
Melati di kagetkan oleh suara seorang pria. Pria itu mengira, bahwa melati akan bunuh diri karena berdiri di jembatan dan naik pula ke atasnya sambil berteriak.
Melati turun dari situ dan menatap pria itu.
"Hei Nona, saya bertanya apakah Nona ingin bunuh diri? "
"Kenapa saya harus bunuh diri? "
"Dan lagian kenapa kamu bisa di sini? "
Tapi pria itu malah tertawa mendengar pertanyaan Melati.
"Apa saya tidak boleh di sekitar sini? "
"Dan juga," Agam menatap Melati dengan intens, dan dia melihat melati dari ujung kaki sampai ke kepala.
"Jadi benar ya, Nona itu sudah bangkrut. Sekarang Nona mau kemana? " Agam bisa menebaknya karena melati membawa sebuah koper.
"Sepertinya kamu sangat peduli sekali kepada saya Tuan. Kalau begitu, bisa saya tinggal di rumah Tuan? kan saya sedang menjadi gembel saat ini. "
"Hahaaa, anda mengakuinya Nona? " Agam kembali tertawa mendengar ucapan Melati.
"Jika saya membantu anda Nona, apa skill yang anda miliki? " Agam mulai melihat penampilan Melati lagi dari atas sampai bawah.
*Apakah dia akan berkata dia akan menjual badannya? aku sangat ingin mendengar apa yang akan dia sampaikan. *
*Keahlian? * (Melati)
*Apakah dia tidak bisa membedakan mana yang serius, dan mana yang tidak serius? *
"Hei, kenapa melamun? "
"Saya tidak melamun. " Padahal waktu itu Melati memang terlihat seperti melamun.
"Saya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. "
*Pekerjaan rumah tangga? aku kira, dia akan menawarkan tubuhnya.*
"Gimana? apakah Tuan bersedia membantu saya? "
Sepertinya Melati sangat berharap supaya di bantu oleh pria itu.
"Kenapa anda sangat membutuhkan bantuan saya? dan kenapa tidak meminta bantuan ke keluarga anda saja? "
"Saya tidak mempunyai keluarga lagi. Meskipun ada, kami memiliki hubungan yang tidak baik."
Salah satu bodyguard tampak mendekati Agam dan membisikkan sesuatu.
"Gini saja Nona, saya sedang ada urusan sekarang. Anda silahkan pergi ke hotel yang kemaren dan tunggu saya di hotel tersebut. "
"Tapi Tuan...."
"saya tidak punya uang. "
"Hahaaa. " Agam kembali tertawa mendengar pengakuan Melati.
"Jadi, Nona minta uang kepada saya? "
"Saya tidak minta uang, tapi tolong bayarkan hotelnya dulu. Saya tidak mudah percaya dengan sembarangan orang. "
"Anggap saja gaji bayar di muka Tuan." Wajah Melati mulai memelas.
"Lalu kenapa anda percaya kepada saya? "
"Karena saya yakin, bahwa anda adalah orang yang baik."
*Hahaa, dia dengan polosnya mengatakan saya adalah orang yang baik. *
"Baiklah Nona. " Agam mengambil dompetnya dari jas dan mengeluar beberapa lembar uang yang diambil secara acak. Tak lupa juga, dia mengambil sebuah kartu.
"Ini, tunggu saya di hotel tadi malam. " Dia menyodorkan uang itu kepada Melati.
Melati yang tak lagi mempunyai harga diri menerima uang tersebut.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saya akan menunggu anda di hotel tersebut. "
"Mm, maaf. Saya harus pergi sekarang juga karena ada urusan yang harus saya urus. "
"Silahkan pakai kartu ini untuk masuk. " Agam memberikan sebuah kartu untuk masuk ke kamar hotelnya.
"Baiklah." Melati menerima kartu tersebut.
*Dia dengan mudahnya memberikan kartu ini. Tuh kan, mudahan dia orang baik. *
Agam pun meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh beberapa bodyguard.
"Kenapa Tuan memberi Nona itu uang dan kartu untuk memasuki kamar anda?" Salah satu bodyguard bertanya kepada Agam.
Agam hanya menatap tajam ke arah bodyguard itu. Namun, akhirnya bodyguard itu cuman bisa diam dan tidak berani bertanya apapun lagi.
Sedangkan Melati hanya bengong menatap laki-laki yang telah memberinya sejumlah uang itu. Dia terus saja memandangi punggung lelaki itu sampai sang laki-laki masuk ke dalam mobilnya.
*Sebenarnya, dia itu siapa sih? kok banyak pengikut gitu yang mengikutinya? *
*Apakah dia pengedar narkoba?
Ah, masak sih. *
Melati pun kemudian meninggalkan jembatan itu, lalu menyetop sebuah taksi dan masuk ke dalam taksi itu.
*Paling tidak, aku masih bisa tidur nyenyak malam ini.
Tapi kenapa ya? kok aku merasa penasaran dengan laki-laki itu.
