TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
TPD2_


__ADS_3

Marbela sangat senang saat mengetahui putranya sudah memiliki tunangan. Tidak ada curiga sedikit pun dari dirinya. Yang terpenting baginya Agam sebentar lagi menikah.


Sedangkan di hotel, Agam dan Melati sudah menanda tangani kontrak perjanjian menikah.


Di kontrak tersebut intinya Agam akan membayar Melati untuk menjadi istrinya.


"Anda tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang perjanjian ini."


"Ini adalah rahasia kita berdua. "


"Baiklah, saya setuju dengan perjanjian itu. "


"Bagus. "


Mereka pun berjabat tangan untuk mengesahkan perjanjian menikah tersebut.


"Setelah dua tahun kita akan bercerai, dan setelah itu kita akan menjalani hidup masing-masing. "


*Kita lihat saja nanti, saya pastikan anda tidak akan pernah saya lepaskan. Anda milik saya Melati. *


Agam hanya tersenyum tipis saat mendengar perkataan Melati.


Semenjak hari itu, Melati di bawa oleh Agam ke tempat kediamannya.


Melati Turun dari mobil. Dia begitu tercengang melihat kemegahan rumah Agam.


*Dia memang orang kaya ternyata. *


Melati mengekori Agam untuk memasuki rumahnya.


Mereka pun menaiki tangga, dan kemudian Agam membukakan sebuah pintu kamar.


"Mulai hari ini, ruangan ini adalah kamarmu. Dan itu adalah kamarku. " Agam menunjuk pintu kamar yang berada di sebelah kamar itu.


"Di rumah ini ada beberapa pembantu dan beberapa pengawal. Jangan coba-coba kabur dari rumah ini."


*Siapa juga yang ingin kabur. *


"Ini adalah sebuah kartu untuk anda. Anda bebas menggunakan kartu ini. "


"Bebas menggunakan? berarti saya bisa membeli rumah dengan kartu ini. "


Agam menatap Melati dengan tajam.


"Saya cuman bercanda, jangan serius begitu. " Melati mulai memperlihatkan gigi rapinya.

__ADS_1


*Sial, kenapa jantungku berdebar dengan kencang. * (Agam)


"Sekarang istirahatlah. Saya ada urusan yang harus di urus."


Agam mulai membalikkan badannya.


"Agam. " Kemudian Agam membalikkan badannya kembali untuk melihat Melati.


"Terimakasih telah membantu saya. "


Agam hanya membalas ucapan terima kasih itu dengan anggukan kepala.


Lalu dia pergi dari situ. Lelaki yang memiliki tubuh tegap itu menuruni tangga.


Sedangkan Melati masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar itu.


"Wah, kamar ini lebih mewah dari kamarku yang sebelumnya. Kamarnya juga luas."


"Aku yakin, aku akan betah disini selama dua tahun. "


Melati mulai merebahkan badannya ke atas ranjang.


Namun tak beberapa lama kemudian, dia membuka lemari. Ternyata di dalam lemari tersebut sudah banyak pakaian wanita dengan merek pakaian yang terkenal. Dan pastinya, harga pakaian yang berada di dalam lemari tersebut sangatlah mahal.


Kemudian dia pergi ke kamar mandi.


"Kamar mandinya juga mewah. "


"Aku sangat bersyukur Tuhan. "


***


Di malam harinya, Melati turun karena perutnya merasa lapar.


Rumah mewah dan megah itu terlihat sangat sepi.


Hanya ada seorang pengawal yang berdiri di depan pintu.


"Apakah dia tidak capek berdiri ya? "


Melati berusaha mengiraukan pengawal tersebut.


Melati melangkahkan kaki menuju meja makan.


Sudah tersedia makanan lezat di meja makan tersebut.

__ADS_1


Dan kemudian seorang wanita paru baya menghampiri dirinya.


"Silahkan duduk Nona. Saya di suruh oleh Tuan Agam untuk melayani anda. "


Melati mengerutkan dahinya.


*Tapi kemana lelaki itu, kenapa dia tidak menemani dirinya? *


"Apakah Tuan Agam belum pulang? " Melati bertanya kepada wanita paru baya itu.


"Tuan masih ada urusan Nona. Jika Nona memerlukan sesuatu, Nona bisa memintanya kepada saya. Saya akan melakukan apapun untuk Nona. "


"Apapun kan? "


Wanita paru baya itu menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, bisakah kita makan bersama. Dan juga, tolong ajak pengawal itu untuk makan bersama juga dengan kita. "


"Tapi Nona. "


"Katanya Bibi akan melakukan apapun untuk saya. "


Wanita baru baya itu terdiam sejenak dan melihat ke arah pengawal.


"Saya bisa saja makan malam bersama dengan Nona, tapi saya ragu dengan pengawal itu. "


Wanita paru baya itu melihat ke arah pengawal yang berdiri seperti patung.


Melati kemudian juga melihat ke pengawal tersebut.


Lelaki tersebut memakai kaca mata hitam dan ada berupa kabel di telinganya.


"Iya juga ya. Kalau begitu kita makan berdua saja Bi. Silahkan duduk. "


Wanita baru baya itu pun mengikuti perintah Melati.


"Kalau boleh tau, apakah Tuan Agam memiliki pacar sebelumnya Bi? "


Si Bibi mulai menghentikan santapannya.


"Nona adalah gadis pertama yang di bawa oleh Tuan Agam ke rumah ini Nona. "


*Ha, betulkah itu?*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2