TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Flashback 1 : Sebelum tunangan Rivaldo mengajak Lili untuk pacaran


__ADS_3

"Kring, kring kring. " Suara telfon berbunyi.


"Kring, kring kring. "


"Siapa itu? " Mardy mendekati telfon itu dan mengangkatnya.


"Rivaldo, kamukah itu? syukurlah Sayang, kamu mau mengangkat telfonku. Aku sangat merindukanmu. Aku harap kata putus yang kamu ucapkan kemaren hanyalah main-main saja. Aku sangat mencintaimu Rivaldo. " Kirana mengungkapkan perasaannya di dalam telfon.


"Aku Ayahnya Rivaldo. Jangan pernah menghubungi Anakku lagi, karena sebentar lagi Anakku akan bertunangan." Mardy mematikan telfon itu.


"Apa yang Ayah lakukan? " Rivaldo tiba-tiba saja mengagetkan Ayahnya.


"Kenapa Ayah begitu kaget? " Rivaldo heran melihat exspresi Ayahnya.


"Kau datang begitu saja seperti hantu. Bagaimana aku tidak begitu kaget?" Mardy menatap Anaknya dengan tajam.


"Ini kamarku, aku yang seharusnya kaget saat Ayah masuk ke kamarku tanpa ijin."


"Apa yang Ayah inginkan? " Rivaldo menanyakan maksud ke datangan Ayahnya.


Rivaldo pun duduk di sebuah sofa yang ada di kamarnya itu.


Sedangkan Ayahnya tetap berdiri sambil menyandar ke sebuah meja.


"Aku ingin kau menjemput Lili ke sekolahnya dan membuat Lili jatuh cinta kepada kau. Apa kau mengerti maksud Ayah? " Mardy balik bertanya kepada Anaknya.


"Aku mengerti Ayah. Buat dia jatuh cinta kepadaku dan menjadikan dia pacarku sebelum dia bertunangan denganku."


"Itu kan yang Ayah inginkan? " Rivaldo kembali menatap Ayahnya.


"Bagus. Tapi ada satu hal lagi yang Ayah inginkan."


Rivaldo menatap Ayahnya dengan intens.


"Barusan mantan pacarmu menghubungimu. Ayah ingin, kau jangan lagi berhubungan dengannya. Apa kau mengerti? " Mardy menatap Rivaldo dengan tatapan yang mematikan.


"Iya. " Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Rivaldo.


Mardy pun tanpa basi basi meninggalkan kamar putranya.


....


"Mana bocah itu? " Rivaldo menunggu Lili di depan gerbang.


Tak lama kemudian Lili mengetuk pintu mobil itu.


"Tok, tokk."


"Kak, aku sudah pulang sekolah. Buka kacanya. " Lili terlihat begitu bersemangat.


Rivaldo menurunkan sedikit kacanya.


"Masuklah ke dalam mobil. " Rivaldo menyuruh Lili untuk masuk ke dalam mobilnya.


Lili pun masuk ke dalam mobil itu.


"Aku tidak menyangka Kakak meluangkan waktu untuk menjemputku. " Lili begitu cerewet setelah melihat Rivaldo.

__ADS_1


"Kamu mau pergi ke mana hari ini? " Rivaldo bertanya kepada Lili dan melihat wajah Lili.


Dia tidak begitu jelek.


"Aku ingin pergi belanja Kak." Lili terus saja menatap wajah tampan Rivaldo.


"Baiklah. " Rivaldo menghidupkan mesin mobil dan pergi dari tempat itu.


Hari demi hari Rivaldo dan Lili semakin dekat.


Hari itu Rivaldo mengajak Lili untuk makan malam di sebuah kafe yang telah dia pesan.


Lili duduk di depan Rivaldo.


Semakin hari dia tumbuh menjadi wanita yang lumayan cantik. Apakah aku mulai menyukai bocah ini?


Pada saat itu Rivaldo bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Apakah Kakak memikirkan sesuatu? " Lili bertanya kepada Rivaldo.


"Tidak, ayo kita makan. " Rivaldo menyuruh Lili untuk menyantap makanan yang telah tersedia di meja itu.


Saat menyantap makanan, Rivaldo tanpa sepengetahuan Lili terus saja menatap wajah Lili secara diam-diam.