Lalu bagaimana jika dia seorang penjahat. Ah, tapi dia saja memberiku uang. *
*Dan juga kartu ini, setidaknya aku tidak membayar lagi jika ingin menginap di sana. Gratis, gratis adalah hal yang menyenangkan saat ini.*
Melati tampak memikirkan sesuatu dengan otaknya.
Sampai akhirnya dia telah tiba di sebuah hotel.
*Katanya aku harus menunggu dia di hotel ini.
Melati pun memasuki hotel.
Dan pergi ke arah lift untuk menuju kamarnya. Dia masih hafal kamar tadi malam.
*Mungkin aku sudah gila karena mengikuti perkataan laki-laki ini, tapi apa daya, siapa lagi yang akan aku percayai. Mudahan dia laki-laki yang dapat di percaya.*
Melati hanya menyerah dengan ke adaannya.
Melati masuk ke kamar hotel dengan menggunakan kartu yang di berikan oleh sang pria tadi.
Dia merasa bahagia memasuki kamar itu.
Dan benar saja, ketika Melati sudah berada di dalam kamar itu. Tiba-tiba hujan deras pun mulai menyapa bumi.
*Untung saja aku bertemu pria itu. Kalau tidak, pasti aku akan kehujanan dan basah-basah di jalanan.
Oh, uang. Dia memberiku uang. *
Melati mulai menghitung uang yang di berikan oleh pria tadi.
"Lumayan juga ya. "
***
Malam mulai menyapa penduduk bumi. Melati masih saja terbangun untuk menunggu ke datangan pria pemilik kamar hotel ini.
Melati juga sempat menelfon receiptionist dan menanyakan apakah kamar ini sudah di bayar atau tidak.
Ternyata saudara-saudara, kamar ini sudah di bayar oleh Agam Manggala untuk beberapa hari ke depan.
Hal itu yang membuat Melati semakin lega, karena dia merasa tidak di tipu, apalagi kamar hotel ini sudah di bayar full.
Dia perlu menunggu pria itu di dalam kamar, karena ada beberapa hal yang harus di bahas dengan pria itu mengenai pekerjaannya.
__ADS_1
Yah, pekerjaan Asisten Rumah Tangga maksudnya. Hehee.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas, namun pria yang di tunggu Melati masih saja belum datang.
*Apa terjadi sesuatu dengannya? Atau, dia kecelakaan di jalan mungkin ya.
Atau apa?
Sampai jam berapa aku akan menunggu pria itu. *
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar.
Entah kenapa, Melati begitu girang menyambut kedatangan pria itu.
"Kenapa anda belum tidur Nona? " Agam berjalan menuju sofa sambil membuka jasnya.
"Saya sedang menunggu anda Tuan. "
"Saya pikir anda kecelakaan atau gimana di perjalanan, jadi saya mencemaskan anda. "
Tapi Agam malah tertawa mendengar perkataan Melati.
"Hahaa, anda mencemaskan saya? "
"Iya, saya mencemaskan anda. Kenapa anda selalu saja menertawakan saya? "
"Kamu cukup menghibur bagi saya. Sekarang tidurlah. "
"Tapi saya ingin membahas sesuatu Tuan. "
"Saya sedang lelah hari ini. Kita bahas besok saja. "
"Baiklah kalau begitu, kita bahas besok saja. "
Melati pun merebahkan badannya ke atas ranjang.
Tapi tak lama kemudian, dia bangkit lagi dari ranjang.
"Tuan, apakah anda sudah tidur? "
"Mm, ada apa? "
"Saya merasa seperti orang yang tidak tau diri sekarang, anda tidur di sofa, sedangkan saya tidur di ranjang. Padahal kamar ini kan anda yang membayar, bukan saya Tuan. "
"Trus kenapa? Apa kamu mau mengganti uang saya? "
"Saya tidak mengatakan itu. "
"Ya sudah. "
*Aah, dia cuman bilang itu aja. Maksudku Tuan, anda tidur di atas ranjang dan saya tidur di atas sofa. Begitu maksud saya. *
*Ah, sudahlah. Ikuti saja alurnya, ikuti saja. *
Tapi tak beberapa lama kemudian, Melati kembali bertanya kepada Agam.
"Tuan, kalau boleh tau nama anda siapa ya Tuan? "
"Panggil saya Agam. Dan satu lagi, tidak usah memanggil saya Tuan. Saya bukan Tuanmu. "
*Tidak Tuanku bagaimana, sebentar lagi aku akan bekerja denganmu. Kalau aku bekerja denganmu, berarti kau adalah Tuanku, majikanku. *
"Nama kamu siapa? "
"Nama saya Melati Purnama. Panggil saja Melati Tuan. "
"Melati adalah bunga yang bagus. "
*Ada apa dengan dia, aku menyebutkan namaku. Bukan menyebutkan nama bunga. *
Tidak ada lagi pembicaraan di malam itu.
Melati terus saja menatap pria yang sedang tidur di atas sofa.
__ADS_1
*Menurutku, dia itu adalah pria yang tampan, baik. Dia pria yang tinggi, dan dia terus saja menertawakan aku. Tapi entah kenapa, aku merasa di lindungi jika berada di sekitarnya. *
Bersambung....