
Agam terus saja menelfon Adam. Saat itu panggilan tersambung namun Adam tidak menjawab panggilannya.
Ternyata Agam tergeletak di lantai dengan kening yang berdarah di sebelah kiri.
Ponselnya terus berisik.
"Ayah, ayaaaah" Suara Tommy berteriak memanggil ayahnya.
"Tommy, ingin bertemu dengan ayah. " Yang kemudian, Adam terbangun dari pingsannya.
Dia mendengar ponselnya yang sedang berisik.
"Agam. "
Adam mengangkat telfon itu.
"Adam, saudaraku. Tommy tertembak oleh Baron. Maafkan aku."
"Tolong selamatkan dia, bawa dia ke rumah sakit. " Adam terlihat sangat panik.
"Aku sedang di perjalanan menuju rumah sakit terdekat saudaraku. "
"Apakah kamu baik-baik saja? "
"Aku baik-baik saja, aku akan segera menyusul kalian. " Adam mematikan panggilan itu.
"Agh, kepalaku." Adam berusaha berdiri dan pergi ke tempat parkir mobilnya.
Sedangkan di dalam mobil Lisa terus saja menangis.
"Aku tidak apa-apa Ibu. Ibu jangan menangis. Aku baik-baik saja. "
Tommy mengusap air mata ibunya.
"Tolong bertahan ya nak, Ibu tidak ingin kehilangan Tommy. Siapa yang akan bermain musik dengan Ibu. "
"Jimmy sama Alis masih ada Ibu. " Di saat yang seperti itu, Jimmy dengan berani menjawab pertanyaan Ibunya.
"Ibu, Tommy ingin bertemu ayah. Ayah kita adalah Adam Manggala. " Tiba-tiba saja Tommy pingsan di pelukan Ibunya.
"Dari mana kamu mengetahui semua ini? " Lisa mulai mempertanyakannya.
"Kami sudah mengetahuinya Ibu. " Jimmy mulai bersuara.
"Ya kan Paman Agam. " Jimmy melihat ke arah Agam yang duduk di sebelah supir
"Paman? " Lisa melihat ke arah Agam dan kearah Jimmy.
"Paman Agam adik dari Ayah Adam. " Jimmy berusaha menjelaskan kepada Ibunya.
Dan kemudian mereka sampai di rumah sakit.
Agam keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lisa dan kedua keponakannya.
Jimmy dengan cepat keluar dari mobil itu.
"Ayo Lisa." Agam melihat Lisa yang sudah sangat pucat.
Lisa pun berusaha menggendong Tommy namun Tangannya terlihat begitu gemetar.
"Aku saja Lisa" Agam tidak tega melihat Lisa.
Dia pun menggendong Tommy keluar dari mobil dan sedikit berlari ke dalam rumah sakit.
Lisa dengan cemas keluar dari mobil dan menutup pintu mobil.
"Ayo Ibu. " Jimmy menggenggam tangan ibunya.
"Ibu jangan cemas, Tommy akan baik-baik saja Ibu. " Jimmy berusaha menghibur ibunya.
Lisa dan Jimmy pun sedikit berlari mengikuti Agam.
.....
Sedangkan di sini Alis marah-marah kepada Baron.
"Kenapa kau menembak kakakku? Apa salah kakakku kepadamu?"
"Kami tidak mengenal orang jelek dan jahat sepertimu. " Beberapa pukulan melayang ke wajah Baron.
"Ah sial. Tanganku begitu sakit memukul wajahmu. Orang bodoh sepertimu tidak akan mengerti apa itu sakit. "
Sedangkan beberapa pengawal terperangah.
Mereka pun memegangi Baron.
"Sebentar lagi polisi akan sampai disini. Pegangi dia, jangan sampai lolos. " Irvan memberi instruksi.
"Aku akan mengantar Nona Alis ke rumah sakit. Ingat, jangan biarkan dia lolos. " Irvan memberi peringatan ke anak buahnya.
"Siap Bos. "
Baru saja selesai bicara, polisi datang ke TKP.
Mereka pun memborgol Baron dan membawanya pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Di saat itu Alis berteriak ke polisi.
