkan Ibu cucu secepatnya. "
"Ibu jangan keras-keras bicaranya, nanti Melati mendengarnya Ibu. "
"Jangan buat Agam malu. "
"Biar aja. Biar Melati juga mendengarnya sekalian. "
"Melati buatkan Ibu teh ya. "
"Iya sayang. "
Sang Ibu memamerkan senyumnya kepada menantunya.
Lalu sang ibu berniat untuk menyusul menantunya itu.
"Minggir kamu. "
"Ibu mau kemana? "
"Apa sih Agam?"
"Agam cuman bertanya Bu."
"Kamu jangan kepo deh. "
"Iiih, kenapa perempuan itu susah di tebak sih. "
Agam dengan wajah yang agak kesal lebih dulu meninggalkan Ibunya.
Lelaki itu melangkahkan kaki ke arah kamarnya.
"Hei, kamu mau kemana Agam. " Namun lelaki itu tidak menyaut panggilan Ibunya.
"Dasar, anak zaman sekarang. "
Kemudian Marbela pergi menuju dapur dan mendapati menantunya yang sedang membuat teh untuk dirinya.
"Melati, kalau Ibu mau bertanya boleh dong ya. " Jiwa emak-emak Marbela mulai muncul.
"Iya, boleh Bu. Ada apa emang? "
"Kamu dan Agam udah kan? "
"Udah apa Bu? " Melati tidak terkejut sama sekali dengan pertanyaan mertuanya.
"Maksud Ibu kamu udah melakukan kewajiban kamu ke Agam?"
__ADS_1
Melati yang sedang menganduk-ngaduk gula di dalam gelas yang berisi teh celup kemudian menghentikan kegiatan itu sekejab.
*Aduh, kenapa Ibu bertanya seperti itu sih? Ada-ada aja pertanyaan Ibu ni. *
Melati kemudian melihat ke arah Ibu Agam.
"Bukannya Ibu ingin mencampuri urusan kalian. Tapi Ibu hanya ingin segera di beri cucu aja. "
"Di resepsi pernikahan kemaren cucu Ibu kan sudah ada. Itu yang namanya Jimmy dan Alis. "
"Iya, itu kan anaknya Adam. Sekarang Ibu ingin menggendong anaknya Agam."
"Kamu tau kan? Agam ini sudah termasuk laki-laki yang telat menikah Melati. "
"Teman-temannya aja udah mempunyai anak, masa dia belum sih. "
Melati yang saat ini merasa agak risih berusaha untuk tetap tenang menghadapi Ibunya Agam.
*Aduh, pertanyaan Ibu ini memang luar biasa ya. "
Melati menarik nafasnya dengan pelan.
"Ya, Melati mengerti Bu. "
"Benarkah? " Mata Marbela begitu berbinar.
Dia tersenyum bahagia melihat menantunya itu.
Akhirnya keinginan dia untuk menimbang cucu dari Agam bisa di kabulkan oleh Melati.
"Ibu, kita ke sana yuk. " Melati menunjuk sebuah sofa yang berada di ruangan tamu.
"Iya sayang. "
Melati ingin membawa ketiga teh itu. Dia berniat teh itu untuk dirinya, Agam dan untuk mertuanya.
"Kenapa tiga sih sayang? Agam sudah masuk ke dalam kamarnya. "
*Iz, kenapa dia masuk ke dalam kamar sih? dasar laki-laki egois.* Melati mengupat di dalam hatinya.
"Ayo sayang. Ini teh biar Ibu saja yang bawa ya. " Marbela menawarkan diri untuk membawa teh itu.
"Dua aja yang di bawa sayang. "
Marbela mengurangi satu gelas teh yang berada di napan.
"Biar Melati aja yang bawa Bu. Melati kan masih muda, yang muda harus melayani yang tua Bu. "
"Jadi kamu menganggap Ibu sudah Tua?"
"Maksud Melati bukan begitu Bu. "
"Iya, Ibu tau kok. Ibu cuman bercanda sayang."
"Ayok. " Sang Ibu lebih dulu melangkahkan kaki ke arah sofa.
***
Mereka berdua berbincang-bincang.
Banyak hal yang di ceritakan Marbela kepada Melati.
Semuanya itu hampir sebagian persen menceritakan semua teman-temannya sudah memiliki cucu yang tampan dan cantik. Mereka sangat menggemaskan dan menghibur masa tua yang kesepian. Begitulah ungkapan Marbela kepada Melati.
Melati berusaha setia mendengarkan ocehan sang Ibu.
*Yah, sepertinya Ibu ini benar-benar merasa kesepian. Ditambah Ayah Agam sudah meninggal dunia cukup lama.*
Namun tak lama kemudian Sang Ibu mengajak Melati untuk memasak di dapur.
"Hari ini, ayo kita memasak sesuatu yang spesial Melati. Sudah lama rasanya Ibu tidak memasak untuk putra ibu. "
"Iya Bu. " Melati menuruti keinginan mertuanya itu.
Sang Ibu tambah bahagia setelah berbicara ini itu kepada Melati.
Di tambah dia punya pemikiran bahwa menantunya itu adalah menantu yang penurut dan bisa di andalkan juga.
Dan hal yang sangat spesial, menantu cantiknya itu bisa di ajak kompromi untuk melakukan sesuatu.
Bersambung....
__ADS_1