
Kirana melihat Rivaldo keluar dari pintu belakang panggung.
"Itu dia. " Kirana berlari dan menci*m Rivaldo.
Bagaimana?Kamu bahagia kan mendapatkan kado Anniversary dari Kakakmu Lili.
Kirana melihat Lili yang bersembunyi di balik dinding dari sudut matanya.
Menangislah Adikku Tersayang. Coba rasakan apa yang pernah aku rasakan dua tahun yang lalu. Dulu Kau mengambil orang yang aku cintai dariku. Sekarang rasakan bagaimana orang yang Kau cintai di ambil orang lain.
Tak lama kemudian, Kirana melihat Lili pergi dari tempat itu.
Sakitkan? itu yang aku rasakan dua tahun yang lalu.
Tiba-tiba Rivaldo mendorong Kirana.
"Kirana ..."
Rivaldo menarik Kirana ke dalam sebuah ruangan.
"Kau bisa saja merusak reputasiku. Jangan pernah menciumku di depan umum seperti itu. Ingat, aku ini masih tunangan Adikmu." Rivaldo memarahi Kirana.
"Maafkan aku Rivaldo. " Kirana hanya menunduk ke arah lantai.
Tiba-tiba ponsel Kirana berbunyi.
"Dari siapa itu? " Rivaldo bertanya kepada Kirana.
"Ini dari temanku. Mungkin mereka sedang mencari keberadaanku. " Kirana meninggalkan Rivaldo dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Lili menangis saat keluar dari sana Bos. Sekarang ini dia pergi menuju sebuah Bar. " Orang suruhan Kirana melaporkan Lili kepada Kirana.
"Bagus, jika dia minum di Bar itu. Buat dia mabuk semabuk-mabuknya. Sogok pelayan di sana untuk membuat Lili cepat mabuk. Apakah kamu mengerti maksud saya?. " Kirana memberi perintah kepada orang suruhannya.
"Baik Bos. "
Kemudian Kirana mematikan panggilan itu.
Lihat, apa yang akan terjadi dengan Lili kecil kita?
Kirana tersenyum puas saat melihat pantulan wajahnya di sebuah kaca.
....
Lili keluar dari taksi dan masuk ke sebuah Bar.
Lili duduk dan memesan minuman berakohol.
Tiba-tiba saja orang suruhan Kirana mendekati salah satu Pelayan yang ada di sana.
"Sut. " Orang suruhan Kirana yang bernama Dodi memberi kode ke salah satu pelayan.
Pelayan itu melihat kearah Dodi.
"Buat wanita itu mabuk dengan meremix beberapa alkohol ke minuman wanita itu. " Dodi menunjuk Lili yang sedang duduk sendirian.
Lalu Dodi menyelipkan beberapa uang ke kantong celana Sang Pelayan.
"Tolong rahasiakan ini. " Dodi pergi meninggalkan pelayan itu.
Dengan sekejap Pelayan itu membuat minuman khusus sesuai permintaan Dodi untuk Lili.
"Ini Nona. " Sang Pelayan menyerahkan minuman kepada Lili.
"Terima kasih. " Dengan sekejap, Lili menghabiskan minuman alkohol itu.
Apakah begini rasanya minuman alkohol?
Lili bertanya-tanya di dalam hatinya.
Ah, mungkin rasanya memang begini.
Lili berusaha berfikiran positif.
.....
"Tolong masukan ini ke minuman pria itu." Camilla memberi perintah ke salah satu Pelayan.
"Ambillah." Camilla menyelipkan beberapa lembar uang ke kantong pria itu.
__ADS_1
Tertangkap Kau Camilla. Apa yang coba Kau masukkan ke minuman saudaraku?
Agam melihat semua yang telah di lakukan oleh Camilla.
Setelah meminum alkohol itu, Adam merasa kepanasan.
Tiba-tiba saja Camilla mendekati Adam.
Camilla memeluk Adam dan menci*m Pipi Adam.
Wanita iblis itu memasukan perangsang keminuman saudaraku.
Agam bisa menebak semua itu dengan benar.
Tanpa basa basi Agam berusaha menjauhkan Camilla dari saudaranya.