"Dia menembak kakakku, kakakku tidak punya salah dengan orang jelek itu. Kami tidak mengenal si jelek itu. Tolong hukum dia, bila perlu bunuh saja dia. "
"Kau si jelek bodoh. Semoga kau mati di penjara sana. " Alis menyumpahi Baron.
"Paman, apakah kakakku akan mati? punggungnya tertembak. " Alis bertanya kepada Irvan.
"Semoga saja tidak Nona. "
"Ayo kita pergi menyusul ke rumah sakit Nona" Irvan mengajak Alis untuk pergi ke rumah sakit.
"Iya paman. Kita harus segera sampai. Tommy akan mati, Alis belum meminta maaf kepada Tommy. "
Bodyguard yang bernama Irvan itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Apakah paman menertawakanku? " Alis bertanya karena melihat Irvan tersenyum tipis.
"Tidak Nona"
"Paman berbohong. " Alis menatap Irvan dengan tatapan tajam.
"Ayo kita masuk mobil Nona" Irvan tidak peduli dengan tatapan itu. Baginya Alis begitu lucu.
"Aku ingin di gendong Paman, tanganku sedikit sakit karena memukul Si Jelek itu. " Alis minta di gendong kepada Irvan.
"Baiklah." Irvan pun menggendong Alis masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil itu ada seorang supir, Irvan duduk di sebelah supir dan satu bodyguard lainnya duduk di sebelah Alis.
"Paman Supir, bisakah kita lebih cepat lagi? "
"Baik Nona"
"Huhu huhu" Alis tiba-tiba menangis.
"Kakakku yang baik hati dan lembut hati tertembak"
"Apa yang harus aku lakukan? " Alis terus saja menangis.
"Paman Hitam, apakah kakakku akan mati? kata Paman itu dia tidak akan mati. Bagaimana pendapatmu? "
Irvan tersenyum dan bahkan tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha, Paman Hitam" kemudian Irvan menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawanya.
"Nama saya Irvan Nona Alis" Irvan memperkenalkan namanya.
"Paman Hitam, Hihi. " Sang supir berusaha menahan tawanya.
Sedangkan Ucok, sangat terkejut dengan sapaan Alis kepadanya.
"Dia tidak akan mati Nona kecil. Dia akan baik-baik saja. "
"Alis juga berharap begitu, huhu huhu" Alis kembali menangis.
"Sudahlah Nona, jangan menangis lagi. "
Ucok akan menyentuh pundak Alis.
"Jangan sentuh aku Paman Hitam. Tangan Paman kotor. Paman baru saja mengupil. Tadi Alis melihatnya dengan jelas. "
Kedua orang yang berada di depan tertawa lepas.
"Iya Nona, dia memang suka mengupil di sembarangan tempat. " Sang supir ikut bersuara.
Lalu Si Ucok mengambil tisu basah dan membersihkan tangannya dengan tisu basah tersebut.
"Ini Nona Alis, Paman sudah membersihkan tangan Paman dengan tisu basah. "
"Bolehkah Paman menyentuh Nona? " Ucok bertanya kepada Alis.
"Liat tangan Paman." Alis memerintah Ucok
Ucok pun memperlihatkan tangannya.
"Bersihkan Nona?"
"Iya, sekarang Paman Hitam boleh menyentuh Alis. Tepuk-tepuk pundak Alis Paman. "
"Biasanya Ibu menenangkan Alis seperti itu. "
Ucok pun melakukannya sesuai perintah Nona Kecilnya.
"Nona Alis, bisakah Nona memanggil Paman dengan sebutan Paman Ucok? " Ucok berbicara sambil menepuk-nepuk lembut pundak Alis.
"Oh, nama Paman adalah Ucok. Tapi Alis lebih bahagia menyebut Paman dengan sebutan Paman Hitam, atau lebih kerennya Paman black aja gimana Paman? " Alis kembali bertingkah.
"Aaa"
Pembicaraan Ucok di potong oleh Alis.
"Kulit Paman kan hitam, makanya Paman lebih cocok di panggil Paman hitam. "
"Terserah Nona saja. Asalkan Nona bahagia saja. " Ucok terlihat lumayan kesal.
