TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
TPD2_bertemu calon mertua


__ADS_3

Melati berfikir untuk melakukan sesuatu, karena dia merasa bosan di rumah megah itu.


"Besok aku akan membuat kue untuk Agam. Dan beberapa cemilan lainnya. "


Melati mulai menyetel alarm di jam 5 pagi.


Dia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Setelah itu merebahkan badannya di atas ranjang.


***


Di jam 5 pagi, alarm Melati berbunyi.


Disitu tertulis, sudah waktunya Melati bangun dan memasak untuk Agam.


Tetapi sebelum pergi ke dapur. Melati pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci wajahnya.


Dia menatap wajahnya di cermin.


"Seharusnya aku menjadi wanita yang lebih baik lagi. Aku sudah lama tidak sholat."


Melati berfikir untuk melaksanakan sholat subuh.


Dia mengambil wudhu dan kemudian mengambil mukenah di dalam kopernya.


Untung saja orang-orang itu memasukkan mukenah ke dalam kopernya.


Paling tidak para lelaki kekar itu masih mempunyai hati nurani untuk memasukkan mukenah.


Melati pun melaksanakan sholat dan kemudian mengaji dengan suara yang sangat lembut.


Setelah ritual itu selesai di lakukan. Melati keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki menuju dapur.


Ternyata Bibi yang semalam sudah bangun.


"Bibi mau membuat apa? "


Melati mulai menyapa Bibi itu.


"Saya ingin menyiapkan sarapan pagi Nona. "


"Apakah Tuan Agam sudah pulang?"


"Sudah Nona. "


*Kok aku tidak mendengar ya. * Melati bingung sendiri.

__ADS_1


"Nona kenapa kedapur pagi-pagi ini? "


"Melati ingin membuat sesuatu Bi. " Melati tersenyum manis kepada Bibi.


Dia pun menanyakan beberapa peralatan kue kepada Bibi, karna dia berniat membuat sebuah kue untuk Agam.


Bibi hanya memperhatikan Nona Muda itu.


"Apakah Nona bisa membuatnya? "


Wanita paru baya itu terlihat kurang percaya dengan ke ahlian yang di miliki oleh Melati.


"Saya bisa Bi. Tenang aja. "


Melati mulai memecahkan beberapa telur, memberi gula, dan TBM. Lalu dia mengaduknya.


Dia sibuk sendiri dengan kegiatannya. Sehingga kue rasa pandan pun berhasil dia buat.


Melati pun memotong kue itu dan potongan pertama di berikan kepada Bibi.


"Bi, coba koreksi rasa Bi."


Melati menyodorkan beberapa potong kue.


Awalnya wanita paru baya itu agak risih karena di suruh memakan kue itu.


"Bagaimana Bi? enakkan? "


"Enak Nona. "


"Menurut Bibi, apakah Tuan Agam akan suka dengan kue ini? "


"Pasti suka Nona. Saya yakin, pasti Tuan akan suka. Dia itu termasuk pecinta kue. "


"Benarkah? " Melati kegirangan mendengar kata itu.


Di pagi itu, mereka berdua sibuk menyajikan makanan di atas meja makan.


Melati berharap Agam akan menyukai masakannya.


Tapi tiba-tiba bel pun berbunyi.


"Ting tong. "


"Ting tong. "

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya Nona. Saya akan membukakan pintu. "


Melati hanya menganggukkan kepala kepada Sang Bibi.


Wanita paru baya itu membukakan pintu.


"Apakah Agam sudah bangun? " Marbela langsung bertanya ke wanita paru baya itu ketika pintu rumah baru saja di buka.


"Belum Nyonya. "


"Apakah wanita itu di bawa oleh Agam? "


Seolah-olah Bibi sudah mengetahui arah pembicaraan Sang Nyonya.


"Sudah Nyonya."


"Ooh, aku tidak sabar untuk bertemu dengan calon menantuku. "


Nyonya Marbela dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.


Ada wanita cantik yang sedang berdiri di dekat meja makan.


Marbela tersenyum kepada wanita itu. Dia dengan gembira menghampiri wanita itu.


"Hai cantik, apakah kamu wanita yang bernama melati? "


"Iy_iya Nyonya."


"Jangan panggil saya Nyonya. Tapi panggil Ibu sayang."


*Jadi wanita ini adalah Ibunya Agam. Oh My God, cantik sekali. *


Melati pun langsung menyalami wanita itu.


"Oh ya, jadi kalian kapan akan menikah? "


Deg.


Melati sungguh terkejut dengan pertanyaan itu.


"Ibu sangat ingin menggendong anak Agam."


Deg.


*Menggendong anak Agam? *

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2