"Maaf Camilla, aku akan membawa saudaraku." Agam berusaha membawa Adam.
Beberapa Bodyguard berusaha membantu Agam untuk membawa Adam.
"Sial, rencanaku gagal lagi. " Camilla mengoceh di dalam hatinya.
Ketika akan keluar dari Bar itu. Camilla mendengar salah satu Bodyguard Adam sedang menelfon seseorang.
"Kau datang ke hotel B, tunggu aku sebelum kau memasuki hotel itu. " Bodyguard itu memerintahkan seseorang.
"Kau sudah memesannya? " Tak lama kemudian, Agam bertanya kepada Bodyguard yang bernama Alim itu.
"Sudah Tuan. Aku jamin wanita ini sangat cantik. Dia pasti akan melayani Tuan Adam dengan baik. " Alim menatap Bosnya.
"Bagus. Sekarang Kau pergilah untuk mengecek kamar itu. Tunggu aku dan Adam sampai di hotel itu. Kau paham maksudku? " Agam memberi perintah kepada Alim.
"Paham Bos. " Beberapa Bodyguard mengikuti Alim.
Camilla yang mendengar itu semua mengikuti Alim dan Beberapa Bodyguard itu.
Sesampainya di hotel B, Camilla melihat Alim dan Beberapa Bodyguard menghampiri seseorang wanita. Wanita itu di suruh menunggu di sebuah lobby.
Camilla menelfon salah satu Bodyguard Adam.
"Hallo Nona. " Bodyguard itu mengangkat telfon di dalam toilet umum.
"Baik Nona. " Telfon itu di matikan.
Saat memeriksa kamar itu dengan Alim, Bodyguard yang membelot kepada Camilla memasang camera tersembunyi. Hal itu di lakukannya tanpa sepengetahuan Alim.
Tiba-tiba ponsel Alim berbunyi.
"Alim, jemput kami sekarang juga. Mobil yang kami tumpangi mengalami kebocoran ban. " Agam memberi perintah kepada Alim.
"Baik Tuan. " Dengan cepat Alim pergi dari tempat itu membawa Bodyguard yang membelot kepada Camilla. Bodyguard itu bernama Wawan.
"Wawan, Kau ikut denganku. Buat kalian berdua, jaga kamar ini dari luar. " Alim dan Wawan pergi meninggalkan tempat itu.
Melihat Alim dan Wawan pergi, Camilla masuk ke dalam hotel dan menghampiri wanita yang sedang menunggu di sebuah Lobby.
"Apakah kau yang di pesan oleh calon suamiku? " Camilla menatap wanita itu dengan tatapan merendahkan.
"Ini uang untukmu, sekarang Kau pergilah dari tempat ini. Biar aku yang melayani calon suamiku. " Camilla melemparkan beberapa ikat uang kepada wanita itu.
Dengan wajah takut, wanita itu pergi dari tempat itu.
Ternyata salah satu pelayan hotel menyaksikan semua itu.
Tak lama kemudian, Lili sampai di hotel itu.
Lili sempat berpapasan dengan Camilla.
Lili dalam kondisi agak mabuk, pergi memesan sebuah kamar VIP.
Tiba-tiba saja orang yang mengikuti Lili bertemu dengan teman lamanya.
"Apa yang Kau lakukan di sini?" Pelayan itu bertanya kepada Dodi.
"Aku sedang mengikuti wanita itu. Kenapa wajahmu begitu pucat?" Dodi bertanya kepada teman lamanya.
"Aku terkejut melihat wanita yang tangguh hari ini. Wanita itu baru saja pengusir seorang pelac*r yang hendak tidur dengan calon suaminya. "
"Setelah ini, aku tidak tau apa yang akan terjadi denganku. Apakah aku akan di marahi atau akan di pecat karena tidak bisa menahan wanita itu? aku sungguh tidak berani menghalangi wanita tangguh itu. Aku sedikit ketakutan Dodi. " Pelayan itu curhat kepada Dodi.
__ADS_1
"Ah, aku punya ide. " Dodi seperti membisikkan sesuatu kepada Pelayan itu.