"Makanan di sini sangat enak Kak. " Lili tersenyum manis melihat Rivaldo.


"Apakah kamu mau tambah? Kakak akan memesankannya untukmu. " Rivaldo kagum melihat senyum manis dari Lili.


Senyumannya begitu manis. Tidak ada kesan berdosa di wajahnya. Semuanya terlihat alami.


Saat itu Rivaldo memegang tangan Lili. Ia menatap wajah ayu milik Lili.


Ah, jantungku berdebar-debar. Apakah aku memang jatuh cinta dengan bocah ini?


Rivaldo berusaha terus tersenyum ke arah Lili.


"Lili ..." Rivaldo memanggil Lili.


"Iya Kak. "


"Apakah dia akan menyatakan cintanya kepadaku? " Lili berbicara di dalam hatinya.


"Maukah Lili berpacaran dengan Kakak? "


"Oh My God, dia menembakku. " Lili kembali berbicara di dalam hatinya. Wajah Lili terlihat begitu tersipu malu.


"Mmm, tentu Kak. " Lili tersenyum manis menatap Rivaldo.


Saat itu mereka saling bertatap-tatapan. Jantung mereka saling berdebar-debar.


Rivaldo dengan cepat berdiri dan menghampiri Lili.


Dia langsung memegang leher Lili dan mencium bibir Lili. Ciuman itu semakin dalam. Pada saat itu, lidah Rivaldo menari-nari di dalam mulut Lili.


"Sekarang, panggil Kakak Sayang." Rivaldo mencium kening Lili.


"Iya Sayang." Lili memeluk Rivaldo.

__ADS_1


Pada malam itu, Rivaldo mengantar Lili untuk pulang.


"Tidur yang nyenyak ya Sayang. Ingat, jangan selingkuh di sekolah. " Rivaldo mencium kening Lili sebelum Lili keluar dari mobil.


"Ok Bos. " Lili mencium Bibir Rivaldo.


"Kamu menantang Kakak ya? " Rivaldo menarik tangan Lili dan sedikit tersenyum tipis.


Rivaldo pun dengan cepat mencium bibir Lili.


Saat itu Lili tersipu malu.


"Apakah masih menantang Sayang? " Rivaldo bertanya kepada Lili.


"Tidak, ampun Sayang. " Lili tersenyum manis kepada Rivaldo.


"Good night Sayang. " Rivaldo mencium Pipi Lili.


"Iya, good night Sayang. " Lili juga mencium Pipi Rivaldo.


Ternyata dari kejauhan Kirana melihat itu semua dari kaca jendela kamarnya.


"Aku tidak menyangka, kamu melupakanku begitu cepat. " Kirana meneteskan air mata yang membasahi pipinya.


"Dah Sayang. " Lili keluar dari mobil.


"Daah, muach. " Rivaldo pergi dari tempat itu.


Hari itu, hati Lili sedang berbunga-bunga.


"Kenapa wajahku mulai memerah?." Lili memegang wajahnya dan masuk ke dalam rumah.


....


Kamu tega melakukan itu.


Kirana mengirimi Rivaldo sebuah pesan.


Rivaldo hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya.


"Kenapa dia terus menggangguku? " Rivaldo melemparkan ponselnya ke atas kasur.


Dia mengganti pakaian dan kemudian tertidur dengan pulas.


"Bagaimana pun caranya, aku harus mendapatkan Rivaldo kembali. Aku tidak akan pernah membiarkan Lili mengambil Rivaldo dariku. " Kirana menatap tajam ke arah cermin sambil melihat wajahnya sendiri.


"Lihat saja Lili, aku tidak akan segan-segan menyingkirkanmu dari rumah ini. " Malam itu kemarahan Kirana sangat memuncak. Ia menganggap Lili telah mengambil Rivaldo darinya.


Bersambung ...


Buat pembaca setia Autor, terima kasih ya telah membaca novel ini.


Autor mohon maaf jika tidak bisa apload setiap hari karena Autor bekerja sambil kuliah di dunia nyata. Bagi Autor, menulis ini adalah sebagian dari hobby. Untuk selanjutnya, Autor akan menyempatkan diri untuk memprioritaskan menyelesaikan novel ini sampai selesai.


Salam hangat dari Autor.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2