__ADS_1
"Apakah Paman Black marah? "
"Tidak. " Ucok hanya menjawab sepatah kata.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit.
Irvan dengan cepat keluar dari mobil dan membukakan Nona kecilnya Pintu mobil.
"Ayo Nona"
"Iya, makasih paman."
"Ayo Paman Black. Kita pergi bersama-sama. " Alis mengajak Ucok untuk ikut bersamanya.
Ucok pun ikut keluar dari mobil.
"Kau bahagia? " Ucok bertanya kepada Irvan yang berusaha menahan tawanya.
"Sedikit" Irvan mendekatkan mulutnya ke telinga Ucok dan berbicara sambil berbisik.
"Ternyata Nona Alis sangat cerdas dalam memberi nama. " Lalu Irvan pergi menggendong Alis.
Setibanya di salah satu depan ruangan, Alis melihat Ibunya dan Paman Agam.
"ibuuuu. "
Irvan menurunkan Alis.
Saat itu Alis berlari ke arah Ibunya.
"Bagaimana kondisi Kak Tommy Ibu? Apakah dia baik-baik saja. "
"Dia akan baik-baik saja." Jimmy bersuara menjawab pertanyaan Alis.
"Berhentilah menangis. Tommy tidak akan sehat meskipun kamu menangis darah Alis. Jangan sampai kamu sakit gara-gara menangis sepanjang hari. "
"Apakah Kak Jimmy memarahiku." Alis melihat ke arah Jimmy.
"Tidak. Aku menasehatimu. "
Tak lama kemudian, Adam sampai di rumah sakit dengan kondisi kening yang berdarah di sebelah kiri.
"Bagaimana kondisi Tommy? Apakah dia baik-baik saja. " Wajah Adam terlihat pucat.
"Dokter sedang memeriksanya. Apa yang terjadi? kenapa kepalamu berdarah. " Agam bertanya kepada Adam.
"Aku terjatuh di atas tangga setelah mengambil kunci mobil. " Adam berusaha menjelaskan.
"Aku bermimpi Tommy memanggilku dan tiba-tiba saja, aku mendengar panggilan telfon darimu. "
Adam mengalihkan pandangannya dari Agam dan melihat Lisa beserta putra putrinya.
Dia pun mendekati Jimmy dan Alis.
Jimmy dan Alis pun memeluk Ayahnya.
"Apakah kalian berdua baik-baik saja? " Adam pun jongkok supaya sama tinggi dengan anaknya.
"Kami berdua baik-baik saja Ayah. " Jimmy menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Syukurlah. " Adam sedikit merasa tenang.
"Ayah, aku sudah memukul Si Jelek yang menembak Tommy. Wajahnya sudah babak belur. Lalu polisi membawanya Si Jelek itu. "
"Aku di bawa Paman itu dan Paman hitam kesini" Alis menunjuk Irvan dan Ucok.
"Paman Hitam? " Adam sedikit heran.
"Iya, dia lebih cocok dipanggil Paman Hitam saja. "
"Maaf Paman, Paman lebih suka di panggil Paman Black ya? " Alis melihat ke arah Ucok.
"Tidak kedua-duanya. " Dengan suara pelan dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Oh ya Ayah, Paman hitam itu sangat jorok. Dia mengupil di sembarangan tempat. Hal yang paling parah, setelah mengupil dia membulatkan upilnya sendiri dan menempelkan ke baju Paman Irvan. "
Mendengar hal itu Irvan sangat terkejut. Dia dengan cepat melihat bajunya.
"Upilnya sudah jatuh Paman, tidak ada lagi di baju paman. "
Irvan pun berhenti mencari Upil yang menempel di bajunya.
Kemudian Irvan melihat ke arah Ucok, namun Ucok mengalihkan pandangannya.
"Kau, jangan pura-pura mengalihkan pandangan. Kau jorok sekali. " Irvan memarahi Ucok.
"Maaf, aku tidak sengaja Van." Ucok berusaha menahan tawanya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan coment ya, setidak berikan masukannya.
Makasih.
Salam dari Autor.
__ADS_1