"Aku akan menelfon Bosku. " Dodi permisi untuk menelfon Kirana.
Kirana menjawab panggilan dari Dodi.
"Dimana Kau sekarang? " Kirana bertanya kepada Dodi.
"Aku sedang berada di hotel B. Lili memesan sebuah kamar VIP di hotel ini. "
"Aku punya ide Bos, bagaimana jika aku menjebak Lili untuk tidur dengan seorang pria? Apakah Bos mengizinkannya? " Dodi bertanya kepada Kirana.
"Tentu saja, lakukan saja. "
"Haha, idemu sangat luar biasa. " Kirana memuji ide dari Dodi.
"Baiklah Bos, jangan lupa bonusnya. " Dodi meminta uang tambahan kepada Kirana.
"Aku akan memberimu bonus dua kali lipat jika Kau berhasil menjebaknya. " Kirana mematikan ponsel itu.
Dari balik sana terdengar Rivaldo yang memanggil Kirana.
"Sayang, kamu dimana? " Rivaldo berusaha mencari Kirana.
"Aku di kamar mandi Sayang. Tunggu sebentar ya. " Kirana menyaut dari dalam kamar mandi.
"Cepat dong yank, aku sudah tidak tahan. " Rivaldo memohon agar Kirana sedikit cepat dengan kegiatannya yang sekarang.
"Iya Sayangku. " Kirana pun keluar dari kamar mandi.
....
Dodi menyamar sebagai salah satu pelayan hotel.
Pada saat itu, Dodi mengikuti Lili yang akan masuk ke sebuah lift.
"Nona, aku ingin menyampaikan pesan. Kunci kamar bernomor 226 itu untuk kamar bernomor 225 Nona. Sekarang ini kamar itu telah di bukakan oleh satu salah pelayan kami Nona. Nona tidak perlu membuka kamar itu dengan kunci lagi karena kamar itu sedang tidak di kunci sama sekali. " Dodi tersenyum tipis menatap Lili yang agak mabuk.
"Benarkah? jadi kamar 226 adalah kamar 225. Intinya seperti itu kan? Saat ini kamar 225 tidak di kunci. Aku hanya perlu masuk tanpa menggunakan kunci ini. " Lili berusaha mengambil kesimpulan di saat dia sedang mabuk.
"Benar sekali Nona. Nanti Nona masuk saja ke kamar 225. Ingat Nona, Nona harus masuk ke kamar 225." Dodi berusaha mengingatkan Lili kembali.
"Iya, iya. Kau tidak perlu bawel. Aku akan masuk sendirian ke kamar itu. Kau tidak perlu mengikutiku. " Lili mengingat perkataan receptionist bahwa salah satu pelayan mereka akan mengantarkan Lili sampai kekamarnya. Lili mengira, pelayan itu adalah orang yang di maksud oleh salah satu receptionist itu.
"Baiklah Nona. " Dodi tersenyum puas.
Lili pun keluar dari lift itu.
Selamat bersenang-senang Lili.
Dodi tersenyum mesum melihat Lili yang jalan agak sempoyongan.
Tugasku sudah selesai dan aku akan mendapatkan bonus dua kali lipat.
Dodi pun melihat Lili masuk ke dalam kamar bernomor 225.
Tak lama kemudian, Dodi melihat seorang pria membukakan pintu untuk pria yang sedang di bantu oleh dua orang pria. Pria itu di masukan ke dalam kamar itu.
Okey, tugasku benar-benar selesai.
Dodi pergi meninggalkan tempat itu.
Flashback pun selesai.
....
Lisa terbangun dari tidurnya. Dia melihat Adam dan kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.
Lisa memandangi wajah mereka bertiga.
"Apakah benar Alis dan Jimmy mirip dengan wajah Adam ketika Adam masih kecil?" Lisa bertanya-tanya di dalam hatinya.
Kemudian Lisa bangun dan pergi ke balkon kamarnya.
Bintang-bintang itu sangat cantik.
Lisa melihat ke arah langit yang berwarna gelao itu.
"Apa yang sedang Kau lakukan? " Tiba-tiba saja Adam mengangetkan Lisa.
__ADS_1
Bersambung...